Orang Majus vs Herodes – Perlambang Sikap Memaknai Natal

Linda Cheang – Bandung


Pembaca sekalian,

Natal sudah menjelang, bagaimana sikap kita yang merayakannya menyambut kelahiran Kristus? Tulisan ini ingin menyampaikan beberapa hal mengenai sikap yang dilambangkan dalam beberapa peristiwa yang menyertai Natal. Sebuah catatan perlu dilengkapi untuk menyatakan bahwa isi tulisan ini merupakan pandangan dan pemahaman saya pribadi dan saya bagikan dengan harapan boleh membawa sukacita bagi siapa saja yang membacanya.

Pembaca,

Dalam kisah Natal, selain ada kisah kelahiran Kristus, Yusuf dan Maria, juga ada tokoh lain yang “terlibat” di dalam kisah tsb. Ada Herodes, yang menjadi raja di Yudea dan Orang-Orang Majus dari Timur yang datang untuk menyembah Yesus dan mengantarkan persembahan. Biasanya dalam pentas drama Natal di gereja, semua peristiwa itu ditempatkan dalam satu kesatuan cerita.

Ada tokoh bernama Herodes, raja Yudea saat itu, di Yerusalem. Pada saat itu yang berkuasa adalah Herodes Agung, sebab setelahnya ada lagi Herodes-Herodes lain yang berkuasa di Yudea.Secara lokasi, dekat dengan Bethlehem, tetapi hatinya jauh daripada menerima Kristus. Pada Injil Matius, dikisahkan Herodes terkejut demi mendengar perkataan Orang-Orang Majus yang menanyakan Raja Orang Yahudi yang baru dilahirkan. Dari hasil bertanya kepada para imam kepala dan ahli Taurat Yahudi yang membenarkan bahwa di Bethlehem sudah dinubuatkan akan kedatangan Kristus.

Selanjutnya dikisahkan Herodes marah karena merasa diperdaya oleh Orang-Orang Majus yang tidak kembali padanya setelah menemui Anak Yesus. Sebetulnya yang ada adalah Herodes merasa takut kedudukannya sebagai raja akan digeser oleh orang lain. Dikisahkan pula Herodes memerintahkan pembunuhan anak-anak yang berumur kurang dari dua tahun di Bethlehem. Herodes, membunuh anak-anak kecil itu  karena ketakutannya bahwa salah satu dari anak-anak di Bethlehem kelak akan menggeser kedudukannya sebagai raja. Dari pemikiran negatif ini, tidak hanya anak-anal kecil tetpai menurut beberapa catatan sejarah, bahkan istri, ibunya dan tiga anaknya sendiri dibunuh untuk melanggengkan kekuasaannya.

Ada kisah Orang-Orang Majus menemui Kristus bersamaan dengan para gembala, seperti umum digambarkan dalam kartu-kartu Natal, sebetulnya itu adalah gambaran para artis sejak abad V untuk meyatukan beberapa kisah di dalam satu bingkai. Padahal seungguhnya Orang-Orang Majus ketika menemui Yesus Kristus, diyakini saat itu Yesus sudah menjadi seorang anak kecil yang sudah bisa berlari-lari. Jadi Orang-Orang Majus menemui Yesus setelah Yesus menjadi lebih besar dari seorang bayi. Karena inilah maka Herodes perintahkan untuk membunuh anak-anak di Bethlehem yang kurang dari usia dua tahun.

Dalam Injil Matius dikisahkan kelahiran Kristus ditandai dengan adanya sebuah bintang yang unik. Bintang inilah yang akan jadi petunjuk kisah Orang-Orang Majus ini.. Bintang yang dilihat oleh Orang-Orang Majus dari negeri yang jauh di Timur Yudea. Mereka ini datang dari wilayah Persia kuno atau Iran sekarang ini. Bintang tsb hadir tepat ketika Kristus lahir dan jika kita gunakan logika kita untuk mengukur jarak dari wilayah Persia menuju Yudea, dengan kondisi zaman itu yang hanya menggunakan hewan-hewan tertentu sebagai alat transportasinya, maka tidak mungkin  Orang-Orang Majus bisa menemui Yesus Kristus tepat di hari kelahiranNya.

Pasti perlu perjalanan berbulan-bulan. Beberapa ahli astronomi memperkirakan bintang yang unik ini bisa jadi merupakan sebuah supernova yang meledak berkali-kali, karenanya dalam Injil Matius dituliskan bintang ini pada detik kelahiran Kristus dan muncul lagi pada saat Orang-Orang Majus tiba di Yudea mencari Yesus. Karena itu rasanya ganjil juga ketika di film The Nativity Story, dikisahkan Tiga Orang Majus bernama Balthazar, Melchior dan Caspar diceritakan melihat bintang itu dan bertemu Bayi Yesus di gua. Pemberian nama-nama ini untuk memberi identitas Orang-Orang Majus, dilakukan oleh Origenes, seorang bapak gereja pada tahun 254.

Jika memang benar mereka bertemu Bayi Yesus, semestinya bintang itu hadir jauh sekali sebelum kelahiran Kristus. Lebih menarik lagi, jika kita tilik lagi Injil Matius, tidak pernah diungkapkan berapa sebenarnya jumlah Orang-Orang Majus tsb dan hanya diceritakan bahwa Orang-Orang Majus masuk ke dalam rumah menemui Anak itu bersama Maria, ibuNya. Mereka menemui Yesus bukan di Migdal Eder apalagi di kandang hewan.

Sebelum membahas tentang apa saja yang dilakukan dan makna dari persembahan yang diberikan kepada Kristus, kita lihat dulu, siapakah sebenarnya Orang-Orang Majus tsb?  Mereka datang menemui Kristus berupa rombongan seperti halnya kafilah yang berdagang di masa Jalur Sutra. Menilik asal mereka dari Timur, dari wilayah Persia, mereka ini mestilah ahli pada ilmu perbintangan, baik astronomi maupun astrologi.

Sebab digambarkan bahwa Orang-Orang Majus melihat suatu bintang yang berbeda dan biasanya dalam ilmu astrologi, setiap ada fenomena alam yang unik, akan dikaitkan dengan hal-hal yang mistis. Jadi, bintang yang menandai kelahiran Kristus juga diterima dengan pandangan pasti ada sesuatu yang luar biasa terjadi dan Orang-Orang Majus percaya bahwa bintang itu menandakan kedatangan seorang raja yang luar biasa. Berarti para Orang Majus tsb adalah para cendekiawan, dan sudah pasti terpelajar.

Benarkah jumlah Orang-Orang Majus itu tiga orang seperti yang kerap digambarkan selama ini di drama-drama Natal? Angka tiga itu sebenarnya dikarenakan jumlah macam persembahan yang dibawa yaitu emas, kemenyan dan mur. Sesungguhnya berapapun jumlah tepatnya Orang-Orang Majus, ada hal-hal lebih penting dari mereka yang perlu kita tilik maknanya. Mereka dikisahkan datang dari Timur, yang secara lokasi jauh dari Bethlehem, namun mereka tetap berupaya datang dengan hanya mengikuti bintang yang pernah mereka lihat dari negeri mereka, ini melambangkan kerinduan untuk mencari Tuhan sumber segala kebenaran. Kedatangan Orang-Orang Majus ini berdasarkan tuntunan bintang meneguhkan ilmu dengan iman. Ilmu pengetahuan dapat meneguhkan iman percaya kepada Tuhan, jika digunakan secara benar.

Kemudian ketika dengan tuntunan bintang mereka melihat dan menemukan Yesus Kristus lalu mereka sangat bersukacita, itu berarti mereka memiliki sendiri pengalaman langsung betapa sukacitanya bertemu dan merasakan Tuhan terlibat dalam kehidupan mereka. Ketika mereka sujud menyembah kepada Yesus Kristus, ini menggambarkan sikap kerendahan hati mereka mengakui hadirat Tuhan walau mereka sendiri merupakan para orang terpelajar. Seanjutnya, sikap mereka mempersembahkan beberapa materi, ini melambangkan sikap hati untuk mengucapkan syukur.

Persembahan yang dibawa juga memiliki perlambang dan maksud. Emas melambangkan bahwa kelak Yesus Kristus akan menjadi Raja Agung. Tafsiran lain mengatakan emas merupakan lambang kekayaan manusia yang dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan. Kemenyan, dalam tradisi agama Yahudi Perjanjian Lama digunakan sebagai persembahan harum-haruman di Bait Suci. Perlambang bahwa kelak Yesus Kristus akan menjadi Imam Besar. Ada juga tafsiran yang melambangkan kemenyan sebagai doa-doa yang dipanjatkan manusia kepada Tuhan.

Mur adalah lambang kematian, digunakan seperti balsam, dilumurkan pada mayat, ini menggambarkan kelak Yesus Kristus akan mati sebagai penebus dosa umat manusia. Pula ada tafsiran lain mengatakan mur ini lambang kesaksian mengenai apa yang diperbuat orang-orang semasa hidupnya, dinilai dari apa saja yang dikatakan orang-orang tentang seseorang ketika sudah tidak ada lagi, alias mati. Umumnya jika kita pergi melayat ke rumah duka, ada seseorang meninggal dunia, biasanya kerabat keluarga dan teman-teman si mati akan mengatakan hal-hal yang baik-baik tentang si mati untuk mengenangnya.

Tidak untuk dilupakan, peristiwa Orang-Orang Majus pulang ke negeri mereka melalui jalan lain setelah diperingatkan dalam mimpi untuk tidak menemui Herodes. Sikap mereka mengikuti peringatan itu merupakan bukti ketaatan mereka pada tuntunan Tuhan.

Menilik akan makna yang tersirat dari setiap bagian kisah yang menyertai Natal, perlu rasanya melihat kembali apa yang sudah kita lakukan selama ini menyikapi Natal. Benarkan ada sukacita sejati atas kelahiran Sang Raja Damai yang akan menebus umat manusia dari dosa, atakah kemeriahan perayaan Natal dan rutinitas hidup telah menggantikan kerinduan kita untuk menyambut Tuhan. Apakah kita secara fisik terus menjalankan tata ibadah dengan benar sesuai peraturannya tetapi, sebenarnya secara hati, kita ini jauh daripada Tuhan. Itu sama saja dengna menyatakan bahwa kita memungkiri hadirat dan kedaulatan Tuhan atas diri kita di hidup kita.

Saya jadi berpikir, mungkin saja sebenarnya tanpa saya sadari, selama ini saya telah bersikap layaknya Herodes yang tidak sudi Tuhan hadir, di kala semestinya saya mesti meniru sikap teladan yang ditunjukkan Orang-Orang Majus.

Selamat merenungkan makna Natal. Kiranya sukacita karena kedatangan Sang Juru Selamat memenuhi hati kita. Damai dari surga, untuk di bumi dan di hati.


Salam,

Linda Cheang


Artikel berikutnya : Komersialisasi Natal

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *