Di Manakah Sebenarnya Kristus Dilahirkan?

Linda Cheang – Bandung


Salam damai kepada Pembaca semua,

Khusus untuk Natal tahun ini, saya ingin membagikan hal-hal yang saya temukan dan pikirkan, dan semoga boleh menjadi sukacita untuk para Pembaca sekalian, utamanya Pembaca yang merayakan Natal. Sebagai catatan, bahwa apa yang saya tuliskan di sini merupakan pandangan dan pemahaman saya pribadi.

Pembaca,

Di setiap perayaan Natal, sering digambarkan bahwa Kristus diletakkan pada palungan dengan latar belakang kandang. Di film The Nativity Story juga digambarkan Yusuf dan Maria hanya mendapatkan tempat sebuah gua kecil tempat hewan di belakang sebuah penginapan. Bahkan ketika di masa kecil saya mengikuti Sekolah Minggu, ada selarik kalimat dalam lagu berbunyi “ dalam kandangnya binatang, sudah lahir Yesusku”. Tapi apakah benar Kristus lahir di kandang hewan? Secara pribadi, saya tidak pernah merasa rela kalau Dia yang disebutkan juga Raja Damai, harus dilahirkan di kandang? Apakah sesederhana itukah?

Sampai ketika saya menemukan sebuah laman Bible Truth dan menemukan artikel yang ditulis oleh seorang Rabbi Cooper P Abrams III yang membahas sebuah tempat bernama Migdal Eder (ada juga yang menulis Migdal Edar), berdasarkan penelusuran dari Alkitab maupun sejarah. Jika saat ini manusia di seluruh dunia tahu bahwa di Bethlehem ada sebuah gereja yang dibangun di sebuah lokasi yang diyakini sebagai gua tempat Kristus lahir, gereja itu, Church (Basilica) of Nativity sebenarnya pertama kali dibangun oleh Kaisar dari kekaisaran Romawi, Kaisar Konstantinus, atas permintaan dari ibunya, Helena. Dibangun pada abad IV, sempat dihancurkan dan yang sekarang masih berdiri itu adalah yang dibangun oleh kaisar Justinianus pada tahun 538.

Migdal Eder sendiri tercatat di Kitab Kejadian 35 : 21, mengisahkan Yakub anak Ishak cucu Abraham yang disebut Israel, mendirikan kemahnya di seberang Migdal-Eder, setelah menguburkan salah satu istrinya, Rahel di tepi jalan di Efrata, nama lain dari Bethlehem. Kemudian Midgdal Eder yang diterjehamkan sebagai Menara Kawanan Domba, tertulis dalam Kitab Mikha 4:8 “Dan engkau, hai Menara Kawanan Domba, hai Bukit puteri Sion, kepadamu akan datang dan akan kembali pemerintahan yang dahulu, kerajaan atas puteri Yerusalem”, yang menyatakan bahwa dari sana akan datang seseorang yang istimewa. Lalu apa sebetulnya Migdal Eder itu?

Sesuai terjemahannya dari Bahasa Ibrani yang berarti Menara Kawanan Domba, Migdal Eder memang berupa bangunan menara yang berfungsi sebagai tempat untuk mengumpulkan ternak mereka dan menara ini bisa melindungi kawan domba dari serangan binatang buas pada saat itu, yang datang dari luar Bethlehem. Lokasinya diperkirakan 1 mil di sebelah utara Bethlehem dan 4 mil dari Yerusalem. Di dalam bangunan ini juga ada suatu tempat untuk para gembala memelihara domba-domba betina terpilih yang bunting, sebab domba-domba betina tsb akan melahirkan anak-anak domba yang kelak akan dipersiapkan sebagai korban bakaran di mezbah (altar) di Bait Suci.

Para gembala domba akan menempatkan domba-dombanya di luar tembok tempat persiapan anak domba, tetapo akan membawa masuk domba-domba betina yang dipersiapkan untuk melahrkan anak domba korban bakaran ke dalam tempat yang sepenuhnya diawasi oleh imam. Ada imam-imam dengan jabatan khusus yang tugasnya mengawasi dan merawat anak-anak domba yang ditetapkan sebagai korban.

Jika para umat Nasrani membaca Kitab Imamat, disitu tertera dengan jelas syarat-syarat anak domba yang akan dipersembahkan menjadi korban bakaran bagi umat Israel pada zaman Perjanjian Lama. Tertulis, seekor domba jantan yang tidak bercela. Atas persyaratan tidak bercela tadi, tentunya tempat untuk menyediakan anak domba sebagai korban bakaran haruslah bersih dan apik, agar jangan sampai anak domba yang akan dikorbankan menjadi cacat karena terkena apapun dari tempat persiapan tsb. Salah satu cara perawatan anak-anak domba yang baru lahir tsb, adalah dengan membungkus anak-anak domba baru lahir dengan kain lampin agar tetap dijaga supaya tidak lecet.

Migdal Eder sebagai tempat sebenarnya kelahiran Kristus sebenarnya sudah dinyatakan ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus, lihat Mikha 4 : 8 tadi. Selain itu masih ada petunjuk yang bisa dijadikan bukti bahwa memang Menara Kawanan Domba adalah tempat Kristus lahir, bukan kandang hewan yang bisa jadi bau dan hina. Dalam Perjanjian baru, di Injil Lukas, tertulis bahwa ketika Kristus lahir, seorang malaikat Tuhan berdiri di dekat mereka dan memberikan petunjuk hanya berupa “Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2 : 12). Di ayat-ayat berikutnya terlihat para gembala bisa berpikir berdasarkan petunjuk yang hanya segitu sederhananya untuk pergi ke Bethlehem untuk melihat Bayi Yesus dan mereka menemukannya tepat seperti petunjuk malaikat.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana para gembala yang pada saat itu cuma orang-orang sederhana, bisa tahu kalau mereka harus pergi ke Bethlehem berdasarkan petunjuk yang cuma seuprit itu, jika mereka tidak familiar dengan Migdal Eder yang jelas-jelas merupakan lokasi menempatkan kawanan domba? Di zaman itu, para gembala domba di Tanah Yudea, pasti tahu benar tempat yang bernama Migdal Eder itu adanya di Bethlehem dan tempat itu berdasarkan ketentuan agama Yahudi saat itu memang sebagai tempat persiapan anak-anak domba untuk jadi korban di Bait Suci.

Pertanyaan berikutnya, jika benar di Migdal Eder tempatnya, mengapa Kristus harus lahir di sana? Jika kita mengikuti kisah kelahiran Kristus yang dituliskan di Injil Matius, bahwa Yusuf dan Maria saat tiba di Bethlehem tidak kebagian satupun tempat di penginapan karena penuh, sebab di Bethlehem saat itu banyak orang pulang kampung untuk mengikuti sensus penduduk yang diperintahkan oleh Kaisar Agustus. Yusuf bukanlah seorang yang miskin seperti umumnya digambarkan selama ini. Yusuf mampu, koq, membayar kamar penginapan, tetapi saat itu sudah penuh dan satu-satunya tempat yang bisa sebagai tempat berlindung dari cuaca pada saat itu ya, bangunan yang bernama Migdal Eder itu. Karena Migdal Eder merupakan tempat untuk merawat domba, sudah pasti ada tempat untuk makanannya, yaitu palungan. Itulah sebabnya digambarkan Bayi Yesus terbaring di dalam palungan.

Pertanyaan lagi, MENGAPA harus di Migdal Eder? Kita tahu bahwa Yesus Kristus juga bergelar Anak Domba Allah. Kematian Kristus di kayu salib digambarkan dalam Kitab Wahyu sebagai Anak Domba yang telah disembelih, menggambarkan Kristus yang telah mati mencurahkan darahNya untuk mengalahkan maut dan menghapus dosa umat manusia. KebangkitanNya membuatnya layak mendapat kemuliaan. Silakan baca Kitab Wahyu 5.

Mencermati penjelasan di awal tulisan ini tentang Migdal Eder sebagai tempat persiapan anak doma yang tidak bercacat cela untuk dijadikan korban, maka kisah Bayi Yesus dilahirkan di Migdal Eder, dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di dalam palungan, merupakan suatu gambaran atau bahkan lebih tepatnya nubuatan, bahwa kelak Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah, sejak kelahiranNya, memang sudah dipersiapkan sebagai korban. Yesus Kristus itulah gambaran Anak Domba Allah yang tidak bercacat cela, yang dikorbankan menggantikan segenap umat manusia, mati disalib untuk menebus manusia dari cengkeraman dosa dan kebangkitanNya menggambarkan kemenangan, pembebasan atas cengkeraman dosa.

Pembaca,

Setelah saya membaca artikel tulisan Rabbi Cooper Abrams tsb, juga dari penelusuran beberapa catatan sejarah dan tak lupa penelusuran Alkitab sebagai sumber yang terutama. Secara pribadi, saya bisa menerima kalau Bayi Yesus sebenarnya memang dilahirkan di Migdal Eder tsb, bukan di kandang hewan yang hina. Namun, saya juga bisa menghargai pandangan yang sudah kadung berurat berakar selama berabad-abad, yang menyatakan bahwa Kristus lahir di kandang hewan yang hina, dengan maksud agar janganlah perbedaan pandangan menyebabkan perpecahan. Yang pasti, dari saya sendiri, karena saya ini juga seorang pengajar di gereja, saya tidak akan lagi mengajarkan kalau Kristus lahir di kandang hewan, karena memang sesungguhnya Alkitab yang ditulis dalam bahasa manapun di dunia ini, tidak pernah menyatakan hal kandang hewan tsb. Alkitab hanya menyatakan palungan. Dari kata palungan inilah, sepertinya persepsi tentang kandang hewan tsb muncul.

Sekarang, yang lebih penting sekarang bukanlah memperdebatkan kebenaran  soal di mana sebenarnya tempat tepatnya Kristus dilahirkan. Namun kita, yang mengaku sebagai pengikut Kristus, harus bertanya kepada diri sendiri, sudahkah Kristus lahir di hati kita? Jika kita mengaku sebagai pengikut Kristus, dan menyatakan bahwa Kristus telah lahir di hati dan kehidupan kita, semestinya tidak ada lagi orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai pengikutNya, tetapi perilakunya selalu korslet  dengan orang-orang di sekelilingnya. Pernyataan yang terakhir itu sekaligus ditujukan juga untuk saya sendiri, sebagai introspeksi diri untuk memaknai Natal.

Kelahiran Kristus membawa damai dari surga. Kiranya damai di bumi, damai di hati.


Salam,

Linda Cheang

Artikel berikutnya : Orang-Orang Majus


Sumber :

–          Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru

–          Alkitab Bahasa Inggris New King James Version

–          sabda.org

–          www.bible-truth.org

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

59 Comments to "Di Manakah Sebenarnya Kristus Dilahirkan?"

  1. Linda Cheang  3 April, 2011 at 17:04

    Jetter : terima kasih untuk apresiasinya. Salam kenal dan Tuhan memberkati kita semua.

  2. Jetter  3 April, 2011 at 08:26

    Trimakasi atas artikelnya…
    ALLAH memang adalah Pribadi yang penuh misteri…yang sulit untuk dimengerti…namun itulah yang harus kita yakini, bahwa kasihnya tidak pernah berkesudahan.
    Jadi menurutku..tidaklah aneh jika memang ada banyak rahasia bahwa Dimana dan Kapan,,,Yesus lahir yang tidak kita ketahui, Dan saya setuju biarlah tradisi Greja yang sudah ada sejak berjuta tahun tetap bertahan…karena selaku orang Percaya yang terpenting adalah YESUS adalah penebus dosa kita…AMIN

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.