Tanah Itu Hidup

Handoko Widagdo – Solo


Keluhan akan hilangnya kesuburan di wilayah pertanian saat ini semakin mengumandang. Petani di Tanah Karo mengatakan bahwa semakin tahun, semakin banyak saja pupuk yang dibutuhkan untuk menghasilkan sekilo sayuran yang sama. Petani-petani padi pun mengatakan bahwa harga pupuk tidak lagi seimbang dengan harga gabah. Pengolahan tanah sekarang ini menjadi semakin sulit.

Tulisan ini menyoroti dua pandangan terhadap tanah di dunia pertanian, yang mungkin membantu un tuk menganalisis mengapa persoalan di atas muncul.


Dua pandangan berbeda tentang tanah

Ada dua pandangan tentang tanah di dunia pertanian. Pertama adalah yang memandang tanah lebih sebagai media tanam. Kedua adalah yang memandang tanah tidak hanya sebagai media tanam, tetapi juga sebagai sumber hara bagi tanaman. Apa perbedaan dua pandangan ini? Ahli-ahli pertanian yang memandang tanah lebih sebagai media tanam memperlakukan tanah sebagai benda mati. Jika dari analisis mereka merasa bahwa tanah tidak mampu menyediakan unsur hara tertentu, maka mereka langsung memberi rekomendasi pemupukan (kimia) untuk memenuhi kekurangan hara tersebut.

Ahli-ahli pertanian yang memandang tanah sebagai sumber hara bagi tanaman berpendapat lain. Mereka menganggap bahwa tanah itu hidup. Di dalam tanah terjadi suatu proses yang dinamis. Proses penguraian bahan-bahan organic menjadi hara yang bisa diserap oleh tanaman. Apabila tanah dianggap kurang bisa memberikan makanan pada tanaman di atasnya, mereka akan mencari tahu apa yang salah dengan proses dinamis yang terjadi.


Tanah sebagai media tanam dan permasalahannya

Pandangan pertama banyak dianut oleh ahli-ahli pertanian yang mengejar produksi tanaman. Untuk memaksimalkan produksi mereka mencari tahu berapa kebutuhan hara tanaman tersebut. Mereka menyelidiki kandungan hara tanah. Kekurangan dari kebutuhan tanaman dengan yang sudah disediakan oleh tanah akan ditambahkan melalui pemupukan kimia.

Cara berpikir ini sangat dominan pada saat ini. Oleh sebab itulah maka banyak pabrik-pabrik pupuk kimia yang dibangun. Menurut analisis mereka, kebutuhan terbesar tanaman adalah N, P, K, O dan C. Dua unsur terakhir bisa dipenuhi dari udara, sehingga tak perlu ada penambahan. Sedangkan tiga unsur yang pertama, yaitu N, P dan K dipenuhi dari tanah. Ketiga hara tersebut biasanya disebut sebagai unsur makro.

Pada umumnya tanah tidak bisa mencukupi kebutuhan ketiga hara tersebut. Apalagi jika varietas yang dipakai adalah varietas yang unggul (high yield variety) yang rakus akan unusr hara. Itulah sebabnya dalam rekomendasi budidaya yang mereka anjurkan adalah dengan penambahan pupuk kimia (dari ketiga unsur tersebut di atas) supaya produksinya bisa maksimal.

Pandangan pertama ini, walaupun popular saat ini, ada kelemahannya. Pertama, pandangan ini membuat usaha pertanian semakin hari semakin mahal. Memperlakukan tanah hanya sebagai media tanam membuat kita berpikir bahwa produksi akan bisa dicapai apabila kita memenuhi kebutuhan hara tersebut dari luar.

Makin hari kebutuhan pupuk semakin besar. Tidak hanya jumlahnya, tetapi juga jenisnya. Pada saat ini, kecenderungan untuk menambah unsur mikro dalam budidaya tanaman juga sudah mulai meningkat. Dengan makin besarnya kebutuhan pupuk maka usaha pertanian menjadi semakin mahal.

Pandangan ini juga hanya menguntungkan pada wilayah pertanian dimana tanah-tanahnya subur. Sebab pada tanah yang subur kebutuhan akan tambahan unsur hara dari luar sedikit saja. Sebagian besar hara (masih) bisa disediakan oleh tanah itu sendiri. Benih-benih unggul hanya mampu berproduksi tinggi di wilayah yang subur saja.

Akibatnya para ahli pertanian memusatkan perhatiannya pada wilayah subur saja. Wilayah-wilayah yang tidak subur mereka hindari. Padahal kebanyakan petani hidup di wilayah yang tidak subur. Mereka yang berusaha tani di wilayah yang tidak subur harus berupaya sendiri tanpa ada teman untuk memperbaiki usaha taninya. Padahal lebih dari 1,4 milliard penduduk dunia (ini berarti seperempat dari jumlah penduduk dunia) menggantungkan hidupnya dari usaha tani di wilayah yang tidak subur (Chambers, 1987). Siapa yang peduli mereka?

Kelemahan ketiga menyangkut masalah keberlanjutan pandangan ini di wilayah subur. Pandangan bahwa tanah adalah media tanam, ternyata mengakibatkan kerusakan wilayah-wilayah yang subur. Penambahan unsur untuk memacu produksi biasanya hanya penambahan unsur makro saja. Padahal tanaman memerlukan tidak hanya unsur makro, tapi juga unsur mikro.

Karena unsur mikronya tidak pernah ditambah, maka jumlahnya di dalam tanah juga semakin menurun. Akibatnya produksi tanaman menjadi terhambat karena kebutuhannya tidak terpenuhi.

Penyerapan unsur makro yang ditambahkan pun tidak mampu diserap seluruhnya oleh tanaman. Penurunan unsur mikro dan kelebihan unsur makro tambahan ini tidak hanya menghambat produksi tanaman, tetapi juga membuat tanah menjadi mati. Sebab organisma tanah yang selama ini berfungsi untuk mengubah bahan organic menjadi bahan yang bisa diserap oleh tanaman juga menjadi terganggu.

Kerusakan wilayah subur juga disebabkan oleh rusaknya sifat fisika tanah. Tanah yang dipupuk dengan pupuk kimia dalam waktu yang lama akan semakin keras. Walaupun penyebab mengapa tanah bisa menjadi semakin keras belum diketahui, tetapi fakta di lapangan menunjukkan hal itu.

Kerusakan wilayah subur juga disebabkan karena mutu air yang ada di wilayah tersebut menurun. Unsur nitrogen (N), yang berasal dari pupuk kimia yang ditambahkan, dan tidak terserap oleh tanaman seluruhnya terbawa oleh air. Peningkatan unsur N dalam air ini mengakibatkan kerusakan pada mutu air juga.

Tingginya unsur N dalam air juga mengakibatkan tumbuhnya tanaman air sepeti enceng gondok secara cepat. Akibatnya bendungan-bendungan dan saluran irigasi menjadi tercemari oleh tanaman ini, sehingga tidak lagi bisa efisien melayani kebutuhan air untuk pertanian dan untuk kebutuhan lain, misalnya listrik.


Tanah itu hidup

Pandangan kedua tentang tanah dalam pertanian adalah bahwa tanah itu hidup. Tanah itu penyedia hara bagi tanaman. Pendekatan ini semakin popular saat ini. Hal ini disebabkan persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh pandangan yang hanya memperlakukan tanah sebagai media tanam saja. Pandangan ini menjadi semakin popular juga karena pandangan ini memberi harapan baik pada wilayah pertanian yang tidak subur.

Wilayah pertanian yang tidak subur, yang kebanyakan dihuni oleh orang miskin, memerlukan suatu teknologi yang tidak memerlukan banyak beaya untuk menerapkannya. Pandangan ini membuka peluang kesana. Dengan sehatnya tanah, maka kebutuhan akan masukan unsur hara dari luar menjadi semakin sedikit. Sehingga kebutuhan beaya usaha tani juga semakin berkurang.

Dalam pandangan ini para ahli berupaya untuk menjaga kemampuan tanah menyediakan unsur hara bagi tanaman. Kedua hal yang menjadi pokok perhatian para ahli yang berpandangan bahwa tanah itu hidup adalah (1) mikro organisma tanah dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuannya untuk mengubah bahan organic menjadi unsur hara yang bisa diserap oleh tanaman, dan (2) sumber bahan organic yang harus diberikan sebagai sumber hara.

Mikro organisma ini harus dipelihara supaya tanah terus bisa menyediakan unsur hara bagi tanaman. Bahan organic harus diberikan supaya cukup bahan untuk mikro organisma hidup dan mengubah bahan tersebut menjadi hara.


Upaya untuk membelajarkan petani tentang tanah itu hidup

Petani kita, khususnya di wilayah padi yang subur dan wilayah sayuran yang intensif, telah dikenalkan dengan pandangan pertama akan tanah. Yaitu tanah sebagai media tanam. Mereka sudah terbiasa dengan pemupukan. Apabila tanamannya kurang subur, petani langsung berpikir, pupuk apa yang bisa diberikan sehingga tanamannya kembali subur? Atau pupuk apa yang kurang dan perlu ditambah jumlahnya?

Dengan cara pandang petani yang sudah seperti itu, perlu kiranya membelajarkan kembali mereka. Pembelajaran tidak semata-mata mengenalkan akan teknologi baru. Melainkan bagaimana upaya untuk mengubah cara berpikir mereka tentang tanah!


Note:

Artikel ini sering digunakan untuk bahan bacaan pelatihan pertanian berkelanjutan yang penulis selenggarakan.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.