Undangan

Probo Harjanti


Memasuki bulan  Suro,  tahun baru Jawa (1 Muharam)  undangan pernikahan sudah stop, kalau pun ada  biasanya tinggal rame-ramenya saja. Ada kepercayaan kalau menikahkan anak sebaiknya di bulan ‘Besar’, sebelum Soro. Katanya bulan Suro tidak baik untuk menikah. Konon katanya pula, yang boleh mantu di bulan Suro hanyalah keluarga kraton. Meski ada yang tidak mempercayainya, tetapii belum tentu  berani melanggarnya juga (sebagaimana mitos larangan pakai warna hijau di laut selatan, pada nggak percaya tapi disuruh nyoba nggak berani). Nah, nanti memasuki bulan Sapar, bulan ke 2 tahun Jawa, mulai ada lagi undangan pernikahan sampai bulan Mulud (Maulud) dan Bakda Mulud.

Di Negara seribu musim ini (musim duren, musim layangan, musim sunatan (biasanya saat liburan sekolah), mantenan, bayen/melahirkan, musim ikan, musim tanam dll), yang dirasakan berat di sebagian daerah adalah musim hajatan. Pada saat musim hajatan, seseorang bisa dapat undangan pernikahan dobel-dobel untuk satu hari, tentu itu bergantung pada ruang lingkup pergaulan terundang. Semakin banyak teman dan saudara semakin banyak undangan yang diterima. Itu artinya, terundang harus siap merogoh kocek lebih dalam. Sebab undangannya memang gratis, tapi untuk datang tidak gratis tentu. Semakin dekat hubungan (kekerabatan mau pun kekariban), semakin dalam kocek dirogoh.

Kadang seseorang diundang bukan karena kenal dekat atau hubungan saudara. Ada yang tak tahu namanya pun diundang, mereka hanya kenal wajah, dan kadang basa-basi. Mungkin, mereka  sering ketemu di tempat tukang sayur. Aneh memang, pengundang harus tanya-tanya nama orang yang mau diundang. Bahkan ada yang lebih parah, hanya karena sering berpapasan  di jalan, pengundang merasa perlu mengundangnya, dengan tanya-tanya nama dulu tentu.

Beberapa waktu lalu, di ruang guru ada ‘keributan’ kecil. Setelah mendekat baru tahu, ternyata ada teman yang akan ngunduh mantu. Sebut saja Pak X namanya. Dia baru saja pensiun, datang ke kantor membawa selembar undangan. Jadi ceritanya undangan kolektif. Pak X datang ke kantor menghadap kepala sekolah memberitahukan undangan tersebut, juga mengumumkannya di ruang guru , disertai sedikit penjelasan kenapa undangannya kolektif.

Bagi saya pribadi dan beberapa teman, undangan kolektif atau personal nggak masalah. Tapi bagi sebagian yang lain, itu dijadikan masalah. Mereka merasa kurang dihargai/ hormati ketika diundang secara kolektif. Picik banget! Mereka mulai kasak-kusuk menanyakan ini-itu, ternyata menanyakan ‘nyumbang’nya (ngasih amplopnya) apakah kolektif juga, atau amplop diamplopi. Haduh! Ribet amat!

Dengan jengkel saya katakan kenapa hal sekecil itu dipermasalahkan, juga saya tambah agar jangan menempatkan diri terlalu tinggi (gila hormat). Undangan person pun kalau hanya ditaruh di meja guru, sama juga ‘nilainya’ dengan undangan kolektif. Kalau undangan diberikan di rumah, itu baru namanya lebih dihormati. Saya bicara berapi-api (seuai gaya saya). Setengah marah. Sebab saya ingat betul, Pak X ini orangnya ‘enthengan’ selalu datang melayat kalau ada teman kesripahan, selalu nengok teman yang sakit, walau pun tidak bersama-sama dengan guru-guru, tetapi malah sama istri.

Menurut hemat saya, dan sebagian teman, daripada duit untuk menaikkan gengsi dengan undangan yang bagus, mendingan dialihkan untuk beaya konsumsi saja. Toh nanti ketika hajatan berlangsung, yang diingat bukan undangannya, tapi hidangannya. Yang enak, tidak kurang atau tidak sampai kehabisan, daripada undangan mewah tapi hidangan sudah habis  sementara tamu masih banyak, itu tentu amat memalukan.

Saya tahu bahwa omongan saya tak akan mengubah apa-apa, tapi setidaknya mengingatkan teman-teman untuk tidak keterlaluan menyikapi sesuatu (saya sok tau banget ya). Kadang teman-teman pada aneh, namanya ‘nyumbang’ tapi kok masih berharap ‘ulih-ulih’ (bingkisan). Sebenarnya maksudnya barter apa memang memberi  hadiah sama yang dikasih. Kalau memang memberi ya jangan mengharap kembalian. Kalau memang ‘owel’ atau ‘eman’ (sayang duitnya) ya nggak usah memberi…..daripada ngasih tapi ngarep ‘kembalian’ juga. Begitu kan?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.