Menjadi part-timer di Ostrali

Ijah – Adelaide


Musim summer sama artinya dengan musim bekerja bagi kami para student di Ostrali. Pasalnya saat summer ada libur panjang 3 bulan mulai desember sampai februari. Asyiknya lagi, kalau liburan tidak ada batasan maksimal kerja 20 jam per minggu. Batasan ini ada dalam ketentuan visa student.

Ada yang berbeda liburan tahun ini dengan tahun kemarin. Saya ingin merasakan pekerjaan yang berbeda.   Tahun kemarin saya banyak bekerja di perkebunan sebagai picker di kebun strawberry, cherry dan anggur. Pekerjaannya ya memetik buah-buah tersebut.

Dimulai dari pagi sampai sore. Karena letak kebun yang umumnya diluar kota dengan rata-rata sejam perjalanan, kami berangkat pagi buta. Tidak lupa juga membawa bekal, snack dan lunch. Snack dilakukan jam 10 pagi selama 15 menit. Istilahnya ‘smoko’ singkatan dari smoking. Biasa orang Ostrali suka menyingkat-nyingkat kata bahkan nama negaranya juga disingkat menjadi oz.

Sedangkan lunch lebih lama durasinya, sejam. Baik lunch dan smoko kami lakukan bersama-sama, serasa piknik saja sambil melihat hamparan perkebunan lengkap dengan tanaman dan hewan-hewan seperti sapi, domba, bebek dan kadang ketemu kangguru juga.

Tahun ini saya banyak bekerja di tempat-tempat hiburan sebagai floor staff. Kerjaannya bervariasi mulai cleaner, glassy sampai waiter. Pekerjaan cleaner ya gak jauh-jauh dari kegiatan bersih-bersih. Mulai memunguti puntung rokok di smoking area, membersihkan gelas pecah sampai membersihkan toilet dan powder room, itu lho tempat mbak-mbak berias.

Di powder room ini ada asistennya ya semacam kapster lah , dia membantu customer yang mungkin ingin menambahkan sray di rambutnya atau membetulkan riasannya. Cleaner ada sukanya juga. Karena kita slalu memperhatikan floor untuk memunguti sampah terkadang banyak menemukan uang. Dalam semalam bisa dikumpulkan sampai $20. Uang banyak tercecer di dekat pintu masuk ketika pengunjung membeli tiket masuk dan di sekitar bar ketika mereka membeli minuman.

Saya juga sering menemukan barang-barang yang tertinggal seperti ID, kosmetik, rokok dan korek api. Kalau ID langsung saya serahkan ke security, kalau kosmetik, rokok dan korek api biasanya saya kumpulkan untuk dibagikan kepada teman-teman.

Pekerjaan glassy adalah membereskan gelas dan mencucinya. Saat clubbing, gelas bisa ada dimana-mana, maklum pengunjung membawa gelas kemanapun mereka pergi bahkan di toilet juga banyak gelas. Di dua bar tempat saya bekerja, ada yang berbeda.

Di HQ complex, yang merupakan bar terbesar di kota saya, gelasnya terbuat dari plastik. Plastic tebal seperti acrylic jadi jarang juga ada kasus gelas pecah. Sedangkan di Heaven, gelasnya dari kaca so kasus gelas banyak sekali belum lagi luka-luka karena pecahan kaca tersebut. Ngomong-ngomong bar Heaven ini unik karena memakai eks-gereja sebagai lokasinya. Di pintu masuk bahkan ada patung maria dari perunggu setinggi dada kita dengan posisi menyambut.

Bar ini memiliki 3 music room dan music room terbesar adalah hall gerejanya lengkap dengan bentuk langit-langit gereja Katholik yang unik (pernah lihat Da Vinci code kan hihihi….) Kalau HQ compkex memiliki 5 music room dan music room utama disediakan beberapa pole. Uhuuuiii…pengunjung bisa melakukan pole dancer.

Untuk waiter tidak ada di bar, saya menjadi waiter ketika bar tempat saya bekerja mendapatkan order melayani private party. Untuk ini saya menjadi waiter. Kerjaannya menyajikan makanan, minuman dan plus cleaner juga.

Perlu dibedakan cleaner selama pesta dan cleaner setelah pesta. Selama pesta cleaner hanya ala kadarnya selama tidak terlalu messy, beres. Dan juga membereskan masalah by case misalnya ada gelas pecah atau pengunjung yg throw up, biasa krn kebanyakan minum biasanya ya begitu. Menyajikan makanan jangan dibayangkan seperti pelayan restoran padang dgn menu lengkap dan kaya bumbu. Makanannya adalah finger food kalau untuk kita ya kayak snack saja.

Minumannya ada banyak macamnya mulai cocktail sampai mocktail. Karena namanya panjang, saya biasanya hanya memperhatikan kata terakhir dan menyampaikannya kepada bartender. Maklum saya tidak punya background hospitality hihihi…

Apapun jenis pekerjaannya, tidak ada yang mudah, semuanya bikin capek. Kalau pekerjaan kebun jelas berat tapi karena dilakukan selama office hour jadi badan masih ‘segar’ saja. Kalau bekerja di tempat hiburan memang tidak sepayah pekerjaan kebun, tapi karena dilakukan dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi, pulang kerja badan juga sama remuknya seperti bekerja di kebun.

Tapi haruslah dinikmati, bagaimanapun saya butuh uangnya dan dengan bekerja saya bisa mengetahui cara kerja dan bersosialisasi orang-orang disini hihihihi…



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.