Math is fun!

Josh Chen – Global Citizen


Perjumpaan Baltyra dengan Yohanes Surya di bulan Oktober lalu ternyata tidak berhenti begitu saja (http://baltyra.com/2010/10/11/exclusive-yohanes-surya-cahaya-surya-ilmu-pengetahuan-indonesia-bringing-science-to-life/). Dari perjumpaan singkat tsb, saya mengetahui informasi mengenai GASING dan pelatihan matematika metode GASING dan GIPIKA (Gerakan Ibu-ibu Pandai matematIKA). Saya menanyakannya langsung ke Pak Yo dan disarankan untuk kontak salah satu staff beliau. Dari kontak itulah saya kemudian memutuskan untuk mengikuti pelatihan ini.

Semula saya sangsi juga, namanya kok Gerakan Ibu-ibu, wah ini nanti para bapak ada tidak yang ikut, atau mungkin hanya beberapa orang saja. Ternyata kekuatiran tsb tak terbukti. Peserta bapak-bapaknya imbang dengan peserta ibu-ibu.

Pelatihan GASING ini diadakan setiap hari Sabtu dari bulan Oktober 2010 sampai Januari 2011. Pertemuan pertama tanggal 16 Oktober 2010 dengan materi paling awal yaitu Penjumlahan. Sungguh sayang sekali, saya tidak bisa hadir di pertemuan pertama ini karena bertepatan dengan acara Family Day di sekolah anak.

Saya mulai di pertemuan kedua tanggal 23 Oktober 2010 yang materinya berbeda sama sekali, yaitu Perkalian. Pertama saya cukup bingung tidak bisa mengikuti cepatnya Pak Yo memberikan penjelasan. Terseok-seok mencoba mengikuti dan membuat catatan sendiri. Tapi sungguh beruntung dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta malah menanyakan materi Penjumlahan minggu sebelumnya.

Pak Yo mengulangi penjelasan materi seminggu sebelumnya dengan penuh semangat dan benar-benar beruntung bagi saya yang sempat ‘kecipratan’ penjelasan bagian yang cukup penting tsb.

Sesi pelatihan ini kadang dimulai dengan test singkat materi minggu sebelumnya, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan materi hari itu oleh Pak Yo, latihan bersama dan tanya jawab. Sebenarnya semua materi yang disampaikan pak Yo adalah materi matematika paling dasar. Bedanya adalah metode perhitungannya yang ‘diobrak-abrik’ oleh pak Yo menjadi metode GASING. Tidak selalu pelatihan dimulai dengan test materi sebelumnya. Beberapa kali pelatihan materi baru langsung dimulai.

Yang diharapkan oleh pak Yo adalah para orangtua yang mengikuti pelatihan ini kemudian melatih anak-anaknya di rumah dengan metode baru tsb. Di awal-awal pelatihan ada 2 kali pertemuan yang para peserta diminta membawa anak-anaknya. Anak-anak kemudian masuk ke kelas sendiri dan ada sedikit test juga seberapa jauh kami para orangtua sudah melatih mereka. Jadi sementara para orangtua mengikuti pelatihan dengan pak Yo, anak-anak juga mendapatkan pelatihan dari para staff/pengajar pak Yo.

Hal yang paling membedakan metode GASING dengan metode yang selama ini kita kenal adalah menghitung dari depan, bukan dari belakang. Selama ini kita menghitung penjumlahan 3 digits atau lebih selalu dari belakang, perkalian juga dari belakang demikian juga pengurangan. Pak Yo menemukan metode menghitung dari depan yang pertama kali dicobakan kepada anak-anak pak Yo sendiri dan lama-lama makin sempurna dengan pola yang jelas dan bisa diajarkan secara luas. Menurut pak Yo, tidak ada anak bodoh, semua sama jika mendapat kesempatan yang sama dan penanganan serta bimbingan yang tepat.

Dalam hal meneruskan pelatihan ini ke anak-anak, bukan hanya ke anak-anak saja, tapi saya juga menularkan metode baru ini ke istri. Istri dengan cepat menguasainya dan kemudian kami berdua akan melatih anak-anak kami. Kami memutuskan bahwa saya saja yang mengikuti pelatihan, karena tidaklah mungkin saya dan istri mengikuti pelatihan ini berbarengan.

Pengalaman kami mengajarkan anak-anak metode baru ini tidak menemui kesulitan sama sekali. Karena terlewatnya pertemuan pertama, saya juga ketinggalan dalam melatih anak-anak di rumah materi penjumlahan ini. Saya melatih anak yang sulung sesuai yang saya dapat, materi susulan di pertemuan kedua, dan saya masih mengasah dasar penjumlahan 1-20 untuk anak yang bungsu. Menurut pak Yo, dasar dari semua dasar adalah penjumlahan 1-20 dan perkalian 1-10. Dua dasar utama ini haruslah luar kepala dan sangat kuat untuk menguasai matematika secara menyeluruh.

Sejak mengikuti pelatihan GASING ini, di setiap kesempatan, kami berusaha melatih anak-anak sesuai porsinya. Misalkan sambil menyetir sedang pergi bersama sekeluarga, saya dan istri akan bergantian mengasah penjumlahan 1-20 ke si kecil dan kecepatan hapalan luar kepala perkalian 1-10 ke si sulung. Jika sedang makan di luar, di restoran atau warung makan, sambil menunggu pesanan keluar, saya dan istri bergantian oret-oret buku catatan kecil yang selalu kami bawa untuk memberikan beberapa soal kepada anak-anak.

Kekurangan kami sekeluarga adalah saya terlewat materi pertama dan tidak mendapatkan buku latihannya. Jadi sangat kurang dasar penjumlahan cepat yang menjadi dasar untuk materi-materi berikutnya. Sebagai informasi, semua peserta mendapatkan buku latihan sesuai dengan urutan materi pengajaran. Buku 1: Penjumlahan, buku 2: Perkalian, buku 3: Pengurangan, Pembagian dan Bilangan Negatif, buku 4: Aplikasi (aplikasi buku 3), buku 5: Pecahan dan Desimal.

Pelatihan GASING dan buku-buku tsb gratis, semua peserta tidak dikenakan biaya sepeser pun. Sungguh beruntung saya mendapatkan info mengenai pelatihan ini pada waktunya dan mendapat kesempatan sebagai angkatan pertama di mana pak Yo sendiri yang mengajar. Semoga ke depannya angkatan-angkatan berikutnya akan lebih antusias dan lebih baik lagi sehingga misi GASING untuk matematika yang asik dan menyenangkan makin meluas dan anak-anak Indonesia makin menyukai dan menguasai matematika dengan lebih baik dan lebih baik lagi.

Di salah satu sesi pelatihan, semua peserta diminta membuat kelompok-kelompok kecil untuk mengobrol dan diskusi. Diskusi berlangsung asik dan hangat sekaligus lebih mengenal sebagian kecil peserta lain. Topik diskusi antara lain adalah sharing pengalaman masing-masing setelah mengikuti pelatihan GASING ini. Pengalaman pribadi, dengan tempat kerja, dengan keluarga, dengan anak-anak mereka, dsb.

Para peserta datang dari berbagai latar belakang, dari berbagai kota, berbagai usia, berbagai profesi, berbagai latar belakang pendidikan. Ada peserta yang datang dari luar kota dijalani bolak-balik dari daerah masing-masing ke Jakarta setiap minggu, ada yang dari luar kota sekitar Jakarta (Bandung, Bogor, Sukabumi, dsb), yang harus berangkat pagi-pagi buta untuk sampai tepat waktu. Profesi yang berbeda-beda, mulai akuntan, finance manager, ibu rumah tangga, kontraktor, mahasiswa dan mahasiswi, arsitek, pengacara, dan masih banyak lagi.

Dalam pelatihan yang baru lewat minggu lalu, kami peserta pelatihan mendapat kesempatan untuk bertemu dan melihat langsung anak-anak hasil gemblengan pak Yo sendiri. Anak-anak dari Papua yang dikirim oleh pemda di sana untuk dilatih metode GASING ini. Anak-anak yang terpilih adalah anak-anak yang nilai akademis untuk pelajaran matematika kurang, bahkan minim sama sekali. Ada satu anak dari suku Kamumei – salah satu suku tertua di Papua – yang tinggal kelas 4 kali dikarenakan nilai matematikanya sangat minim.

Pak Yo berkeyakinan jika mendapat bimbingan yang tepat, tidak ada namanya matematika yang sulit. Dan apa yang ditunjukkan di hari Sabtu itu benar-benar membuat kagum semua peserta. Persoalan matematika yang jauh melampaui usia dan jenjang akademis mereka dilahap dengan mudah. Bahkan untuk salah satu anak, mengerjakan soal persamaan kuadrat hanya dalam hitungan detik tanpa coret-coret sama sekali jawaban demi jawaban keluar dengan suara anak-anaknya lancar sekali, mengundang decak kagum kami semua.

Secara umum pelatihan metode GASING ini sungguh asik dan menyenangkan. Terutama sangat bermanfaat untuk membuka wawasan baru para orangtua sehingga dapat lebih berperan dalam pembelajaran anak-anak di rumah. Kebanyakan orangtua sekarang adalah pasangan sibuk, masing-masing bekerja dan tidak ada kesempatan untuk belajar bersama anak-anaknya. Bimbel merupakan salah satu solusi, padahal bimbel sekarang menurut pengamatan saya kebanyakan sudah melenceng dari kata ‘bimbingan belajar’ itu sendiri.

Banyak bimbel sekarang hanya menuntaskan ‘misi’ yang dipercayakan oleh para orangtua sibuk tadi. Misi tsb adalah ‘penitipan anak’ dan ‘mengerjakan PR’, masalah anak benar-benar memahami materi pelajaran atau tidak, sudah tidak penting lagi. Yang penting adalah PR si anak beres, nilai akademis (diharapkan) tinggi dan orangtua tidak repot lagi mengajari anak-anaknya setelah mereka pulang kantor. Memang tidak semua bimbel seperti itu, masih ada juga yang benar dan bagus.

Semoga GASING ini ke depannya makin berkembang dan makin meluas sesuai misi yang diharapkan oleh pak Yo sang pencipta metode ini. Dengan makin berkembang dan meluasnya GASING ini, besar harapan untuk kemajuan Indonesia. Multiplier-effect dari penguasaan matematika yang baik, penguasaan science yang baik, diyakini akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Bagi yang berminat untuk ikut menguasai dan mengembangkan GASING ini, silakan meninggalkan komentar lengkap dengan e-mail, saya akan teruskan dan bicarakan dengan pak Yo dan team serta staff beliau.

Terima kasih sudah membaca. May God bless Indonesia…

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

49 Comments to "Math is fun!"

  1. Osa Kurniawan Ilham  14 December, 2011 at 11:48

    Mas JC,
    saya lihat ada gambarnya mas JC di salah satu video-nya matematika gasing Prof. Yohanes Surya. Saya baru beli bulan lalu, terlihat di situ mas JC sangat serius dengan dahi berkerut

    Salam,
    osa KI

  2. rafa  6 March, 2011 at 22:56

    tolong infonya kalau ada pelatihan ya bang thanks

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *