Your Birthday

Octavero


“Halah!… ternyata ketikanku dari tadi tuh belum ku save to?..” sebuah kalimat pembuka yang aneh untuk sebuah artikel, wkwkwkwk. Tapi tak apalah, toh juga tidak menciutkan niatku untuk meneruskan menulisnya.

Beberapa waktu yang lalu, ketika nongkrong di sebuah warung “wedangan” di pojokan pertigaan Purwosari Solo, saya dikejutkan oleh sebuah berita yang tidak pernah sekalipun terlintas di kepala untuk saya pikirkan. Berita yang menyebutkan bahwa salah satu sahabat saya, istrinya sudah melahirkan anak lelaki dengan berat 28 gram. Tapi berita yang terdengar itu hanya sekedar membuat saya terkejut saja… ya! … hanya terkejut, habis itu sudah ganti topik pembicaraan lainnya. Seperti “hanya lewat” dalam sebuah permainan monopoli.

Malam berikutnya, kembali saya menuju pertigaan Purwosari untuk mencari teman ngobrol, sekaligus mengisi waktu untuk menanti datangnya rasa kantuk yang belum juga menghampiri. Dan kebetulan disana saya bertemu dengan narasumber yang menjadi topik pembicaraan di malam sebelumnya yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat saya sendiri, dengan kondisi yang terlihat sedikit kecapekan tetapi masih belum kehilangan siratan cercah kelegaan pasca kelahiran putra pertamanya.

Dengan senyum saya hampiri, ucapkan selamat dan dimulailah proses mengobrol meskipun mulutnya dia dipenuhi dengan jejalan “sego kucing” dan sedang dilahap dengan lezatnya plus tersungging senyum yang mendominasi ekspresinya. Ditemani oleh segelas teh kampul panas dengan takaran gula setengah sendok teh, terlantunlah kronologi kelahiran putra pertama sahabat saya.

Senda gurau serta tawa, lepas semua malam itu, mengingat bahwa itu adalah pengalaman pertamanya menghadapi proses kelahiran yang tentu saja dipenuhi dengan segala kecanggungan, kepanikan dan tindakan tindakan konyol yang tidak perlu. Namun di satu sisi, salut dari kami semua untuk peristiwa ini karena semua berjalan dengan lancar dan sudah melewati detik-detik yang menegangkan, mengingat kami yang berkumpul malam itu didominasi oleh para jomblo-jomblo yang belum mengalaminya.

Dari obrolan di pertigaan Purwosari tersebut memberi saya inspirasi untuk menuliskan sebuah artikel yang sedang anda baca saat ini, Dan sebenarnya ingin saya release pada peringatan hari ibu. Berhubung ternyata inspirasi datangnya lebih lambat dari waktu yang ditargetkan, ya mohon dimaklumi. Hehehehe……

Sering kita melihat, menyaksikan, bahkan turut serta dalam suatu perayaan pesta ulang tahun. Entah itu pesta ulang tahun kerabat maupun teman, pasti semua mengalami ber-ulang tahun meskipun kadang kala tanpa pesta ataupun wujud perayaan lainnya dikarenakan kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan. Mungkin sebagian dari pembaca sudah mengetahui, tapi banyak juga yang tidak menyadari apa sebenarnya yang terjadi di balik hari kelahiran kita di dunia ini.

Kadang kala ketika kita berulang tahun, seakan-akan hanya menjadi suatu rutinitas setahun sekali, dan pesta maupun acara makan makan hanyalah merupakan suatu konsekuensi bagi siapapun yang merayakannya, tanpa pernah mau berpikir ataupun mencoba menyadari perjuangan seorang ibu menahan sakit, bertahan untuk menghindari makanan-makanan yang tidak dianjurkan, keterbatasan gerak, menghadapi dilema pengambilan keputusan untuk memilih caesar atau normal yang masing-masing juga memiliki konsekuensi sendiri-sendiri dalam waktu yang sangat terbatas, banyaknya tekanan yang diakibatkan oleh kemungkinan membengkaknya biaya persalinan, maupun pertaruhan hidup dan mati yang ditanggung oleh ibu dan si anak itu sendiri, ada dibaliknya. Bisakah anda bayangkan situasi pada waktu itu?

Tegang.. itu yang pertama kali muncul dalam pikiran saya, lalu berturut turut muncul kilasan ekspresi wajah kesakitan seorang ibu, darah yang belepotan di area ranjang persalinan, teriakan-teriakan penuh perjuangan yang membuat para suami selalu gentar mendengarnya. Dari situ pelan-pelan saya tarik garis hubungan dan lambat laun logika saya bekerja, sebenarnya untuk siapakah kita berulang tahun? Mungkin pertanyaan itu jawabannya bernara sumber pada yang berulang tahun, tetapi ada baiknya pula, bila dimanfaatkan sebagai suatu momentum untuk menghormati perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anak mereka. Sehingga birthday dapat meraih multipurpose yaitu perayaan diri kita terlahir ke dunia dan momentum untuk menghormati seorang ibu pada khususnya serta orang tua pada umumnya.

Sebuah pertaruhan

Tahukah anda seperti apakah rasa, selama sembilan bulan sepuluh hari mengandung anak, selama kurang lebih dua minggu penyembuhan dari persalinan normal maupun kurang lebih sebulan pemulihan diri pasca persalinan caesar?

Bagi para ibu-ibu pasti dengan mudah membayangkan, tetapi bagi para pria maupun para wanita yang belum mengalami proses ini pasti tidak mampu membayangkan, karena hanya yang bersangkutan sendirilah yang mampu menggambarkan dengan pasti seperti apakah rasanya.

Majunya dunia kedokteran bukan merupakan jaminan bahwa proses kelahiran seorang anak ke dunia akan lancar, salah satunya dibuktikan dengan betapa tetap tingginya pressure yang dialami oleh anggota keluarga yang bersangkutan meskipun proses kelahiran dilangsungkan di sebuah rumah sakit yang terkenal baik.

Percaya atau tidak, hal itu terjadi. Jadi bila kita lihat sedikit lebih jauh ke belakang, pada saat kita dilahirkan sebenarnya terjadi dalam hitungan waktu yang cukup singkat di luar waktu dalam kandungan, tetapi yang terjadi dalam waktu yang singkat itu ada banyak masalah yang sifatnya kompleks meliputi berbagai faktor seperti yang sudah saya tuliskan di paragraf atas, dan itu bagi yang bertanggung jawab, dalam hal ini orang tua, kompleksnya permasalahan bertumpuk-tumpuk, dan dalam keadaan yang diliputi ketegangan dan kepanikan, masalah yang bertumpuk tersebut kadang malah menjadi acak dan tidak rasional. Sehingga situasi ini bukan hanya menjadi peristiwa yang terkotak pada ayah dan ibu si jabang bayi saja, tetapi juga melibatkan seluruh anggota keluarga yang berkepentingan.

Sebuah pertaruhan hidup dan mati. Bagi mereka yang merasakan dan ada dalam proses persalinan tahu benar konsekuensi dan betapa berkemelutnya segala macam jalinan pikiran di ruang pikir dalam batas kesadaran. Terlebih-lebih yang dirasakan oleh seorang figur calon ayah. Orang Jawa bilang “deg-deg’an” yang mana jantung bekerja lebih keras dari biasanya, dimulai semenjak calon ibu merasakan kehadiran seorang bayi dalam perutnya. Akan sangat tampak betapa gusarnya suasana hati seorang calon ayah pada saat detik-detik mendekati kelahiran si jabang bayi, sudah tidak lagi bisa berpikir jernih. Berbagai kekhawatiran mendominasi ruang pikirnya, baik terhadap keselamatan ibu maupun keselamatan jabang bayi.

Perjalanan Waktu

Jabang bayi telah terlahir ke dunia, peran aktif orang tua sangat besar dalam pembentukan karakter anak, dan jabang bayi tumbuh besar mewarisi gen-gen dari orang tuanya.

Waktu berjalan, tahun demi tahun berlalu, anak tak lagi menjadi jabang bayi, otaknya tumbuh dan bekerja, akal budi berkembang, dan semakin memantapkan dirinya serta memperlihatkan eksistensinya sebagai manusia.

Dalam perkembangannya, si anak belajar. Termasuk mempelajari lingkungan tempat ia dibesarkan. Ia tidak diam. Ia belajar, termasuk mengamati kedua orang tuanya. Dan selama belajar itu, ia akan semakin mampu membedakan yang benar dan yang salah dari berbagai sumber. Dikarenakan anak memiliki orang tua, kebanyakan ia memperoleh bekal menghadapi hidup dari orang tua yang notabene berada paling dekat dengan eksistensi si anak.

Meskipun dalam beberapa kasus kita jumpai anak-anak yatim piatu, maupun anak anak yang dititipkan dalam panti asuhan dan terpisah dengan orang tua sejak kecil karena berbagai sebab, adalah pengecualian. Tetapi memiliki esensi yang sama, yang mana anak dilahirkan bukan tanpa perjuangan, melainkan juga dengan pertaruhan kehidupan yang kompleks. Anak yang didik dalam lingkungan berorang tua mengamati ayah dan ibunya secara langsung, hingga ia mampu mengenali hal-hal positif dan negatif orang tuanya.

Begitu juga mereka yang yatim piatu, akan terus mencari jawaban terhadap eksistensi orang tuanya dengan segala keterbatasan informasi yang ia miliki. Dari hal ini anak akan mendapatkan resume mengenai orang tuanya dalam perjalanan waktu kehidupannya hingga ia mengenal orang tuanya lebih jauh. Terutama pada figur seorang ibu.

Hubungannya adalah, bahwa seburuk apapun sifat dari ibu yang anda ketahui, dia tetap seorang ibu bagi si anak yang telah dilahirkannya ke dunia dengan dikandung selama rata-rata sembilan bulan sepuluh hari (variatif) yang kadang kadang selama proses mengandung jabang bayi, terlantun untaian doa serta harapan-harapan dari orang tua pada calon anaknya. Apapun yang telah dilakukan seorang ibu terhadap anaknya, selalu ada alasan yang mengikuti dibelakangnya. Dan itu menjadi suatu pekerjaan abadi bagi kita sebagai anaknya untuk menguraikan simpul itu sendiri.

Ungkapan terima kasih

Terus terang saja, baru kali ini saya menemukan korelasinya, dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Oleh karenanya tidak salah apabila kita menyempatkan sepersekian waktu di hari ulang tahun untuk mengucapkan terima kasih pada ibunda tercinta, entah itu dalam bentuk sebuah ciuman antara anak kepada ibu, maupun pelukan, boleh juga sebuah permintaan maaf atas kedurhakaan kita selama ini dan atas kesoktahuan kita selama ini, mau dengan suatu ekspresi tangis dan sedu sedan pun juga oke, lebih baik lagi bila ditambah doa untuk orang tua.

Akhir kata, bukan maksud penulis untuk menyalahkan para pelaku ulang tahun yang tak pernah menyadari hal ini, tapi hanya sekedar memberikan masukan dan tambahan pengetahuan agar setidaknya tiap aktifitas dijalani dengan penuh kesadaran.


Foto-foto: dari penulis

Ilustrasi: mhhe.com


55 Comments to "Your Birthday"

  1. octavero  6 January, 2011 at 09:57

    DA; Tary; wkwkwkwk….. tiap pagi melahirkan apa tuh? hehehe
    DJ: hehe …. kok saya gak faham ya? wkwkwkwk….. kayaknya musti ke mainz dulu nie biar faham….

  2. Dewi Aichi  6 January, 2011 at 08:59

    Ayla, kamu kan tiap pagi pasti melahirkan..!

  3. Anastasia Yuliantari  6 January, 2011 at 08:53

    @Dewi: OK, deh akan menjadi perhatian. Kapan2 kalo aku melahirkan.

  4. Dewi Aichi  6 January, 2011 at 07:12

    Dulu saat hamil, kan sering ke dokter kandungan untuk periksakan kandungan secara rutin, nah saat itu dokter selalu bilang ke aku, begini: “mba, nanti kalau saatnya melahirkan jangan teriak-teriak ya…yang tenang!” Bikinnya aja diem2 kok ngelahirin sampai teriak-teriak!” Dalam hatiku, siapa bilang bikinnya diem-diem??? He he..

    Tapi benar, ngga ada teriakan sedikitpun saat aku melahirkan anakku. kontraksi aja ngeden otomatis, he he…ngga bisa ditolak kalau ini. Lahirnya gampang banget, ngga pakai aba-aba, meluncur sendiri sebelum kakiku dipasang ke alat penyangga. Makanya ngga ada robekan yang perlu dijahit, sampai dokternya heran, ini ibu kecil mungil, melahirkan bayi seberat 3500 gram tanpa robekan, he he..ini yang aku sangat takutkan yaitu dijahit tanpa anestesi. Wuihhh…emang kain dijahit..tanpa dibius.
    Inilah untungnya melahirkan secara normal, apalagi tanpa jahitan, 2 jam setelah melahirkan sudah bisa jalan-jalan, merekam rumah sakit dengan handycam hi hi…

    Tips: supaya tidak terjadi robekan, pas anak lahir, jangan sampai bokong terangkat!

  5. Djoko Paisan  6 January, 2011 at 02:48

    Hallo Octavero….
    Terimakasih ya…
    Dalam bhs Indonesia, sedikit aneh ditelinga Dj….
    Selamat Ualang Tahun….
    Jadi tahunnya yang di kasi selamat, karena berulang-ulang…
    Bukan selamat hari kelahiran… Happy Birthday… !!! Atau di Jerman …Herzlichen Glückwunsch zum Geburtstag…!!!
    ( selamat hari kelahiran ) dan bukan Selat ulang tahun….
    Tahunnya sih tanpa dikasi selamat, pasti akan berulang…..hahahahahaha….!!!
    Salam Damai dari Mainz….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.