Isi: Antologi Fiksi Karya Dee Dee Sabrina

Rusdianto


Isi. Sebuah buku antologi cerita fiksi karya Dee Dee Sabrina. Seorang blogger muda (21 tahun) yang cukup aktif menulis di blog social media Kompasiana, dimana sebelumnya isi buku ini pernah dimuat. Dengan maksud memudahkan pembaca mengidentifikasi bentuk cerita, penulis mengelompokkan isinya ke dalam 4 bagian, masing-masing berisi 4 cerita, total 16 cerita fiksi.

Pengelompokan itu semata pengkategorian bentuk/jenis fiksi yang dipergunakan penulisnya untuk menuangkan cerita; Monolog-dialog; flash fiction; cerita pendek; tetralogi roman. Kategori terakhir biasanya hanya lazim ditemui pada fiksi panjang semacam novel (mis. karya Andrea Hirata & Pram). Disini Dee Dee seolah ingin mengatakan bahwa kategori tetralogi tidak mempersyaratkan panjang pendeknya sebuah cerita.

Kekuatan utama buku ini ada pada kepiawaian penulisnya memilih ide cerita yang orisinil. Tak ada cerita yang luput dari dukungan tema yang kuat –hal yang mulai langka ditemukan sekarang ini-. satu tema untuk satu cerita. Penulisnya cukup disiplin untuk tidak membiarkan diksi dan rangkaian kalimat bermain di luar tema yang telah ditentukan. Pada Rokok Pembunuh, misalnya, penulisnya hanya bercerita tentang tokoh yang takut terbunuh oleh asap rokok sehingga harus membunuh setiap orang yang merokok di dekatnya, dari awal sampai akhir :

Aku tidak suka rokok. Tidak pernah suka asap rokok. Ketika SMP, rumahku yang terbuat dari papan kayu seadanya terbakar habis. Seorang jalang membuang puntungnya…..

Aku tidak suka rokok. Tidak pernah suka asap rokok. Lelaki asing yang berjanji membawaku ke negerinya memenuhi mulutku dengan aroma nikotin…

Tema –yang juga bisa berarti moral cerita– yang kuat juga tersaji pada Indigo. Dee Dee tahu bahwa manusia takut pada hantu di saat yang sama mereka tidak pernah melihatnya. Meminjam karakter Nanda (anak 10 tahun yang ‘mampu’ melihat mahluk gaib seperti hantu, arwah, etc) yang membandingkan antara mahluk gaib yang dilihatnya dengan mahluk nyata, yaitu ibunya, Dee Dee menjungkirbalikkan persepsi khalayak. Bahwa justru manusia nyata jauh lebih menakutkan ketimbang mahluk gaib.

Dee Dee sepertinya terobsesi untuk menjungkirbalikkan kelaziman. Saya curiga, dia enggan menulis meski telah menemukan tema, jika belum menemukan logika terbalik dari ide dasar cerita. Fakta ini secara gemilang diwujudkannya –juga– pada Muntah Manusia. Cerpen ini mengisahkan seorang psikolog kepolisian yang mencoba menginterogasi seorang psikopat; pembunuh berantai yang mengeksekusi korbannya hanya karena muak melihat manusia (misanthropy).

Atas saran ahli tokoh psikolog, psikopat itu dihukum dengan cara membunuh dirinya sendiri; dia ditempatkan pada sel yang terbuat dari cermin. Bagi Dee Dee, itu belum cukup sebagai akhir cerita yang mengejutkan. Dengan ‘nakal’, Dee Dee masih menyodorkan fakta di akhir cerita bahwa setiap manusia punya kecenderungan misanthropy, tak terkecuali sang psikolog itu sendiri.

Yang paling menarik, sekaligus merupakan ‘intan’ dari buku ini adalah bagian ke-4; Tetralogi Roman. Pertama, karena hanya butuh sedikit kerja keras lagi, Dee Dee bisa mengasah ‘intan’ ini menjadi karya berbentuk novel –semoga-. Kedua, karena tetralogi berbentuk fiksi pendek termasuk langka ditemui, khususnya di dunia maya. Itu bukan jenis cerita bersambung. Tetralogi Roman adalah 4 cerita  terpisah yang disatukan oleh satu benang merah (tema, plot, karakter, konflik, resolusi) dalam sebuah cerita besar yang utuh, namun setiap cerita mampu berdiri sendiri meski tanpa kehadiran cerita lainnya.

Tetralogi Roman menyajikan kisah yang tidak biasa. Sebuah kisah cinta antara dua saudara, Rafael & Alina. Mereka dipersaudarakan oleh perkawinan antara ibu Alina dengan ayah Rafael disaat mereka masih kanak-kanak. Ditangan penulis berbeda, tema ini mungkin diolah melalui rentetan konflik eksternal –bisa anda temukan pada tayangan sinetron-. Namun ditangan Dee Dee, justru menonjolkan konflik internal kedua tokoh utamanya. Cinta terlarang menurut Dee Dee akan lebih adil, seandainya kita mau memakai perspektif pelakunya. Saya ‘sedikit’ dilanda melankolia saat tiba dibagian ini.

Dalam satu kesempatan mengobrol dengan Dee Dee Sabrina via YM, saya bertanya; Apakah Dee Dee menitikkan air mata saat menulis Tetralogi Roman tersebut. Dee Dee Sabrina menjawab; Hahahaha..

* * *

Sayang, sebagaimana umumnya literatur yang dipublikasikan di dunia maya, fiksi-fiksi pendek Dee Dee Sabrina juga terkesan diciptakan terburu-buru. Sepertinya migrasi karya itu ke bentuk cetak juga tak luput dari kesan terburu-buru. Tidak ada revisi signifikan, kecuali –mungkin– penyempurnaan ejaan belaka. Sedikit pertanyaan dari saya sebagai pembaca muncul, antara lain pada bagian Flash Fiction.

Pada Cerita Burung dan Kiamat Ternyata Tak Sesuai Kitab, penulisnya sedikit abai dalam proses penceritaan. Kedua cerita itu terlalu banyak memaksakan kehadiran unsur narasi dan deskripsi yang tidak penting dalam mendukung plot. Ada kesan penulis menganggap pembaca perlu pengantar cerita yang lebih banyak untuk memahami cerita. Di bagian yang sama, kelemahan juga tercermin pada Layar Kaca Rumah Tangga. Dee Dee Sabrina mengakhiri cerita terlalu cepat dengan akhir yang mirip ‘sinetron’. Konflik terlalu datar, dan moral cerita terasa hambar –untuk tidak mengatakan nihil sama sekali-.

Dari hampir 90  tulisan berkategori fiksi milik Dee Dee Sabrina yang termuat di Kompasiana, saya tidak melihat alasan yang jelas mengapa judul ini ikut diterbitkan. Meskipun demikian, kepandaian Dee Dee dalam meramu kalimat membuat kelemahan itu lumayan tersamarkan. Iya, Dee Dee Sabrina salah satu penulis muda yang paham teknik. Tidak seperti penyakit yang banyak melanda penulis muda sekarang yang semata-mata bermodal imajinasi. Imajinasi tanpa teknik ibarat karya buruk rupa yang diklaim pembuatnya sebagai karya seni rupa; ini lukisan abstrak bung !

* * *

ISI adalah buku indie; Terbit dan didistribusikan secara independen. Buku setebal 117 halaman itu tiba di tangan saya dua hari setelah pemesanan via online (sinopsis dan cara pemesanan bisa anda lihat http://bukudeedee.blogspot.com. Desain sampulnya berupa foto hitam putih sebuah rumah yang dibingkai garis tipis warna merah. Minimalis, cuma judul buku dan nama pengarang yang menimpanya.

Harga buku Rp 50.000,-/ekspl tentu tidak mengikutkan mutu buku sebagai pertimbangan, semata kalkulasi ongkos produksi –anda tahu berapa harga sebuah gagasan & cita rasa ?-. Meski tergolong sederhana dari segi fisik; jenis kertas sampul & isi, buku ini lebih dari layak untuk dimiliki. Tampilan fisik ISI berbeda dengan tampilan fisik buku terbitan publisher mapan yang lebih fashionable.

Seolah penulisnya ingin mengatakan, lihat isinya, jangan kemasannya –semoga ini bukan salah satu alasan mengapa penulis memberinya judul; ISI. Tapi hal itu tepat, sebab target utama penerbitan perdana karya Dee Dee ini sepertinya hanya dimaksudkan untuk pembaca yang telah mengetahui, atau minimal pernah membaca tulisan-tulisan Dee Dee Sabrina sebelumnya, baik di dunia nyata maupun lingkup pergaulannya di dunia maya. Saya sendiri termasuk pembeli jenis itu.

* * *


Rusdianto. Peminat blog social media. Aktif menulis flash fiction & cerpen di blog pribadinya www.antojournal.com serta artikel resensi buku fiksi & tips menulis fiksi di www.indonovel.com. Sekarang berdomisili di Makassar.


7 Comments to "Isi: Antologi Fiksi Karya Dee Dee Sabrina"

  1. AH  4 January, 2011 at 05:52

    oya, setahuku antologi itu kumpulan tulisan dari beberapa pengarang/penulis. lebih tepat buku ini disebut sebagai kumpulan fiksi atau cerita

  2. AH  4 January, 2011 at 05:51

    sudah kubaca, dari sisi ide dan pencitraan lumayan. tapi sisi eyd dan tata bahasa, perlu banyak dibenahi,

    salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.