Anak Teroris Itu

Ary Hana


Sudah lebih seminggu bapakku telat pulang. Kadang tengah malam dia baru sampai di rumah, dan lepas subuh sudah berangkat ke kantor lagi. Nampaknya dia lupa ada ibuku dan tiga anaknya menunggu. Benar-benar lupa atau pura-pura lupa, entah ku tak tahu.

“Bapakmu super sibuk belakangan ini, jadi kamu jangan nakal. Jangan suka berantem dengan adik-adikmu,” nasehat ibu.

Aku hanya mengangguk. Apalagi yang bisa kulakukan, anak awal SD yang buta kejadian di luar.

Yang kutahu hanya, setiap akan berangkat kerja dia memeriksa dulu pistolnya. Bunyi “greg.. greg.. sreet” pasti keluar dari sana. Dia melepaskan selongsong peluru berbentuk kotak, mengeceknya, dan memasangnya lagi.

Kadang dibrasonya pistol warna perak itu hati-hati. Ditatapnya penuh takjub pendar cahaya yang memancar dari besi dingin itu, lalu disampirkannya ke sisi kiri perut di balik ikat pinggang dan seragam premannya.

Belum lima tahun kami pindah ke kota buaya ini. Namun sejak menginjakkan kaki di asrama  ‘asal’ den intel ini, jarang kulihat bapakku berangkat kerja pakai seragam tentara lagi. Hari-harinya di rumah pun berkurang.

Minggu bukan lagi hari keluarga. Jam 4 petang bukan lagi saat pulang ke rumah. Tak jarang berhari-hari dia tak pulang, lalu nampak di rumah dengan wajah dingin, mulut terkunci. Kalau ibuku bertanya ‘Sedang tugas apa, Mas’, bapakku hanya menjawab, ‘rahasia negara’.

Belakangan baru kutahu kalau dia jadi intel, anak buah Sudomo, juga Benny Murdani.”Intel itu apa, Pak,” tanyaku suatu hari.

Bapak hanya memandangku tajam, lalu mengelus-elus kepalaku. “Kamu suka nonton film Mannix?” aku menganggukkan kepala. Tentu aku suka nonton Mannix, detektif yang membasmi kejahatan di teve. Film kesayanganku, malah. Walau saat itu aku belum paham makna detektif. “Begitulah kerja Bapak,” jawabnya.

Dadaku membuncah, ada panas mengalir, rasa bangga.

Suatu hari ibuku pulang dari arisan persit di kantor bapak. Wajahnya sumringah. “Bapakmu akrab dengan anak kecil di kantor, lucu anaknya,” ceritanya.

“Siapa Bu?” tanyaku ingin tahu.

“Anak orang yang kemarin membajak pesawat garuda. Beritanya masuk teve,” jawab ibuku. Aku nggak ‘ngeh’, nggak ngerti maksudnya.

Ketika bapakku pulang dari kantor, ibuku pun berkicau tentang anak lelaki di kantor bapak. “Betul itu anak Imran, Mas?” tanyanya ceria.

“Iya.. ,” pendek jawab bapakku.

Ngganteng ya, dan cerdas.”

“Bapaknya juga pinter.”

“Setiap hari di kantor?”

“Iya.. ibunya kan setiap hari datang.”

“Kulihat kawan-kawan Mas suka memberinya uang, juga makanan.”

“Kasihan anak itu, seharian di kantor mosok nggak diberi makan. Masih 3 tahun umurnya.”

“Iya.. aku juga nggak tega. Kemarin kubelikan pisang goreng. Kemana-mana dia nenteng tas kresek hitam, menggemaskan.”

“Itu kan pakaian bapaknya, buat ganti.”

“Ooo..”

Hanya itu pembicaraan yang berhasil kucuri dengar subuh itu. Tak berapa lama bapak pergi ke Jakarta, mengawal Imran. Lalu tak kudengar lagi kisah bocah ganteng yang cerdas itu.

Kelak kutahu yang dimaksud ibuku adalah Imran bin Muhammad Zein, otak di belakang  pembajakan pesawat DC-9 garuda Woyla di Don Muang, Thailand, pada 28 Maret 1981.

(http://maulanusantara.wordpress.com)


Maret 2010,

Ary Hana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.