Jembatan Islam – Kristen (2): Johannes Paulus II

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


“Lolek! I can see you clearly now”

JERZY Kruger seorang pengusaha sukses di kota Roma, Italia. Dia kelahiran Polandia. Di kota itu, tetapi lain negara, Jerzy memiliki sahabat sejati semasa kecil. Namanya Lolek. Sapaan akrab yang biasa dia pakai untuk memanggil sahabatnya itu saat mereka masih muda. Namun tidak semua orang Polandia boleh memanggil sebutan itu lagi. Lolek sudah menjadi Jan Pawel II.

Jan Pawel adalah sebutan orang Polandia untuk Johannes Paulus II, pemimpin umat Katolik sedunia yang pertama dalam kurun 250 tahun yang bukan orang Italia. Jerzy memang sering diajak ngobrol Lolek yang punya nama asli Karol Wojtyla untuk bersantap bersama sambil berbincang masa kecil mereka.

Bukan hanya Jerzy Kruger yang diajak bicara, Lolek juga mengajak umat Islam untuk berdialog saling memahami dan silang pengertian antara dua pemeluk dua agama terbesar di dunia itu, yang selama sejarahnya selalu menghiasi hubungan mereka dengan kecurigaan, kebencian juga peperangan.

Tidak banyak yang mengenal Lolek sewaktu dia masih menjadi seorang padri sebelum dia bertahta di Vatikan, pusat gereja Katolik sedunia, pada Oktober 1978. “Karol Wojtyla? Orang Afrika?”, komentar orang di Basilika St. Petrus saat namanya diumumkan sebagai paus baru. Namun setelah dia duduk di Tahta Suci, mulai banyak kejutan rohani yang dilakukan terutama terhadap hubungannya dengan kaum Muslim.

Lolek terlihat begitu kental memperlihatkan sikap terbuka terhadap umat Islam. Selama menjadi paus, Vatikan lebih banyak bersimpati terhadap Palestina, negeri yang selalu gagal dijadikan negara oleh umat Islam sejagat. Lolek lebih banyak terlihat menerima tokoh dan pemimpin Palestina daripada menjadi tuan rumah kedatangan tokoh dari Israel, seraya selalu menunjukkan kemarahannya bila ada agresi kekerasan Israel.

Banyak dialog dirintis dan dibuka oleh Paus Johannes Paulus II terhadap semua agama, terutama Islam. Dia adalah paus pertama dalam sejarah yang pertama kali masuk ke sinagog dan juga mesjid. Ketika pada Mei 2001, dia menginjakkan kaki seorang paus ke dalam sebuah mesjid, Masjid Omayyad di Damaskus, ibukota Siria. Bukan sekedar berziarah ke makam Nabi Yahya (Johannes Pembaptis) yang ada dalam masjid tersebut, tetapi juga berdoa untuk kerukunan umat Nasrani dengan umat agama lain, terutama Islam.

Selama 28 tahun menjadi paus, dia paling rajin berkeliling dunia mengunjungi umatnya dan juga negeri-negeri Islam yang tidak pernah dilakukan pendahulunya selama 2000 tahun sejarah gereja Katolik. Dia datang ke Turki (Nov 1979), Maroko (Agt 1985), Senegal (Feb 1992), Sudan (Feb 1993), Tunisia (Apr 1996), Bosna (1997 dan 2003), Mesir (Feb 2000), Palestina dan Jordania (Mar 2000) dan Siria (Mei 2001). Bahkan bulan Oktober 1989, dia menjadi paus kedua yang datang kelilingi berbagai kota di Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia, sejak pendahulunya Paus Paulus VI datang sehari ke Jakarta tahun 1971.

Pernah di depan publik, Paus Johannes Paulus II, memperlihatkan sikap yang tak pernah terjadi dalam hubungan gereja dengan umat Islam, yaitu mencium kitab suci Al Quran saat menerima delegasi komunal dari Irak. Dia ingin menunjukkan bahwa hubungan umat Islam dan Kristen, tidak dapat dipertahankan lagi hanya dengan membiarkan kebencian dan ketidakpahaman tersimpan rapi dalam lubuk masing-masing pemeluknya.

Paus Johannes Paulus II telah menghilangkan kesulitan umat Kristen dalam memahami Islam serta membuka hati mereka untuk menerima kehadirannya secara positif. Sumber prasangka umat Kristen kepada Islam yang berasal dari takut kepada Islam yang dianggap menjadi ancaman, perlahan dikikis habis olehnya. Tidak mengherankan ketika kematiannya tahun 2005 sangat diratapi dunia Islam. Berbagai sekte dan kelompok Islam, terlihat hadir di lapangan Santo Petrus untuk memberi kehormatan tertinggi kepadanya.

Kini semakin jelas pemandangan kedamaian yang telah dilakukan Lolek, nama kecil Paus Johannes Paulus II, seperti lirik yang dilatunkan penyanyi Jimmy Cliff, ‘I Can See Clearly Now”


All of the bad feelings ave disappeared

Here is that rainbow I’ve been praying for

It’s gonna be bright, bright, bright, bright sun shiny day


Banyak karya Paus Johannes Paulus II telah membuat jembatan komunikasi budaya sejagat, yang akan mempermudah manusia berkemauan baik untuk menuju dan bertemu dalam falsafah Islam disebut al hikmat al atiqah atau terkenal disebut sophia perennis. Ini adalah ajaran Nabi Ibrahim, bapak tiga agama besar, yang Nabi Muhammad diperintahkan Tuhan untuk mengikutinya.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.