Kenali Tari-tarian Indonesia (2): Bedaya Babar Layar

Probo Harjanti


Bedaya Babar Layar, merupakan salah satu yasan dalem (hasil karya) Sunan Paku Buwono II. Jadi, bisa diperkirakan berapa kira-kira umur tarian tersebut. Yang jelas sudah seabad lebih tarian ini tidak terdengar beritanya (dalam arti dipentaskan). Bedaya Babar Layar menjadi salah satu pusaka tari yang diuri-uri (dilestarikan) Kasultanan Ngayogyakarta bersama Bedaya Semang dan Bedaya Rambu. Itu terjadi  semenjak  Mataram pecah menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Di Yogyakarta Bedaya Babar Layar disempurnakan lagi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Keberadaan Bedaya Babar Layar tertulis di dalam manuskrip yang tersimpan di perpustakaan keraton Yogyakarta. Bedaya Babar Layar tercium keberadaannya ketika K.R.T. Mangkuwinata ( R. B Sudarsono, M. Hum) membaca kitab kuna tersebut. Dari situ timbul keinginan untuk kembali menghidupkan bedaya tersebut. Bersama sang istri Nyi R. Pujaningsih ( Th. Suharti, M. Sn.) naskah kuna tersebut dicermati. Sepasang suami-istri yang keduanya merupakan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sekaligus abdi dalem keraton Yogyakarta ini semakin semangat untuk kembali mementaskan Bedaya Babar Layar. Nama K.R.T. Mangkuwinata serta Nyi R. Pujaningsih adalah gelar yang dianugrahkan dari kertaon Yogyakarta.

Tak kurang dari 1 tahun untuk ‘membongkar’ isi kitab kuna ‘Serat Klana Giwangkara’ tersebut. Dari kitab itu diketahui bahwa bedaya Babar Layar menggambarkan peperangan antara pangeran pati (putera mahkota) kerajaan Kandhabuwana melawan  kerajaan Ngambarkumala. Th Suharti memimpin rekosntruksi bedaya ini bersama sang suami. Tentu saja ini karena yang dibedah adalah tari putri, peran sang suami di sini pada iringan tarinya, sebagai pengeprak (pemimpin irama dan pemberi aba-aba untuk tari). Sedangkan yang melatih penari-penari adalah  Nyi R. W. Pudyastuti. Itu harus dilakukan, karena Th. Suharti, sang maestro tari putri ini pun terlibat menari. Jadi, tidak mungkin melatih sekaligus menarikannya, karena akan mengganggu konsentrasi saat harus menari sekaligus memimpin latihan, juga mengawasi jalannya latihan.

Bedaya yang menurut Th. Suharti terkesan lebih kenes dibanding bedaya lain ini, pertama kali dipentaskan kembali di Surakarta, tahun 2006. Kemudian disempurnakan lagi, lalu dipentaskan di dalem Yudaningratan Yogyakarta tahun 2007. Mungkin kesan kenes tersebut salah satunya karena adanya gerak nglayang beberapa kali di sepanjang tarian tersebut. Gerak nglayang tidak mudah dilakukan, ketika tubuh harus meliuk ke belakang kanan dalam posisi jengkeng.

Pementasan memakan waktu kurang lebih 100 menit. Hebatnya Th Suharti sabagai penari tertua (60 tahun) staminanya tidak kalah dengan penari yang lebih muda usianya. Yang menarik juga, Th Suharti menari bersama salah satu putrinya. Jadi, satu keluarag terlibat semua. Suami sebagi pengeprak, istri dan putrinya sebagai penari, dan pimpronya adalah putri sulungnya.

Rekonstruksi Bedaya Babar Layar ini terlaksana berkat kerja sama antara Puspaning Asih Wiraga (sebagai pelaksana) dengan The Institute of Ethnomusicology Tokyo College of Music dari negeri sakura, sebagai penyandang dana. Jadi pendokumentasian pun hanya boleh dilakukan  pihak penyandang dana. Penulis pun mendapat dvd tari ini karena mendaftar saat pementasan.

Rekonstruksi tari memang membutuhkan beaya yang besar, waktu, tenaga, dan tentu pikiran. Hanya mereka yang berkomitmen tinggi terhadap seni tradisi yang mampu dan mau melakukannya, yang mendedikasikan hampir seumur hidupnya demi  lestarinya tari klasik gaya Yogyakarta. Perhatian kadang justru datang dari  luar negeri, mungkin karena mereka mampu dan mau mendanai kegiatan semacam ini. Di negeri sendiri seni tradisi kurang mendapat perhatian. Mungkin nanti saat bedaya diklaim negara antah berantah, baru diperhatikan.

Th. Suharti, sang maestro tari putri gaya Yogyakarta


Jemparing (panah) senjata yang digunakan pada Beaya Babar Layar untuk adegan perang


Sebagian penari bedaya Babar Layar, dari veteran, senior dan yunior


Paes ageng dan bunga melati asli, membutuhkan waktu lama untuk persiapan


Gerak nglayang pada saat proses latihan, tidak mudah melakukannya


Selama latihan selalu memakai kain, agar lebih terbiasa




92 Comments to "Kenali Tari-tarian Indonesia (2): Bedaya Babar Layar"

  1. Tiara  7 July, 2013 at 12:42

    Maaf saya mau tanya, apa saya boleh download gambar penari srimpi diatas? akan saya cetak menjadi postcard. terimakasih

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *