Malam Kudus Pertama

Sanie B. Kuncoro


Kau memilih berdiam diri, sementara suami dan iparmu membicarakan sesuatu demi sebuah penentuan keputusan. Kau simak setiap patah kata dalam perbincangan itu, kau pahami artinya, meski tak membuatmu untuk ambil bagian di dalamnya.

Sembari menatap lembaran merah daun pohon ketapang, yang ranting-rantingnya menjulur panjang dari tiap sisi batang pohonnya—merah pekat warna daun itu, beberapa hari lagi akan beralih kecoklatan, untuk kemudian gugur meninggalkan batang penumbuhnya—kau berpikir bahwa tentulah mereka, suami dan ipar-iparmu itu lebih mampu atau berhak?, menentukan sebuah keputusan terbaik bagi Ibu mereka. Sementara kau hanyalah seorang menantu. Keputusan terbaik macam apa yang bisa dipilih seorang menantu untuk ibu mertuanya?

Siapa bisa mengelak dari stigma bahwa pasangan menantu perempuan dan ibu mertua sesungguhnya adalah musuh tersamar dalam mempertahankan seorang laki-laki? Sungguh tidak mudah bagi dua perempuan untuk merasa memiliki dan mencintai laki-laki yang sama, sekalipun bentuk kasih sayang keduanya berbeda.

Maka pilihan untuk tak terlibat, agaknya lebih baik untukmu.

“Aku bukannya tidak mau” kau dengar ipar bungsumu berkata “Tapi lihatlah apartemenku, hanya tersedia dua kamar. Mana mungkin Ibu sekamar dengan bayiku dan pengasuhnya? Tak baguslah itu untuk kesehatan anakku.”

“Anak-anakku selalu bergaduh, pasti tak akan kerasan Ibu bersamaku” sambung ipar sulungmu “Tapi aku tak keberatan sama sekali soal biaya. Suamiku setuju akan menanggung sebagian besar biaya perawatan itu.”

Kau dengar suamimu menghela napas, menatapmu sesaat, lalu berkata:

“Apakah itu berarti bahwa kita benar-benar akan menempatkan Ibu di sana?”

Kedua iparmu mengangguk.

“Itu tempat perawatan terbaik saat ini. Dokter berjaga 24 jam, ada perawat khusus, fasilitas lengkap. Bahkan untuk Ibu kupilihkan paket terlengkap, termasuk pijat dan menu berlauk khusus.”

“Bukannya murah biaya yang harus ditanggung dengan menempatkan Ibu di sana. Tapi ikhlas aku menanggungnya, demi baktiku kepada Ibu. Bukankah begitu?”

Lagi kau dengar hela nafas suamimu. Kau tahu ada yang berat pada nafas itu. Semacam muram yang pekat.

“Natal sebentar lagi, mana pantas menempatkan Ibu di sana dalam saat seperti ini? Serupa hadiah natal paling tragis” pahit suara suamimu melewati relung dengarmu.

“Keliru, justru panti itu akan mengadakan perayaan besar bagi para penghuninya” bantah ipar bungsu.

“Ibu justru akan merayakan natal paling meriah kali ini. Kalau mau kau bisa mendampingi Ibu dalam pesta itu,” sambung ipar sulung “Pastinya aku tak bisa berkunjung, aku ini ketua panitia perayaan natal di wilayah, besar tanggungjawabku demi terlaksananya acara itu”

Membisu suamimu. Tak ada sanggahan apalagi persetujuan.

“Apalagi yang memberatimu?” sergah ipar sulungmu, melirikmu sekilas “Atau kau merasa bersalah? Ah, bukan saatnya sekarang ini, melainkan dulu ketika kau tetap menikah tanpa restu Ibu, dan memilih meninggalkan rumah.”

Kau berpaling. Dan kau temukan tajam kalimat itu serupa runcingnya tunas-tunas perdu asparagus di sepanjang pagar belakang rumahmu. Perdu yang acapkali melukai telapak tanganmu saat menyianginya, namun toh tetap kau pertahankan tanaman itu oleh karena para tetanggamu sering memerlukannya sebagai tanaman pelengkap rangkaian bunga. Apalagi saat natal nanti. Akan cantik perdu itu disemat dengan sepasang lonceng berpita merah atau kota-kotak.

Kau tak terluka oleh kalimat itu. Atau telah kebal oleh karena goresan sayat sebelumnya?

Kau ingat hari itu, pertemuan pertamamu dengan calon ibu mertuamu. Elegan perempuan itu, dengan rambut semburat abu-abu yang tersanggul rapi bersunting kuntum anggrek bulan.

Kau ulurkan tanganmu, mempersembahkan salam di bawah sorot mata yang dingin menelusuri dirimu dari ujung ke ujung. Kau tahu ketika itu bahwa sorot mata itu sungguh tak menghendakimu.

“Tunggal anak laki-lakiku, di antara dua saudara perempuannya” begitu Ibu berkata, bernada lurus tajam. “Maka dialah satu-satunya penerus dan pewaris nama besar keluarga ini. Maka harus dipilihnya perempuan terbaik sebagai jodohnya.”

Suamimu meyakini bahwa kau miliki kebaikan-kebaikan itu. Tapi kebaikan yang kau punya bukanlah yang dikehendaki ibu mertuamu. Namun suamimu bergeming, tetap memilihmu, hingga memicu murka Ibunya. Murka itu serupa air mendidih yang meleburkanmu.

“Berhasil kau pikat anakku dengan rayumu, tapi ingatlah ini, bahwa selamanya kau tak akan pernah menjadi bagian dari keluargaku.” seru Ibu padamu serupa kutukan di hari pernikahanmu. Memastikan bahwa dia sungguh tak berkenan menjadi Ibu mertuamu.

Kau terima kutuk serupa wasiat itu tanpa sanggahan. Serupa helai-helai daun menerima taburan debu, darimanapun partikel-partikel lembut itu berasal. Tak hendak mengelak, apalagi mengutuk balik meski debu melekat itu menyesakkan nafasmu.

Kau rapikan anak-anakmu dengan ikhlas setiap kali hendak berkunjung kerumah neneknya. Kau bekali mereka dengan salam dan buah tangan untuk sang nenek.

“Harus ada yang berjaga di rumah, membereskan ini itu” begitu jawabmu saat anak-anak mempertanyakan ketidakikutsertaanmu.

Pertanyaan yang pada mulanya berulang, hingga kemudian mereda entah sejak kapan. Agaknya anak-anakmu telah mendapatkan jawabannya melalui buah tangan yang dicampakkan dan salam darimu yang tak pernah terbalas.

Acapkali enggan anak-anakmu berangkat, namun tak kau biarkan itu berlanjut. Apalagi demi hari ulangtahun sang nenek dan hari Natal. Bujukanmu yang tak memaksa senantiasa sanggup memberangkatkan mereka.

Begitulah, tahun-tahun berlalu sesudah itu. Kau lewati setiap malam dan pagi natal dalam kesendirian, demi anak-anak dan suamimu merayakan natal bersama dengan sebuah keluarga besar yang tak membuka pintunya bagimu. Agaknya kutukan itu akan berlaku selamanya bagimu.

Kini di hadapanmu, serangkaian keputusan sedang dipastikan bagi ibu mertuamu, sang pengirim kutukan yang agaknya masih berlaku hingga kini. Apakah ini saatnya untuk membalas kutukan itu? Kesempatan itu terbuka sepenuhnya untuk kau manfaatkan.

*

“Di mana kalian tempatkan Ibu?” tanyamu kemudian. Begitu saja patahan tanya itu terucap, sama seperti selembar daun ketapang merah saga yang mendadak melayang lepas dari tangkai dan rebah di pelataran. Patahan tanya yang mengejutkan.

Apa yang hendak kau lakukan?

Lalu tanpa menunggu persetujuan kau bergegas menuju tempat itu. Ipar-iparmu bahkan tak sempat menghadang langkahmu. Sementara tatap mata suamimu menyiratkan sesuatu yang pekat tak terbaca.

Inikah saat untuk sebuah pembalasan?

Kau temukan Ibu termangu sendirian di sisi bingkai jendela. Barangkali sedang diamatinya hilir mudik angin yang menerbangkan awan-awan putih di kejauhan langit.

“Siapakah kau?” Ibu bertanya saat kau mendekat.

Kau sebutkan namamu sembari duduk di sampingnya.

“Apakah aku mengenalmu?” lagi Ibu bertanya.

Pertanyaan yang membelah kenanganmu.

Di antara semburat warna abu rambutnya, tak lagi kau temukan anggrek bulan. Tak pula dendam yang murka. Sementara tudingan tangannya saat mengusirmu pergi, masih tersimpan rapi dalam kenanganmu.

Agaknya Alzheimer telah merenggut tandas ingatannya. Apakah itu termasuk murka dan kenangan indah masa lalu?

“Ya, dahulu” katamu menjawab.

“Aku tak ingat” Ibu menggeleng.

“Tak apa, kita bisa mengulangnya kembali.”

“Apakah itu perlu? Aku akan melupakanmu lagi. Kata mereka aku menderita sakit tersita ingatan.”

“Kalau begitu, kita akan terus mengulangnya.”

“Meski kulupa setiap hari?”

“Ya”

“Jadi setiap hari kau akan mendatangiku?”

“Setiap hari kita akan bertemu, karena Ibu akan tinggal di rumah kami.”

Sepasang mata Ibu lurus padamu. Menelitimu dari ujung ke ujung, tanpa serpih kenangan apa pun yang tersisa.

“Mengapa aku harus tinggal di rumahmu?” lagi Ibu bertanya.

“Karena aku akan menjagamu” lagi kau menjawab.

“Mengapa kau harus menjagaku?”

“Karena kau Ibu suamiku, nenek anak-anakku maka menjadi Ibuku juga.”

“Begitukah? Aku tak ingat.”

“Tak apa. Aku akan mengingatkanmu setiap hari.” Kau tersenyum mendapati pertanyaan yang agaknya akan terulang berkali-kali.

“Tapi rumah kami kecil, anak kami suka bergaduh, barangkali akan sedikit membisingkan Ibu.” Katamu lagi memohon pengertian.

“Katamu tadi mereka adalah cucuku? Artinya kita adalah bagian dari sebuah keluarga?

“Ya”

“Kalau begitu kurasa, tidak mengapa.Bukankah anak-anak selalu bergaduh?”

“Aku juga tak pandai memasak, maafkan bila nanti menu yang kusajikan tak sesuai selera Ibu”

“Oya? Kalau begitu kau harus belajar memasak padaku. Akan kubagi resep masakan andalanku. Ssstt, tapi kau harus rapi menyimpannya karena itu adalah resep warisan keluarga. Sanggupkah?”

Kau mengangguk bersungguh hati.

“Baik, akan kucatat dengan rapi, kusimpan untuk kuwariskan pada anak perempuanku. Dia akan menjadi cucumu yang terbaik”

Ibu meraih jemarimu, kuat menggenggammu. Tersenyum dia kepadamu. Dengan kebeningan bola mata yang tak menyimpan apa pun selain sirat bahagia.

Matamu menghangat. Hatimu juga. Kau menyimpan gurat senyum itu dalam benakmu. Itulah senyum pertama yang diberikan Ibu padamu sejak pertemuan kalian yang pertama kali. Sejak dia mengusirmu dengan sebuah kutukan.

Kini, masihkah kutukan itu berlaku?

Senyum itu masih terulas untukmu dan dari garis ketulusan itu kau mendapati senyum itu menihilkan kutukan dari serpih ingatanmu.

Maka tahulah kau bahwa natalmu kali ini, pada malam yang kudus itu, kau tak akan lagi sendirian. Akan kau nyalakan lilin-lilin bercahaya itu bersama suami, anak-anakmu dan seorang Ibu. Natal pertama yang akan melekat selamanya dalam ingatan kalian, meski suatu kali usia akan menggerus daya ingat serupa serpihan melayang tak tentu arah.

(http://kasih-karunia.org/)

Telah dimuat di Majalah SEKAR edisi 16 Desember 2009



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.