Episode Kematian

Ary Hana


Dua lelaki berseragam hijau-hijau memasuki sebuah rumah di kawasan Kodam V suatu siang. Seorang perempuan berusia 40-an menyambutnya. Dibalut daster kumuh, nampak dia baru keluar dari dapur. Masih lekat bau belacan dan ikan goreng di tubunya.

“Bu, maaf.. kami mau menyampaikan surat ini,” kata seorang lelaki, mengulurkan sebuah surat.

Tak sabar perempuan itu mengeluarkan kertas dari amplopnya, membacanya… lalu lengking bercampur tangis meruap dari mulutnya, memecah siang yang kerontang. “Tidaaaaak.. suamiku tidak mati. Tidak mungkin. Tidaaaaak…!”

***

Beberapa jam sebelumnya, sebuah ambulans meluncur membelah jalanan kota Mojokerto. Seorang lelaki setengah baya, dibalut pakaian tentara terbujur bermandi darah di jok belakang. Seorang lelaki muda berpangkat prajurit menemaninya.

“Sabar Pak.. sabar. Yang kuat, sebentar lagi sampai rumah sakit,” bisik lelaki muda itu, tak yakin dengan ucapannya sendiri. Ngeri membayang di raut wajahnya.

“Astaghfirullah.. panaaas.. panaaaas.. panaaas.. ” Itu kata terakhir yang meluncur dari mulut si tua, beberapa menit menjelang rumah sakit. Dua belas timah panas yang menghujam tubuhnya hanya membuatnya bertahan hidup 10 menit.

***

Lelaki itu lunglai, dua lututnya jatuh ke tanah. Senjatanya berayun lemah di kedua tangannya. “Apa yang telah kulakukan ya Tuhan.. apa?”

Lima meter di depannya, sahabatnya rebah berlumuran darah. Diakah yang menembaknya? Entahlah, kepalanya terasa panas. Hatinya mendidih. Amarah telah menghanguskan nuraninya.

Tiga bulan lagi dia memasuki masa pensiun. Tubuh tuanya kini kerap disambangi aneka penyakit. Darah tinggi, asam lemak, rematik. Tiba-tiba sebulan lalu keluar aturan baru dari atasannya, ‘Semua personil ABRI harus melakukan latihan back to basic’. Itu berarti setiap pagi, kecuali hari Minggu, dia wajib mengikuti latihan dasar ketentaraan lagi. Lari-lari sepanjang lapangan, melakukan aneka permainan halang rintang.

“Aku sudah tua, komandan, sudah tak sigap lagi. Badanku mulai sakit-sakitan, jangan buat aku cepat mati, komandan. Kumohon!” protesnya kepada sang atasan. Namun atasannya tak mau peduli.

“Ini perintah dari pusat. Apa kamu berani membantah?” Atasannya berang. Prajurit itu tertunduk lesu. Membiarkan amarahnya menguap hingga ke puncak.

Pagi itu back to basic-nya yang entah ke sekian kali. Hancur rasanya tubuhnya. Malu pula dirinya yang lamban, kesakitan, jadi bahan cemooh dan tontonan. Usai latihan, matanya berkilap menatap senjata yang disandangnya. Tanpa pikir dua kali, didatanginya markas sang atasan, ditembakinya tempat itu membabi buta. Semua kawannya pontang-panting menghilang. Suasana begitu sunyi, belasan menit.

Sebuah jeep wilis memasuki halaman kantor. Saat itulah diarahkannya M-16 ke sana. Buta matanya oleh amarah. Tak diperhatikan sahabatnya yang melambai, mencegahnya untuk menembak.

Bunyi peluru membahana, bukan sekedar “Dor.. atau dor dor dor.” Ini M-16 Bung, yang sekali muntah bisa lebih 6 peluru terbang. Menembus kulit ari, mengikis otot dan daging, bahkan meremukkan tulang dan menjebol aliran nadi. Mengundang mati.

Lelaki itu menangis. Tersadar. Tak ada kesempatan kedua. Perlahan diarahkannya senjata itu ke dirinya. Hanya sekali tarik pelatuk. Dia tersungkur.

***

Gadis itu termangu. Belum genap 21 tahun umurnya. Baru saja dinyatakan lulus ujian pendadaran tiga hari lalu. Kabar gembira ini disimpannya rapat-rapat. ‘Khusus buat bapak. Aku mau beri kejutan.”

Kereta api Pasundan meninggalkan Stasiun Tugu Jogjakarta menuju Surabaya. Gadis itu mengantuk, kepalanya bergoyang-goyang. Sesekali wajahnya oleng ke belakang. Sempat dia bermimpi, bapaknya menmberinya hadiah bendera.

***

Wartawan muda itu tertunduk lesu, menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi dengan komputer di depannya. “Sial.. capek-capek ngejar berita, nggak boleh dimuat!”

Dia masih terus memaki. Mengutuki dirinya sendiri yang dua hari ini sibuk mengejar sebuah berita. Berita besar harusnya, dan yakin bakal HL. Tapi seniornya tadi berkata, “Beritamu dibatalkan. Ada fax masuk dari hankam, larangan menyiarkan berita penembakan.”

Wartawan itu menelungkupkan kepalanya di atas meja. Tangannya meremas rambutnya yang keriting njegrak itu. Tak dihiraunya editornya yang lewat, berhenti sejenak di desknya, menekan bahu kanannya dengan tangan kanan. Menguatkan. Semangatnya terlanjur hilang.

***

“Bagaimana kondisinya?” tanya seorang lelaki berpakaian preman kepada dua petugas di depan sebuah kamar rumah sakit.

“Stabil.. komandan,” sahut keduanya hampir serentak. Ada nada waspada di wajah keduanya, menghadapi lelaki yang berwibawa di depannya.

Seorang dokter tergopoh-gopoh menyongsong kedatangan lelaki itu, sambil menyerahkan laporan kondisi pasien. Lelaki itu membacanya sekilas, sebelum member perintah. “Bersihkan…!”

“Siap.. komandan!” kata dokter angkatan laut dan dua petugas bersamaan. Bergegas lelaki itu meninggalkan ruangan, tanpa perlu melirik si pasien.


*diilhami peristiwa penembakan antar oknum tentara di Mojokerto, November 1993.

18 Comments to "Episode Kematian"

  1. ElitaNiken  4 January, 2011 at 06:21

    makanya, anak2 kita jangan jadi tentara atau polisi deh, kalau komandannya nyuruh aneh2 terpaksa kudu diiukutin melulu, capek deh ah.. komandannya jadi kayak raja, nyuruh2 enaknya, kalau g nurut HAJAAARRR..

  2. Djoko Paisan  1 January, 2011 at 21:15

    probo Says:
    January 1st, 2011 at 21:09

    wah……ngeriiii

    Ngeri dikampleng hansip ya…???

  3. probo  1 January, 2011 at 21:09

    wah……ngeriiii

  4. Djoko Paisan  1 January, 2011 at 20:39

    AH Says:
    December 31st, 2010 at 21:29

    hehehe.. ini faksi, fakta yang ditulis ala fiksi, ben gak dikamplengi hansip

    Hahahahahahaha….!!!
    Baru kali ini dengar lagi, kata ” dikamplengi ”
    Terimaksih…!!!

  5. Djoko Paisan  1 January, 2011 at 20:38

    AH Says:
    January 1st, 2011 at 19:37

    Dj P: pelaksanaan back to basic harusnya bertahap dan melihat sikon hehehe..
    di masa itu, untuk membersihkan masalah paling gampang ya membunuh si pembunuh. yang kasihan istri dan anaknya, sama sekali nggak dapat tunjangan/pensiun

    Kejam amat, lebih kejam dari si pembunuh yang telah mati….
    Apa kesalahan istri dan anak-anaknya, sehingga mereka tidak mendapat tunjangan….???
    Memang hebat Indonesia kita ini, membuat hukum yang lebih kejam dp yang dihukum…
    Awal tahun 70 Dj. pernah mengalami wajib meliter di Cimahi, tapi tidak sangka kalau sebegitu kejamnya.

  6. AH  1 January, 2011 at 19:37

    Dj P: pelaksanaan back to basic harusnya bertahap dan melihat sikon hehehe..
    di masa itu, untuk membersihkan masalah paling gampang ya membunuh si pembunuh. yang kasihan istri dan anaknya, sama sekali nggak dapat tunjangan/pensiun

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.