Good friends are like diamonds, and diamonds are forever

Linda Cheang – Bandung


Salam kepada semua Baltyrans dan Pembaca.

Tiba-tiba saja pemikiran untuk menulis topik dengan judul di ata s mengganggu pikiran saya, di sela-sela mempersiapkan acara perayaan Natal lalu. Mulai dari Christmas Caroling sampai di hari “H” nya acara kebaktian dan perayaan Natal sukses dan lancar. Puji Tuhan, semua kelancaran terjadi karena kerja sama dengan teman-teman sepelayanan. Para sahabat dan teman-teman, itulah inti tulisan saya kali ini.

Saya memilih kata dalam Bahasa Inggris “Good Friends”  untuk menggambarkan tentang para sahabat dan teman-teman baik saya. Saya perlu memberikan sedikit pembedaan antara sahabat dengan teman baik karena memang kadar kedekatan relasi saya dengan para sahabat dan teman-teman sedikit berbeda. Sahabat bagi saya relasinya begitu dekat, bisa dikatakan bagai saudara.

Bahkan tak jarang karibnya sahabat bisa melebihi kedekatan dengan saudara. Kepada sahabat biasanya kita merasa nyaman menceritakan hal-hal yang tidak ingin teman-teman bahkan kerabat kita tahu. Misalnya saja ketika saya menceritakan hal sibling rivalry saya dengan kakak kedua saya, kepada seorang sahabat saya, Iyan. Belum tentu hal yang sama bersedia saya ceritakan dengan teman-teman baik saya betapapun eratnya pertemanan kami.

Sedangkan teman-teman baik ini, saya kategorikan demikian karena meski memang dekat, tetapi kadar kedekatannya tidak pekat seerat sahabat. Saya memang memerlukan kategori khusus untuk membuat teman-teman baik menjadi sahabat. Seorang sahabat yang baik, saya yakini selain bisa menerima diri kita apa adanya, lengkap dengan bagian-bagian diri kita yang paling jelek sekalipun, tidak akan menghakimi kita dengan mudah berdasarkan kejelekan-kejelekan kita, juga tidak akan pernah punya niat untuk menyakiti apalagi mencederai kepercayaan sahabatnya.

Namun seorang teman baik yang pernah saya punya, bisa begitu mudah menyakiti dan mencederai kepercayaan saya, sampai akhirnya saya lebih baik mengakhiri pertemanan dengan eks teman baik tsb dan menjadikannya hanya sebagai kenalan. Bisa dilihat gambarannya di artikel saya yang lalu: Kawan, Forgiven is Not Forgotten!

Dua sahabat saya, Iyan, bershabat dengannya selama lebih dari 23 tahun sejak kami sekelas di kelas 1 SMP dan sampai detik ini kami masih bersahabat, masih dekat baik secara hati maupun fisik. Iyan sekarang tetangga dari sebrang jalan. Dan tentu saja Romo Budiman. Kalau dengan orang yang satu ini persahabatan kami unik.

Seperti yang pernah saya ceritakan di artikel Kabar Dari Roma. Senang rasanya ketika dipertemukan kembali dengan cara Tuhan yang begitu indah waktunya, dan sekarang karena kami berjauhan secara fisik, kami memelihara persahabatan kami dengan tetap kontak memanfaatkan dunia maya, mulai dari e-mail, jejaring sosial sampai pesan instan. Selain para sahabat itu, saya juga memiliki teman-teman baik, yang tinggal sekota sampai yang di luar kota. Mereka menjadi teman baik dikarenakan pekerjaan.

Setelah dipertemukan lewat pekerjaan, lewat kegiatan organisasi, lewat beberapa komunitas dan perkembangan selanjutnya, kami akhirnya berteman, karena urusan kami jadinya melebar ke urusan-urusan di luar pekerjaan, yang makin mendekatkan relasi kami.

Seorang sahabat buat saya meski dijamin tidak punya niat menyakiti, tetapi mesti berani menegur untuk kebaikan sahabatnya, tentu temasuk mengambil resiko bakal tidak disukai sampai diputus persahabatannya. Itulah yang dilakukan Iyan dan saya, ketika kami tak hanya saling menguatkan satu sama lain, tetapi keberanian menegur yang menyelamatkan relasi kami. Iyan memang berbeda banyak dengan saya.

Gambaran Iyan sudah saya ceritakan di artikel lama, Dua Dekade Persahabatan. Selama bersahabat, memang saya yang lebih banyak menjadi pendorong Iyan, tetapi bukan berarti Iyan yang seperti itu tidak ada artinya untuk saya. Sering saya menemukan pencerahan justru dari kesederhanaan cara Iyan berpikir dan berperilaku, sebab saya ini tipe orang yang suka ngulik, mencari informasi akan satu hal sederhana saja bisa perlu sampai blusukan, tipe komplet yang sampai njelimet¸sehingga saya pernah mendapat cap sebagai Si Ensiklopedi Berjalan.

Berbanding terbalik dengan Iyan yang lebih banyak pasrah saja dan terkesan manut pada nasib, seperti enggan berjuang lebih keras untuk hidupnya. Ketika dulu saya suka berbicara dengan cepat dan banyak, atau saya merasa tahu hal lebih banyak daripadanya,  seringkali Iyan menegur saya karena tidak mengerti apa yang saya ucapkan. Dari sikap seperti itu, saya belajar sabar untuk mengkomunikasikan sesuatu dengan tepat guna, singkat dan sederhana.

Tidak tahulah saya bagaimana jadinya kalau tidak ada seorang sahabat seperti Iyan. Bisa jadi seterusnya saya akan jadi seseorang yang tidak punya empati akan kekurangan orang lain. Berkat persahabatan kami, Iyan sekarang sudah jauh lebih baik. Memang kami sempat diam-diaman gara-gara itu, tetapi sejak acara diam-diaman mencair,  Iyan sudah memiliki daya juang yang jauh lebih baik daripada ketika sebelum saya “tega” menegurnya. Ah, indahnya persahabatan yang tulus.

Dengan Romo Budiman, bisa dikatakan kami imbang. Namun alangkah afdolnya kalau sekiranya Romo Budiman sendiri bersedia menceritakan hal persahabatan kami dari sisi dirinya, maksudkan agar Pembaca bisa memberikan penilaian yang lebih objektif lagi. Semoga Romo Budiman berkenan menulisnya.

Teman-teman baik saya berasal dari berbagai kalangan, dan berbagai tingkat pendidikan. Dari anak kecil sampai orang sepuh, semua ada. Tentu memang lebih banyak teman-teman yang sebaya dengan saya. Semua itu memperkaya kehidupan saya. Banyak ilmu kehidupan sudah saya dapatkan dari para teman baik saya. Banyak hal-hal positif saya temukan dari para teman baik saya. Sepertinya tidak berlebihan kalau saya mengibaratkan para sahabat dan para teman baik saya sebagai permata yang menghiasi mahkota sukacita di hati saya. Seperti halnya permata adalah abadi, saya mengharapkan kasih dari para sahabat dan para teman baik saya itu abadi adanya.

Memang benar. Relasi seperti persahabatan dan pertemanan pasti ada kalanya memiliki riak-riak yang mengganggu, seperti kesalahpahaman, sifat-sifat dan watak asli yang tidak disukai oleh kita. Tetapi saya ingin menyikapinya dengan gambaran yang pernah saya sampaikan kepada satu orang sahabat saya (saya berharap dia membaca tulisan saya ini). Bahwa saya hanya ingin jika pernah ada setiap hal dari si sahabat yang membuat saya tidak berkenan, itu saya tuliskan di atas pasir kerelaan, sehingga ketika datang angin pengertian berhembus, maka segala hal yang tidak berkenan tsb akan ikut lalu bersama angin.

Sebaliknya, saya ingin diizinkan untuk mengukir setiap kebaikan sahabat dan teman baik yang telah saya terima, pada loh batu hati saya, supaya bahkan ketika badai kebimbangan datang menerjang pun untuk mengikisnya, maka ukiran semua kebaikan itu akan tetap tinggal selamanya, dan saya masih tetap dapat membaca semua kebaikan itu kapanpun saya ingin mengenangnya. Saya masih ada sampai detik ini juga tidak terlepas dari kebaikan para sahabat dan teman-teman, selain dari keluarga dan kerabat.

Di antara para sahabat, masih ada seorang sahabat yang paling karib dari semuanya. Dia tidak pernah meninggalkan saya kapanpun. Dia selalu siap sedia kapanpun saya memerlukan.  Dia bahkan sudah berkorban amat banyak untuk saya dan hebatnya lagi, sampai kini masih setia mendoakan saya dan Anda, para Pembaca sekalian. Dia adalah Tuhan Yesus Kristus, sahabat saya paling sejati. Dia adalah permata paling istimewa di mahkota hati saya. Tentulah Dia layak menempati bagian paling istimewa dalam hati dan dalam hidup saya.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin sampaikan kepada para Pembaca juga agar menjaga para sahabat dan teman baiknya, karena meraka itu adalah permata-permata indah yang menghiasi hati Anda. Sahabat dan teman baik juga sebaiknya diperkenalkan dengan pasangan resmi kita, agar terhindar dari kesalahpahaman. Sahabat dan teman yang baik semestinya bisa memiliki relasi yang baik dengan pasangan sahabat atau temannya itu.

Saya juga menawarkan kepada Pembaca semua, siapakah yang ingin menjadi permata yang ikut menghias mahkota sukacita di hati saya? Tentunya Anda harus tahu dulu apa indikasi dan kontra indikasi yang ada pada saya, ibaratnya hendak minum obat. Indikasi saya adalah, pengertian, ketulusan, kelembutan hati, kesediaan berbagi.

Sedangkan kontra indikasinya adalah, terkadang saya ini bercara radikal saking inginnya memberikan yang terbaik untuk sahabat dan teman baik, cuek kelewatan, apa adanya, beraninya sampai ke kategori nekad,  kadang cara saya berpikir dan bertindak sulit dicerna oleh orang-orang pada umumnya terutama oleh para perempuan, saya ini nyeleneh sampai sudrun, maka, silakan dipertimbangkan dulu indikasi dan kontra indikasi yang sudah terlampir, hihihi…

Pembaca sekalian, akan selalu ada tempat untuk setiap permata indah lambang dari setiap sahabat dan teman baik. Makin banyak permata yang menghiasinya, akan makin indahlah mahkota sukacita itu.

Ada yang mau?

Amigos para siempre!

Cordiali saluti ai cari amici,

Linda Cheang

PS : kepada Romo Budiman, Mi scusi, Padre. Prendo in prestito tuo saluto…

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

39 Comments to "Good friends are like diamonds, and diamonds are forever"

  1. AH  28 January, 2011 at 20:37

    dengan sahabat saya berantem terus, dengan teman baik jarang, hiks..

  2. Linda Cheang  10 January, 2011 at 10:26

    DA : halooooo. sahabat untuk selamanya… (yang tidak mengkhianati, lho!)

  3. Dewi Aichi  10 January, 2011 at 09:02

    Linda…okelah kalau begitu , amigos para sempre..!

  4. Linda Cheang  10 January, 2011 at 07:19

    Niken : Dear Niken. Putus terhadap seorang sahabat yang sudah jadi pengkhianat, tidak perlu membuat kita jadi anti terhadap orang-orang baru yang mungkin lebih layak jadi sahabat, toh?

    Terima kasih, sudah mampir. Have a beautiful week ahead.

  5. ElitaNiken  10 January, 2011 at 03:05

    tapi, betapa hancurnya hati ketika temen yg udah kayak diamond itu tiba2 menggunjingkan kita ancur2an dibelakang, lebih parah lagi, udah dipercaya tapi khianat… duuuuhhhh sebeeeeeeeeeeelllllllllllll lebih baik putus tus!!! hubungan dengan nyamuk setan!!

  6. Linda Cheang  8 January, 2011 at 11:02

    Pak ISK : sahabat yang baik atau mengkhianat, tergantung sikon.

    non sibi : betul.

  7. non sibi  8 January, 2011 at 09:23

    … and a lifetime is not too long to live as friends… http://www.youtube.com/watch?v=IbPKaIozS-c

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 January, 2011 at 14:02

    Sahabat berasal dari kata bahasa Arab. Tetapi anehnya saya tak punya teman orang Arab yg sangat dekat. Bagi saya persahabat bisa lebih dari saudara atau sebaliknya, bisa menikam dari belakang.

  9. Linda Cheang  7 January, 2011 at 12:59

    Pak Anwari : terima kasih sudha mau mampir.

    Kriteria sahabat atau hanya teman, memang itu bergantung dari kondisi kita sendiri. Seperti saya yang menyatakan memiliki sahabat dan teman, sementara buat Anda, cukup teman. Apapun sahabat atau hanya teman, kita perlu jaga mereka. Tapi kita juga tetap hati-hati, ya, Pak. Kepada para sahabat saya, tidak sedikitpun hal-hal paling pribadi saya beberkan kepada mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.