Pak Entang “Golek” Sutisna

Endah Sulwesi


Sejatinya, nama Entang Sutisna baru kali ini kudengar. Maksudku, Entang Sutisna si empu wayang golek. Tentu kalau nama Entang Sutisna, baik secara sendiri-sendiri sebagai Entang dan Sutisna maupun secara bersatu (Entang Sutisna) bukanlah nama yang asing di Jawa Barat. Itu sebuah (atau dua buah) nama yang lazim banget dipakai oleh pria-pria Sunda. Tetapi bahwa Entang Sutisna sang perajin golek dari Bogor, baru tiga hari kukenal.

Rupanya akulah yang terlambat mengenal sang maestro ini. Sebab, saat aku mengetik namanya di mesin pencari Google, entri untuknya lumayan banyak. Kiranya Pak Entang yang lahir pada 1947 ini sudah sangat beken, khususnya di Bogor. Deeuh..kemana aja gue ya?

Kesempatan mengenal lelaki berpenampilan sederhana ini kuperoleh ketika mengikuti pelatihan kepariwisataan di Hotel Prioritas, Puncak, selama tiga hari (1-3 April 2009). Di tengah-tengah pelatihan yang membosankan, kehadiran sosok Pak Entang yang kocak dan ramah sebagai salah satu peserta ini cukup menghibur. Ia memanfaatkan peluang berpromosi pada hari kedua. Dengan dalih mengajukan pertanyaan pada sesi UKM, bapak 4 orang putra ini, memperkenalkan dirinya dalam dialek Sunda Bogor yang kental.

“Nama saya Entang Sutisna. Lahir 1947 di Bogor. Sekolah hanya sampai Sekolah Rakyat. Mulai membuat golek tahun 1963,” demikian ia memulai perkenalannya yang sanggup menyita perhatian semua hadirin. Selanjutnya, ia bertutur tentang kariernya sebagai perajin golek yang sukses sehingga bukan saja mampu menghidupi keluarganya tetapi juga membuka lapangan kerja bagi orang-orang di sekitarnya.

Golek karya Pak Entang agaknya sudah terkenal di berbagai kalangan. Bahkan, pada 1972 bengkel goleknya pernah dikunjungi oleh Presiden Soeharto dan Ibu Tien (alm). Pulangnya, sang Presiden memborong golek sebanyak 120 biji yang berarti juga 120 karakter. Jumlah karakter wayang yang dengan fasih dikuasai oleh Pak Entang.

Bukan hanya Soeharto pejabat tinggi yang pernah singgah di sanggarnya, tetapi juga mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin dan Jendral Omar Dhani. Katanya, Pak Entang memajang foto-foto mereka semua di dinding rumahnya. Tentu dong, kan merupakan kebanggaan foto sama orang-orang keren itu.

Seperti dikatakannya, ia menguasai 120 karakter wayang golek. Favoritnya adalah Rahwana. Kok? Bukankah Rahwana tokoh super duper jahat? “Karena penampilan Rahwana itu gagah,” kata Pak Entang beralasan. Namun, yang menjadi favorit pembeli ternyata tokoh Rama dan Sinta ukuran 40 cm dan 60 cm yang dijualnya dengan harga Rp 250.000,- hingga Rp 400.000,-. Saat ini Pak Entang tengah kebanjiran order dari Hotel Indonesi sebanyak 500 unit golek untuk suvenir. Wow…Tajir dong!

Golek-golek indah itu dibuatnya dari kayu lame (aduh, aku sih nggak ngerti seperti apa kayu lame itu). Sekali beli bisa sampai 1 truk. Pengerjaannya dilakukan bersama-sama dengan sitri dan putra sulungnya. “Saya bagian bikin goleknya. Istri saya membuat kostumnya dan anak saya tukang catnya.”

Kiranya golek telah menjadi pilihan hidup Pak Entang. Bukan saja karena ia bisa hidup dari membuat golek, tetapi juga ia mencintai pekerjaan dan boneka-boneka kayu tersebut. Ia bahkan diam-diam memiliki impian suatu saat di Bogor berdiri sebuah museum wayang. “Supaya anak-anak sekarang tahu dan kenal wayang”.

Sungguh banyak hikmah yang bisa kupetik dari pengalaman hidup, ketekunan, dan kearifan lelaki berpostur kecil ini. Aku malah sempat takjub juga sewaktu ia menawarkan kerja sama membuat buku tentang wayang golek. “Saya yang bikin gambar (golek) nya, Eneng yang nulis karakter dan ceritanya.” Waaah….Aku sampai tidak sanggup berkata-kata. Bapak ini benar-benar keren.

Baiklah, Pak Entang. Terima kasih buat bincang-bincangnya. Mudah-mudahan suatu saat aku bisa singgah di bengkel golekmu.****


12 Comments to "Pak Entang “Golek” Sutisna"

  1. ElitaNiken  4 January, 2011 at 05:40

    Hebring pisan, apalagi orangnya bener2 sederhana gitu, memang bener, ketika kita mencintai pekerjaan kita, maka kita bekerja dari hati, bukan asal2an apalagi cuma ikut2an. Latah gitu deh akhire jadi setengah2 ya hasilnya, ya pengetahuannya.

  2. Djoko Paisan  4 January, 2011 at 03:42

    Rupanya ada dua nama ” Endah “…
    Dj. pikir tadi salah kasi komentar……( atau salah kamar….. )
    Mbak Endah Sulawesi…..
    Terimakkasih untuk pengalaman bersama bapak Entang Sutisna……
    Seorang seniman sejati, walau tidak berpendidikan tinggi ( hanya sampai SR saja ) malah bis jadi guru seni pergolekan….!!!
    Hebat….!!! Semoga mimpi pak Entang akan menjadi kenyataan….
    Untuk mbak Endah Sulawasi, selamat berkerja sama dengan pak Entang…

    Salam Sejahtera dari Mainz….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.