WikiLeaks: Tsunami of the U.S. Diplomacy

Josh Chen – Global Citizen


Dalam 2 bulan belakangan ini dunia internasional mengalami gelombang kehebohan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kehebohan dan kegemparan itu dinamakan WikiLeaks.

Pertama kali mendengar nama ini sekitar satu tahun silam, saya berpikir ini salah satu ‘produk’ Wikipedia dengan ciri khas nama ‘Wiki”. Setelah itu karena tidak ada pemberitaan yang menarik, WikiLeaks terlupakan begitu saja. Namun sekonyong-konyong di tahun 2010 ini nama WikiLeaks menjadi trending topic di mana-mana.

Bulan April 2010, WikiLeaks mem-posting-kan video yang sangat kontroversial Perang Irak, yang menunjukkan terbunuhnya warga sipil dan jurnalis Reuters oleh militer Amerika. Video ini ada di http://www.collateralmurder.com/. Dan kemudian di bulan Oktober 2010 disambung dengan dimuatnya serangkaian dokumen mengenai peperangan di Afghanistan. Dokumen sejumlah 76.900 dokumen tsb berisi detail yang belum pernah ada di manapun juga.

Sejak saat itu, meledaklah nama WikiLeaks ini.

Apa dan siapa WikiLeaks? Mengutip dari Wikipedia:

WikiLeaks is an international new media non-profit organisation that publishes submissions of otherwise unavailable documents from anonymous news sources and news leaks. Its website, launched in 2006, is run by The Sunshine Press. Within a year of its launch, the site claimed its database had grown to more than 1.2 million documents. The organisation has described itself as having been founded by Chinese dissidents, as well as journalists, mathematicians, and start-up company technologists from the United States, Taiwan, Europe, Australia, and South Africa.

Dari tahun 2008 sampai sekarang WikiLeaks sudah meraih berbagai penghargaan dari berbagai media, di antaranya dari Amnesty International, The Economist, Time dan masih ada beberapa lagi.

WikiLeaks bisa dikatakan merupakan ‘lonceng kematian’ yang berbunyi sangat nyaring bagi Sang Superpower, Amerika. Belum pernah ada tingkat kerusakan kerahasiaan negara dan efek kerusakan yang masif dan meluas seperti WikiLeaks dalam sejarah Amerika. Watergate Scandal dan Pentagon Papers di tahun 1971 jadi seperti ‘mainan anak-anak’ jika dibandingkan dengan WikiLeaks. Daniel Ellsberg yang membocorkan Pentagon Papers jadi kelihatan seperti ‘anak kemarin sore’ dibandingkan dengan sepak terjang Julian Assange dan seluruh team pendukung di belakang WikiLeaks.


Infrastruktur WikiLeaks

Karena kiprah WikiLeaks yang mengguncangkan dunia, banyak negara yang mendukung dan banyak negara yang mengutuknya. URL address seperti wikileaks.com (with or without www), wikileaks.org (with or without www) tidak berisi situs aslinya. Beberapa saat yang lalu kedua alamat tsb masih bisa diakses tapi kemudian macet total karena serangan masif ke server mereka. Serangan tsb berupa denial-of-service attack (DoS attack) or distributed denial-of-service attack (DDoS attack), yang dari namanya bisa ditebak, mengakibatkan situs yang diserang tidak bisa diakses.

Dalam kurun waktu yang sangat singkat, Team IT WikiLeaks dapat memindahkan server WikiLeaks ke tempat yang lebih aman dan juga sekaligus ratusan bahkan mungkin ribuan volunteers di seluruh dunia bekerja sama mendaftarkan berbagai domain names dari berbagai belahan dunia. Bisa dilihat di sini: http://wikileaks.info/ tempat di mana seluruh mirrors WikiLeaks bisa diakses. Ada dot ca, dot se, dot ch, dot nl, dot de, dot lu, dot pl, dot eu dan masih banyak lagi mirrors yang sudah dialokasikan untuk WikiLeaks.

Domain dotcom dan dot-org merupakan wilayah domain dimana hukum Amerika bisa menjangkau. Sejak merebaknya dokumen-dokumen ‘menyeramkan’, akses domain dotcom dan dot-org langsung ditutup. Sempat pindah ke dot-ch (Swiss), sebentar masih bisa diakses, tapi kemudian ditutup juga. Jika anda sekarang mencoba dengan keywords ‘wikileaks’ di Google, yang keluar adalah alamat yang berupa angka yang otomatis akan men-direct anda ke server yang berjalan dengan baik. Angka-angka tsb adalah IP Address http://213.251.145.96/

Saat ini hosting WikiLeaks ada di Swedia, di bawah nama PRQ, salah satu hosting company di Swedia yang canggih dan aman. Prinsip PRQ adalah “highly secure, no-questions-asked hosting services”. dan “almost no information about its clientele and maintains few if any of its own logs”. Saat ini WikiLeaks ditengarai memiliki operasional dan kantor di daerah pedalaman Swedia.

Dipercaya WikiLeaks beroperasi dari satu bunker di bawah tanah di sana. Bunker ini adalah bunker yang anti nuklir. Bunker anti nuklir ini adalah warisan era Perang Dingin yang kemudian dimodifikasi dan dijejali penuh dengan high-end technology, pembangkit listrik utama dan cadangan yang independen. Pembangkit listrik di bunker tsb berasal dari bekas mesin kapal selam warisan dari Perang Dingin juga. Letak bunker ini 30 meter di bawah tanah di Pegunungan Pionen White, Swedia.

Ke depannya WikiLeaks dikabarkan sedang merancang server mereka sendiri yang memiliki tingkat keamanan tercanggih yang pernah ada dan tingkat anonimity yang tinggi serta menggunakan military-grade-encryption, tidak menyimpan logs/catatan apapun dan berlokasi di undisclosed location, sehingga banyak yang menamainya ‘bulletproof hosting’.


Pendanaan WikiLeaks

Dengan segala kiprah luar biasa seperti WikiLeaks, bisa dipastikan sumber dukungan dana bisa dikatakan ‘almost unlimited’. Dari mana saja dukungan dana tsb? Dukungan dana terus mengalir dari seluruh dunia, baik dari perorangan, negara, perusahaan, institusi, organisasi dari mana saja. WikiLeaks jelas memiliki penyandang dana tetap, namun sampai saat ini tidak diketahui atau tidak dipublikasikan siapa para penyandang dana tetap ini.

Sumbangan dari seluruh dunia mengalir dengan berbagai cara, mulai dari PayPal, Visa, Mastercard, Moneybookers, bank transfer, dsb. Satu per satu institusi keuangan membatalkan sepihak service mereka untuk WikiLeaks karena tekanan otoritas Amerika. Belakangan Bank of America membatalkan dan menahan semua transaksi yang berkaitan dengan WikiLeaks, Julian Assange dan semua kegiatannya.

Walaupun demikian, sampai saat ini tetap saja ada cara-cara tertentu yang masih terus berlangsung untuk menyalurkan dana bagi WikiLeaks. Dengan skala kegiatan dan sepak terjang WikiLeaks, pasti akan selalu ada seseorang atau beberapa orang dengan cara mereka untuk mendanai WikiLeaks.

Tentu saja tak lepas dari conspiracy theory, bahkan George Soros pun sempat dituding menjadi salah satu penyandang dana terbesar WikiLeaks. Benar tidaknya, tidak ada yang tahu.

Satu hal yang pasti adalah WikiLeaks masih dan akan terus mendapatkan dukungan finansial secara masif dari ‘unknown sources’.


Kelemahan Sistem

Di semua pemberitaan disebut nama Prajurit Satu Bradley Manning. Dia adalah orang yang dituduh bertanggungjawab memberikan dokumen-dokumen kepada WikiLeaks atau Julian Assange. Bradley Manning kelahiran 1987, adalah orang yang dipercaya dan dituduh membocorkan video Collateral Murder. Bradley ditempatkan di Irak sebagai salah satu analis intelijen.

Dengan posisinya tsb, dia memiliki akses ke SIPRNet (Secret Internet Protocol Router Network). Jaringan yang dipercaya memiliki tingkat keamanan tinggi digunakan oleh Department of Defense dan Department of State untuk berkomunikasi dan mendistribusikan classified information. Dari logs computer Manning diketahui bahwa dia membawa CD-RW yang berisi musik, memasangnya dan kemudian menghapus isi lagu-lagunya serta merekam data-data dari SIPRNet tsb.

Segampang itu kah? Kelihatannya mengherankan, tapi memang semudah dan sesederhana itu. Bagi orang-orang yang memiliki akses seperti Manning, hal tsb sangat gampang dilakukan. Siapa yang mengira CD musik biasa akan digunakan untuk mengambil data-data yang sangat sensitif tsb?

Katakanlah memang Manning yang membocorkan video Collateral Murder tsb, tapi apakah dia juga yang membocorkan data 251.287 cables dari kedutaan-kedutaan dan konsulat Amerika di seluruh dunia? Tuduhan itu rasanya cukup meragukan mengingat masifnya data dan rentang tahun 1966 – 2010 bukanlah rentang tahun yang pendek, bahkan Manning sendiri pun belum lahir. Kelahiran 1987 seperti Manning, tidaklah mungkin memiliki pengetahuan yang cukup dalam dan pengertian yang cukup mendalam akan pentingnya dokumen tertentu di masa-masa dia sendiri belum ada di dunia ini. Bagaimana mungkin bisa tahu persis dokumen mana yang perlu diambil mana yang tidak.

Dengan logika sederhana bisa ditarik kesimpulan bahwa keluarnya dokumen dengan jumlah yang luar biasa tsb, rasanya kecil kemungkinan dilakukan oleh 1-2 orang saja. Bisa jadi sekelompok orang yang memiliki kepentingan tertentu dengan akses dan network yang luar biasa tinggi dan luas sekali atau yang paling logis adalah orang dalam sendiri.

Sungguh naive anggapan bahwa Bradley Manning adalah ‘aktor tunggal’ dalam kebocoran tsb. Dengan tidak memandang rendah kepangkatan prajurit Manning, rasanya muskil untuk bisa mendapatkan akses data yang luar biasa tsb. Dan memang sungguh sial seorang Bradley Manning dijadikan ‘aktor tunggal’ dalam catastrophic event of the U.S. history ini.

Tidak ada yang tidak tahu tingkat keamanan (yang selama ini digembar-gemborkan) intelijen Sang Polisi Dunia. Siapa tidak kenal nama Pentagon? Siapa tidak kenal nama CIA, NSA, FBI? Tapi ternyata dalam dekade pertama abad ini saja sudah dua kali terjadi kecolongan. Yang pertama kita semua tahu 9/11 dengan ambruknya WTC di New York dan yang sekarang ini WikiLeaks. Apakah masih disebut aman?

Beberapa tingkatan informasi yang biasa digunakan oleh otoritas Amerika adalah: ‘top secret’, ‘classified’, ‘sensitive but unclassified’ dan mungkin ‘unclassified’. Yang dua ‘top secret’ dan ‘classified’ saya baru tahu setelah membaca dari WikiLeaks. Tapi keseharian di seluruh kedutaan dan konsulat Amerika biasanya yang berlalu-lalang adalah komunikasi cables dengan penandaan ‘sensitive but unclassified’ (http://en.wikipedia.org/wiki/Sensitive_but_unclassified).

Yang menjadi masalah terbesar di sini adalah banyaknya jumlah orang-orang di seluruh dunia yang memiliki akses dengan clearance level tertinggi yang dapat mengakses ‘classified’ dan ‘top secret’ ini mencapai jumlah sekitar 90.000 orang. Walaupun clearance yang diperlukan sangat ketat, dengan jumlah masif seperti itu, tidaklah mungkin menjaga semua informasi ‘classified’ dan ‘top secret’ tak ada satupun yang keluar.

Masalah yang lebih besar lagi adalah kesiapan para staff dan karyawan pemerintah Amerika di seluruh dunia. Entah sejak kapan, yang pasti di seluruh kedutaan dan konsulat Amerika di seluruh dunia secara rutin diadakan ‘training’. Kenapa dalam tanda kutip? Karena training yang dimaksud di sini tak lain tak bukan hanyalah online training yang sangat simple, sederhana dan tidak mencerminkan tingkat kepentingan yang mendasar untuk melindungi informasi-informasi yang sensitif. Secara teratur Department of State akan mengirimkan ‘mandatory training schedule’ yang harus diikuti oleh seluruh karyawan, baik American staffs ataupun local staffs di mana kedutaan atau konsulat berada.

Di samping ‘mandatory training’ tadi, di masing-masing departemen juga secara rutin mengadakan ‘mandatory training’ sejenis.

Mandatory training tsb tak lebih dari sekedar formalitas tanpa menyentuh esensi yang paling mendasar itu sendiri. Training diakses melalui internet kantor ke situs tertentu, dan di situ akan ada penjelasan singkat mengenai materi/topik training yang dimaksud. Penjelasan ini bisa berupa text, atau video pendek, ataupun rekaman suara. Materi penjelasannya sangat dangkal dan bisa dikatakan ‘melecehkan intelektualitas’ pesertanya.

Salah satu contohnya adalah penjelasan mengenai phising. Di dalam training hanya ‘dijelaskan’ sbb (contoh mengutip dari Wikipedia): “phishing is the criminally fraudulent process of attempting to acquire sensitive information such as usernames, passwords and credit card details by masquerading as a trustworthy entity in an electronic communication” yang tentunya disesuaikan dengan konteks kebutuhan dan sifat dari informasi di kedutaan atau konsulat. Training-training seperti ini durasinya tak lebih dari 1 jam.

Setelah penjelasan bla-bla ini dan itu, akan dilanjutkan dengan pertanyaan yang berupa multiple choices. Misalnya: 1. Phising is dan kemudian di bawahnya ada pilihan a, b, c, d. Bahkan misalnya karyawan tidak usah dan tidak ada waktu mendengarkan penjelasan dangkal tadi, langsung ke pertanyaan juga pasti bisa menjawab dan pasti lulus. Kenapa? Bahkan bila jawaban salah, masih bisa diulang dengan menekan tombol “BACK” atau mengulang lagi dari awal. Jawaban salah dan benar akan langsung tahu setelah click salah satu pilihan.

Yang lebih parah lagi adalah, karyawan bahkan tidak perlu susah-susah mendengarkan atau mengerjakan, karena jika salah satu karyawan sudah mengerjakan training tsb, mencatat semua jawaban yang benar, dan rekan kerja yang lain tinggal langsung ke bagian pertanyaan dan selesailah sudah ‘training’ tsb dalam waktu kurang dari 10 menit.

Setelah selesai ‘training’ dan ‘lulus’ akan sampai ke layar yang berisi template certificate, tinggal isikan nama, departemen mana, dan click tombol print, selesai sudah. Dari database sudah tercatat bahwa karyawan ybs ‘sudah mengikuti training’ dan biasanya print out dari sertifikat ‘kelulusan’ tadi akan dikirimkan hardcopy ke bagian yang berkepentingan ‘mengevaluasi’nya.

Dari tahun ke tahun, koleksi sertifikat ‘berbagai macam training’ akan terus bertambah. Padahal semua training tadi bisa dikatakan hanyalah formalitas kosong belaka. Tidak satupun training yang benar-benar bermanfaat atau menyentuh esensi kepentingan topik atau materi tertentu.

Tidak banyak yang tahu atau memang tidak tahu sama sekali, di tahun 2009 ada suatu insiden kecil yang luput dari perhatian dan tidak mendapat porsi yang cukup pemberitaannya di media manapun juga. Satu hari tahun 2009, mendadak terdeteksi banyak jaringan komputer di kedutaan-kedutaan dan konsulat Amerika di banyak sekali negara di seluruh dunia tersusupi sesuatu. Tersusupi apa, bagaimana, tujuannya apa, bagian mana yang tersusupi, semuanya tidak jelas. Insiden kecil tsb cepat berlalu, seakan hanya sepotong glitch atau secuil kesalahan ‘biasa’ dalam satu jaringan masif.

Herannya, ditengarai waktu itu, tidak ada data yang tercuri, tidak ada kerusakan sama sekali dan tidak ada ‘kerugian’ apapun.

Di samping itu, ada kejadian di tahun 2009 dan hal ini sebenarnya sudah pernah disinggung dalam salah satu artikel di: http://baltyra.com/2010/01/18/liliput-google-melawan-raksasa-china/ dalam tiga alineanya:

Raksasa software lain, Yahoo juga mengakui telah menjadi target serangan, sedang McAfee dan Microsoft telah mengkonfirmasikan serangan terhadap Google ini sebagai serangan tercanggih yang pernah ada dalam sejarah dan hasil penyelidikan McAfee juga menunjukkan ada celah kelemahan dari browser Microsoft Internet Explorer yang disebut Zero-day bug telah dieksploitasi dalam serangan ini. Dalam dunia underground serangan ini diberi nama kode ‘Operation Aurora’ dan ternyata dirancang sangat serius dengan mulai penyebaran sejak pertengahan Desember 2009 dan berakhir tepat tanggal 4 Januari 2010, artinya serangan aktif dilaksanakan pada saat sebagian besar target sedang menikmati liburan Natal dan Tahun Baru.

Lebih serius lagi Google juga mengacu pada laporan komisi pengawas ekonomi dan keamanan US-China (USCC) kepada Kongres Amerika Serikat, yaitu 2009 Annual Report, di mana pada chapter 2, section 4 berjudul: China’s cyber activities that target the United States and the resulting impacts on US National Security, yang mencantumkan bahwa pada bulan April 2009 telah terjadi serangan hacker yang diduga berasal dari China dan dengan sukses berhasil mengambil beberapa terabyte data mengenai desain dan sistem elektronik pesawat tempur F35 Lightning II. Masih banyak lagi yang dibahas dalam laporan ini sehingga lebih mirip laporan intelijen dibanding laporan ekonomi, jika ada yang berminat silahkan baca sendiri di http://www.uscc.gov/annual_report/2009/chapter2_section_4.pdf

Laporan itu juga mencantumkan sebuah dokumen tentang GhostNet yang diduga merupakan sebuah sistem jaringan mata-mata internet yang terhubung dengan server di China dengan program malwarenya GhostRAT telah menginfeksi ribuan komputer di ratusan negara, dimana 30% diantaranya adalah objek penting seperti kedutaan besar, organisasi internasional, media dan NGO. http://www.scribd.com/doc/13731776/Tracking-GhostNet-Investigating-a-Cyber-Espionage-Network

(GhostNet http://en.wikipedia.org/wiki/GhostNet).

Memang terlalu dini mengaitkan kejadian tahun 2009 dan yang tidak terekspos media manapun insiden di banyak kedutaan dan konsulat Amerika di seluruh dunia dengan WikiLeaks sekarang ini. Tapi who knows? Terlalu naive juga bila dikatakan “ah, itu hanya insiden kecil saja” atau kata keramat “kebetulan” dan yang lebih jauh adalah “another conspiracy theory”. Sejauh mana keterkaitan kejadian di tahun 2009 dengan WikiLeaks ini tidak seorangpun yang tahu.

Yang jelas setelah ‘insiden kecil’ tsb, seluruh akses internet di kedutaan-kedutaan serta konsulat Amerika dibatasi, banyak sekali situs yang tadinya bisa diakses dengan mudah, ternyata tidak bisa diakses lagi, dan semua koneksi ke internet dilakukan re-routing ke Washington DC semua.


Kegemparan WikiLeaks

Julian Assange yang dipercaya sebagai ‘boss’ WikiLeaks sempat ditangkap otoritas Inggris atas tuduhan perkosaan di negara lain dan terancam diekstradisi. Akhirnya Assange bebas dengan jaminan £200.000 atau sekitar $310.000 kurang lebih Rp. 3 miliar. Tuduhan kasus perkosaan dan pemberitaan yang berusaha menggiring Assange sebagai sang pendosa besar jelas-jelas merendahkan intelektual pembacanya. Seorang dengan high profile seperti Julian Assange, rasanya terlalu bodoh jika hanya untuk kenikmatan sesaat, dia mengobral auratnya sedemikian murah.

Bahkan lebih jauh ada tuduhan bahwa Julian Assange adalah anggota kelompok teroris tertentu, melancarkan aksi terorismenya dengan WikiLeaks.

Media The Guardian membuka kolom baru dengan nama “You Ask, We Search”, yang menampung pertanyaan para pembacanya untuk topik tertentu, situasi tertentu, kurun waktu tertentu di negara tertentu, dan kemudian team dari The Guardian akan berusaha mencari dokumen yang mungkin terkait dari WikiLeaks dan kemudian memublikasikannya di The Guardian.

Pada waktu artikel ini mulai ditulis, hari Jumat, 17 Desember 2010, terdapat 1.385.311 Likes di Facebook dengan kecepatan pertambahan pendukungnya kira-kira 150 – 200 pendukung baru per 5 menit.

Baru kali ini (kalau tidak salah), Google Search menyajikan Realtime results for WikiLeaks. Silakan ketikkan keyword ‘wikileaks’ di Google Search, salah satu hasilnya akan tertampil Realtime results segala seluk beluk seputar WikiLeaks dari seluruh dunia.

U.S. Government mengeluarkan larangan resmi bagi seluruh pekerjanya untuk membuka, mengakses, membaca dan apapun itu kepentingannya semua dokumen yang ada di dalam WikiLeaks, baik di kantor ataupun di rumah, baik sebagian atau seluruhnya. Pelanggaran ini dikaitkan dengan pelanggaran “unauthorized access”. Jika ketahuan, sanksinya adalah dismissal, bahasa halus dari pemecatan atau termination of employment.

U.S. Air Force melarang para staff dan pasukannya membuka situs The New York Times dan Guardian, dua media pendukung WikiLeaks. (http://www.reuters.com/article/idUSTRE6BD6CI20101214)

Perancis meloloskan perundangan yang mengijinkan pemerintah melakukan sensor internet di mana “dirasa perlu”, termasuk melakukan block dan blacklist situs-situs yang dianggap berbahaya (http://yro.slashdot.org/story/10/12/16/190238/The-French-Government-Can-Now-Censor-the-Internet)

Case study on WikiLeaks by PC World (http://www.pcworld.com/businesscenter/article/212986/wikileaks_a_case_study_in_web_survivability.html?tk=hp_new)

Kembali mengutip Wikipedia:

Police raid on German WikiLeaks domain holder’s home

The home of Theodor Reppe, registrant of the German WikiLeaks domain name, wikileaks.de, was raided on 24 March 2009 after WikiLeaks released the Australian Communications and Media Authority (ACMA) censorship blacklist. The site was not affected.

Wikileaks’s website claims that the government of the People’s Republic of China has attempted to block all traffic to web sites with “wikileaks” in the URL since 2007, but that this can be bypassed through encrypted connections or by using one of Wikileaks’s many covert URLs.

The Centre for the Resolution of the Emergency Situation (CRES) is currently censoring the website WikiLeaks in Thailand and more than 40,000 other webpages because of the emergency decree in Thailand imposed as a result of political instabilities (Emergency decree declared beginning of April 2010).

Access to WikiLeaks is currently blocked in the United States Library of Congress. On 3 December 2010 the White House Office of Management and Budget sent a memo forbidding all unauthorised federal government employees and contractors from accessing classified documents publicly available on WikiLeaks and other websites.


Gelombang yang ditimbulkan WikiLeaks

Imbas paling dahsyat jelas menimpa Amerika, negara yang paling dirugikan dengan dibukanya begitu banyak dokumen diplomasi mereka di berbagai belahan dunia. Seluruh dunia terperangah tercengang mendapati sepak terjang diplomasi Amerika. Dari topik gossip murahan yang mengurusi urusan arus bawah seorang kepala negara (Perancis) sampai dengan remeh temeh mengomentari hidangan dalam jamuan makan resmi satu negara. Konyolnya semua itu dimasukkan dalam kategori ‘classified’ atau bahkan ‘top secret’.

Rakyat Amerika sendiri banyak yang ‘terpesona’ dengan politik luar negeri mereka, ada yang percaya dan ada yang tidak, ada yang mendukung dan tentu saja ada yang mengutuk. Masalahnya adalah, jika memang tidak mengandung kebenaran, kenapa pemerintah begitu heboh sampai mengeluarkan larangan yang sedemikian aneh kedengarannya.

Berbagai pasal tuduhan ditimpakan kepada Assange, dari pasal terorisme, pembocoran rahasia negara, konspirasi, membahayakan keamanan nasional, perkosaan, semua dicoba ditimpakan ke Assange. Tapi kerusakan tidak terbendung lagi, terutama kerusakan kepercayaan negara-negara lain yang berhubungan diplomatik dengan Amerika. Banyak negara mulai memalingkan muka dari Amerika dan luntur kepercayaan mereka terhadap Amerika.

Temuan-temuan yang membuat kening berkerut makin banyak bermunculan. Praktek-praktek kotor para pelaku bisnis, pemangku kepentingan di negara-negara lain, perusahaan minyak, perusahaan multinasional, perusahaan farmasi raksasa, perusahaan penyedia jasa keamanan milik kelompok elite politik tertentu, ternyata luar biasa kotor prakteknya. Penyuapan, ancaman, intimidasi dan menutup sebelah mata kejahatan kotor sah-sah saja dilakukan sepanjang itu untuk ‘kepentingan nasional’.

Media-media seluruh dunia hampir setiap hari menurunkan berita seputar WikiLeaks dengan segala detail baru yang ditemukan setiap hari seiring dengan makin banyaknya pembeberan dokumen-dokumen tsb. Kompas, media nasional terbesar Indonesia tak ketinggalan, di halaman Internasional setiap hari pasti ada porsi tentang WikiLeaks.

Cables diplomatic tentang Indonesia secara khusus dan spesifik memang belum dibeberkan, tapi beberapa dokumen yang berhubungan dengan Indonesia atau minimal nama Indonesia dan beberapa orang Indonesia ada juga disebut di beberapa dokumen. Menurut WikiLeaks, jumlah dokumen yang dari Indonesia berjumlah 3.059 dokumen dengan isi berbagai issue. Mulai dari tahun-tahun seputar peralihan kekuasaan Soekarno ke Soeharto sampai dengan yang terbaru (mungkin 2009 – 2010).

Banyak juga yang berpendapat bahwa sepak terjang Assange tak lebih dari teroris dan membahayakan keselamatan banyak orang. Juga dogma: “kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain” banyak didengungkan belakangan. Tidak berpihak kepada Assange atau WikiLeaks, Baltyra tidak ada kepentingan apapun dan hubungan apapun dengan WikiLeaks, namun rasanya ‘dogma’ tsb dalam konteks hubungan diplomatik perlu ditinjau ulang. Bagi yang berkepentingan jelas kebebasannya merasa dilanggar, sementara bagi yang diuntungkan jelas baik-baik saja.

Masih belum semuanya, kabarnya WikiLeaks akan membeberkan serangkaian dokumen yang berisi seluk beluk, liku-liku dan intrik-intrik di balik runtuhnya perekonomian Amerika di penghujung 2008. Tragedi Lehman Brothers, sepak terjang Madoff, konon akan dibuka semua.

Dan bagaimana keyakinan yang disebut dengan freedom? Freedom of speech, freedom of getting the information? Sebetulnya bukan itu semua yang dilanggar selama ini, tapi adalah freedom dari rasa aman, rasa percaya yang selama ini dijunjung tinggi, rasa kemitraan selama ini, lenyap dalam sekejap mata.

Apakah benar Assange adalah otak di balik WikiLeaks? Apakah tidak ada kepentingan yang lebih besar di belakang ini semua? Polanya jelas, rapi, terstruktur, terprogram, terencana dengan matang, jangkauan yang luar biasa luas, dalam dan licin ke semua bagian dan struktur tatanan kehidupan dunia. Apakah hanya modus ‘menyingkap kebenaran’ sesederhana itu? Kita lihat saja, karena rasanya ini semua hanyalah merupakan awal dari sesuatu…


Kelatahan Leaks-leaks yang lain

Tak lama setelah WikiLeaks meledak, bertubi-tubi muncul leaks-leaks yang lain. Dari yang pecahan WikiLeaks sampai di Indonesia dengan IndoLeaks’nya. Pecahan WikiLeaks konon didirikan oleh para staff WikiLeaks dengan nama OpenLeaks yang mana sampai sekarang jika dibuka di www.openleaks.org tulisannya masih saja ‘Coming Soon’ sejak beberapa minggu yang lalu.

Ada lagi BrusselLeaks, TradeLeaks, BalkanLeaks, dan tak ketinggalan IndoLeaks. Situs IndoLeaks sendiri pertama muncul tanggal 10 Desember 2010 bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia sedunia. Begitu muncul, sedikit menggebrak menghebohkan, di hari yang sama langsung down, karena mungkin banyak pengakses yang ingin tahu.

Situs www.indoleaks.org meng-klaim diri memiliki sejumlah besar dokumen-dokumen ‘top secret’ dan ‘classified’ versi Indonesia. Yang terpampang di situs tsb adalah yang di-klaim sebagai laporan visum para korban peristiwa G-30-S PKI 1965, hasil investigasi kasus Century, Lapindo dan sekelumit tentang apa yang disebut-sebut dengan konsesi kayu. Tidak ada sesuatu yang istimewa sama sekali. Bahkan disebutkan bahwa “the Indonesian government claimed not to be concerned by the website” (bahasa gaulnya: pemerintah Indonesia cuek abis lah). Situs ikut-ikutan ini tidak jelas siapa pemiliknya, alamatnya dan segala sesuatunya tidak jelas sama sekali.

Dokumen terakhir yang ada di IndoLeaks hanyalah tentang Bank Century dan tidak ada sesuatu yang baru dan aneh dari yang sudah diketahui oleh masyarakat.

Lain halnya jika IndoLeaks bisa mengungkap siapa pembunuh Munir dan aktor di belakangnya, atau misalnya menemukan naskah Supersemar yang asli. Supersemar yang selama ini menjadi legitimasi kekuasaan Soeharto apakah memang demikian isinya, atau mungkin rekaman percakapan atau surat perintah tertentu yang memerintahkan atau merancang peristiwa Mei 1998, Tanjung Priok, dan kejadian-kejadian besar lain yang remain unsolved.

Silakan coba sendiri, buka www.indoleaks.org, lihatlah counter jumlah kunjungan di sebelah kanan yang sudah mencapai satu-koma-sekian-juta. Kemudian, matikan internet connection anda, dan lihatlah kembali counter tsb. Anda akan mendapati bahwa counter tsb tetap berjalan, bahkan TANPA tersambung dengan internet sekalipun! Catatan penting, counter tsb hanya kelihatan jika dibuka dengan Mozilla Firefox browser, tidak akan nampak jika dibuka dengan browser lain.

Tidaklah mengherankan hadirnya situs latah Leaks versi Indonesia itu. Namun mungkin lebih tepat jika namanya lebih ngindonesia, ‘indobocor’, ‘indorembes’ atau ‘indombleber’ mungkin lebih cocok…


Sumber ilustrasi & foto:

http://www.bahnhof.se/pionen/gallery/

Kompas.com


About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.