Opera Musim Dingin (2)

Ana Mustamin


Kendati demikian, diam-diam ada penyesalan bersemayam di dada Zaza. Toh, semalam Lala sebetulnya sudah menawarkan jasa agar si Kriwil itu mengantarnya saat dia mengutarakan niat akan berkunjung ke The Peak. Ya, kalau saja ia tak menolak ditemani, kalau saja cowok itu ikut bersamanya di sini – berduaan di pucuk Peak Tower di tengah suhu udara yang demikian rendah, apa yang akan terjadi? Mula-mula mereka mungkin hanya akan bercakap, sebatas ngobrol ngalur-ngidul, tapi kemudian … saat giginya gemeretak, tidakkah cowok itu akan tergerak untuk menyodorinya kehangatan – merangkulnya, misalnya?

Astaga! Zaza memaki dirinya sendiri. Apa banget deh! Jangan lebay, Zaza. Kok bisa sih dia membayangkan seperti itu? Mengapa ia tidak bisa berhenti untuk memikirkan cowok itu? Cowok yang mungkin lebih dari separuh waktunya di luar rumah dihabiskan bersama Lala. Lagipula, apa mungkin cowok itu tertarik padanya, sementara Zaza tahu Lala jauh lebih cantik dibanding ia?

Arghhh! Sesaat ia kesal sendiri. Sejak kapan sih mereka dekat?

Menyesal ia tidak terlalu mengikuti hari-hari Lala. Sejak Lala duduk di bangku kuliah, hubungan mereka memang tidak lagi sedekat dulu. Mula-mula karena mereka sibuk dengan dunia baru masing-masing. Lala masuk perguruan tinggi, tepatnya di Fakultas Ekonomi – ingin mengikuti jejak papa yang jadi bankir. Sementara dia baru masuk ke kelas 10 di SMU. Suasana baru, teman-teman baru, membuat mereka memiliki dunia sendiri-sendiri.

Lambat laun, Zaza merasa dunianya makin gak nyambung dengan kakaknya. Meski kini ia sudah mulai kuliah juga di Fakultas Komunikasi. Lala tumbuh dengan memadukan kelebihan kedua orangtuanya – cantik dan anggun seperti mama, dengan otak yang cemerlang serupa papa. Rambutnya tergerai panjang , berkulit kuning persis mama, dengan mata yang senantiasa berpendar cerdas. Berbeda dengan dia … dia menjadi siswa yang biasa-biasa saja di sekolah, tidak bodoh namun juga tidak terlalu menonjol.

Secara fisik ia hampir mewarisi seluruh yang ada pada papa: mata kecil bulat, alis rapi, bibir mungil, rambut cepak dan kulit cokelat bening. Sayangnya, ia sama sekali tidak menunjukkan minat yang sama dengan papa. Ia penyuka sastra – pembaca buku yang rakus. Ia hobi bertualang – menjadi backpacker, menjelajah kota-kota cantik dan tempat-tempat eksotis di Indonesia dan negera tetangga seperti Singapuradan Malaysia. Ia bercita-cita jadi reporter teve, meliput dari satu tempat ke tempat yang lain – pekerjaan yang tentu saja ada unsur jalan-jalannya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan Ekonomi Internasional, ilmu yang menjadi keahlian papa.

Karena itu wajar jika ia tidak terlalu mengikuti perkembangan Lala. Ia jarang di rumah. Apalagi saat libur semester tiba, Zaza lebih sering traveling dengan teman-temannya. Lagipula Lala lebih nyambung dengan papa. Mereka bisa berjam-jam berdiskusi hanya karena rupiah hari ini anjlok terhadap dolar – topik yang sama sekali gak dipahaminya. Bagi Zaza, satu-satunya yang menarik tentang dunia papa – seorang direktur yang mengurusi investasi di sebuah bank, karena papa tampaknya tidak terlalu mempersoalkan seberapa rupiah yang ia habiskan untuk hobi jalan-jalannya. Toh, Zaza tahu diri. Ia tidak pernah meminta lebih. Ia menikmati peran sebagai backpacker – berlibur dengan tidur di hotel melati atau bahkan di alam terbuka, ketimbang menghabiskan waktu di hotel-hotel berbintang.

Tapi sejak empat bulan lalu, ia tiba-tiba merasa dunia papa dan Lala begitu menarik. Itu disadarinya pada sebuah petang, ketika si Kriwil itu mendadak muncul di teras rumahnya.

“Kenalin, ini adikku!” Lala memperkenalkannya.

“Hai, saya Sakti! Teman kuliah Lala,” cowok itu mendahuluinya bicara, senyumnya mengembang.

“Zaza.”

Cowok itu berkulit cokelat seperti dirinya. Matanya berpendar hangat – meski suaranya agak hemat. Dengan rambut yang kriwil, ia sangat mirip Giring Ganesha – vokalis Nidji. Hanya, ukuran tubuhnya sungguh jangkung. Tipikal yang disukainya, sekaligus yang tidak pernah masuk hitungan sahabat-sahabatnya. Entah kenapa, Diby, Jihan dan Wulan justru memiliki selera yang sama: mereka sama-sama menyukai cowok berkulit putih terang. Kulit, yang menurut Zaza, kelihatan kurang macho.

Sejak kedatangan Sakti yang pertama, hatinya sudah tercuri. Setiap kali ia menampak sosok jangkung itu, atau bersirobok pandang, dadanya berdenyar. Apalagi, Sakti makin sering berkunjung ke rumahnya. Tepatnya, mengunjungi Lala. Mula-mula ia mengenalnya sebagai teman satu kelompok belajar Lala. Bukan dengan Sakti aja sebetulnya. Mereka bertiga – ada Yngwie juga, cowok putih manis dengan hidung bangir. Yang terakhir ini hobinya main gitar di sela waktu belajar mereka. Mungkin dia memang titisan Yngwie Malmsteen – gitaris legendaris idola papa, gitaris yang konon digelari shredder terbaik sepanjang masa.

Dalam pengamatan Zaza; Lala, Sakti dan Yngwie tekun banget belajarnya. Mereka menempa diri nyaris di setiap jeda waktu kuliah. Seperti tak pernah lelah mencoret-coret whiteboard dan memencet-mencet keyboard notebook yang ada di perpustakaan keluarga. Kata mama, Lala dan temannya lagi persiapan ikut lomba simulasi saham antar mahasiswa Ekonomi Perguruan Tinggi se Indonesia. Simulasi saham? Binatang apaan tuh?

Karena gak ngerti, Zaza enggan bergabung. Takut gak nyambung. Diajak ngomongin Pramudya Ananta Toer, oke aja. Atau ngomongin novel Gabriel Garcia Marques hingga Ayat-ayat Cinta yang digandrungi teman-temannya. Atau bahkan novel-novel teenlit, siapa takut? Tapi disuruh bicara saham … alamak! Bisa mati berdiri dia. Baginya, gedung bursa saham yang selalu dilihatnya setiap kali melintasi Sudirman, ibarat negeri antah-berantah. Gak terpetakan. Rasanya sampai kiamat pun dia gak mudeng. Meski papa sering banget ngomongin itu di layar televisi dan sesekali menyinggungnya di meja makan.

Zaza enggan bergabung ke perpustakaan, meski ia tahu itu tidak akan mengganggu konsentrasi kakak dan teman-temannya jika dilakukan sesekali. Toh ia sering mendengar Yngwie bermain gitar sembari bernyanyi. Atau mendengar Sakti terbahak-bahak. Ia sedapat mungkin menghindar, karena dia gak pengen keliatan bego-bego amat di depan teman-teman kakaknya. Apalagi di depan si Sakti itu.

Karena itu, Zaza hanya berani mengintip sekilas setiap kali ia melintas di mulut perpustakaan. Atau mengambil posisi duduk di sofa ruang tengah seolah tenggelam dengan bacaannya. Atau pura-pura memutar DVD dan menonton film kesayangannya. Padahal, diam-diam ekor matanya memperhatikan Sakti melalui pintu perpustakaan yang terbuka.

Sampai akhirnya sayup-sayup ia mendengar kabar itu: Lala and the gang merajai kompetisi simulasi saham.

Dan puncaknya, papa memberi kejutan, “Sebagai hadiah atas kemenangan kalian, Lala, Sakti dan Yngwie boleh jalan-jalan ke Hong Kong!”

“Benar, Pa?” Lala terlonjak senang. Sementara dua temannya tampak terkesima.

“Ya, di bursa saham Hong Kong, ada Oom Valent – sahabat seperguruan Papa. Siapa tahu kalian boleh melongok kesibukan bursa saham di sana.”

Tak terperi kegembiraan Lala dan Sakti. Tapi tidak demikian dengan Yngwie. Dua hari sebelum keberangkatan mereka, Yngwie urung ikut. Ia ada masalah keluarga yang tidak mungkin ditinggalkan. Semula, Lala ingin mengundurkan rencana jalan-jalan itu, menunggu sampai Yngwie siap. Tapi travel biro tidak mau membatalkan tiket mereka, karena permintaan itu begitu mendadak. Kalau pun batal, mereka akan dikenakan denda.

Walhasil, Papa kemudian menunjuk Zaza untuk mendampingi kakaknya. Kata Mama, Lala gak mungkin dilepas berduaan dengan Sakti ke luar negeri. Meski ini bukan kunjungan Lala yang pertama ke Hong Kong. Dua tahun silam, saat libur akhir tahun, Zaza, Lala, Mama dan Papa sempat mengunjungi Beijing dan Hong Kong selama sepekan.

***

Tapi kini aku sendirian kedinginan di sini, Papa. Gumam Zaza sentimentil. Sementara Lala dan Sakti … hmm, sekarang mereka ngapain di Sha Tin sana?

Membayangkan kakaknya berangkulan dengan Sakti sepanjang jalan, mendadak ia merasa ada gigil merambati sekujur tubuhnya. Gigil yang bikin giris. Membuatnya ngilu, melumpuhkan persendiannya – dari mata kaki mendaki ke atas: ke betis, paha, perut, dada … dan berhenti di situ, menghunjam dalam. Ya ampun, Papa, apa yang terjadi dengan putri bontotmu? Mengapa hatinya mendadak melepuh? Dan hai, coba lihat, pada sepasang matanya yang mengerjap … ada bulir air menempel …

I don’t feel well …,” bule di sebelahnya berucap dengan bibir bergetar kedinginan.

Zaza tidak menoleh, tapi ia mendengar sepasang turis itu sepakat meninggalkan balkon.

Akankah ia tetap bertahan di situ?

Seperti tersengat, Zaza meneliti jarum jam di pergelangan tangannya. Hampir pukul 22.00! Astaga, kalau ia sampai ketinggalan kereta, dengan cara apa ia mencapai Sha Tin?

Seperti kesetanan, ia menuruni anak tangga. Lift dan eskalator sudah dimatikan pihak pengelola Peak Tower. Ayo cepat Za, hardik hatinya. Rasanya ia tidak pernah seceroboh ini sebelumnya. Melamun dengan perasaan melankolis yang amat sangat. Sejak kapan ia jadi cengeng? Ia traveler sejati. Ia sudah terbiasa bepergian dengan teman-temannya. Mereka biasanya riang-gembira, berjiwa kembara. Mereka menyusun rencana perjalanan secermat mungkin. Dan meski mereka sesekali bercanda dengan risiko, tapi risikonya terukur.

Bukan seperti sekarang. Membiarkan diri dilanda kesedihan, merelakan duka bersemayam yang ia tidak ketahui persis kapan tibanya dan dengan cara apa diakhiri. Kesedihan yang rasanya membuatnya limbung, kehilangan arah. Membuatnya kesulitan mengkalkulasi waktu. Dan semua karena satu hal: ia jatuh cinta diam-diam. Jatuh cinta pada orang yang salah. Dan, celakanya, di antara intuisi dan rasionya, ia berharap sesuatu yang absurd: sebuah keajaiban akan muncul pas di hari keempat mereka di Hong Kong, di hari valentine. Keajaiban yang akan mengubah semuanya …

Akankah ia berharap Sakti akan membalas perasaannya? Akankah ia berharap Lala datang kepadanya yang dengan tulus dan senyum ikhlas merelakan Sakti berpindah ke pelukannya?

Taik, ah! Apa banget deh kamu, Za. Sakti itu pacar kakakmu. Bagaimana kamu sampai hati merebutnya? Lagi pula, bagaimana mungkin kamu bisa bersaing dengan Lala? Lala jauh lebih cantik dan cerdas dibanding kamu. Apa Sakti mau? Udah gila, apa?

Tapi bagaimana meredam perasaannya? Bagaimana ia harus menjaganya agar tak terbaca Sakti, dan terutama … Lala? Bagaimana ia menanggung semuanya? Kepada siapa ia menyerahkan sekeranjang luka dan resahnya?

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.