Fahrenheit Lu, Celcius Gue

Hariatni Novitasari


Maaf, judulnya agak aneh. Seaneh yang menuliskan catatan aneh.

Cuaca. Adalah satu hal yang sangat berbeda di sini dengan di kampung sana. Jaman di kampung, saya tidak pernah peduli dengan cuaca. Jadi, saya tidak pernah membaca ramalan cuaca. Alah, paling nanti cuacanya juga begitu-begitu. Paling panas, atau hujan. Kalaupun hujan, ya paling begitulah hujannya. Kadang deras, kadang berangin, kadang berpetir. Paling juga banjir kalau curah hujannya terlalu tinggi dan got sudah mampet karena kepenuhan air. Kalau sudah hujan dan banjir, pastilah akan macet jalanan.

Yang paling aman kalau sampai hujan, banjir dan macet, ya ngendon di kantor sampai semuanya selesai. Tapi waktu balik ke kos mendapati air sudah pada masuk…. Atau kalau hujannya malam dan pas tidur dengan enak karena dingin, tahu-tahu waktu kaki turun dari ranjang, sudah air semua di lantai alias sedang banjir. Hahahahaha. Tapi ya, cuaca tidak pernah menjadi masalah. Sepanjang tahun akan begitu-begitu saja. Dan, jarang orang yang percaya pada ramalan cuaca di Indonesia. Aku baru melihat suhu dari BMG kalau memang Surabaya sudah sangat panas seperti 38’ Celcius, baru tiap hari lihat koran. Selain itu, tidak pernah lihat ramalan cuaca.

Ketika boyongan sementara ke negeri empat musim ini, aku mulai benar-benar memperhatikan yang namanya ramalan cuaca. Dia adalah hal yang paling sering aku cek kapan saja dan dimana saja. Terutama di pagi hari. Apakah hari ini akan hujan atau akan panas. Berapa derajat suhunya. Jadi bisa benar-benar mempersiapkan diri kalau kamu keluar rumah. Ramalan cuaca jarang salah atau tingkat ke-error-annya juga sangat rendah. Prediksi banyak benarnya. Kalau misalnya dibilang sunny, maka benar-benar sunny. Kalau hujan ya hujan. Kalau mau dingin ya dingin. Melihat ramalan cuaca adalah telah menjadi satu kebutuhan. Jangan sampai salah kostum atau salah bawaan ketika keluar rumah.

Di kampung tidak pernah peduli dengan hal semacam itu karena tidak akan terjadi iklim yang sangat ekstrim. Misalnya saja, pagi hari hangat. Paling nanti sore juga tetap hangat atau panas. Tidak sampai pagi ini hangat, sorenya sangat minus. Kalau di negeri ini, yang terjadi seperti itu. Di kampung, semua yang kita miliki adalah sepanjang tahun. Ya celana jeans, ya kaos, ya sandal jepit, ya semuanya deh. Kadang mikir, Tuhan itu memang adil, apa jadinya kalau Indonesia dikasih juga musim dingin? Bagaimana nasib para homeless atau para pedagang kaki lima yang tidur di rombongnya, pasti mereka akan membeku. Selain itu, orang juga mau tidak mau harus beli coat, atau juga harus beli krim pelembab yang banyak karena kulit selalu kering.

Kadang jadi berpikir juga. Karena cuaca yang tidak pernah jelas seperti ini, yang berganti-ganti, makanya masalah cuaca menjadi hal yang “matter”. Hal yang penting. Dia menjadi bahan obrolan di mana saja. “Wah, indahnya cuaca hari ini ya… “, “Wah dinginnya hari ini ya… ” “Besok diramalkan turun salju lho… ” dan sebagainya. Mereka juga akhirnya lebih menghargai cuaca daripada kita. Bisa memuji cuaca yang bagus alias cuaca dengan langit bersih dan panas. Dulu, jaman di Surabaya, Lucia pernah suatu ketika memuji langit yang indah macam begini “Woooow… wat een leuke weerje.. Langitnya bagus” dengan setengah kaget dan terheran-heran…. hehehehe.

Kata mevoruw Ann, itu adalah reaksi orang yang pernah tinggal di negara dengan empat musim. Musim yang senantiasa berganti membuat orang lebih menghargai pada cuaca, memanfaatkan waktu dengan baik karena cuaca keburu berubah. Yah, semacam jaman musim winter begini, jam 4.30 sore sudah gelap… Hiiiii.. Jadi, kalau mau kemana-mana, harus cepat-cepat. Biar sebelum gelap sampai rumah. Selain kalau malam lebih dingin juga karena factor safety. Apalagi di area sekitar kampusku yang terkenal horror. Hiiii…

Nah, kembali ke masalah ramalan cuaca. Ada satu hal yang membuat benar-benar bingung. Tidak lain karena yang pakai Fahrenheit. Berapa juga tuh di Celcius? Konon, US adalah satu-satunya negara yang masih menggunakan F. Seperti halnya mereka yang menggunakan pound, inch dan feet untuk ukuran lainnya. Kalau lagi di depan internet ga masalah sih, langsung bisa aku convert.

Kalau sedang tidak di depan internet dan lagi ngobrol sama orang Amerika tentang cuaca, jadi kadang suka bingung berapa padanan di C. Giliran aku yang pakai Celcius, ganti mereka yang bingung. Hanya yang menjadi patokan, kalau 32’F itu biasanya 0’C. Tapi kayaknya perbedaan tidak benar-benar 32 antara kedua hal itu. Meskipun orang ramai menggunakan kata F, masih saja bingung dengan padanan di C. Dan, orang yang menggunakan F juga bingung dengan C. Tapi hanya satu yang tidak bisa dibohongi, kalau dingin ya memang dingin.

Ketika aku menuliskan note ini, di luar sedang mendung sangat tebal. Hal yang sudah diramalkan. Hari ini sama besok cuaca akan sedikit buruk. Dingin dan hujan. Besok malah kemungkinan akan turun salju dengan tebal.



Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *