Kisah Prabu Munding Wangi

Cechgentong


Sudah cukup lama saya tidak menulis tentang sejarah Sunda terutama sejarah Kerajaan Pajajaran. Dalam rangka menumbuh kembangkan budaya tutur tinular yang merupakan warisan budaya nenek moyang (karuhun) maka sore ini saya menuliskan kembali bagian terkecil dari sejarah Kerajaan Pajajaran. Sejarah yang ingin saya tuliskan berkisah tentang salah satu Raja di salah satu kerajaan Pajajaran yaitu Prabu Munding Wangi (Prabu Siliwangi ke-6).


Mungkin banyak orang yang baru mengenal dan mendengar nama Prabu Munding Wangi. Perlu diketahui Prabu Munding Wangi ini adalah bapak dari Prabu Kian Santang yang terkenal itu. Prabu Munding Wangilah yang mengakhiri kerajaran Pajajaran. Kemudian Prabu Munding Wangi mengeluarkan wasiat yang sangat terkenal yaitu Uga Wangsit Siliwangi. Penghilangan kerajaan Pajajaran terjadi setelah Prabu Munding Wangi menyerahkan seluruh kerajaan Pajajaran termasuk isteri, rakyat dan 4 orang patihnya yang terkenal yaitu Sanghyang Hawu, Sanghyang Konang Hapa, Batara Nanggana, dan Batara Cengkar Buana kepada Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang. Sejak saat itu nama kerajaannya menjadi Kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran dan selanjutnya menjadi Kerajaan Sumedang Larang.

Sebagai raja yang beragama Hindu, mungkin bagi banyak orang dikatakan aneh. Anehnya ? Beliau menyerahkan kekuasaan Kerajaan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun dengan satu syarat yaitu seluruh rakyat Pajajaran dan Sumedang Larang termasuk 4 orang patihnya diharuskan masuk Islam. Nah sejak menjadi kerajaan Islam itulah keempat patihnya berubah nama menjadi Patih Jaya Perkasa, Konang Hapa (Mbah Jenggot), Nanggana dan Terong Peot.

Ketika ditanya oleh Prabu Geusan Ulun, mengapa syaratnya masuk Islam sedangkan Prabu Munding Wangi sendiri tetap menganut agama Hindu yang kemudian menghilang (konon ngahyang alias menghilang entah kemana). Jawaban beliau sungguh mengesankan yaitu

” Aku telah mengetahui akan datangnya ajaran penyempurna dai Sanghyang Wenang maka itu aku menginginkan anak cucuku menjadi manusia yang sempurna dan kelak menjadi penghuni surga nomor utama (Nirwana dalam Hindu). Ingat Geusan Ulun, ibarat awal mula air. Dari mata air mengalir ke sungai kecil, menjadi sungai besar, bermuara ke laut dan air di laut mengalami proses kondensasi menjadi hujan di gunung sehingga menjadi mata air. Jadi awal dan akhirnya jelas. Semuanya kuserahkan kepada anak cucuku untuk memilih. Mana yang terbaik dan diyakini oleh mereka. “

Luar biasa sekali dengan ucapan Prabu Munding Wangi. Mungkin sudah jarang kita melihat kejadian tersebut. Keikhlasan memberi tanpa mengharapkan apa-apa sekalipun pertaruhannya adalah harta, tahta dan wanita. Disitulah makna keadilan sebenarnya dan sesuai dengan yang dikatakan oleh Nabi Musa AS dalam mengartikan adil yaitu bersedia menderita demi kebahagiaan orang lain.

Singkat cerita, pada sekitar abad ke-14 ada sebuah kerajaan yang masih bagian dari kerajaan Pajajaran yaitu Kerajaan Gerbah Labuan. Pada saat itu kerajaan Gerbah Labuan dipimpin oleh seorang Raja sekaligus pendeta bernama Prabu Batara Anggara. Prabu Batara Anggara hanya mempunyai satu orang anak yaitu Pangeran Munding Wangi. Pada saat menjelang ajalnya Prabu Batara Anggara mengamanatkan kepada Patihnya yang masih adik kandungnya sendiri yaitu Patih Gerbah Menak dihadapan seluruh keluarga kerajaan. Apabila Prabu Batara Anggara mangkat maka kerajaan Gerbah Labuan diwariskan dan dikuasakan kepada anak tunggalnya yaitu Pangeran Munding Wangi.

Tepat mangkatnya Prabu Batara Anggara, Pangeran Munding Wangi masih berumur 9 tahun. Sesuai dengan amanat Prabu Batara Anggara maka kekuasaan kerajaan jatuh kepada anak tunggalnya. Karena masih anak-anak maka untuk sementara Pangeran Munding Wangi didampingi oleh pamannya sendiri., Patih Gerbah Menak.

Amanah tinggallah amanah. Memang sudah watak manusia yang selalu diselimuti oleh keserakahan. Rupanya Patih Gerbah Menak tergiur juga untuk menguasai kerajaan Gerbah Menak. Caranya adalah menyingkirkan Pangeran Munding Wangi dari tampuk kekuasaan. Karena masih keponakan sendiri, Patih Gerbah Menak tidak melakukan aksi pembunuhan kepada Pangeran Munding Wangi tapi dengan trik yang bisa dikatakan halus sekali.

Triknya adalah memberikan informasi yang salah yaitu untuk menjadi Raja maka Pangeran Munding Wangi harus melakukan satu acara ritual yaitu mandi 100- macam rempah-rempah. Dikatakan oleh Patih Gerbah Menak kalau acara ritual ini dilakukan agar Pangeran Munding wangi menjadi Raja yang sakti mandraguna dan dianggap sebagai utusan dewa. Karena masih usia kanak-kanak, Pangeran Munding Wangi mengiyakan apa yang dikatakan oleh pamannya sendiri. Kemudian acara ritual mandi di air kolam yang telah diisi oleh 1000 jenis rempah-rempah tepat jam 12 malam purnama.

Apa yang terjadi ? Betapa kagetnya Pangeran Munding Wangi melihat sekujur tubuhnya berubah menjadi hitam seperti orang kulit hitam setalah selesai mandi. Semua orang yang menyaksikan terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi. Karena tubuhnya yang berwarna hitam pekat maka Pangeran Munding Wangi merasa malu dan tidak mau keluar dari kamarnya. Hal ini dimanfaatkan oleh Patih Gerbah Menak untuk menguasai kerajaan Gerbah Labuan. Lama kelamaan Pangeran Munding Wangi menjadi seorang penyendiri. Kadang-kadang pikirannya kalut dan bertingkah laku layaknya orang gila.

Keadaan Pangeran Munding Wangi yang jatuh mental dan pamornya maka dengan tangkasnya Patih Gerbah Menak menyarankan Pangeran Munding Wangi untuk menyingkir dahulu dari rakyat dan kerajaan Gerbah Labuan. Pangeran Munding Wangi mengikuti saran pamannya yaitu menyingkir dari kerajaan dan tinggal di hutan. Di hutan itulah tempat yang tepat bagi Pangeran Munding Wangi untuk mengobati kelainan kulit yang dideritanya. Dikatakan juga oleh pamannya, sebaiknya jangan kembali ke kerajaan sebelum kulit tubuhnya kembali normal dan diiming-imingi kalau Pangeran Munding Wangi akan sering dikunjungi oleh keluarga kerajaan.

Selanjutnya apakah yang terjadi dengan nasib Pangerang Munding Wangi ? Ternyata apa yang dikatakan pamannya hanyalah isapan jempol belaka. Sejak masuk hutan, Pangeran Munding Wangi dibiarkan hidup sengsara dan sendiri di tengah hutan yang angker dan dipenuhi oleh bintang buas. Tak ada seoranpun keluarga kerajaan yang datang mengujunginya karena dilarang oleh Patih Gerbah Menak. Tanpa terasa waktu terus berjalan hingga 10 tahun.

Tapi kembali lagi Sanghyang Wenang mempunyai rencana yang lain bagi nasib Pangeran Munding Wangi. Saat Pangeran Munding Wangi yang telah berusia dewasa tertidur di saung sederhananya, Pangeran Munding Wangi bermimpi didatangi oleh seorang pria tua seperti resi agar dia bersabar dan tabah dalam menjalani hidup. Yakin kepada diri sendiri, yakin kepada Sanghyang Tunggal dan ingat selalu amanah/nasehat orang tua. Kemudian Patih Munding Wangi diperintahkan untuk pergi ke arah timur. Begitu kagetnya Pangeran Munding Wangi ketika terbangun dari tidurnya. Percaya tidak percaya dengan mimpinya, Pangeran Munding Wangi memutuskan untuk mengikuti mimpinya.

Setelah berhari-hari berjalan, Pangeran Munding Wangi tiba di sebuah daerah yang ternyata masih bagian dari Kerajaan Pucuk Umum. Kerajaan Pucuk Umum juga masih bagian dari kerajaan Pajajaran. Kemudian Pangeran Munding Wangi bertemu dengan sepasang suami istri berusia lanjut. Ternyata mereka adalah abdi dalam kerajaan Pucuk Umum. Sang Suami bekerja sebagai penjada dan perawat kuda kerajaan. Melihat penampilan Pangeran Pucuk Umum yang menyedihkan hati maka sepasang suami istri tersebut mengajak Pangeran Munding Wangi untuk menetap di rumahnya. Kebetulan pasangan ini tidak dikarunia anak sehingga sejak saat itu Pangeran Munding Wangi diangkat menjadi anaknya.

Setiap hari Pangeran Munding Wangi membantu ayah angkatnya sebagai pemelihara dan perawat kandang dan kuda kerajaan. Karena sikapnya yang baik, rajin, tidak pernah mengeluh, pemberani, ilmu kanuragannya yang tinggi dan ringan tangan maka Pangeran Munding Wangi disukai banyak orang. Cuma sayangnya kulit Pangeran Munding Wangi hitam legam sehingga menjadi kendala bagi para wanita yang ingin mendekatinya. Kebersahajaan Pangeran Munding Wangi sempat didengar oleh anggota kerajaan dan menjadi topik pembicaraan sehingga Raja Pucuk Umum pun menjadi tertarik untuk menemuinya.

Akhirnya Raja Pucuk Umum memanggil secara pribadi Pangeran Munding Wangi di istananya.

” Wahai anak muda, kudengar kau sangat disukai oleh rakyatku. Siapakah gerangan dirimu ? “

” Ampun baginda, saya hanyalah manusia biasa dengan kondisi tubuhku yang hitam legam. Aku datang dari negeri yang jauh sekali dan diangkat anak oleh sepasang suami istri tua yang telah mengabdi kepada Baginda bertahun-tahun. “

” Ohh begitu. Kalau kulihat dari penampilanmu. Memang rupa dan kulit tubuhmu sangatlah menyeramkan. Tetapi sesungguhnya kau orang baik. Siapakah namamu sebenarnya ? “

” Namaku Munding Wangi, Baginda “

Selanjutnya terjadilah pembicaraan yang panjang diantara keduanya.Tanpa diketahui oleh keduanya, ternyata Puteri Raja Pucuk Umum bernama Intan Dewata mengikuti pembicaraan tersebut. Dengan memperhatikan secara teliti sosok Pangeran Munding Wangi, Puteri Intan Dewata merasakan aura aneh dan luar biasa efeknya dari seorang Munding Wangi. Sejak saat itu Puteri Intan Dewata seringkali pergi ke istal kerajaan walau hanya sekedar melihat Pangeran Munding Wangi.

Akhirnya Puteri Intan Dewata tidak kuasa juga menahan keingintahuannya. Pada suatu hari Puteri Intan Dewata menghampiri Pangeran Munding Wangi. Dengan sedikit malu dan takut, Puteri Intan Dewata mengajukan banyak pertanyaan kepada Pangeran Munding Wangi. Karena tutur katanya yang sopan santun dan lembut di dengar maka tanpa terasa timbullah rasa suka Puteri Intan Dewata kepada Pangeran Munding Wangi.

Kemudian Puteri Intan Dewata mencurahkan perasaannya kepada Pangeran Munding Wangi.

” Hai Puteri Intan Dewata, apakah puteri tidak merasa malu berdekatan denganku ” Tanya Pangeran Munding Wangi.

” Mengapa harus malu ? Apakah ada yang salah bila aku mendekatimu ? “

” Kau tahu sendiri, bagaimana nanti orang-orang bicara ? Aku ini hanyalah pemuda biasa buruk rupa dan kulitku hitam. Berbeda dengan kebanyakan orang. “

” Kau salah Munding Wangi. Aku tidak melihat penampilan luarmu. Tapi aku melihat sesuatu yang luar biasa dari dirimu. Aura terang benderang yang hanya dimiliki oleh keturunan tetesan Wisnu. “

” hahahaha Puteri membuatku tertawa. Lupakan saja “

” Tidak, aku tidak mau. Aku meyakini kalau kau memang diutus oleh Sanghyang Wenang untuk mengisi relung hatiku “

” Hahahaha Puteri makin membuatku tertawa terbahak-bahak “

” Terserahlah kepadamu, Munding Wangi “

” Terus apa yang akan kau lakukan ? “

” Aku akan tetap mencintaimu karena aku yakin kaulah pria impianku. Munding Wangi, apakah kau tidak suka padaku ? “

Pangeran Munding Wangi langsung terdiam. Sebenarnya Pangeran Munding Wangi jatuh hati kepada Puteri Intan Dewata tapi Pangeran Munding Wangi merasa Puteri Intan Dewata tidak mungkin mencintainya. Akhirnya Pangeran Munding Wangi secara jujur menyatakan cintanya kepada Puteri Intan Dewata.

Bagaimana denga Raja Pucuk Umum setelah mengetahui Puteri satu-satunya menyukai pria buruk rupa dengan kulit hitam legam. Sebelum Raja Pucuk Umum mengetahui kabar tersebut dari pihak ketiga maka Puteri Intan Dewata menemui Raja dan mengatakan secara terus terang kalau Puteri Intan Dewata sangat mencintai Pangeran Munding Wangi. Diceritakan lah semua alasannya seperti mimpinya bertemu seorang pangeran tampan dengan ciri yang mirip dengan Pangeran Munding Wangi. Puteri Intan Dewata siap menerima resikonya. Tanpa diduga Puteri Intan Dewata mengatakan kalau Pangeran Munding Wangi akan berubah menjadi wujud aslinya tepat malam bulan purnama. Raja Pucuk Umum tidak bisa berbuat apa-apa karena rasa sayangnya yang teramat sangat kepada puteri satu-satunya tersebut.

Tepat malam bulan purnama, saat itu Pangeran Munding Wangi merasa gerah dan mandi di kolam dekat kandang kuda. Pangeran Munding Wangi tidak menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya setelah mandi. Tepat bulan purnama dimana posisi bulan tegak lurus dengan bumi, betapa Pangeran Munding Wangi merasa kaget saat melihat wajahnya di air kolam. Bak melihat cermin kaca, yang biasanya Pangeran Munding Wangi tidak melihat wajahnya di air maka pada malam itu Pangeran Munding Wangi melihat wajahnya dengan jelas. Betapa gembiranya Pangeran Munding Wangi menyambut perubahan fisik yang ada pada dirinya.

Berita perubahan fisik Pangeran Munding Wangi, akhirnya terdengar di telinga kerajaan. Raja Pucuk Umum sempat kaget dan terkagum-kagum saat bertemu Pangerang Munding Wangi, Wujud pria tampan, berkulit putih mulus tanpa cacat dan tampak sekali pancaran aura di wajahnya. Raja langsung memanggil Puterinya yang sejak awal meyakini adanya perubahan pada Pangeran Munding Wangi. Raja Pucuk Umum mengucapkan permohonan maafnya karena tidak mempercayai omongan puterinya sendiri. Ternyata keyakinan puterinya tidak meleset dan benar adanya pilihan hidup bagi puterinya tersebut.

Singkat cerita, akhirnya Puteri Intan Dewata menikah dengan Pangeran Munding Wangi. Pangeran Munding Wangipun menceritakan siapa dirinya kepada Raja dan Isterinya. Ternyata memang tidak salah pilihan Puteri Intan Dewata pikir Raja Pucuk Umum kalau Pangeran Munding Wangi masih keturunan bangsawan. Setelah mendengar secara detil cerita Pangeran Munding Wangi maka Raja memanggil seluruh perangkat kerajaannya. Raja memutuskan untuk melakukan penyerangan ke kerajaan Gerbah Labuan. Ini dilakukan untuk mengembalikan kembali hak Pangeran Munding Wangi. Pangeran Munding Wangilah yang sebenarnya Raja Gerbah Labuan.

Dalam waktu yang tidak lama, akhirnya Kerajaan Gerbah Labuan berhasil ditaklukkan dan Pangeran Munding Wangi dikembalikan posisinya sebagai Raja Gerbah Labuan. Sementara Patih Gerbah Menak ditangkap dan dihukum mati. Sejak itulah Pangeran Munding Wangi menjadi Prabu Munding Wangi dengan permaisurinya, Ratu Intan Dewata.

Begitulah kisah Prabu Munding Wangi yang diceritakan berdasarkan tutur tinular dari Uyut saya. Mudah-mudahan dapat diambil hikmahnya. Renungkanlah.


SAMPURASUN RAMPES

14 Comments to "Kisah Prabu Munding Wangi"

  1. Wawan Liryana  12 June, 2012 at 12:38

    Ini salah satu pencerahan untuk masyarakat Sunda khususnya, yang belum tahu asal asul nenek moyangnya. dan terus terang saja saya sangat ingin tahu sejarah-sejarah kerajaan Pajajaran yang lebih detail terutama dimana letak atau tepatnya keraton kerajaan Pajajaran yang selama ini masih jadi misteri. Apakah tidak ada alat yang lebih canggih lagi untuk menemukannya.

  2. edo  9 May, 2011 at 11:21

    Makasih atas informasinya..
    Ini mnjadikan waasan sya maakin lias…

  3. cechgentong  3 January, 2011 at 01:37

    Astrajingga, prabu tajimalela punya anak namanya Lembu Agung, Lembu agung punya anak namanya Batara Anggara. Batara anggara punya anak namanya Munding Wangi. Memang gerbah labuan bagian dari kerajaan sumedang larang dan daerahnya sampai ke daerah banten

  4. astrajingga  31 December, 2010 at 11:14

    Sampurasun

    Terimakasih banyak atas sejarah yang telah dibuka, jika boleh tahu bagaimanakah silsilah Prabu Munding Wangi sebelumnya keatas hingga sampai ke sang Prabu sendiri?? Jika tidak salah apakah kerajaan Pucuk Umum itu adanya di sumedang?? terimakasih sebelumnya atas perhatiannya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)