About Loving You

Alfred Tuname


“Le coeur a ses raisons que la raison ne connaît point”

-Pascal’s wager


Cinta memang sebuah energi yang luar biasa. Pada baris-baris waktu yang berjalan beriringan sistematis kita saling menghadap di antara ruang yang terbelah. Hingga aku pun tak menduga kaulah yang datang meretakan benteng keterpenjaraanku.

Dengan energi ekstraordinari yang kau tiupkan untukku, aku merasa reaksi big bang sedang terjadi padaku. Kisah-kisah kita memang gerakkan virtual, tetapi itu bukan simulakra yang menjinakan mata hati dan pikiran. Semua itu nyata. Hanya saja kita berdiri berhadap-hadapan pada dimensi yang berbeda.

Cinta sesungguhnya tidak pernah salah. Kadang aku mengarahkan cintaku pada ujung tempat yang lain. Tempat yang tidak kukenal sama sekali. Tempat yang haribaanya tidak pernah kusentuh. Itu kesalahanku. Itu sudah. Itu salah sebab cinta tak kuletakan pada porsi yang tepat.

Itu keindahan senja yang aku baru sadar ketiga mentari pagi terbit kembali. Saat itu suaramu seindah suara nabi yang terus memanggilku di tengah gurun. Kujawab, “ya!”, sebab padamu-lah kutuju. Aku tak pernah menyesal jika padamu adalah sebuah kesalahan. Jika cinta padamu adalah sebuah kesalahan juga maka aku tak pernah mau untuk benar.

Sekarang yang suaramu yang selalu hadir dalam hatiku, bagaimana mungkin aku akan berhenti mencintaimu. Aku ingin menikmati hidup ini dalam semua rasa yang terkecap oleh inderaku. “Try to enjoy the great festival of life with other men”, kupinjam epigram filsuf kelahiran Hierapolis, Greek stoic philosopher Epictetus (AD 55-AD 135). Itu semua hanya bersamamu.  Mungkin kau akan berkata ini adalah sebuah klise alias rayuan bin gombal. Atau mungkin ini adalah sebuah kebodohan yang aku syairkan untukmu.

Satu hal yang penting adalah kata juga punya rohnya sendiri. Kata bukan sekadar material benda yang tak berbentuk. Ia punya rupanya sendiri sebelum bentuk. Ia punya energinya sendiri. Ya, sebab jika kita berkata “benci” maka objek yang diurutkan setelah predikat “benci” akan merasa tidak nyaman dan merasa tidak diterima. Begitu juga dengan kata “suka”, “rindu”, dan lain-lain. Maka ketika aku berkata “aku mencintaimu” selalu ada enegi yang bertalian dengan senandung kalimat itu.

Tak dapat dipungkiri bahwa sering kali cinta tidak saja melahirkan puisi dengan syair-syair indah. Puisi adorasi dan sanjungan dilukiskan dalam hati. Cinta juga memunculkan bias yang mengiris lembar kisah-kisah indah di antara merdunya adorasi dan sanjungan.

Ada haru air mata yang juga mengisak di antara kisah-kisah itu. itulah cinta, bukan? Lapis legitnya harus ditelan oleh semua penikmat cinta. Jika itu adalah ujian kemurnian, maka semua itu adalah berbakul-bakul air nira yang harus dipanaskan dalam ribuan miliaran detik untuk menghasilkan tuak yang terbaik.

Tuak yang menambah gairah di antara maklumat-maklumat percintaan. lalu, maaf dan memaafkan menjadi partikel-partikel cair yang bergerak bebas untuk melenturkan relasi percintaan yang merentang kaku. Ujud maaf dalam lambungan dupa yang tersambut butiran ungkap memaafkan dalam kabut yang membumi melahirkan rangkulan hangat kasih dalam fluktuasi relasi.

Maaf dan memaafkan boleh jadi adalah sambungan perekat antara hari kemarin yang berlinang air mata dan besok untuk perubahan hidup yang lebih baik. Ya, perubahan untuk lebih baik. Untuk kita, ada ekspresi orang Prancis dalam adagium: “plus ça change, plus c’est la même chose” (semakin besar perubahannya, semakin tampak persamaanya).

Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard,  pernah berteriak untuk kita bahwa hidup hanya bisa dipahami jika kita melihat ke belakang-namun harus dijalani dengan melihat ke depan. Bukankah Soekarno mengingatkan kita tentang semua ini ketika dia berkata, “jasmerah”?

Hingga saat ini aku berdiri, aku yakin aku untukmu. Ini adalah “le desir d’etre ensemble”. Bukan cuma kehendak pun tekadku tapi juga doaku. Semoga syairku ini selalu diiringi tarian-tarian kosmos yang menghardik tangan kita untuk saling meremas dalam jarak yang pasti akan bergerak mendekat. keterpisahan adalah rekayasa kosmos supaya akhirnya pertemuan itu akan terjadi.

Pertemuan di suatu suasana, di suatu waktu, dalam suatu kesempatan. Suatu kesempatan panjang akan bertahan hingga kita pun tak tahu sampai kapan ia akan terus berputar. I am still circumgyrating in a turn-table of the world at all the times. And I can’t stop loving you.

Djogja, 28 Desember 2010

Alfred Tuname

13 Comments to "About Loving You"

  1. Dewi Aichi  3 January, 2011 at 09:13

    Andi, ini candaan pertama kita, ojo kaget ha ha…kemarin2 ngga sempet masuk baltyra dengan santai.

  2. Andi Mangesti  3 January, 2011 at 09:00

    Dewi Aichi Says:
    January 3rd, 2011 at 08:53

    Andi…sstttt..jangan dibilangin di sini dong, kalau aku pernah bilang begitu padamu….!(blushing)

    Hihihi… Apakah waktu itu kita sedang berada diatas sprei satin yang menjadi…….(censored… hahahaha kidding-kidding-kidding…. becanda yang ngga-ngga di pagi-pagi begini…

  3. Dewi Aichi  3 January, 2011 at 08:53

    Andi…sstttt..jangan dibilangin di sini dong, kalau aku pernah bilang begitu padamu….!(blushing)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.