Opera Musim Dingin (4 – tamat)

Ana Mustamin


Dan pagi tadi, Zaza masih menangis di kamar mandi. Seumur hidup ia tidak pernah merasakan hatinya serawan ini. Seperti diiris-iris. Di bath tup, ia membiarkan shower terus memuncratkan air, membasuh wajahnya. Meluruhkan bulir-bulir air matanya. Berkali-kali ia menyusutnya, dan berkali-kali pula ia mengintipnya di cermin. Apakah matanya sembab? Apakah Lala akan curiga?

Keluar dari kamar mandi, ia mendapati tempat tidur kosong. Lala tidak ada. Zaza celingukan, lalu mendapati pesan di secarik kertas yang diletakkan persis di tengah-tengah tempat tidur.

Aku di kamar depan, bantu packing. Nyusul, ya. Semalam memang Lala bilang, sebagian barangnya akan dititip di tas Sakti.

Zaza mengintip sebentar ke kamar Sakti yang pintunya terbuka lebar-lebar. Tapi ia gak menyusul. Kali ini ia memilih bermalas-malasan. Daripada kembali menyaksikan kemesraan mereka? Tapi mau ngapain? Masih terlalu pagi ke The Peak. Tiba-tiba ia ingat sahabat-sahabatnya di Jakarta. Kangen juga sama keceriwisan mereka. Nge-tweet, ah! Mungkin dengan cara begitu, ia terhibur. Diraihnya blackberry-nya.

Hai tweeps @dibymanizt @wulanimoet @jihanjaim pada ngapain? Tulisnya.

Lama ia menunggu. Gak ada respon. Jiaahhh, twitter sepi. Payah deh, ah. Semua off.

Diletakkannya kembali BB-nya di samping bantal. Zaza kini berbaring terlentang. Matanya menatap lurus ke langit-langit. Saat ini, rasanya kesepian makin menghantu. Dan Lala … lama banget sih? Ya iyalah, secara dia lagi berduaan dengan Sakti….

Mereka ngapain, ya? Dada Zaza berdegup kencang memikirkannya. Sambil menyusun barang-barang di tas, Sakti tentu memandangi wajah kekasihnya sampai puas. Mungkin acara packing-packingan udah selesai. Mungkin malah mereka sekarang lagi saling menggenggam tangan, mengeja perasaan masing-masing…. Mungkin mereka …. Hati Zaza rasanya makin berdarah-darah…

Angin yang berhembus dari AC membuat Zaza kian menggigil. Aha, bukan dari AC. Tapi dari pintu kereta yang terbuka. Zaza gelagapan. My God, sekarang ia di mana? Setengah panik Zaza melongok keluar jendela. Tai Wai. Tulisan itu tertera jelas di dinding stasiun. Ia menghembuskan nafas kuat- kuat. Melamun sih, batinnya menyumpah. Untung Sha Tin belum lewat.

Zaza lalu memindahkan rangselnya ke bahu. Ia berkemas. Hanya dalam bilangan menit kereta yang ditumpanginya akan tiba di stasiun tujuan.

***

“Alhamdulillah, akhirnya tiba juga,” Zaza menggumam. Rasanya paru-parunya kini mengembang, begitu lapang, siap diisi oksigen sebanyak-banyaknya.

Bersama dengan ratusan penumpang, ia bergegas keluar dari stasiun, lalu menaiki eskalator. Kini, ia hanya perlu melintasi atrium New Town Plaza, naik ke lantai dua, lalu menyusuri selasar yang di kiri-kanannya penuh dengan gerai, dan kemudian akan tiba di lorong yang menghubungkan pusat perbelanjaan itu dengan hotelnya.

Beberapa menit lagi, Zaza akan tiba di kamarnya. Mungkin ia akan langsung berendam di air hangat, menggosok setiap inci bagian tubuhnya, membubuhinya wangi lavender. Meluruhkan seluruh letih hari ini. Juga resah dan dukanya ….

Ah, lupakan impianmu Zaza, ia membatin patah. Valentine sebentar lagi berlalu. Tak ada sesuatu yang istimewa terjadi. Dan kini, ia bahkan harus menemukan cara bagaimana merekat kembali hatinya yang terlanjur retak.

Memikirkan semua itu, tanpa sanggup ia cegah, wajah sahabat-sahabatnya mendadak membayang. Mana hari-hari merah jambu di momen valentine yang sering mereka ributkan? Pikirnya sedih. Ternyata, ia tak seberuntung Diby, Wulan, dan Jihan. Ternyata aku justru harus patah hati di hari valentine, kesahnya nyeri. Rasanya ia kini ingin membujuk tirai malam agar menculiknya dari rumah luka, membawanya berdiam selamanya di balik labirin yang tak teraih oleh siapapun.

Zaza terus melangkah. Sampai ia menyadari sesuatu ….

Hei, ke mana orang-orang yang tadi menumpang kereta dan naik eskalator bersamanya? Mengapa ia kini sendirian di tengah atrium plaza? Zaza terkesiap, sebelum akhirnya kesadarannya mengumpul. Penumpang lain tentu memilih arah berbeda.

Ya, ini menjelang tengah malam. Tentu saja, New Town Plaza sudah tutup. Sebagian lampu-lampu sudah dipadamkan, kecuali yang di atrium dan di lorong-lorong. Tak terdengar lagi percakapan antara penjual dan pembeli. Tak ada senyum, tawa, dan celotehan. Tak ada lagi balon dan ornamen berbentuk hati berwarna pink. Tak ada lagi ribuan orang yang lalu-lalang. Gerai-gerai sudah sepi. Pengunjung sudah menghilang ….

Yang tersisa adalah suasana ngelangut – lantai yang menggigil, gerai yang membisu, pilar-pilar yang tak bergeming, lampu-lampu yang berpendar pucat, lanskap sepi yang memanjang, kesunyian yang tak bertepi ….

Dan dia …, dia berjalan sendirian di antara itu semua ….

O, my God. Nafasnya serasa berhenti. Mengapa ia baru menyadarinya? Mengapa tak terpikir sebelumnya? Adakah jalan lain menuju hotel tanpa harus melewati plaza ini?

Terlambat untuk menyadarinya. Kalau ia turun kembali ke ground floor, belum tentu di lobby masih tersisa orang. Kalau pun ada – dan Zaza mendapatkan petunjuk untuk menempuh rute lain, apakah lebih aman dibandingkan arah yang ditempuhnya sekarang?

Zaza merasa kerongkongannya dilindas kemarau. Dadanya sesak, seperti dihimpit beban berton-ton. Tak ada cara lain, aku harus terus berjalan, batinnya. Bukan berjalan, melainkan berlari. Ya, berlari secepatnya, sekuatnya. Ayo Za, jangan sampai ada orang lain melihatmu di sini. Seseorang yang tiba-tiba saja berpikir buruk begitu menyadari kamu sendirian. Bagaimana pun, kamu seorang cewek ….

Mata Zaza memanas. “Ya Allah, lindungi hamba!” bisiknya berulang-ulang.

Zaza terus berlari, sampai menyadari ada bayangan yang menguntitnya – seseorang yang kemudian berdiam dan berlindung di balik tiang ketika ia berhenti dan menoleh. Seseorang yang membuatnya jantungnya seperti berhenti berdetak.

Hi, can you hear me?” Ia mengulang pertanyaannya pada jarak lima meter. Kali ini lebih pelan, setengah berbisik.

Zaza menunggu. Satu detik … dua detik …

Tiba-tiba bayangan itu bergerak, keluar dari persembunyiannya. Zaza nyaris terpekik.

“Sssstttt ….,” sosok itu memberi isyarat dengan meletakkan telunjuk di mulutnya. Ia kemudian mendekat, meraih tubuhnya, memeluknya. “Maaf, kalau aku membuatmu takut ….”

Entah yang mana duluan: airmata Zaza yang menghablur atau hembusan nafasnya yang melega.
“Kakak menguntitku?” Suaranya lemah, nyaris tertelan.

Jemari cowok itu membelai rambutnya. “Ya,” suaranya parau. “Sejak sore tadi. Sejak kamu bilang akan ke The Peak dan tidak ingin ditemani. Aku terus mengikutimu. Aku mengkawatirkanmu pergi sendirian sesore itu. Aku sudah menduga, kamu pasti akan kemalaman. Karena itu, aku menelpon Lala dan mengabarinya kalau aku akan menguntitmu.”

Zaza sesunggukan. Ia tidak tahu harus ngomong apa. Ia memang bodoh, ia memang nekad .…

“Maafin Zaza, Kak. Membuatmu khawatir dan kerepotan ….”

“Ke depan, aku mungkin akan selalu sport jantung memikirkanmu ….”

Zaza mendongak, tak paham. Jemari cowok itu mengangkat dagunya. Lantas menatap matanya dalam-dalam.

“Ya, aku begitu mencintaimu, hingga aku khawatir mungkin aku akan menjadi sangat posesif menghadapi keberanianmu …

Zaza ternganga. Spontan, ia melepaskan pelukan. “Kakak ngomong apa sih? Mbak Lala bisa ngamuk ke aku ….”

Cowok itu menggeleng. “Kurasa Lala malah akan senang sekali. Ia tahu, aku sudah lama menyukai adiknya. Tapi dia sangsi apakah adiknya juga suka padaku ….”

“Jadi …,” Zaza merasa mendadak seperti orang bodoh.

“Aku dan Lala sepakat bersandiwara, seolah-olah kami pacaran. Lala mau saja. Toh dulu aku membantu dia mendapatkan Mas Janu – kakak sepupuku. Dan ternyata, aku tak bertepuk sebelah tangan. Gadisku cemburu bukan main ….”

“Kak Saktiiii!!!!” Zaza menggebuk tubuh jangkung di depannya sekuat tenaga. Wajahnya menghangat, mungkin seperti kepiting rebus.

Cowok kriwil itu tertawa-tawa. Lalu, di luar dugaan Zaza, kedua lengan Sakti menyambar tubuhnya dan membawanya berlari dalam gendongan.

Zaza berteriak-teriak tertahan. Ia meronta. Lalu menangis sesunggukan. Lalu tersenyum dan tertawa. Lalu menangis lagi.

Sakti tak peduli. Ia terus berlari.

Di pergelangan tangan Zaza, jam menunjukkan pukul nol-nol lewat duapuluh tujuh menit. Ah, Valentine sudah lewat.***


Untuk Sakti, Yngwie, Lala, Zaza, Diby, Wulan, Jihan dan Janu

Catatan:
MTR = Mass Transit Railway
KCR = Kowloon – Canton Railway

14 Comments to "Opera Musim Dingin (4 – tamat)"

  1. Djoko Paisan  5 January, 2011 at 01:01

    Cinta…boros…cinta…boros…cinta…boros…cinta…bores….cinta….!!!
    Cinta boros….atau boros cinta….???

    Terimakasih bak Ana…..
    Untung Happy Ending, walau ada borosnya, tapi cinta tetap cinta kan…???
    Tapi kalau bisa ya jangan boros-boros cintanya…..hahahahahahaha…..!!!

  2. ana mustamin  4 January, 2011 at 17:20

    @lani: haha…bukan begitu. novelet ini ‘kan udah dimuat di majalah (pesanan redaktur majalah). dan majalah itu terbit sebagai edisi khusus valentine. masa’ valentine disodorin kisah cinta yg sad ending?

  3. [email protected]  4 January, 2011 at 15:58

    Hoalaaa… akhirnya jadian jg toh… hmmm… happy ending deh. =) *padahal baru baca part 1-4 sekarang*

    mwahahahaha…

    JC salah tuh, nggak boros… mengejar cinta di HK, wong dibayarin ama calon mertua… =), yang jadi sakti-nya happy2 aja atuh…

    ahhh… lanjut lagi, untuk mempersiapkan artikel jalan2… pusing2 banyak bener… 26 hari, apakah 26 artikel? =) =P

  4. Lani  4 January, 2011 at 15:05

    JC : akiiiiiiiiii…….wah kowe iki jiaaaaaaaaaaaan! tobattttttttt ora ilok, yg namanya cinta tak ada kata BOROSSSSSSS…..pie to dikau iki????? pokok-e dgn cara apapun klu msh memungkinkan hajar blehhhhhhh biar sampai keujung dunia………lo kok koyok judul lagu wae yoooooo……..ujung lautan jg ditututin…….hehehe……mengapa tdk???? jare saiki dunia ming sak daun keloooooooooorrrrrr???????? opo koloooooooooooor???????? wakakkaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.