Opera Musim Dingin (3)

Ana Mustamin


Dengan perasaan rawan ia terus menekuri dan menuruni anak tangga. Melalui jendela kaca ia menyaksikan halaman The Peak Galleria sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih membunuh waktu dengan duduk di bangku-bangku yang tersedia di halaman galeri. Rasanya ia baru saja bertandang di sekitar tempat itu, sebelum mendaki balkon. Memperhatikan gerai yang menawarkan perlengkapan fashion dengan label-label internasional yang sudah kesohor.

Membeli oleh-oleh untuk Diby, Wulan dan Jihan, souvenir khas setempat – gantungan kunci dan kaos bergambar kereta, atau membeli cokelat dengan kemasan bertulis The Peak. Juga, masih hangat di benaknya ketika ia menelusuri lebih dari seratus patung lilin para pesohor Hong Kong – dari artis, politisi, kaum jetset, hingga atlet – yang tergabung di The Madame Tussauds, meminta tolong turis lain agar bersedia memotretnya …

Dan sekarang pukul 22.00 lewat. Zaza sudah tiba di lantai dasar. Masih dengan nafas tersengal, ia mengantri. Tak terlalu lama. Karena tiket terusan dari Lower Peak Tram Station ke The Peak Tower dan sebaliknya sudah di tangannya. Hanya kurang dari lima menit, ia sudah ada di dalam tram yang membawanya kembali. Dan berbeda saat ia menuju ke The Peak Tower, kereta kayu legendaris khas The Peak itu kini merayap mundur menuruni lereng gunung.

Rasanya sensasional banget menyusuri rel dengan kemiringan 45 derajat. Di samping kiri, gedung-gedung jangkung dan pepohonan tampak berdiri oleng dan berkejaran, sebagaimana yang ia lihat ketika mendaki sore tadi.

Keluar dari stasiun, Zaza menarik nafas panjang. Kini ia tinggal menyusuri Garden Road menuju Central Station mengejar MTR terakhir. Mungkin harus setengah berlari. Dan beruntung, karena jalannya kini menurun, tak seperti ketika ia datang.

Meski demikian, ada rasa gentar juga menelusup di hati Zaza. Ini pengalaman pertamanya menyusuri jalan sendirian di Hong Kong, sekaligus destinasi terjauh yang pernah dilakukannya tanpa disertai papa, mama, atau teman seperjalanan. Menjelang tengah malam pula. Kalau sampai ia dihadang seseorang ….

Digelengkannya kepala untuk mengusir pikiran liar yang membuatnya sedikit ciut. Diam-diam ia merutuk dirinya sendiri. Inilah akibatnya kalau perjalanan dilakukan setengah nekad. Nekad? Hmm … mungkin lebih tepat kalau Zaza mengakuinya sebagai pelarian. Dia kabur. Dan bukankah kalau berani kabur, harus berani menanggung risiko?

Dia ingat, ini hari keempat mereka di Hong Kong. Selama itu pula ia menyaksikan kemesraan antara Lala dan Sakti. Bahkan sejak mereka masih di bandara Soekarno-Hatta. Kedua sejoli itu tidak berhenti saling bercanda dan meledek. Lala dan Sakti bahkan tidak segan berangkulan di depannya, seperti ketika mereka menyaksikan parade karakter tokoh Walt Disney di jalan utama Hong Kong Disneyland . Beberapa kali ia menyaksikan Sakti memencet gemas hidung kakaknya dan memujinya secantik Snow White.

“Tuh lihat! Nah, kamu tuh secantik itu!” Sakti menunjuk Putri Salju yang melambaikan tangan dari atas kereta. “Tapi hati-hati, kena panas dikit kamu meleleh!”

“Sialan! Ngaco, ah!” kata Lala ketawa-ketawa. Pipinya memerah.

Melihat peristiwa itu, Zaza dengan cepat melengos. Dia membuang pandang ke seberang jalan, ke serombongan anak Indonesia seusianya yang juga sibuk memotret dan berteriak-teriak dengan cuek dalam bahasa ibu mereka saat tokoh-tokoh kartun klasik melintas di depannya: Snow White and the Seven Dwarfs, Cinderella, Beauty and the Beast, Donald Duck, Mickey and Minnie Mouse, Goofy, Pluto ….

“Hai Za, aku potret dengan latar parade, ya? Kok kamu kayak gak antusias sih!” tanpa menunggu jawabannya Sakti sudah menjepret-jepretkan kameranya.

Zaza berusaha untuk tampak tidak terlalu terkejut. Ia menukas, “Itu ‘kan idolanya Lala,” … karena ia secantik princess, sambungnya di hati. “Aku mau tokoh-tokoh yang sekarang: Monster Inc, Finding Nemo, Little Mermaid … ada gak, ya?” Ia tersenyum miring.

Jauh di dalam hati, Zaza merasakan ada yang diam-diam memarut hatinya ….

***

Zaza kini sudah jauh meninggalkan The Peak. Ia sudah tiba di pertigaan – simpul pertemuan Garden Road, Queen’s Road, dan Jackson Road. Melihat Bank of China Tower, Citibank Plaza dan St. John’s Cathedral yang menjulang hening di seputarnya, perasaannya makin terpencil. Sambil menunggu lampu penyeberangan berwarna hijau, ia sempat kepikiran untuk menelpon Lala.

Apakah Lala cemas karena menjelang tengah malam ia belum juga tiba di hotel? Ah, tapi Lala selama ini tak pernah memusingkan ia ada di mana saat traveling bersama teman-temannya. Lala hanya rajin menelponnya saat-saat awal dulu ketika ia mulai gandrung bepergian. Itu pun paling-paling menanyakan kabar dan titip oleh-oleh. Mungkin karena Lalu percaya padanya. Bukankah papa selalu bangga memamerkan anak bontotnya yang begitu berani dan mandiri? Kalau ia menelpon sekarang, mungkin sebaliknya: Lala yang tadinya gak kepikiran apa-apa malah berubah cemas.

Zaza mengurungkan niat. Ia akhirnya menyeberang jalan setelah lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Setengah berlari kecil, ia melintasi Chater Garden. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa langkahnya begitu pendek, kakinya terlalu mungil. Ia ingin langkahnya lebih lebar, agar bisa menjejak pintu J2 secepat mungkin. Ya Allah, please, jangan sampai aku ketinggalan kereta, gumamnya.

Memasuki stasiun Central, lengang menyambutnya. Tak ada satu kepala pun yang ditemuinya. Zaza merasa kerongkongannya mendadak kering. Dengan rupa kecut, ia melirik jam tangannya. Hampir pukul sebelas. Bukankah kereta terakhir pukul duabelas?

Ia terus melangkah, tanpa menoleh. Setengah berlari. Di depan mesin Octopus Smart Card – mesin penjualan tiket elektronik, ia dengan gegas memencet tombol bertuliskan Sha Tin di peta rute perjalanan kereta, lalu memasukkan selembar dolar Hong Kong ke mesin pintar itu. Terdengar bunyi gemerisik disertai denting logam. Ia mengambil tiket dan receh kembalian, tanpa benar-benar memperhatikan berapa jumlahnya.

Zaza kemudian kembali melangkah. Kali ini benar-benar berlari. Pada saat yang sama ia mendengar suara detak sepatu di belakangnya, ikut berlari. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Setengah bersorak, Zaza menoleh. Setidaknya, ia masih punya teman.

Namun, alangkah kecewanya ketika matanya tidak menangkap satu sosok pun. Aneh, pikirnya. Apakah dia ngumpet? Padahal, rasanya tadi ia mendengar suara detak sepatu yang demikian jelas. Jangan-jangan dia penjahat, preman, ata sebangsanya. Atau … sejenis hantu? Hiiii … Please dong, ah! Kamu kok jadi penakut sih, Za?

Zaza kembali memperhatikan ke belakang, ke sepanjang lorong dengan sejumlah petunjuk di dinding dan langit-langit. Kali ini dengan lebih seksama. Kepalanya celingukan ke kiri dan ke kanan. Tapi sosok yang dicarinya tetap tak muncul. Halusinasi?

Dengan gemas, ia memasukkan tiket kereta pada Octopus Reader, melintasi MTR ticket gate, menuruni eskalator sembari berlari, dan baru bernafas lega ketika menemukan banyak kepala tengah menunggu gerbong kereta berhenti dan membuka pintu.

“Ya Allah, terima kasih!” bisik Zaza lirih. Dihembuskannya nafas kuat-kuat.

Kini ia dalam gerbong. Penuh sesak. Lebih penuh dibandingkan saat ia berangkat. Mungkin karena ini kereta akhir, meski mungkin bukan yang benar-benar terakhir. Tentu, tak ada yang berharap ketinggalan kereta.

Zaza berdiri hanya selangkah dari pintu. Ia tidak kebagian tempat duduk. Kendati demikian, ia tetap merasa nyaman. Sesesak-sesaknya kereta di Hong Kong, kondisinya tidak sama dengan kereta Jakarta-Bogor. Masih ada celah yang memungkinkan seseorang berpindah tempat. Zaza bahkan masih bisa berdiri sambil menyilangkan kaki. Di depannya, anak-anak brondong masih asik bermain game watch. Sebagian sambil mendengarkan musik melalui earphone. Seorang cewek yang ditaksirnya berusia sepantaran Lala bahkan asyik menyimak novel.

Memperhatikan penumpang kereta malam itu, Zaza malu sendiri. Ngapain tadi sampai mikirin hantu segala? Di peron dan gerbong kereta, jam sebelas malam suasananya tak ada bedanya dengan jam sebelas siang. Tetap banyak anak remaja seusianya yang bepergian. Tetap ramai. Di MTR dan KCR, Hong Kong memang tampak selalu sibuk dan siaga, orang-orang bergegas masuk dan keluar kereta, seperti ada yang dikejar dan mengejar.

Empat hari di Hong Kong, Zaza belajar banyak. Orang Hong Kong gak ada yang nyantai. Semua terburu-buru. Di eskalator pun, mereka tetap berjalan tergesa, bahkan tak segan mengomel dan memaki jika ada yang mematung di tengah-tengah tangga menghalangi langkah mereka. Tidak seperti orang Jakarta – yang saat menaiki tangga jalan, berdiam di tempat sembari cuci mata atau ngobrol dengan teman seiring.

Melalui pengumuman dan petunjuk rute di dinding kereta, Zaza mengetahui kalau mereka sudah melewati stasiun Admiralty dan sesaat lagi akan tiba di Tsim Sha Tsui. Ia bersiap-siap turun dan berganti kereta dari MTR ke KCR. Setelah itu menyusur lagi ke utara. Di etape kedua ini, ada empat stasiun yang akan dilaluinya: Hung Hom, Mong Kok, Kowloon Tong, Tai Wai, sebelum akhirnya turun di Sha Tin.

Di KCR menuju stasiun tujuannya ini, Zaza bisa tersenyum lega. Ia mendapat tempat duduk persis di dekat pintu. Tubuhnya bisa diluruskan, terutama punggungnya, karena kini rangselnya berpindah dari bahu ke pangkuan.

Kini, dengan kelelahan tersisa, Zaza menghabiskan waktu di kereta dengan mengingat-ingat kejadian selama empat hari di Hong Kong. Tidak persis empat hari sebetulnya. Karena pada hari kedua mereka sempat ke kota di sebelah utara yang berbatasan dengan Hong Kong, Shenzhen. Di kota yang terkenal dengan segala macam barang tiruan atau palsu, Lala berbelanja banyak, membeli oleh-oleh – terutama tas kuliah – untuk teman-teman kampusnya. Zaza sendiri membeli beberapa jam tangan palsu dari merek-merek terkenal, dan Sakti memilih memborong iPod.

Di hari pertama, Zaza hanya berjalan mengitari Sha Tin, terutama gerai yang tersedia di New Town Plaza. Karena pagi di hari pertama itu, Lala dan Sakti menemui Om Valent – sahabat papa – di bursa saham Hong Kong. Lalu di sore hingga malam harinya mereka mengunjungi The Avenue of Stars di kawasan Tsim Sha Tsui. Di tempat yang persis berada di depan Victoria Harbour itu, ada jalan yang mengabadikan jejak telapak tangan para selebritis Hong Kong, seperi Bruce Lee, Jet Li, hingga Andy Lau.

Hari ketiga mungkin menjadi hari yang tak terlupakan bagi Zaza. Sesuai rencana, ia, Lala dan Sakti, menghabiskan waktu di Disneyland. Taman hiburan yang terkenal di se antero jagad ini terletak di Teluk Penny, Pulau Lantau. Dari Sha Tin, mereka menumpang MTR Tung Chung Line, lalu interchange di stasiun Sunny Bay – antara stasiun Tsing Yi dan Tung Chung. Terus nyambung dengan kereta Disneyland Resort Line. Jalur kereta Disney hanya sekitar 3,5 kilometer. Begitu keluar stasiun, di sisi kiri mereka langsung ketemu jalan menuju gerbang Disneyland Resort.

Mula-mula Zaza, Lala, dan Sakti hanya menyaksikan parade tokoh kartun di main street. Setelah itu, Zaza memilih berpisah. Ia ingin bermain dengan beragam wahana yang tersedia di tempat itu. Sementara Lala tidak bisa menikmatinya, karena kakaknya itu gampang pusing di tempat-tempat ramai. Sakti sempat berkeras akan menemaninya, karena toh Lala hanya berjalan-jalan dan shopping di seputar Disney Store yang berderet di kanan-kiri jalan utama. Tapi Lala menolak. Hatinya terlanjur terluka. Ia tidak bisa membohongi diri –hatinya cabik – ketika hampir sepanjang menyaksikan parade, Sakti dan Lala terus bermesraan di depannya.

“Aku mau jalan sendiri aja!” tukasnya dengan suara didatar-datarkan. “Kakak nemenin Mbak Lala aja,” ujarnya pada Sakti. Lagipula, pacaran kok pisah-pisah, sambungnya di hati. “Kalo ada apa-apa, gimana?” Ia tahu persis fisik Lala gak sekuat dirinya.

“Tapi…,” Sakti tampak gak terima.

“Kalo Mbak Lala jatuh pingsan, gimana?” sambarnya cepat.

“Wah, gak adil dong, Za!” Lala ikut angkat bicara. “Masa’ gara-gara aku gak bisa menikmati permainan, terus Sakti ikut-ikutan gak main. Udah jauh-jauh datang ke sini….”

“Kalo gitu, sendiri-sendiri aja!” Zaza berkeras. “Belum tentu mainan yang aku sukai disukai juga Kak Sakti.”

“Bisa kompromi ‘kan?” Sakti mengedipkan mata.

“Gak!” suara Zaza mulai meninggi. “Kalau ada apa-apa dengan Mbak Lala, Papa pasti lebih nyalahin Kak Sakti, secara Kakak itu cowok yang harusnya melindungi ….”

“Ya, kamu juga bisa kenapa-kenapa ‘kan?” Sakti gak mau kalah.

“Aku bisa jaga diri. Aku udah biasa jalan ke mana-mana kok….”

“Tapi, Za!”

Tak ada tapi-tapian. Zaza sudah berlari mendahului keduanya. Dan sebentar saja ia sudah berada jauh di depan, menyelip-nyelip di antara pengunjung lain.

Sambil berlari, air mata Zaza terburai, padahal ia sudah berusaha sekuat hati menahannya. Bodoh kamu, Za. Jatuh cinta pada orang yang salah. Kini, rasanya, harapannya benar-benar habis. Ini hari ketiga. Besok hari terakhir, bertepatan 14 Februari – hari Valentine. Tak ada keajaiban sebagaimana yang sempat terlintas di pikirannya saat akan berangkat dari Jakarta. Valentine akan tiba dan kemudian berlalu.

Setelah itu, mereka akan kembali ke Jakarta dengan pesawat pagi. Tak ada tanda-tanda sesuatu yang luar biasa akan terjadi, sesuatu yang akan mengubah kehidupannya. Sakti tak bergeming. Ia kelihatannya tetap bersikukuh dengan pilihannya: melabuhkan cinta pada kakaknya.

(bersambung)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.