Memperkenalkan: Tweetfiction!

Rusdianto


Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi. Demikian teori Ernest Hemingway di tahun 1920. Tak lupa dia melampirkan bukti kesahihan teorinya, berupa fiksi yang –cuma- terdiri dari 6 kata saja. Itulah novel terpendek sedunia:

For sale: baby shoes, never worn

Sebenarnya, berabad-abad sebelum Hemingway, seorang bernama Gaius Julius Caesar lebih dahulu melahirkan sebuah fiksi pendek :

I came, I saw, I conquered

Walau Julius Caesar tidak bermaksud menulis cerita fiksi (6 kata itu lebih merupakan refleksi perjalanan hidup sang kaisar Roma dalam menginvasi bangsa lain), namun fakta hari ini menjadikannya salah satu karya literer pendek terpopuler yang pernah ada, melebihi karya Hemingway. Sebab, dalam versi asli bahasa Latin cuma terdiri dari 3 kata;

Veni, Vidi, Vici.

* * *

Sampai di sini anda sepertinya mulai bersiap-siap mendebat Hemingway : “ 6 kata itu mana layak disebut cerita !? “.

Masyarakat kita terbiasa disuguhi oleh fiksi panjang (minimal 1.000 kata) sebangsa cerpen dan novel. Lama kelamaan kita melupakan definisi cerita fiksi yang sesungguhnya. Menururt Lila Guzman, pengarang Ask the Author; Cerita yang lengkap adalah sebuah awal, tengah dan akhir. Ditambahkan pula oleh para pakar bahasa, bahwa sebuah cerita dikatakan utuh jika lengkap mengandung empat elemen, yakni : karakter, setting, konflik, & resolusi. Tulisan yang memenuhi seluruh persyaratan itu layak disebut cerita fiksi. Terlihat di sini betapa jumlah kata tidak termasuk persyaratan. Sepengetahuan saya, panjang pendeknya cerita hanya untuk kepentingan kategorisasi label produk-produk pada industri penerbitan. Misalnya, 1.000 – 7.500 (cerpen), 7.500 – 20.000 (novelette), 50.000 – 110.000 (novel).

Lebih mudahnya mari kita membedah karya Julius Caesar : Aku datang, Aku lihat, Aku menang,

Cerita ini secara gamblang memperlihatkan awal, tengah & akhir lewat pembabakan. Karakternya yaitu Julius Caesar (point of view aku/orang pertama tunggal), konfliknya berupa peperangan antara pihak yang datang versus yang didatangi, settingnya di medan peperangan zaman kejayaan kekaisaran Roma, resolusinya juga jelas menyebutkan Julius Caesar memenangkan setiap peperangan.

Terlihat konflik & setting tidak eksplisit tertera dalam cerita. Namun pembaca tetap bisa merasakan kehadiran konflik & setting. Aku datang, aku lihat berarti ada Tempat yang didatangi dan dilihat. Aku menang berarti ada pihak yang pastinya dikalahkan lewat konflik (peperangan). Sungguh cerita yang utuh.

Coba bandingkan karya Julius Caesar ini dengan cerita fiksi beribu-ribu halaman bertema serupa; Ambil contoh Lord of The Ring punya Tolkien; Frodo cs datang dari Shire ke Mordor, melihat-lihat situasi agar bisa membawa cincin ke kawah gunung api sebelum bisa mengalahkan si mata jahat Sauron. Atau Harry Potter milik JK. Rowling; Harry datang ke dunia sihir, Melihat-lihat situasi (Hogwarts), dan memenangkan pertempuran melawan Kamu-tahu-siapa; Lord Voldemort ( Upps, seharusnya dia-tak-boleh-disebut-namanya J ). Julius Caesar memilih bercerita dalam 6 kata saja, Tolkien & JK. Rowling memilih menambahkan imajinasinya. Sama saja. Sama-sama membuktikan kesahihan teori Hemingway.

* * *

Kini kita tiba di eranya sastra dunia maya. Zaman di mana semua penulis setara tanpa kasta penulis pemula – penulis ternama. Media tradisional tak lagi digdaya menggiring selera pembaca. Social media gratis tersedia di mana-mana, memungkinkan setiap orang leluasa mempublikasikan karyanya. Dendam atas penolakan naskah pun terbalas sudah ( loh koq sakit hatinya numpang !? J )

Internet membawa kabar gembira bagi penulis & pembaca fiksi mungil ala Hemingway yang lama dimarjinalkan. Dulu mana sudi koran memuatnya. Desain diskriminatif koran memang sengaja diperuntukkan buat fiksi panjang minimal 1.000 kata. Dan berita gembira teranyar dari internet adalah kehadiran microblog; Twitter. Pucuk dicinta ulam tiba; bak bebek bertemu kolam; bagaikan jarum dengan benang; ibarat asam gunung bertemu garam laut dalam kuali; layaknya hobbies menulis dan kompasiana. (yang terakhir ini terkesan dipaksakan J )

Twitter adalah kegiatan nge-Blog dengan karakter terbatas (mikro), yakni 140 karakter. Pas sekali dengan karakteristik fiksi mungil ala Hemingway. Twitter memungkinkan penggunanya (Tweeps) mengirim pesan tertulis (tweet) dalam kuota 140 karakter yang bisa diakses para followers-nya. Tweet dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi : Menciak (dari kata dasar ciak). Ciak menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern (Muhammad Ali, Pustaka Amani/Jakarta) diartikan sebagai bunyi seperti bunyi/kicau anak burung menciap. tuwit..tuwit…. J

Tak ayal lagi, tweeps berlomba-lomba mengicaukan fiksi mungilnya di twitosphere. Hingga setahun belakangan ini, trend menulis fiksi mungil via twitter menjelma genre tersendiri di kalangan penulis dan pembaca fiksi tanah air. Sebagian tweeps kemudian berinisiatif mensosialisasikannya dengan nama fiksi mini atau cerita mini.

Aku sendiri tidak sepakat dengan penamaan itu. Sebutan itu tidak punya differensiasi tegas. frasa fiksi mini atau cerita mini (cermin) sudah lama diklaim koran-koran untuk menamai fiksi pendek maksimal –kurang lebih– 1.000 kata. Saya lebih suka menamai cerita fiksi dalam 140 karakter dengan sebutan :  tweetfiction. Nama ini menarik garis demarkasi ketat antara fiksi maksimal 140 karakter dengan cerita/fiksi mini ala koran, Nama ini juga membatasi dirinya hanya pada fiksi yang dipublikasikan (di-tweet) dari dan oleh pengguna twitter. Singkatnya, definisi tweetfiction adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan (di-tweet) penulisnya melalui twitter. Anda bisa mengunjungi blog www.antojournal.com untuk melihat contoh tweetfiction.

Sayangnya semangat untuk memasyaratkan tweetfiction tidak dibarengi disiplin yang ketat. Karena kesekejapan & kesingkatannya sehingga terkesan digampangkan. Syarat awal, tengah, akhir + 4 elemen cerita hampir selalu diabaikan. Banyak kita temui tweet berbentuk puisi, cukilan ide, sketsa gagasan, adagium, pemeo, jargon, potongan dialog, yang diklaim penulisnya sebagai tweetfiction. Tapi apapun itu, trend menulis tweetfiction sungguh hal yang sangat positif. Mari kita awali dengan kuantitas, dan kualitas akan datang kemudian.

Sebagai kesimpulan buat sahabat Baltyrans yang super; jangan pernah takut salah. Menulis saja ! Menulis dan menulis.Teruslah berkicau…., twit, twit, twit…, lalu lihat, apa yang akan terjadi…

* * *


Rusdianto. Peminat blog social media. Aktif menulis flash fiction, cerpen & tweetfiction di blog pribadinya www.antojournal.com serta artikel resensi buku fiksi & tips menulis fiksi di www.indonovel.com. Sekarang berdomisili di Makassar.

11 Comments to "Memperkenalkan: Tweetfiction!"

  1. Anastasia Yuliantari  6 January, 2011 at 20:07

    Semakin dikit aja, ya. Flash dah dikit, disedikitkan lagi….waduuhhh. Aku tak nulis yang sedang-sedang saja…(dangdut mode on)

  2. ilhampst  6 January, 2011 at 17:02

    Terimakasih artikelnya. Makin banyak genre ya sekarang. Asyik lah, sip.
    Makassarnya dimana nih?

  3. Andi Mangesti  3 January, 2011 at 08:35

    Diamond is forever, bahasa iklan kagak ada matinyeee….
    Thanks buat artikelnya abang Rusdianto

    My first comment in 2011… Met tahun baru 2011 Baltyra netizens

  4. Jhony Lubis  1 January, 2011 at 21:24

    Baca, bingung….. komentar…. *smile.

  5. probo  1 January, 2011 at 19:45

    yuuuk berkicau twit…twit…twit

  6. SU  1 January, 2011 at 19:35

    Menulislah asal jangan masuk SARA / mencaci orang /menebar kebencian dengan membabi buta Twit, twit

  7. Djoko Paisan  1 January, 2011 at 18:28

    Mas Rusdianto…
    Terimakasih untuk informasi yang sangat bagus….
    Itulah sebabnya Dj. hanya bisa oret-oretan saja….hahahahahaha….!!!
    Salam Damai dari Mainz…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.