Ciroan-Q: Dongeng Lidi

P. Chusnato Sukiman


Cipratan Jeroanku atawa CIROAN-Q # 1

***

[CIROAN-Q singkatan dari “Cipratan Jeroanku” adalah sebuah serial cuplikan catatan harian usang yang tadinya sangat personal, tapi akhirnya sengaja dipublikasi untuk membongkar keberanian diri. Semacam renungan ringan, bukan fiksi, semua terjadi tepat di depan mata saya, atau tepatnya “ceceruhatan yang gak penting banget”. Catatan ini tidak akan pernah di-tag ke siapapun, tapi jika Anda kebetulan lewat, silakan mampir jika siap mual. Boleh dibaca, boleh komentar, silakan buang jika mulai terasa eneg, dan sangat dianjurkan untuk tidak membacanya. Anda juga boleh julurkan lidah Anda jika perlu. Wheeks!]

***

Cilacap, 7 Februari 2007

Sambil minum wedang jahe senja hari, mak bisa mengajak kami bersinggah ke tiga negeri dongeng. Kali itu, senja sudah menyepuh warna lumut, langit gelap, tapi tak bermega. Wedang jahe bukan lagi panas ditenggorokan, tapi nyaris membakar…

Ia bercerita tentang pangeran yang tertusuk cinta. Saya mulai merasa familiar dengan cerita itu. Lalu, saya mencoba merapikan perasaan yang mulai berantakan,. Saya mulai tersindir…

“Si Pangeran lupa, puluhan gadis bisa dia dapatkan, tapi dia belum dapat apa itu cinta…”

“Apa yang dia dapat?” celetuk adik bungsu saya.

“Dapat! Karena dia malu, tepatnya dipermalukan, tersindir, sedih, dan merasa kehilangan mahkotanya…”

“Kok kayak begitu dibilang cinta?” si bungsu memang terlalu banyak mencekat cerita, tapi si mak terus melayaninya dengan setia…

Begini…

*

Mak mengambil beberapa batang lidi. Dia patahkan tak beraturan, lalu dia jajarkan satu persatu… dan bertanya “mana yang paling tinggi?”

“Nah, itu pangeran!!!” jerit adik saya yang lain…

“Benar,” kata mak menunjuk lidi paling panjang …

Lalu lidi lidi itu disapu dengan lengannya, semua berserak jatuh ke lantai. “Sekarang siapa yang paling tinggi?”

Kami semua diam…

Kalau belum dapat jawabannya, berarti kalian semua masih menyimpan rasa sombong… cerita ini selesai, kita lanjutkan kalau kalian sudah tahu jawabannya…

Kami sempat terdiam. Dua adik saya merajuk. Saya tahu jawabannya, tapi saya sungkan, sebab saya masih harus menata perasaan dan emosi saya yang tersindir…

***

Jakarta, 17 Desember 2006

Saya mengenalnya, lalu berani mengatakan saya sedang jatuh cinta. Kita sebut saja dia dengan “N”.

Kami berkenalan dalam sebuah seminar perbukuan. Saya jadi pembicara, dia datang sebagai hadirin mewakili kantornya. Kami minum kopi bersama. Dia bertanya, saya bercerita. Ketika dia bercerita, saya mendengarkan. Semua mengalir bagai air sungai yang jernih. Ibaratnya, semua batang pohon, dedaunan, dan batu tampak jelas. Saya tergoda bagaimana dia bercerita soal ibunya, soal ibunya, soal ibunya…soal ibunya dan soal ibunya…

Dalam sejarah hidup saya, belum pernah saya mendapat teman bicara paling jernih seperti dia. Ah, dia bicara apa adanya, tanpa takut ditanya secara mendetail, tanpa takut terintrograsi, tak canggung bila didesak dengan pertanyaan berikutnya…

“Saya yakin, orang yang banyak bertanya pada kita adalah orang yang paling sayang sama kita…”

(Anjrit!!)

Dia menggoda saya, dan betul, saya memang minta digoda.

“Kadang kebiasaan bertanya dulu saat jadi wartawan masih terus terbawa… Sumpel saja mulut saya jika ada pertanyaan yg membuat risih…” tawa kami lepas.

Saya ingat, dia menambahkan, “kalau yang bertanya tidak risih kenapa saya jadi risih?”


***

Wakatobi, 10 Januari 2007

“Saya sudah kirim email panjang, sekiranya ada waktu tolong dibaca, tapi mohon jangan dibalas…” itu bunyi SMS terakhirnya, tepat ketika saya tugas luar kota di hamparan pulau-pulau kecil nan elok.

Saya berada tepat di tengah permadani lautan yang molek, tapi hati saya sumbing. Kecut. Dia memutuskan untuk tidak menemui saya lagi hanya dengan alasan ingin berhenti bekerja, beringsut dari Jakarta, lalu mripil ke pinggiran kota Sampit Kalimantan untuk menemani ibunya berobat alternative sampai sembuh. (seperti dongeng di majalah ibu-ibu saja ya?)

Ini pertamakalinya saya merasa jatuh dari langit, lalu terhimpit dua batu besar. Sesak nafas saya. Perut mual tanpa sebab. Manik mata saya perih…

***


Jakarta, 4 Februari 2007

(obrolan sebelum mudik)

Saya: Besok mudik, kan enak kalo ulang tahun di kampung. Gak mesti traktir temen2, dah gitu dicariin pula… Bikin heboh tiap tahun.

Mak: Kamu kan kalau lagi jomblo selalu mudik kalau ulang tahun…

Saya: hehehe. Lagi sedih saja, sih. Sekalian saja mudik

Mak: Sedih senang atau sedih perih?

Saya: Sedih ….sedih senang kayaknya.

Mak: cerita dikit, jangan banyak-banyak, sayang pulsa

Saya: Saya sempet jatuh cinta. Belum sempet ngomong, tapi rasanya dia juga jatuh cinta juga deh…

Mak: kenapa?

Saya: Gengsi!!! Dan rasanya gak perlu deh kita bilang sayang dan cinta sama orang yang kita sayangin… Malu! Risih…

Mak: Itu artinya kamu masih nyimpen rasa sombong, ditaroh dong mahkota kepangerannya, kalau perlu dibuang. Angkuh itu… ora elok

Saya: Gak sama kali mak, risih dan angkuh itu. Beda itu beda, maaaaakkk…

Mak: Orang yang angkuh itu selalu merasa gengsi untuk ini itu. Tampangnya bisa (seperti orang) miskin, orangnya bisa saja bersahaja, tapi, kalau masih risih untuk berkata yang welas asih, itu angkuh, Ngger…!! Orang bisa saja merasa buruk rupa dan paham dia gak menarik, tapi apa salahnya berkata jujur?? Orang bisa saja kelihatan rendah hati tapi mengapa mengharamkan kata-kata yang paling digjaya seperti cinta…??

Saya: apa iya kata sayang dan cinta itu sangat sakti?

Mak: kamu pernah coba kan? Sering kan? Ke semua orang kamu mampu, tapi, mengapa kepada orang paling special kamu enggan?? Hayoooo…

Saya: Buat apa sih, apa-apa diomongin?? Kan dia juga tau, kalau saya jemput dia artinya apa? Kalau saya nungguin dia itu apa? Lintang pukang carikan novel lama yang sudah langka di pasaran, dan dia kebelet baca, lha itu apa namanya? Saya juga pernah potongin kukunya waktu dia jatuh terkelupas… itu kalau bukan cinta apa sih?

Mak: Tapi kamu gak malu bilang sayang sama mak mu?

Saya: kan mak yg ngelahirin saya, kok malu?

Mak: terus bilang cinta sama adik mu? Kamu gak malu bahkan di muka umum kamu bisa sun dia…

Saya: ya gak malu lah, adik sendiri…

Mak: Buang deh mahkota kepangeranmu, Ngger… Buang!!

Saya: Tapi kadung kabur orangnya… Dibuang juga percuma, mak! Lha wong kalau dibuang orangnya juga udah gak ada gitu…

Mak: kalau kamu sudah bisa merasa dipermalukan, seperti tadi misalnya. Dan jika ada orang yang bisa membunuh keangkuhanmu, itu namanya cinta…

Saya: *sialan banget tuh orang* (dalam hati)

Mak: nanti kamu pasti ketemu orang lain lagi, Insya Allah, siap2 buang gengsi, katakan saja, kamu maunya apa, apa yang kamu rasain. Kalau kamu masih malu dan risih, kamu siap untuk kecut lagi… dan sampai ketemu orang yang baru lagi… gak capek apa Ngger?? Dia, siapapun dia nanti itu akan menjadi guru paling kejam untuk mengajak kamu melupakan menghapus mimpi buruk seperti ini…

Saya: *nelen ludah sendiri* (dalam hati teriak bilang AMIEEEEEEEEEEEEENNN…!)

Mak: istilahnya sih, Ngger, cinta itu datang, ketika kamu sudah yakin kamu sudah gak angkuh lagi…

***

Cilacap, 6 Februari 2007

Angin laut berhembus pelan. Ketika sampai di telinga, udara jadi terasa panas. Ini senja yang membuat hati saya paling berpasir.

Memandang langit seperti tersindir. Ada awan perak, tapi tak ada suara. Ada angin, tapi tak ada suara…

“Berkatalah seperti doa,” suara mak memecah lamunan. “Serapah, cinta, dan elan adalah doa… Lain kali, jangan lupakan itu, setiap kata yang bicara dari hati adalah doa…”

Pernah dengar cerita Pangeran Lidi? Nah, dia mematahkan sejumlah lidi sekenanya. Lalu berceritalah dia tentang lidi lidi ada yang panjang dan pendek.

Maka berceritalah dia soal keangkuhan yang kadang masih tersimpan dalam palung hati…


[email protected] Holistic Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.