Jembatan Islam – Kristen (3): Aga Khan IV

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


“How do you do, Karim”

BANYAK kerja, sedikit bicara dan banyak harta. Mungkin anggapan ini cocok untuk His Highness Prince Aga Khan IV atau Shah Karim al Hussayni The Aga Khan IV atau biasa disapa Pangeran Karim, namanya sebelum menjadi imam (pemimpin) bagi 18 juta pemeluk Islam Syiah Ismailliya di berbagai belahan dunia. Kadang dia dipanggil Karim, sapaan akrab teman-temannya yang kebanyakan adalah tokoh, kepala negara, bangsawan, selebritis dan kapitalis dunia.

Begitu jarang terdengar sepak terjangnya, banyak yang tak tahu apa yang dikerjakannya. Namun hasilnya pasti dan banyak dirasakan sebagian besar orang. Dari rakyat tradisional di sepanang pantai timur Afrika, sampai masyarakat modern di seantero Eropa dan Amerika. Usaha yang dikerjakan Pangeran Aga Khan IV, nama informalnya, seperti sulit dapat dilakukan dan dibandingkan oleh siapapun, mirip sebuah pertanyaan dalam syair lagu Roxette, “How Do You Do”.


How do you do, do you do, the things that you do. No one I know could ever keep up with you. How do you do!Did it ever make sense to you to say bye bye bye?

Pangeran Karim atau Aga Khan IV telah banyak melakukan perkerjaan lintas budaya, benua, agama dan kepercayaan. Namanya sangat dihormati bagi sebagian besar umat Islam. Sedangkan di dunia barat dia tidak hanya dihargai setinggi langit atas jasa lintas budayanya, tetapi juga karena faktor genetisnya. Karim adalah bangsawan barat Eropa yang beragama Islam.

Dari garis ibunya, Joan Barbara Yarde-Buller, dia keturunan kesepuluh Raja Charles II dari Inggris, sehingga diberi gelar kebangsawanan kerajaan Inggris, His Highness, dari Ratu Elizabeth II tahun 1957 yang juga keturunan Charles II. Putri Diana adalah sepupu jauhnya (7th cousin).

Dari istri keduanya seorang putri bangsawan Jerman, Karim memiliki anak tiri Putri Theresa Leiningen, yang menduduki urutan ke 115 tahta kerajaan Inggris (Urutan pertama adalah Pangeran William dan Pangeran Harry urutan kedua dan seterusnya…).

Pangeran Karim Aga Khan menjadi imam sekte Islam Syiah Ismailliyah ke 49 tahun 1957 (Imam pertama adalah Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi Muhammad). Dia keturunan langsung Nabi Muhammad dari putrinya Fatima, istri Ali bin Abi Thalib. Aktris cantik Hollywood Rita Hayworth pernah menjadi ibu tirinya ketika dinikahi ayahnya, Pangeran Aly Khan.

Aga Khan IV atau Pangeran Karim telah banyak membangun jembatan dialog yang kuat antara Islam dan dunia barat. Tidak hanya melalui genealogi (silsilah) yang dia berada di dalamnya, tetapi melalui berbagai proyek kemanusiaan dan ilmiah yang dia kendalikan dari luar kota Paris dengan sekitar 16 ribu karyawannya di seluruh dunia.

Kehadiran sosok Aga Khan di dunia barat telah banyak membuat budaya kristiani dapat memahami Islam secara benar. Dia dapat mengendalikan kesalahapahaman barat (baca Kristen) terhadap Islam tidak sampai meluas ke tingkat yang lebih tinggi lagi dan hanya terjadi pada lapisan masyarakat di bawah  yang tak banyak mengerti tentang Islam.

Dia juga mengenal baik (dan memang punya hubungan darah) dengan hampir semua bangsawan Eropa serta tokoh-tokoh politik serta masyarakat di dunia barat. “Yang Mulia Aga Khan adalah sosok pribadi yang memiliki visi, intelektual dan passion. Saya banggsa bisa mengetahui sepak terjangnya selama hampir 40 tahun”, puji “Raja Amerika” David Rockefeller ketika memberi penghargaan kepadanya. Banyak penghargaan tertinggi dari negara-negara barat yang hanya diberikan segelintir orang selama ratusan tahun, telah diraihnya.

Tidak hanya itu, Aga Khan IV adalah Honorary Citizen of Canada yang diberikan hanya untuk 5 orang (Dalai Lama, Mandela, Ang San Syu Kii dan seorang diplomat Swedia). Dia pernah mewakili kontingan Iran pada Olimpiade Musim Dingin 1964 di Innsbruck, Austria. Juga memegang beberapa paspor, seperti Iran, Pakistan, India, Mesir, Tanzania, Kenya, Prancis (rumahnya), Inggris (tentu saja), Kanada (sudah pasti) dan banyak lagi.

Keistimewaan ini adalah anugerah baginya untuk bisa membuat jembatan antar peradaban Islam dan Kristen. Selama lebih setengah abad, Aga Khan IV melewati masa panjang di jaman modern yang tidak banyak menghargai prasangka dan kecurigaan penuh kefanatikan keagamaan. Dia berusaha mewujudkan sikap lebih ilmiah dan jujur yang kini mulai tumbuh di dunia barat terhadap dialog Islam dan Kristen.

Pengertian Islam yang lebih baik di dunia barat, telah dibawa oleh Aga Khan IV dengan penuh pesona dan meresap di banyak lapisan masyarakat. Hampir semua pusat-pusat kebudayaan Islam di kota-kota besar Eropa, direstui dan didukung oleh para tokoh terkemuka di barat. Aga Khan IV-lah yang bisa menghadirikan kembali simpul budaya Islam di semenanjung Andalusia, waktu membuka pusat Islam di Lisabon, ibukota Portugal, setelah Islam lenyap selama 700 tahun lalu di semenanung itu.

Pangeran Aga Khan telah bertemu dan berteman baik dengan puluhan raja, presiden, perdana menteri di seluruh dunia sejak 50 tahun lampau hingga kini. Dari Presiden John Kennedy sampai Presiden Gamal Abdul Nasser dari Mesir, Nelson Mandela sampai Susuhunan Pakubuwono XII dari Solo, pernah serius berbincang dengannya. Kakeknya, Aga Khan III adalah ketua Liga Bangsa-Bangsa (semacam PBB sebelum 1945). Ayahnya duta besar Pakistan untuk PBB dan pamannya Pangeran Sadruddin Aga Khan adalah ketua UNCHR (badan urusan pengungsi PBB) yang termuda, terlama dan paling berjasa untuk badan sosial tersebut dari 1965-1977.

Bagi Indonesia, nama Aga Khan sangat dikenang baik oleh kaum intelektual sosial dan agama. Dia mendirikan Aga Khan Award for Architecture, semacam hadiah Nobel untuk arsitektur yang dibagikan setiap siklus 3 tahunan dan tempat penganugrahannya berpindah-pindah. Kraton Surakarta pernah menjadi tuan rumah penganugrahan ini tahun 1995.

Banyak bangunan cantik ramah lingkungan di Indonesia mendapat anugrah Aga Khan. Misalnya Program Pemberdayaan Kampung di Jakarta (1980), pemberdayaan Kampung Kebalen Surabaya dan Mesjid Said Naum Kebon Jeruk Jakarta karya Adhi Moersid (1986), Proyek Pengembangan Citra Niaga di Samarinda (1989) juga landskap bandara Soekarno Hatta karya arsitek Paul Andreu (Aeroports de Paris) tahun 1995. Bahkan dia menggelar kejuaraan regional sepakbola Piala Aga Khan, yang sering dijuarai kesebelasan Indonesia sewaktu masih ditakuti.

Meskipun agama yang pimpin Aga Khan IV ada sedikit perbedaan teologis dengan kebanyakan umat Islam lainnya, namun dimata dunia barat Islam yang dibawa Aga Khan dilihat sebagai bentuk pesona yang menawan secara utuh. Sebaliknya bagi pengikutnya, barat atau agama Kristen dipandang sebagai sebuah peradaban yang harus dihormati tanpa cela.

Masih banyak hal yang akan dilakukan Karim untuk membuat Islam dan Kristen menjadi lebih harmonis, tanpa kita tahu, dengar beritanya dan bagaimana dia melakukannya. How do you do, Karim? (*)


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.