Mengeluh itu Manusiawi kan?

Lembayung – SOLO the spirit of java


Cenil & Lik Gembus

Mendung bergelayut erat di langit sore kota Jogja. Meski demikian udara tetap terasa gerah dan lengket di sekujur tubuh. Pulang dari kampus yang hari ini penuh aktivitas akademis membuat saya merasa penat dan bosan. Berjalan kaki dari kampus menuju tempat kos saya lakukan dalam diam. Tetapi meskipun diam, pikiran saya berkali-kali mengucapkan kata keluhan, mengeluh, dan mengeluh. Karena dosen terlambat datang, karena tugas yang bertumpuk, karena hasil pre-test dan post-test praktikum anatomi hewan hanya mendapat nilai kursi terbalik, karena kantin kampus tutup, karena jalanan berdebu, bahkan karena cowok ganteng yang memberikan senyum paten-nya pada saya tempo hari ternyata adalah pacar asisten praktikum anatomi hewan. Fiuh….

Sampai-sampai saya lelah sendiri menghadapi keluhan-keluhan yang terlontar hampa di pikiran saya.

Tepat waktu maghrib ketika saya sampai di angkringan Lik Gembus masih dalam diam. Suara cempreng nan ceria Lik Gembus belum mampu membuka gembok mulut diam saya. ”Sedang banyak pikiran ya, Mbak Cenil?” sapa Lik Gembus sambil mengelap gerobak angkringannya yang masih setengah kosong. Sebagian barang dagangan titipan belum datang. ”Sebentar nggih wedang jahe gepuknya, belum jadi apinya ini.” ucap Lik Gembus berusaha mencairkan suasana.

Rasanya kok emosi saya semakin fluktuatif mendengar minuman favorit saya belum siap untuk dihidangkan. ”Gimana sih Lik, wong jam sekian kok masih belum siap semua lho? Heran saya, perasaan hari ini kok banyak yang tidak benar ya? Nggak dosen, nggak udara, nggak cowok ganteng, nggak wedang jahe, semua tidak ada yang beres!”cerocos saya penuh kekesalan.

Mendengar respon saya yang agak ekstrem, Lik Gembus sempat melongo dan serbetnya yang bau apeknya bisa tercium dari tempat saya duduk itu hampir saja masuk dalam bara api arang yang baru saja disulutnya. Sambil melompat, dikibas-kibaskannya serbet itu, api yang sempat membakar ujungnya mati dan meninggalkan bekas hitam dan bau gosong. ”Aduh Mbak, ini lihat, serbet saya sampai terbakar, gara-gara saya kaget melihat Mbak Cenil marah-marah tidak jelas seperti itu…. Ada apa to Mbak, mbok yo kalau ada masalah itu cerita saja, biar lebih lega begitu perasaannya…” saran Lik Gembus sambil masih meniup-niup ujung serbet yang gosong itu, meskipun saya benar-benar tidak memahami apa tujuannya.

Saya menarik nafas panjang, merasa heran juga dengan diri saya sendiri. Sering kali saya merasa risih dengan orang-orang yang meng-update status di beberapa jejaring sosial yang isinya selalu mengeluh dan mengeluh, tidak pernah bersyukur, tidak mencari solusi untuk memperbaiki keadaan, tetapi saya kemudian menjumpai diri saya sendiri berada pada titik hobi mengeluh. Sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit merasa paling tidak beruntung, sedikit-sedikit merasa tidak seharusnya menerima hal itu, tanpa ada sebuah permenungan yang menganalisis mengapa saya bisa mengalami dan mendapati kejadian itu. Saya risih mempunyai teman yang hanya suka mengeluh saja, tetapi tanpa saya sadari saya juga menjadi ketularan hobi buruk itu.

”Mbak, untung ya tidak hujan hari ini. Padahal dari pagi sudah mendung terus. Coba kalau sore ini hujan, kan Mbak Cenil jadi tidak bisa pulang kampus jalan kaki nggih?” ucap Lik Gembus memulai percakapan lagi.

“Iya, memang tidak hujan, tapi apa sampeyan tidak merasa gerah to Lik? Ini baju saya saja sampai lengket keringat.” balas saya sambil menengok malas-malasan untuk melihat apakah api pada anglo itu sudah cukup merata untuk ditumpangi cerek.

”Lho, malah bagus nggih Mbak Cenil, berkeringat kan sehat, membakar lemak. Itu saya amati akhir-akhir ini kok perut Mbak Cenil itu terlihat sedikit membuncit. Hehehe….” ejek Lik Gembus sambil terkekeh.

Asem. Sedang bad mood kok malah tambah diledek. Terpaksa merengut sambil menahan tawa karena terprovokasi oleh kekeh tawa Lik Gembus.

Touche! Itu yang saya rasakan. Hanya dari dua kalimat Lik Gembus sudah bisa menunjukkan kepada saya bahwa setidaknya keadaan sore ini perlu disyukuri, karena tidak hujan, dan karena bisa membakar lemak. Saya yakin, jika diteruskan, Lik Gembus akan mampu mengobral kalimat-kalimat yang bertolak belakang dengan hobi mengeluh saya. Membuat saya menjadi penasaran mengapa, seorang Lik Gembus, bakul angkringan kampung, begitu bisa memandang segala sesuatu dengan positif.

”Lik, kalau hujan, dagangan sampeyan kan sepertinya tidak begitu laris ya?” pancing saya pada Lik Gembus.

Sambil menata bungkusan-bungkusan kecil berisi nasi kucing yang masih hangat karena baru saja diantar oleh loyal supplier Lik Gembus menjawab, ”Woalah Mbak, Mbak…. yang namanya orang jualan itu ya kadang rame kadang sepi, kadang habis kadang sisa, kadang untung kadang rugi. Itu sudah biasa…. yang penting kan bagaimana kita me-minit (demikian cara Lik Gembus melafalkan me-manage) pendapatan kita disaat rame dan untung. Toh saya masih bersyukur, boleh berjualan di tempat ini, bisa buka setiap sore sampai larut malam, bisa berjualan sambil mengobrol dengan mahasiswa-mahasiswa yang berpengetahuan luas dan punya semangat yang tinggi, sehingga saya pun ketularan semangat yang ditunjukkan oleh denmas den ayu mahasiswa itu setiap hari. Lak nggih to, Mbak Cenil?”

Kena lagi. Semangat bagaimana? Lha wong saya saja makin hari malah semakin banyak mengeluh saja. Tidak menunjukkan semangat berkobar yang seharusnya menjadi stereotype generasi muda. Padahal saya tahu dari beberapa buku-buku dan artikel tentang motivasi bahwa mengeluh tidak akan memecahkan masalah dan malah akan membawa kita pada situasi yang selalu menjadi tidak baik, tidak bisa diterima, dan selalu kekurangan. Tetapi saya selalu membantahnya sendiri dengan pernyataan bahwa manusia itu wajar saja jika mengeluh karena mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya.

”Monggo Mbak Cenil, jangan lupa ditiup-tiup dulu, masih panas.” ucapan Lik Gembus sambil menyodorkan wedang jahe gepuk itu menyadarkan lamunan saya. Sambil meniupinya, saya malah jadi tergelitik untuk bertanya-tanya lebih jauh pada Lik Gembus, ”Lik, apa sampeyan itu pernah merasa tidak terima punya jalan hidup yang seperti ini?”

”Maksudnya apa Mbak?” sahutnya dengan mengerutkan kening di jidatnya yang berminyak itu. Segera saja saya menjelaskan, ”Maksud saya, apa sampeyan itu pernah merasa tidak terima punya hidup seperti ini, jadi bakul angkringan, hidup pas-pasan, perlu sangat berhati-hati mengelola uang supaya anak sampeyan si Kenthus itu bisa terus sekolah? Pernah protes tidak dengan Tuhan?”

Seketika saya melihat Lik Gembus malah tertawa terkekeh-kekeh segera setelah saya menyelesaikan uraian saya. ”Mbak Cenil itu lucu jhe, lha wong Gusti kok diprotes. Lha jelas tidak akan bisa ada hasilnya. Kalau mau merubah nasib ya kita harus berusaha to ya….. Ora omah, ora mamah ,Mbak. Mengeluh itu pasti pernah dilakukan oleh semua orang. Lak njih to? Tinggal apa kita terus menerus hanya mengeluh dan mengeluh saja, atau apa kita berusaha sehingga keinginan untuk mengeluh itu tak sempat ada di pikiran kita. Lha kalau saya ini mbak, kalau saya terlalu banyak mengeluh, maka gorengan saya bisa gosong-gosong, bikin teh bisa keliru pakai garam, beli arang bisa ke toko alat jahit. Lak yo malah cotho to Mbak? Kalau saya nggak bisa jualan kan bisa lebih gaswat. Bisa-bisa saya nggak dikeloni lagi sama simboknya Kenthus. Hehehe….”

Saya manggut-manggut dan masih terheran-heran dengan kesederhanaan pola pikir Lik Gembus yang sepertinya menampar saya cukup keras meskipun tanpa dia sadari. Seorang bakul angkringan yang sehari-hari selalu berpikir keras untuk mengatur pendapatan yang pas-pasan  dan pengeluarannya untuk hidup tetapi selalu bisa berpikir positif untuk selalu mensyukuri keadaannya, tetap berusaha yang terbaik menjalani harinya dan selalu bersemangat untuk menyongsong hari esok.

Sementara saya, yang notabene adalah pelajar teladan waktu SD, sekolah di SMP dan SMA favorit dan bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, orang tua yang mampu membiayai dengan (se)cukup(nya), mendapat uang saku yang masih bisa untuk sesekali dalam satu bulan membeli pizza walaupun yang berukuran single, malah selalu saja mengeluarkan keluhan-keluhan baik yang sampai dikeluarkan dari mulut saya atau yang hanya sempat terpikir dalam otak saya. Situasi yang kurang bersyukur ini lah yang membuat saya selalu senantiasa merasa kekurangan, membuat saya mengeluh dan melempar jauh-jauh semangat berjuang entah kemana. Tapi kali ini, saya bersyukur, karena merasa beruntung bisa dipertemukan dengan Lik Gembus untuk belajar pada kebersahajaannya. Pada rasa bersyukurnya yang membuat wajahnya selalu terlihat segar dan sumringah, meskipun jidatnya tetap saja selalu berminyak.

”Lik, ini nasi oseng-oseng-nya harganya dari saya naik lho Lik, lha wong sayuran baru mahal-mahalnya jhe.” tiba-tiba lamunan saya terpecah oleh suara seorang pemasok nasi oseng-oseng langganan Lik Gembus.

Dengan wajah murung Lik Gembus mengeluh,” Waduh, berarti saya juga harus menaikkan harga jualnya ini. Wis…. jannn…. alamat diprotes para pelanggan setia Angkringan Ceria Lik Gembus ini… Kalau nggak dinaikkan bisa-bisa saya yang diprotes Simboknya Kenthus karena pemasukan berkurang. Lelakoning urip. Ckckck…. ”

Great! Ternyata Lik Gembus masih manusia biasa juga.


Salam

Lby (16/12/10;11:05)


Disclaimer:

Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.


Pic from:

http://2.bp.blogspot.com/_er9Aou2lZiE/TP7WB1JG26I/AAAAAAAAAE8/nBkWqA0muEE/s1600/421008297_4809bd7b35.jpg

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.