Pekabaran Injil di Jawa

Handoko Widagdo – Solo


Selamat Natal bagi teman-teman Baltyra yang merayakan. Selamat Tahun Baru kepada semua rekan Baltyra. Dalam rangka natal ini, ijinkan saya mengenang pekabaran Injil di Tanah Jawa. Tulisan ini adalah resensi dari buku Babad Zending Di Pulau Jawa karangan J.D. Wolterbeek, yang aslinya ditulis dalam Bahasa Jawa dan kemudian diterjemahkan oleh Pdt. Edi Tripodoreompoko kedalam Bahasa Indonesia. Gusti Hamberkahi panjenengan sadaya.

Judul Buku: Babad Zending di Pulau Jawa

Penulis: J.D. Wolterbeek

Penterjemah: Pdt. Edi Tripodoreompoko

Penerbit: Taman Pustaka Kristen

Tahun Terbit: 1995

Halaman: 276 + x


Siapa yang tidak kenal Nommensen, si Rasul Suku Batak? Siapa tidak kenal J. Kam si Rasul Suku Ambon? Kedua nama ini sangat dikenal di Indonesia karena karya pengabaran Injil yang dilakukannya. Namun, pasti tidak banyak yang kenal dengan Coolen, lengkapnya Coenraad Laurens Coolen. Bisa disebut Coolen adalah Rasul Suku Jawa. Berbeda dengan Nommensen dan J. Kam yang asli Eropa dan mendapat pendidikan kekristenan di Eropa, Coolen adalah anak Indo yang berayah keturunan Rusia dan beribu keturunan ningrat Mataram. Dia dilahirkan di Semarang tahun 1785.

Karena Coolen dibesarkan oleh seorang ibu ningrat Jawa, maka pengetahuannya tentang kejawen sangatlah mendalam. Demikian pula pengetahuannya tentang kekristenan yang didapat dari ayahnya. Latar belakang pendidikan yang didapat dari kedua orangtuanya yang berbeda budaya ini membuat Coolen menggabungkan kejawen dengan kekristenan. Maka tidak heran jika dia membuat Pengakuan Iman Rasuli, Doa Bapa Kami dan Sepuluh Hukum Taurat  menjadi mantera yang harus dirapal sebagai ngelmu Jawa yang linuwih. Bahkah Coolen juga membuat sahadat Kristen sebagai berikut: La illahaila Allah, Yesus Kristus Putrane Allah. Penyebaran Injil dengan cara kejawen dimulai oleh Coolen di Desa Ngoro, dekat Surabaya. Desa Ngoro adalah desa yang dibuka oleh Coolen dari hutan belantara.

Dari tangannya lahirlah beberapa tokoh penyebar Injil di Jawa dari orang Jawa seperti: Kyai Yakobus Singotaruno, Kyai Eliasar Kunto, Paulus Tosari, Kyai Abisai Ditotaruno dan Ki Dalang Yohanes Dasimah.

Selain Coolen, penyebaran Injil di Suku Jawa juga dilakukan oleh orang Jawa sendiri. Nama Kyai Ibrahim Tunggung Wulung dan Kyai Sadrah Surapranoto adalah dua nama yang harus dicatat sebagai rasul lokal. Kedua rasul lokal ini juga menyebarkan Injil dengan menggunakan ngelmu Jawa. Kyai Ibrahim Tunggul Wulung dikisahkan menyebarkan berita bahwa Yesus Kristus lahir di Gunung Lawu dan Kristus berarti ‘keris yang tus’ keris yang sejati.

Adalah selayaknya orang Jawa ngarus agami Kristen supaya bisa mendapatkan Kristus, yaitu keris yang sejati. Kyai Sadrah Surapranata menyebarkan injil dengan cara menantang kyai lain untuk beradu sakti dalam ngelmu Jawa. Siapa yang kalah harus mengikuti ajaran yang dibawanya. Kyai Tunggul Wulung berkarya di Malang dan Bondo (Jepara), sementara Kyai Sadrah Surapranata mengembangkan jemaat di Karangyasa (Karesidenan Banyumas). Bahkan Kyai Sadrah adalah putra Jawa pertama yang memberi sakramen baptisan.

Benih-benih yang telah ditabur oleh Coolen dan anak didiknya, oleh Kyai Ibrahim Tunggul Wulung dan Kyai Sadrah Surapranata kemudian disiram dan dirawat oleh para pendeta Eropa yang dikirim/didukung oleh Zending, seperti NZG: Het Nederlandse Zendeling Genootschap, NGZV (Nederlansche Gereformeerde Zendings Vereeniging), dan sebagainya. Dari jemaat-jemaat inilah kemudian pada tahun 1900 berdiri Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Karya Injil di tanah Jawa selanjutnya adalah pembinaan jemaat, pendirian sekolah dan pelayanan orang sakit. Untuk memperkuat pembinaan jemaat didirikanlah sekolah guru sekaligus guru Injil.

Pada tahun 1913 perkembangan rumah sakit Kristen dan sekolah Kristen sangatlah pesat. RS Petronella di Jogjakarta dan RS di Solo, yang menempati lahan hibah dari Sri Mangkunegoro, dan rumahsakit-rumahsakit Kristen lainnya telah memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat kebanyakan.

Pekabaran Injil di Jawa bukannya tanpa halangan. Pada saat Injil masuk ke Jawa, kebanyakan rakyat Jawa telah memeluk Agama Islam. Untuk menghindari benturan antara ajaran Injil dengan Islam, Pemerintah Belanda menerapkan aturan pelarangan mengabarkan Injil kepada Orang Islam. Tidak itu saja, Haji Agus Salim juga mengajarkan bahwa Agama Kristen adalah Agama orang Belanda, sementara Agama Islam adalah Agama orang Jawa. Kyai Haji Ahmad Dahlan menganjurkan orang Jawa untuk menghargai kemuliaan Islam tanpa mencela orang Kristen. Hambatan pekabaran Injil di Jawa bukan saja oleh kalangan Islam, tetapi juga oleh kalangan kejawen, seperti kasus R.M Harto Diponegoro di Solo pada tahun 1935. R.M Harto Diponegoro mengajarkan ajaran kejawen di dalam Gereja.


About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Pekabaran Injil di Jawa"

  1. Handoko Widagdo  9 November, 2018 at 10:58

    Sama-sama Aprildeww, semoga saya suatu hari nanti bisa membaca hasil penelitianmu.

  2. Aprildeww  7 November, 2018 at 20:15

    Terimakasih pak, sangat membantu dalam penelitian saya membahas zending
    Tuhan memberkati

  3. Handoko Widagdo  1 November, 2018 at 13:24

    Pak/Bu Gimbong, coba menghubungi GKJ Margoyudan Surakarta. Semoga mereka bisa membantu.

  4. Gimbong  1 November, 2018 at 11:57

    Salam Sejahtera bapak….

    Mohon infonya…bagaimanakah caranya untuk dapat memperoleh buku tersebut di atas. Saya sudah mencoba mencari tetapi belum dapat…

    Terima kasih,

    Tuhan memberkati

  5. Lani  11 June, 2013 at 11:44

    HAND : aku melihat artikelmu lagi……..trs eling pernah diajak kesalah satu gereja di Yogya yg misanya jg menggunakan bahasa Jawa, aliran kejawennya jg kental, namanya gereja Ganjuran……….mas Didik Nini Thowok jg kegereja ini………

  6. Handoko Widagdo  11 June, 2013 at 11:38

    Pak Sepsianto, saya tidak punya softcopy, tapi dalam bentuk buku. Coba cari di GKJ Mertoyudan Solo. Siapa tahu mereka masih punya copy bukunya.

  7. Sepsianto (yoseph)  11 June, 2013 at 11:26

    Sangat menarik tapi kok sedikit ya bisa ga ya minta Sofcopy nya karena saya juga dari aliran sadrah yaitu gereja kerasulan (termasuk yg ada di karang yoso ) dan sampai sekarang bernama gereja kerasulan baru.

    terimakasih GBU

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.