Rookies: Sampah Menjadi Emas di Tangan Kawato

Dwi Astini


Kawato, guru yang pantas menjadi contoh teladan bagi guru seluruh dunia. Di saat semua orang mengatakan siswanya adalah “sampah dan orang yang tak berguna”, bermodalkan semangat dan kepercayaan diri, dia mampu memporak-porandakan pangan banyak orang terhadap siswa nakal menjadi siswa berprestasi, mengharumkan nama sekolah.

Cerita kehebatan Kawanto ini bisa ditonton di ROOKIES. Film yang  menggabungkan drama dan olahraga (baseball), karenanya film ini disebut-sebut sebagai salah satu kisah yang penuh potensi, sekaligus menjadi contoh bagaimana orang Jepang bisa membangun negaranya sedemikian maju. Cerita kehebatan Kawato ini direkam jelas melalui perjuangannya yang dulunya blacklist, lalu diberi tanggung jawab untuk membawa murid-muridnya yang terdiri dari anak-anak nakal dan rusuh ke pertandingan baseball tahunan yang diadakan di Koshien.

Kekerasan dilakukan seseorang, bukan karena tak mempunyai impian, tapi karena kehilangan harapan. Itulah yang dialami Mikoshiba dan teman-temannya yang dilarang mengikuti turnamen baseball selama setahun, karena salah seorang dari tim mereka memukul kepala lawan dengan stik baseball. Bahkan sejak kasus itu mereka dicap sebagai tim “sampah”.

Kawato, adalah sosok guru yang luar biasa. Walaupun ia pernah terlibat dalam masalah kekerasan dengan sekolah, yang pada akhirnya harus dikeluarkan oleh sekolah dulunya, tempat dimana ia mengajar sebelumnya. Tetapi ia mempunyai dedikasi dan apresiasi terhadap impian murid-muridnya.

Jiwa dan semangat tersebut ia bawa ke sekolah baru, SMA Futagotamagawa, tempat dimana ia akan mengajar selanjutnya. Namun kali ini, Kawato tidak lagi menggunakan kekerasan untuk menghadapi murid-murid berkelas “bandit” seperti Mikoshiba dan teman-temannya. Ia berusaha sebisa mungkin, untuk membangkitkan semangat mereka, untuk kembali mencintai baseball yang menjadi impian mereka selama ini.

Namun, keadaan tak berjalan mulus seperti yang kita bayangkan, ada yang menyukai semangat Kawato, ada yang malah membencinya, bahkan menganggapnya sebagai perusak hubungan persahatan Mikoshiba dan teman-temannya.  Salah satu teman mereka, yang biasanya dipercayakan untuk menjaga kunci ruangan tim baseball, menyerahkan kunci tersebut ke Kawato.

Ketika, mengetahui niat baik dari anak itu, ia menyimpan kunci tersebut di laci meja kantornya, dan memasang sebuah pengumuman di depan pintu ruangan tim baseball dengan tulisan kira-kira seperti ini “Kunci ada di tangan saya, apabila kalian menginginkannya, silahkan bertemu dengan saya”.

Guru kelas 2 ini harus berkali-kali menghadapi kekerasan yang sering terjadi di sekolahnya. Namun karena beliau cukup jago karate, murid-muridnya pun pada akhirnya segan dan mulai menuruti kata-kata mutiara yang meluncur dari mulut Kawato. Dipimpin Mikoshiba, plus pitcher, Aniya, kesepuluh atlet baseball Futagotamagawa perlahan namun pasti mulai menunjukkan kemampuannya di atas lapangan.

Kemudian pada suatu saat mereka berhasil menang melawan Megurogawa, salah satu sekolah di Jepang. Tetapi karena banyaknya pemberitaan di media yang menyatakan bahwa Kawato merupakan pelatih yang menggunakan kekerasan, maka akhirnya komisi disiplin memutuskan untuk melarang Kawato mendampingi timnya bertanding.

Ditambah lagi waktu itu Aniya terlibat perkelahian yang membuat tulang rusuknya retak, yang membuat Futagotamagawa pada tahun itu belum berhasil tampil di Koshien. Dan saat hukuman pada Kawato telah usai, akhirnya tim bersatu lagi dan bersiap menuju Koshien di tahun terakhir mereka duduk sebagai siswa Futagotamagawa.

Banyak sekali adegan dalam drama ini yang membuat penonton merasa tersentuh hatinya, terutama ketika Kawato memberi nasehat pada murid-muridnya. Dan secara pribadi, menurut saya film ini sangat layak ditonton para pemuda di Indonesia, karena dapat menghilangkan pemikiran bahwa film drama selalu identik dengan cinta terhadap lawan jenis dan penuh tangisan.

“Tidak puas baru ada cita-cita, menyerah  karena tak ada cita-cita. Demi cita-cita, kita semua harus berusaha. Jika kalian tidak ada cita-cita lagi, mari kita sama-sama mencarinya. Jika kalian ada masalah, jangan menyerah, biarlah kita atasi bersama. Kitalah yang mencari cita-cita, dan harus mewujudkannya”, pesan dari Kawato untuk semuanya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.