Ketika Saya Berhenti Bekerja

Bamby Cahyadi


Istri saya terperangah dan hampir saja jatuh terjerembab ke lantai, ketika saya katakan bahwasanya, saya berhenti bekerja. Istri saya buru-buru menguasai dirinya dan berupaya mencerna tentang perkataan saya barusan, lantas memandang wajah saya dengan mata menyipit.

”Ya, saya berhenti bekerja,” kata saya lagi.

Melihat istri saya bersikap demikian, saya tegaskan sekali lagi padanya, bahwa saya telah benar- benar berhenti bekerja. Istri saya kembali memandang wajah saya dengan ganas, kali ini mulutnya manyun seperti ingin berucap sesuatu. Namun tidak jadi. Ia mencengkeram kerah baju saya, dan seolah hendak mencekik leher saya. Matanya nyalang. Liar dan marah.

”Dengar dulu baik-baik, saya sudah punya rencana selanjutnya,” kata saya meyakinkan. Saya tidak mau dicekik.

”Kamu dapat kerjaan baru?” Tanyanya sambil melonggarkan cengkeraman pada kerah baju saya. Saya menggeleng. Dan ia kembali mencekik kerah baju saya.

Istri saya mendorong tubuh saya, sambil memukul-mukul dada saya. Saya terpojok di dinding kamar. Katika saya hendak berkata-kata lagi, ia buru-buru membekap mulut saya dengan tangannya.

”Kamu dipecat ya? Kamu buat salah ya? Kenapa kamu berhenti kerja?”

Ia memberondong saya dengan pertanyaan bertubi-tubi, tapi tak memberikan kesempatan pada saya untuk menjawab. Ia masih membekap mulut saya. Mulut saya disumpal dengan kedua tangannya, seperti ia menyumpal bak kolam renang rumah kami yang sering bocor dengan kaus singlet saya yang sudah tak terpakai.

Saya megap-megap, hampir kehabisan napas. Untung ia menyadari kalau saya hampir kehabisan napas. Ia melepas bekapan tangannya dari mulut saya, lalu ia mengelus-elus dada saya. Lantas ia memeluk saya dengan lembut dan mesra.

”Maafkan aku sudah kasar sama kamu,” katanya lirih di ujung kuping saya.

Setelah itu ia mengerat bibir saya. Setelah itu, entah mengapa kami bergumul di lantai. Kami bercinta sampai ia orgasme berulang-ulang. Tentu pipi saya menjadi sangat merah, setiap ia orgasme, pipi saya ditampar-tampar olehnya. Mungkin begitulah ia melampiaskan kekesalan dan kepuasannya pada saya. Tak apa. Istri saya perempuan cantik, seksi tapi agak sedikit urakan.

Setelah itu ia mengusap-usap rambut saya.

”Maafkan aku sudah kasar sama kamu,” ujarnya lirih di ujung kuping saya lagi.

”Saya yang minta maaf, saya mendadak kasih tahu kamu kalau saya berhenti bekerja,” balas saya pelan sambil mengecup puting susunya. Ia mendesah.

”Masih mau?” tanya saya.

Ia menggeleng. Lalu ia mengambil beha dan memakainya. Mengambil celana dalamnya yang tersuruk di kolong ranjang lantas memakainya masih sambil berbaring. Mengambil kausnya dan mengenakannya. Mengambil celana pendek tigaperempat, lantas memakainya. Ia merapikan rambutnya yang berantakan. Melempar saya dengan selimut.

”Aku tidak suka lelaki telanjang, kamu sudah tahu itu!” ucapnya.

Begitulah kami menyelesaikan masalah pada hari ini. Ya, saya benar-benar memutuskan berhenti bekerja dari tempat saya mencari nafkah sebagai seorang manajer personalia di sebuah perusahaan minyak nasional. Kelihatannya istri saya menerima keputusan yang saya ambil itu.

”Apa rencanamu?” tanyanya.

Saya gelagapan menjawabnya. Saya sendiri belum punya rencana. Rencana selanjutnya, saya baru akan berpikir.***


Jakarta, 8 November 2010

46 Comments to "Ketika Saya Berhenti Bekerja"

  1. Vira C  14 January, 2011 at 08:23

    hmm.. jd bingung. awalnya ia bilang, ”Dengar dulu baik-baik, saya sudah punya rencana selanjutnya,”
    lalu, terakhir malah bilang, ‘Saya gelagapan menjawabnya. Saya sendiri belum punya rencana.’

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.