Senja di Chao Phraya (1)

Endah Raharjo


Bab 1: Setitik Cinta di Megakota

Larasati tidak percaya bahwa hal-hal penting dalam hidupnya bisa terjadi secara kebetulan. Semua hal penting yang dijalani sepanjang hayatnya selalu diawali dengan perencanaan. Sekolahnya, pekerjaannya, laki-laki yang dipilihnya untuk menjadi suami, rumahnya, kelahiran dua anak yang kini telah menginjak remaja, juga kendaraan keluarga dan liburan tahunan.

Pekerjaan terakhirnya sebagai peneliti freelance pun ia awali dengan rencana matang. Sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja dari perusuhaan swasta, Laras, begitu sanak saudara dan sahabatnya memanggilnya, berpikir masak-masak selama hampir setahun.

Ketika empat tahun yang lalu penyakit jantung merenggut suaminya dari hidupnya, Laras percaya bahwa itu merupakan bagian dari rencana Tuhan yang saatnya tidak akan pernah diketahui manusia.

Bagi Laras, suatu kebetulan hanya terjadi untuk hal-hal sepele. Ketika ia sedang sangat ingin memasak, kebetulan persediaan bawang putih nyaris habis. Atau ketika ia ingin naik sepeda, kebetulan salah satu bannya kempes karena lama teronggok tidak dipakai.

Namun pagi itu, suatu kebetulan yang kemudian mempengaruhi hari-harinya berada kira-kira lima meter dari tempatnya berdiri, di sebuah restauran yang penuh orang, tempat para tamu makan pagi, di sebuah hotel di Bangkok.

“Maafkan kami, Madam. Hari ini tamu-tamu kami kebetulan sarapan pada waktu yang bersamaan.” Demikian jelas Si Manajer yang cantik, sambil menyajikan senyum terindahnya. “Bila tidak keberatan, saya antar Madam ke meja itu, masih ada satu kursi yang kosong. Atau…”

“Tidak, saya tidak keberatan.” Dengan halus Laras memutus kalimat Manajer restauran dan mengikuti ayunan kaki perempuan yang sudah mengenali sosok Laras karena setiap kali ke Bangkok ia selalu tinggal di hotel itu. Selama lima tahun Laras sudah menjadi salah satu tamu tetap di hotel yang terletak di kawasan Bang Lumpoo itu. Salah satu kawasan favorit para pelancong yang menginginkan suasana santai tapi santun di kota yang dikenal akan wisata seks-nya. Tiga atau empat kali setahun perempuan 45 tahun itu mengunjungi Bangkok. Tiap  kunjungan sekitar dua sampai tiga minggu dan selalu tinggal di hotel yang sama. Hotel Golden Temple.

“Halo. Selamat pagi. Silakan.” Laki-laki dengan rambut cepak yang mulai beruban dan bermata teduh itu menyilakan Laras duduk di kursi kosong di depannya. Dia tahu tidak ada lagi kursi kosong dan perempuan itu jelas sedang terburu-buru.

“Terima kasih,” Laras meletakkan tas kerja dan laptop di samping kursi, mengangguk sambil membalas senyum laki-laki itu. Senyum sopan yang seolah berkata:”Kamu lagi? Ini kebetulan yang ke berapa ya?”

“Menyebalkan sekali rentetan kebetulan ini,” pikir Laras sambil melangkah menuju meja buffet yang dikerumuni belasan orang.

Kebetulan pertama ia alami di bandara Suvarnabhumi. Seorang laki-laki tergesa-gesa menarik sebuah koper dari conveyor belt. Koper milik Laras. Rupanya si lelaki memakai koper yang persis sama. Bukan hal yang enah, karena Laras pernah mengambil koper milik orang lain juga.

Kebetulan kedua terjadi tak lama kemudian ketika mereka hendak mengambil uang dari ATM di arrival hall bandara. Kartu mereka sama-sama terjatuh saat hendak dikeluarkan dari dompet dan kepala mereka nyaris berbenturan ketika meraihnya. “Oh. Maaf. Oh. Anda lagi!” Seru laki-laki itu dengan sopan dan agak geli.

Kebetulan ketiga terjadi ketika Laras memasuki lobby Hotel Golden Temple dan ternyata laki-laki itu sudah ada di sana, berdiri di depan meja resepsionis menunggu dilayani.

Dan kini Laras duduk semeja dengannya untuk sarapan. “Peduli amat,” bisik hati Laras sambil mengambil beberapa potong roti, sesendok selai dan mentega. Ia tengah tergesa dan ruangan itu terlalu penuh tetamu hotel, sehingga tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Lagi pula laki-laki itu tak lama kemudian bangkit dan berpamitan.

***

Biasanya Laras memilih untuk berjalan kaki dari hotel ke sungai Chao Phraya untuk naik boat dari Pier 13 menuju Central Pier dan meneruskan perjalanan dengan skytrain dari Stasiun Saphan Taksin ke arah Ploenchit, kawasan pusat kota Bangkok. Kantornya, sebuah lembaga penelitian yang mengontraknya menjadi salah satu peneliti freelance, terletak tidak jauh dari Stasiun Ploenchit.

Tapi pagi itu ia naik tuk-tuk ke dermaga karena tidak punya banyak waktu. Selain itu perut Laras terasa tidak nyaman akibat sarapan yang tergesa-gesa dicampur dengan serangkaian kebetulan yang mempertemukannya dengan laki-laki bule setengah baya itu.

Begitu turun dari tuk-tuk Laras berlari ke arah sungai melewati gang di antara dua hotel menuju loket penjualan tiket boat. Laras bisa saja naik taksi dari depan Hotel Golden Temple menuju kantornya, tetapi Laras sangat suka naik boat. Dan ia memilih menerima sindiran dari atasannya karena terlambat sepuluh menit daripada harus kehilangan satu kali saja kesempatan naik boat.

Suara boat berbendera oranye sudah tertangkap telinganya ketika ia tiba di loket. Berarti ia harus berlari lagi agar tidak tertinggal. “Simpan kembaliannya!” Teriak Laras pada penjaga loket sambil berlari menuju boat yang tampak sudah penuh penumpang.

Laras memilih bangku paling belakang yang masih menyisakan satu tempat duduk. Setelah satu-dua menit dan nafasnya tidak lagi tersengal, baru ia menyadari bahwa orang yang duduk di sebelah kirinya adalah lelaki yang sama yang duduk semeja ketika sarapan tadi. Ia tidak memperhatikan Laras karena sibuk membaca sebendel dokumen.

Jantung Laras berguncang sesaat. Guncangan itu seolah bergelegar yang gemanya keluar dari rongga dadanya sehingga tiba-tiba si laki-laki bule berhenti membaca dan menengok ke samping. “Oh?” sepasang mata teduh di balik kacamata itu melekat sesaat ke wajah Laras. “Halo lagi,” katanya ramah.

Laras membalas sapaannya sambil lalu dan segera meraih sebuah dokumen dari tas kerjanya. Kali ini laki-laki itu berbasa-basi dan Laras menyambut dengan sopan karena tidak ada pilihan. Laras akan berada di boat itu selama hampir 30 menit. Selain itu dari tata krama dan penampilannya bisa ditebak bahwa dia bukan turis iseng.

Laki-laki itu warga negara Amerika. Namanya Osken O’Shea, yang terdengar puitis di telinga Laras. Nama Osken katanya diberikan oleh ibunya yang imigran dari Kazakhstan berdarah Turki dan O’Shea menunjukkan ayahnya yang berasal dari Irlandia. Tak heran bila ahli tata kota yang tengah bekerja untuk sebuah aid agency terbesar dari Amerika itu berwajah indah.

Pembicaraan yang awalnya kaku dan terlalu sopan berubah menjadi mengalir dan menggairahkan. Mereka punya latar belakang pendidikan dan minat yang berkesesuaian. Sebuah kebetulan lain yang anehnya tidak lagi mengganggu Laras. Osken telah bekerja sebagai tenaga ahli lepas untuk puluhan organisasi internasional dan bertugas hampir di semua negara di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan sehingga pengetahuannya luas.

“Saya berganti skytrain, turun di Stasiun Sala Daeng, dan ganti dengan MRT,” jelas Osken sebelum mereka turun di Central Pier.

“Sama. Tapi saya berhenti di Stasiun Ploenchit. Kantor saya hanya 10 menit jalan kaki dari sana,” terang Laras.

Begitu turun dari boat, keduanya berjalan cepat-cepat menuju Stasiun Saphan Taksin, berdampingan dalam diam, sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Laras mengingat-ingat jadwal yang ketat selama tiga hari pertama. Dan berharap kali ini dia berhasil meyakinkan atasannya agar tahun depan dapat ditugaskan masuk ke Myanmar, tidak hanya mewawancarai para pengungsi Myanmar yang bermukim di kawasan perbatasan Thailand-Myanmar saja. Sementara Osken sibuk dengan teleponnya dan tidak melepaskan telepon dari telinganya ketika mengucapkan salam pada Laras dan turun di Station Sala Daeng untuk pindah naik MRT.

***

Hari berganti minggu. Sejak obrolan di boat itu, Osken dan Laras jadi saling menyapa kalau bertemu, seolah mereka telah lama berteman. Kadang di lobby, atau di kolam renang, atau di fitness center, dan yang paling sering adalah di restauran tempat tetamu hotel sarapan. Pernah sekali, sepulang kerja, mereka sengaja membuat janji temu di Stasiun Saphan Taksin untuk bersama naik boat dari Central Pier menuju Pier 13, pemberhentian boat paling dekat dengan Hotel Golden Temple.

Laras sangat senang naik boat, terlebih di saat senja. Di Indonesia pengalaman semacam itu tidak pernah ia temui. Naik boat sepulang kerja sambil menikmati eloknya senja. Gemerlap cahaya lampu dari bangunan-bangunan di kanan-kiri sungai Chao Phraya yang pantulannya menari-nari di air bergelombang, berlatarkan langit merah merona, menyuguhkan pemandangan yang magis sekaligus jelita.

Dari obrolan di atas boat itu Osken jadi tahu bahwa Laras punya dua anak, laki-laki dan perempuan. Bahwa sebagai peneliti Laras sering bertugas di negara-negara di Asia Tenggara. Namun Laras tidak pernah bicara tentang statusnya sebagai janda. Dan Osken yang biasa bergaul dengan banyak perempuan dengan berbagai latar belakang merasa tidak perlu bertanya.

Sedangkan Laras bisa menebak bahwa Osken adalah tipikal laki-laki modern yang sangat menikmati kebebasan dan karirnya yang hingga usia tengah baya memilih tetap lajang. Dari ceritanya, Laras tahu bahwa kali ini Osken bertugas selama empat minggu di Bangkok, selanjutnya pindah ke Manila selama tiga minggu, diikuti enam minggu di Kalkuta.

Laki-laki itu hanya tertawa ketika Laras menanyakan tempat tinggalnya. Baginya, seluruh penjuru dunia adalah rumah. Kemana saja dia pergi, di situlah hati dan jiwanya.

Osken tidak menyembunyikan rasa sukanya pada Laras. Beberapa kali ia memuji penampilan Laras yang katanya segar, muda, dan bersahabat. Bagi Laras yang paham betul akan karakter laki-laki seperti Osken, pujian yang terdengar tulus itu ia terima dengan senyum sopan. Laras sudah terbiasa hidup sendiri selama empat tahun. Pekerjaannya membawanya keliling dunia bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan pendidikan.

Setelah minggu pertama terlewati, Laras mulai menikmati kebersamaan yang berjarak itu. Setiap pagi, naluri perempuannya mencari pheromone yang terpancar dari tubuh atletis Osken. Anehnya, Laras selalu bisa merasakan kehadiran laki-laki itu, ia selalu menengok ke arah yang tepat, tanpa tolah-toleh, selalu saja matanya mengarah ke meja Osken dan selalu saja Osken menangkap kilauan mata perempuan Jawa yang lembut tapi penuh percaya diri itu. Selanjutnya, senyum terkembang di kedua bibir mereka diikuti lambaian tangan. Dan sarapan pagi, bagi Laras, jadi terasa lebih hangat dan nikmat.

*****

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.