Perempuan Bermata Lembut

Fahri Asiza


Sejenak mengenang Aceh Desember 2004

Cerpen ini pernah kuposting sekitar April 2010


Dimuat di antologi Perempuan Bermata Lembut, 2005.

Cerpen yang kudedikasikan untuk Aceh dan khususnya kepada Mutia Meyda


————————————————-


thebestt.com/baby.html

AKU tak pernah mengenal perempuan itu, aku juga tidak tahu siapa namanya. Namun sosoknya begitu intim di hatiku. Terlebih lagi matanya yang bersorot lembut, begitu lembut hingga membuatku terpana beberapa saat. Kurasakan gejolak, yang entah apa, bergaung manja di dadaku, seolah membelai nuraniku dan perlahan membimbingku ke langit ke tujuh.

“Maaf, saya baru dari Aceh, saya tidak tahu tentang Jakarta.”

Kata-kata itulah yang diucapkannya pertama kali ketika menyapaku dengan halus. Sekali lagi kutatap sosoknya. Berkerudung warna biru muda, memakai baju terusan berwarna yang sama. Mata itu, yah, mata itu begitu lembut, sangat lembut.

“Ada yang ingin Anda tanyakan?”

Perempuan itu mengangguk. Entah berapa usianya. Menilik wajahnya, mungkin antara 25 tahun. Mungkin juga kurang. Aku tak bisa menebaknya secara tepat. Mata itu, ah, mengapa aku tiba-tiba tertarik dengan mata itu?

“Saya mencari alamat ini.” Dia menyodorkan sehelai kertas padaku. Kubaca, lalu kuanggukkan kepala. Kusempatkan lagi untuk mencoba berenang dalam mata lembutnya, yang kemudian sedikit beriak. “Ada apa?”

Aku tersentak, dan buru-buru kujawab setelah tersedak dua kali. Kenapa aku jadi terpaku dengan matanya? Mengapa mata itu seakan mampu menyihirku? Aku yakin, saat itu wajahku memerah dan aku berharap dia tidak mengetahuinya.

“Saya tahu,” ulangku lagi.

“Oh, terimakasih.”

Lalu kujelaskan tentang keberadaan alamat itu. Dia berulangkali mengulanginya, menegaskan kalau tak ada yang luput dari penjelasanku. Setelah mengucapkan terimakasih berulang-ulang dia meninggalkanku, dengan membawa dua buah tas yang sarat beban. Sesaat seperti ada yang memanggilku untuk membantunya, tetapi perempuan itu telah melompat ke sebuah kendaraan umum.

Masih sempat kulihat wajahnya dari balik jendela. Melambaikan tangan, tersenyum dan mulutnya membuka, “Terimakasih.”

***

Dua bulan sudah aku tidak melihat perempuan bermata lembut itu. Dua bulan sudah aku selalu terganggu dengan sorot matanya. Ah, sepasang mata yang indah, yang bukan hanya membuatku ingin berenang-renang di dalamnya, tetapi juga menyelaminya hingga ke dasar dengan harapan dapat menemukan butiran mutiara yang membuatnya bersinar lembut.

Yang membuatku sedikit merasa aneh, karena aku merindukannya! Yah, aku merindukan mata perempuan itu. Dan kadang aku menuliskannya di buku harianku.

Perempuan bermata lembut,

Entah siapa dirimu

Tapi mampu membuatku menggantungkan lelah

Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Kenapa pula aku merindukan sosok lain dalam kehidupanku, sementara sudah ada yang memberiku seorang bayi laki-laki berusia satu tahun? Sudah tentu tentang kehadiran perempuan bermata lembut itu dalam benakku tidak pernah kukatakan pada istriku. Sungguh, di sudut hatiku yang paling dalam, menggumpal rasa bersalah yang besar terhadap wanita yang sudah tiga tahun mengisi hari-hariku.

Entah inikah yang dinamakan naluri wanita atau bukan, tiba-tiba saja, suatu malam, istriku berkata, “Mas, akhir-akhir ini aku lihat Mas lebih sering melamun? Kenapa?”

Aku agak gugup dengan pertanyaan itu. Kutatap Arsih yang sedang menatapku. Wajah cantiknya dibingkai jilbab biru muda.

“Nggak ada apa-apa.”

“Masalah pekerjaan?”

“Semua baik-baik saja.”

“Lalu kenapa?”

Itu memang kebiasaan Arsih, yang selalu mencecar dengan caranya sendiri hingga dia puas dengan jawaban yang kuberikan. Caranya pun sangat santun, hingga aku tidak pernah merasa kalau dia sedang menuntut sebuah jawaban. Tetapi, dia sebenarnya telah menuntutnya.

“Mungkin cuma lelah.”

“Bila lelah, tidurlah. Tidak usah mengetik terlalu malam.”

“Ini pesanan penerbit. Dua hari lagi harus segera aku kirim.”

“Besok masih ada waktu, bukan?”

Karena tak mau apa yang ada di benakku diketahui Arsih, aku mengiyakan. Segera kumatikan notebook kesayanganku. Tetapi aku tidak bisa segera memejamkan mata, sementara Arsih sudah terlelap. Sesaat kutatap wajahnya. Ah, wajah itu pun begitu teduh, mampu memberikan gairah hidup yang meluap-luap buatku. Seharusnya wajah yang bisa kunikmati dengan segala keindahannya siang dan malam inilah yang terus tertanam dalam benakku.

Tetapi, mengapa harus perempuan bermata lembut itu? Perempuan yang mengaku baru datang dari Aceh, perempuan yang tidak aku ketahui namanya, perempuan yang kerap mengganggu pikiranku?

Sesaat batinku bertanya, adakah sesuatu yang tertutupi oleh mata lembut itu?

***

Mungkin aku sudah gila, mungkin aku kian terobsesi dengan mata lembut itu, hingga kuputuskan untuk mencari perempuan itu. Aku ingin menemuinya, aku ingin melihatnya—walau sekali saja—mata yang lembut itu.

Itu bukan tanpa restu istriku. Akhirnya, aku memang menceritakan masalahku yang kian gundah ingin bertemu dengan perempuan bermata lembut itu. Istriku hanya tersenyum saja ketika kuceritakan hal itu.

“Bila Mas ingin melakukannya, silakan saja.”

“Kamu tidak marah?”

“Bila niat Mas memang hanya ingin bertemu, sudah tentu aku tidak marah. Yang penting, Mas jujur padaku, dan mengatakan apa adanya.”

“Ya, aku berjanji, aku hanya ingin sekali saja melihat kembali matanya.”

Kulihat riak di mata Arsih. Entahlah, apa maknanya. Meski kadang selalu ingin tahu, tetapi Arsih juga pandai menyimpan perasaannya. Sesuatu yang sangat kontras, bukan?

Perjalanan mencari perempuan bermata lembut itu membawaku kembali ke tempat di mana aku pertama kali bertemu dengannya. Sudah tentu aku hanya menjadi orang bodoh, bila kutanyakan pada orang-orang di sekitar sana, apakah Anda melihat perempuan bermata lembut?

Sesaat aku seperti tergugu tak tahu harus berbuat apa. Aku juga benci pada diriku, karena lupa alamat yang ditanyakan perempuan bermata lembut itu. Kuperas otakku hingga aku lupa di mana aku berdiri. Orang-orang yang lalu lalang sesekali melepaskan pandangannya padaku. Mungkin aneh, melihat seorang laki-laki yang mengenakan jaket kulit berdiri tempat di tengah trotoar.

Sebelum pandangan mereka berubah, sebuah mereka menduga-duga, aku buru-buru meninggalkan tempat itu, sambil terus memeras otakku. Yah, mulai sedikit dapat gambaran. Sebaiknya kucoba. Alamat yang lahir dalam alam pikiranku pertama, salah. Yang kedua pun salah. Yang ketiga tetap salah. Menjelang Maghrib, baru aku mendapatkan alamat yang tepat.

Seorang wanita yang usianya kira-kira sekitar 35 tahun keluar membukakan pintu.

Berbeda dengan kegembiraanku ketika mengingat alamat itu, sekarang aku malah bingung. Apa yang harus kutanyakan? Namanya saja aku tidak tahu. Tetapi, aku harus tetap mencoba.

“Maaf, apakah di sini tinggal seorang perempuan bermata lembut?”

Seperti dugaanku, sudah tentu wanita itu mengerutkan keningnya.

“Perempuan bermata lembut?”

Terburu-buru kuceritakan tentang perjumpaanku dengan perempuan itu.

“Maksud Saudara… Mutia? Mutia Meyda?”

Aku semangat meski aku tidak tahu apakah itu memang namanya. “Ya, ya, mungkin dia, mungkin dia….”

“Banyak yang mengatakan, Mutia Meyda memang memiliki sepasang mata yang lembut.”

“Oh, iya, iya! Pasti dia! Pasti dia!”

“Saudara siapa?”

“Saya… saya… orang yang ditanya olehnya.”

Wanita itu memperhatikanku dengan seksama. Mungkin aneh melihatku begitu antusias. Terlebih lagi ketika kukatakan, “Bisakah aku bertemu dengannya?”

“Bila memang yang Saudara maksudkan itu Mutia Meyda… dia sudah kembali ke Aceh.”

“Oh!” Semangatku merosot. Aku seperti tidak tahu harus berbuat apa-apa.

“Apakah Mutia punya salah pada Saudara?”

“Oh, tidak, tidak….”

“Lalu… mengapa Saudara mencarinya?”

“Saya… saya… hanya ingin sekali saja, bertemu dengannya. Saya… ingin sekali lagi melihat matanya yang bersorot lembut.”

“Ya… tetapi dia sudah kembali ke Aceh….”

Aku menghela napas. Kupandangi wanita di hadapanku itu. Selintas ada garis kemiripan dengan wajah si perempuan bermata lembut.

Mutia Meyda… itulah namanya.

***

Aku pulang dan istriku bertanya, “Sudah bertemu dengan perempuan bermata lembut itu, Mas?”

“Namanya Mutia Meyda. Dia sudah kembali ke Aceh.”

“Mas, boleh aku tahu, mengapa Mas ingin sekali melihat sepasang matanya yang bersorot lembut, walau hanya sekali saja?”

Kutatap istriku. Kembali rasa bersalah itu bermain di dadaku. “Aku tidak tahu. Entah kenapa aku ingin sekali melihatnya, walau hanya sekali. Mata itu… ah, begitu teduh, begitu lembut, dan membuatku penasaran, adakah sesuatu yang dipendam di balik sepasang mata lembut itu?”

“Aku sebenarnya kesal Mas memikirkan perempuan lain, tapi aku percaya Mas jujur padaku.”

“Aku selalu jujur, meski awalnya aku tidak mau kamu mengetahui hal ini. Aku hanya ingin melihatnya sekali lagi. Hanya sekali saja. Aku ingin bertanya padanya, apakah ada duka di balik kelembutan matanya? Apakah tersimpan sebuah rahasia agung di balik itu semua?”

“Bila Mas ingin tahu, mengapa Mas tidak berangkat ke Aceh?”

Aku kaget mendengar kata-kata istriku. Apakah itu ungkapan tulus, atau hanya ingin menyenangkanku saja?

Arsih tersenyum. “Lakukanlah, Mas.”

“Tapi…”

“Aku percaya pada Mas. Asal Mas ingat, siapa diri Mas.”

“Aku suamimu, Sih, dan aku ayah dari anak kita.”

“Alhamdulillah Mas ingat.”

“Sudah tentu aku akan ingat.”

“Karena itulah, aku mengizinkan Mas mencari Mutia Meyda di Aceh.”

Ah, apakah aku memang harus melakukannya? Apakah memang aku harus menyusulnya? Hanya untuk melihat matanya sekali lagi. Yah, hanya sepasang matanya saja yang bersorot lembut.

Kuhela napas pelan-pelan. Kutatap istriku yang masih menunggu ketegasanku. Perlahan-lahan kugelengkan kepalaku.

“Kenapa, Mas?”

“Aku tidak mau terbawa oleh emosiku sendiri hanya karena ingin melihat matanya yang lembut.”

“Siapa tahu… dia bidadari, Mas.”

“Aku sudah memiliki bidadari.” Kukecup kening Arsih.

“Siapa tahu… dia adalah bidadari yang mampu mengisi angan dan harapanmu.”

“Kamulah bidadari yang mampu mengisi angan dan harapanku.”

“Pergilah… siapa tahu, Mutia Meyda memang bidadari yang sedang menunggumu.”

Ah, aku jadi malu sendiri melihat ketulusan istriku. Tidak, bila aku mengiyakan, aku pasti akan membuatnya sedih. Aku sudah punya bidadari di sini. Bidadari yang sebenarnya lebih kebutuhkan.

“Mas… pergilah, karena semalam… aku bermimpi dengan seorang perempuan yang memiliki sorot mata lembut. Dan dia mengaku… bernama Mutia Meyda….”

***

“Dia mengenalkan dirinya padaku, Mas. Yah, wajahnya, persis sekali dengan yang kamu ceritakan. Matanya itu, Mas… harus kuakui, karena mata itu benar-benar sangat lembut, seperti yang kamu gambarkan. Dia tidak bicara apa-apa setelah mengenalkan namanya padaku.

Matanya mampu menutupi segala gelisah. Matanya mampu menyembunyikan seluruh persoalan yang menderanya. Matanya mampu menyiratkan bahagia yang begitu indah. Aku mencoba banyak bertanya, tetapi dia hanya tersenyum. Seperti mengikis segala gelombang dan dera. Kamu benar, Mas, ya, kamu benar.

Mata itu begitu lembut, terlalu lembut hingga siapa pun yang memandangnya akan merasa nyaman berada di dalamnya, akan merasa hidup dalam genggaman kilau mata indahnya.”

Kuhela napas pelan.

Itukah gambaran yang dirasakan oleh istriku tentang si perempuan bermata lembut? Yah, tidak jauh berbeda denganku.

Mungkinkah dia bidadari?

Mungkinkah dia akan menjadi bidadari dalam keluargaku? Karena istriku sendiri sudah menganggapnya seperti itu.

***

Aku pun mempersiapkan diri untuk berangkat ke Aceh. Bahkan istriku akan ikut. Ya, lebih baik begini. Dia memang harus ikut. Karena, dia juga ingin bertanya, apa yang tersimpan di balik mata lembut itu?

Di hari keberangkatan kami, berita yang mengguncang dunia itu terdengar. Gempa bumi dan gelombang badai tsunami menerjang, menghancurkan dan meluluhlantakan bumi Serambi Mekkah. Juga menghantam pulau Nias di Sumatera Utara. Sesaat aku terdiam dengan kegamangan tak terbilang. Ada hentakan yang menyeruak kuat dan dalam di sanubariku ketika kusaksikan peristiwa dahsyatnya guncangan alam yang menimpa kota itu dari layar kaca.

Apakah perempuan bermata lembut itu selamat? Batinku bergetar hebat seiring doa-doa yang kupanjatkan. Dari berita yang kudengar, peristiwa tragis itu sudah menelan sekitar 80.000 korban jiwa. Entah berapa korban jiwa lagi yang belum diketahui. Sebuah peristiwa alam yang sungguh menakutkan dan memilukan.

Semakin banyak berita yang kudengar, semakin banyak hal-hal yang kuketahui, semakin pedih perasaanku. Istriku pun kerap menangis menyaksikan hal itu. Entah sudah berapa kali dia bicara tentang si perempuan bermata lembut diiringi isakan dan suara seraknya.

Selamatkah dia? Selamatkah?

Rahasia apa yang tersimpan di balik mata lembutnya?

Hingga hari ini aku dan istriku tidak pernah tahu. Karena berita yang kudengar kemudian, telah ditemukan lagi satu sosok tubuh yang telah pergi menghadap Illahi Rabbi, sosok perempuan bermata lembut bernama Mutia Meyda.

****

Kepada Mutia Meyda….

Langkah itu telah tercipta

Langkah itu telah teruji

Langkah itu telah terhenti

Tidak, tidak terhenti

hanya karena kau sedang meniti

Selamat jalan, Sahabat

7 Comments to "Perempuan Bermata Lembut"

  1. anoew  4 January, 2011 at 10:03

    Saya punya pengalaman sama persis dengan cerpen di atas. Hanya, bukan sorot mata lembutnya yang terkenang. Tapi lembut-lembut yang lain..

  2. Dewi Aichi  3 January, 2011 at 07:10

    Belum pernah menemukan pasangan suami istri sejujur ini.Aku sendiri kayaknya tidak bisa bersikap seperti itu. Entahlah, apakah dalam hati si istri tidak pedih, mengetahui bahwa suaminya memikirkan si wanita bermata lembut, meski tidak pernah bertemu.

    Mungkin teman-teman masih inget kisah Aa Gym yang menikah lagi, kemudian jumpa pers bersama istri pertama, si istri menjelaskan bahwa ia lahir batin ikhlas Aa Gym menikah lagi. Dalam hati siapa tau??? Mungkin juga hancur lebur berkeping-keping, dan sekarang terbukti, bahwa secara agama Aa Gym sudah cerai dengan istri pertama.

  3. sbudi  3 January, 2011 at 00:54

    ..asik..melenakan cerpenya

  4. Endah Raharjo  3 January, 2011 at 00:48

    Cerita yang mengharukan. Mengingatkan pada mata sedih para perempuan Aceh yang kehilangan keluarga dan harta. Saya bekerja di sana antara 2005 – 2007. Salam.

  5. Djoko Paisan  2 January, 2011 at 17:16

    Bung Fahri…
    Terimakasih ya, memang hebat kalau orang bisa mengenali orang lain dari tatapan matanya….
    Salam Sejahtera dari Mainz dan Selamat Tahun Baru…!!! Semoga sukses selalu…!!!

  6. Linda Cheang  2 January, 2011 at 11:09

    bagian yang kusuka dari cerita ini : suami yang mau jujur kepada istrinya dan istri tulus memaklumi kejujuran suaminya.

  7. Dewi Aichi  2 January, 2011 at 11:03

    mas Fahri apa kabar, lama ngga menyapamu nih, selamat tahun baru 2011. Duh…ceritanya mengharukan sekali…Allah maha tau

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.