[Profile] Frans Tshai: Quo Vadis, Indonesia?

Iwan Satyanegara Kamah & Josh Chen


BUNDA TERESA pernah memberi sebuah perumpamaan tentang masa depan. “Bila kita ingin lentera tetap menyala, kita harus memberinya minyak”. Masa datang bagi Bunda Teresa terletak pada generasi baru yang akan menerangi masa depan dengan nilai-nilai berupa moral dan pengetahuan.

Seorang pemerhati pendidikan tahu benar seperti yang dikatakan Bunda atau Ibu Teresa. “Sistem pendidikan kita menganut sistem membebek dan ngamuk“, ujar Dr. Frans Tshai. Akibatnya, tak ada nilai kompetisi didalamnya dan lebih banyak mengekor atau bangsa seperti kasta bebek (bandwagon effect) kata Presiden Soekarno.

Tak banyak yang mengenal sosok pria berusia 68 tahun kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat ini.


SIAPA FRANS TSHAI?

Pak Frans, begitu kami sapa beliau selama perbincangan santai di lobby sebuah hotel bintang lima di Jalan Sudirman pagi hari. Beliau adalah contoh terdepan warga Indonesia yang begitu gigih membela nilai-nilai Indonesia, meski memiliki pengalamannya yang kaya belajar lama di luar negeri dan bekerja sebagai pimpinan di berbagai perusahaan farmasi multinasional terkemuka di tanah air, setelah kembali ke Indonesia dari menuntut ilmu pada 1971.

Setelah tamat dari Kolese Kanisius Jakarta tahun 1962 (beliau kakak kelas jauh Soe Hok Gie, tokoh intelektual mahasiswa saat berdirinya Orde Baru) , Pak Frans belajar kedokteran di Univeritas Freiburg (Jerman) dan di Kreisspital Buelach (Swiss). Hampir 10 tahun dihabiskan di daratan Eropa dan kemudian setahun di AS, banyak menambah kaya pengalaman wawasannya.

Selama belajar di Kanisius daya kepekaan sosialnya dituangkan dengan menjadi redaksi penerbitan koran sekolah bernama “Pemantjar”. Soe Hok Gie sering mengirimkan tulisan, tapi isinya kurang dipahami karena terlalu cerdas untuk masa itu. “Kalau dimuat tidak ada yang mengerti”, alasannya sambil tertawa lepas.

Setelah reformasi, Pak Frans merasa bebas menuangkan aspirasinya yang didambakan untuk merekatkan integrasi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Kota kelahiran Pak Frans di Singkawang terkenal dengan mayoritas berpenduduk keturunan Tionghoa. Usahanya banyak membuahkan hasil meski sering mendapat kesulitan. Bersama Tan Joe Hok (juara tunggal putra All England 1959), Frans Hendra Winata, Ester Jusuf, Tan Swie Ling dan beberapa sahabat, mereka gigih menentang diskriminasi yang dialami kelompoknya.

Karir politiknya yang dituangkan dalam beberapa partai politik yang dimasukinya (Pak Frans berpindah partai tiga kali), membuatnya dipercaya menjadi wakil rakyat di parlemen mewakili partai pemenang pemilu 1999. Tak hanya itu, aktifitasnya dalam banyak perkumpulan sosial seperti Lions Club, Kamar Dagang Indonesia Canada Chamber of Commerce dan Indonesia China Business Council, membuat dirinya melihat semua masalah lebih jernih dari banyak sisi.

Di rumahnya di bilangan asri kota Bogor, Pak Frans yang hobi musik klasik, anggrek dan menulis itu (klik http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg00488.html), juga membuka praktek Chikung untuk penyembuhan alternatif. “Ada sekitar 20 orang tiap minggu datang ke rumah saya untuk mencoba pengobatan Chikung”, katanya bangga. Mereka seperti komunal yang bersaudara. Beberapa dari mereka sembuh dari penyakit tahunan dengan biaya pengobatan yang mahal. Padahal penyembuhan Chikungnya Pak Frans, bisa dikatakan gratis dan mudah.


PENDIDIKAN KUNCI KEMAJUAN

Lebih tiga jam Baltyra berbincang santai dengannya, terkesan akan kegeramannya pada sistem pendidikan di Indonesia yang hanya menghasilkan kualitas anak didik yang tak bisa diharapkan bagi syarat kemajuan bangsa. Seperti apa wajah pendidikan kita di mata Pak Frans?

“Saya bilang pendidikan kita mengajarkan directive, bukan proactive atau creative“, ujarnya sedih. Kondisi ini jauh berbeda pada saat beliau masih duduk di bangku sekolah. “Dulu lulusan SMA kita bisa diterima diperguruan tinggi di Eropa”, katanya bangga. Beliau adalah satu dari banyak contohnya. Baginya anak didik kita tidak diberi semangat juang untuk memperoleh sesuatu.

(sembari memberi contoh: – sambil mengambil bolpen dari saku kemejanya – di Indonesia; ‘apa ini anak-anak? Ini adalah bol….’ dan akan dijawab oleh beberapa anak yang mengerti ‘peeeennnn’. Tentu saja satu menjawab seluruh kelas akan membebek menjawab bersamaan ‘peeeennn’).


Satu hal lagi yang disayangkannya adalah merebaknya brutalitas dari anak didik. “Hasilnya kita mudah mengamuk dan brutal”, kata pendiri yayasan yang menaungi Swiss German University di kawasan Bumi Serpong Damai ini. Bangsa ini menurutnya telah menjadi bangsa pemarah dan mudah tersinggung. Banyaknya tawuran pelajar dan mahasiswa dengan aksi anarkis adalah sebuah cermin dari sistem pendidikan yang disayangkannya.

Berbeda jauh dengan masa pra 1965, pendidikan Indonesia mengutamakan budi pekerti. Namun perubahan masyarakat setelah itu mengarah kepada pemujaan materi yang merambah masuk ke bangku pendidikan. Arah ini semulanya benar untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, tetapi akhirnya berjalan terlampau jauh. Hasilnya, budi pekerti hanya diukur berdasarkan kuantitas nilai akademis dan kuantitas materi pengajaran yang bejibun. “Makanya subjek pelajaran di Indonesia mungkin terbanyak di dunia”, katanya kesal.

Pendidikan dalam masa pemerintahan dua presiden, Soekarno dan Soeharto, memang menghasilkan warna hasil anak didik yang jauh berbeda.

“Wawasan Soekarno dan Soeharto yang jauh berbeda juga merupakan faktor utama yang membedakan gaya kepemimpinan dan hasil capaian dua presiden tersebut”, sambung Pak Frans.

LATAH DAN DISIPLIN

Satu hal aneh dalam benak Pak Frans yang memahami dunia kedokteran adalah sebuah keanehan yang hanya dimiliki bangsa Indonesia, yaitu sikap latah. “Orang bikin roti, kita ikut bikin roti. Orang pakai Blackberry, semua ikut-ikutan pakai Blackberry”, katanya. Tidak heran, istilah latah tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa manapun dan sudah diakuit dalam kosa kata psikiatri internasional. (http://en.wikipedia.org/wiki/Latah)

Hal ini tentu yang membawa sifat buruk bangsa Indonesia yang tidak suka disiplin. Sikap itu menjadi penyakit berjangkit kemana-mana antar generasi. Dalam hal antri kita bisa lihat pola masyakarat kita yang tak suka dengan budaya antri, karena selalu meniru kepada orang yang ingin jalan pintas dan tidak disiplin.

Sebagai orang yang mengalami banyak jaman dan nuansa kehidupan sosial, disiplin bagi Pak Frans, merupakan penggerak kemajuan sebuah bangsa. Apakah orang Indonesia terkenal tidak disiplin dan tidak bisa diajarkan disiplin? Beliau memberi sebuah perumpamaannya kepada reputasi pelayanan jasa sebuah taksi di ibukota yang terkenal dengan kedisiplinannya.

“Kalau kita bicara soal taksi di Jakarta, pasti teringat taksi tersebut (menyebut nama sebuah nama perusahaan taksi terbesar di Jakarta)”, katanya. Artinya, orang Indonesia bisa disiplin asal ada contoh dari pemimpinnya. Semasa SMA, Pak Frans digembleng dengan disiplin keras dari sistem pendidikan kita yang masih baik saat itu. Ditambah lagi diajarkannya tata krama dan etiket, seperti table manner. “Waktu saya naik kapal ke Italia, orang Italia yang satu kapal heran dengan cara makan spaghetti saya yang lebih baik dari orang Italia sendiri”, kenangnya sambil tertawa.

Dia memberi contoh tentang pengalamannya ke Singapura tahun 1962. “Waduh, Singapura kondisinya lebih parah dari Glodok dan banyak gangster”, ingatnya. Namun karena kedisplinan dari pemimpinnya, Lee Kuan Yew, semua dikikis habis dengan tangan besi. Kondisi itu cepat berubah, ketika beberapa tahun kemudian Pak Frans mengunjungi negeri pulau tersebut.

Sekarang Singapura jauh meninggalkan kita dalam kemajuan, sejalan dengan kemajuan Korea Selatan dan Taiwan yang pemimpinnya menggunakan tangan besi untuk memacu disiplin, tanpa memikirkan nilai-nilai demokrasi a la barat yang belum tentu sama penerapannya di mana-mana.

“Lihatlah Filipina, negara yang paling menjunjungi tinggi demokrasi. Jadi apa sekarang? Paling miskin!”, balik bertanya. Di mata pria yang kini bergabung dengan partai politik terbesar itu, demokrasi tidak harus sama penerapannya. Dia memberi contoh demokrasi di Swiss dan negara lain di Eropa, jauh berbeda penerapannya, tetapi tetap dalam demokrasi.

Indonesia kini terlalu jauh dalam berdemokrasi atau sudah kebablasan dan tidak punya bentuk yang tepat untuk diterapkan. Ini artinya dalam mengejar kemajuan akan banyak mengalami gangguan berupa semangat persatuan, yang kini melemah, “Kita memasuki fase yang berbahaya”, katanya.

Semangat yang dipompakan oleh Soekarno berkali-kali bahwa “kita bangsa yang besar”, berhasil mengajak semua orang berpikir positif. Sebenarnya, Pak Frans menyesal tidak bisa memberikan contoh kepada kita pemimpin sekaliber Soekarno yang bangga dengan perbedaan bangsa ini sebagai mozaik indah dalam Bhinneka Tunggal Ika. “Sekarang mana pemimpin seperti Soekarno lagi?”, tanyanya.

Dalam konteks kekinian ada yang dinamakan NLP (Neuro Linguistic Programming), yang walaupun pada masa itu tidak mengenal istilah tersebut. Namun Soekarno tahu persis bagaimana membawa rakyat Indonesia ke arah yang positif. Neuro Linguistic Programming prinsipnya adalah memompakan pemikiran positif ke diri kita sendiri untuk mendapatkan output yang positif.


“Kita bukan bangsa bodoh!”

Baginya, Indonesia kini banyak menghadapi masalah yang berakar dari sistem pendidikan yang carut marut bagai cacat genetis untuk mencari penyebabnya.

“Untuk membangun diperlukan 4 komponen utama, yaitu sumber saya manusia infrastruktur, energi dan kepastian hukum. Lha bagaimana mau membangun kalau sekarang ini semua komponen tersebut amburadul?”, ujarnya sedih.

Meski demikian, menurutnya, bangsa Indonesia bukanlah bangsa bodoh karena sulit dan lamban mengejar ketinggalannya. Sumber daya manusia yang lemah, menjadi tungkah lumpuh untuk berjalan cepat. Beliau memberi contoh bagaimana bangsa Jepang maju pesat setelah mengakhiri isolasi saat kedatangan Laksamana Perry pada abad 19 lalu. Mereka kirim banyak pelajar untuk belajar dan hasilnya bisa dipetik puluhan tahun kemudian.

Kemenangan Jepang mengalahkan bangsa kulit putih saat berperang dengan Rusia adalah hasil pengetahuan yang didapat para pemuda yang belajar di luar negeri. Puncaknya, Jepang berani menyerang Pearl Harbour dan menunjukkan sebagai bangsa yang kuat.

“Ketika Jepang mau menyerah karena kalah dalam Perang Dunia II, Kaisar hanya bertanya tentang nasib guru-guru di Jepang”, katanya memberi contoh. Guru-guru itulah yang membawa semangat SDM yang baik, sehingga usai perang Jepang maju sebagai negara industri termaju di dunia.

“Kita bukan bangsa bodoh”, ujarnya penuh optimis menatap masa depan. Orang kita mudah untuk maju, asal disiplin dan punya pemimpin yang kuat, tegas dan berkarakter yang sayangnya sulit mencarinya saat ini. Walaupun ada, harus dimulai dengan membenahi sistem pendidikan yang mengutamakan disiplin bagi generasi mendatang.

Seperti sebuah lentera, kita hanya memilikinya tetapi malas memberinya minyak agar dapat tetap menyala dengan baik di masa datang. Apakah artinya masa depan Indonesia gelap?

“I never lose hopes”, harap Pak Frans mengakhiri percakapan dengan Baltyra. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.