Menikmati Malioboro, sisi lain dari Yogyakarta

Bayu Winata


Yogyakarta, provinsi yang terletak bagian selatan pulau Jawa ini merupakan salah satu daerah tujuan wisata favorit yang ada di Indonesia, hal ini dikarenakan Yogyakarta banyak obyek wisata yang sangat menarik. Di Utara Yogyakarta, terdapat Gunung Merapi. Di Selatan Yogyakata terdapat pantai pantai yang Indah. Serta di tengah Yogya terdapat Keraton, yang merupakan obyek wisata budaya yang sangat menarik.  Selain hal hal yang disebut di atas. Yogyakarta memiliki obyek wisata yang menarik. Obyek wisata yang sering dilewati namun kadang kala sering dilupakan. Obyek ini, berupa jalan yang dikenal dengan nama Malioboro. Dan kali ini saya menikmati perjalanan menyusuri jalan ini.

Perjalanan saya kali ini, tidak di Gunung, tidak di pantai atau pun tidak di hutan rimba. Kali  ini perjalanan saya menuju kota yang dikenal dengan Kraton,Gunung Merapi dan Pantai Parang Tritisnya.Kota ini dikenal dengan nama Yogyakarta. Perjalanan kali ini  hanya untuk  sekedar menyisiri jalan yang sudah lama dikenal di Indonesia dan bahkan dapat dianggap sebagai ikon kota. Malioboro, nama jalan itu disebut.

Kereta bisnis  Fajar Utama Yogya, telah tiba dengan selamat di Stasiun Tugu. Saya langsung mengangkat tas ransel ku. Tas yang selalu menemani setiap perjalanan ku menyusuri keindahan negeriku. Segera saya berjalan keluar dari stasiun. Tidak sabar rasanya ingin menjelajahi kota ini. Kota yang dikenal dengan nama Yogyakarta.

Kota yang menyimpan banyak kenangan bagi saya. Begitu keluar dari Stasiun Tugu, langsung saja saya disambut dengan para pengayuh becak. Yang dengan ramahnya ingin mengantarkan saya ke tempat tempat wisata yang sangat menarik, dan tentu saja akan mengantarkan saya ke penginapan.

Namun tawaran menarik ini, saya tolak. Karena menikmati suatu perjalanan dengan berjalan kaki. Akan lebih menarik. Banyak kegiatan manusia yang dengan mudahnya bisa kita lihat. Setelah keluar dari Stasiun, segera saya berjalan mencari penginapan. Saya langkahkan kaki menuju Jalan Sosowijayan,nama jalan yang sudah sangat dikenal bagi para backpacker sebagai tempat yang menyediakan penginapan murah bagi para lowcost traveler seperti saya. Di jalan ini, banyak terdapat penginapan dengan budget yang sangat terjangkau. Dan setelah mendapatkan penginapan, meletakkan ransel. Maka saatnya  menyusuri Malioboro.

Menurut sejarahnya, jalan sepanjang 800 meter  ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, jalan ini  masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro. Dan nama Maliobro ini, diambil dari nama Bahasa Sansekerta yang berarti  Karangan Bunga. Pada masa kolonial Belanda, jalan ini dikenal karena di sini serangan Umum Satu Maret berlangsung.

Menyusuri jalan ini, banyak hal hal yang menarik yang bisa saya lihat

a.       Pusat Cinderamata

Dengan berjalan kaki saya menyusuri jalan ini, di kiri dan kanan saya terdapat banyak lapak pedagang kaki lima. Yang menawarkan dagangan mereka. Dagangan mereka khas. Yaitu cindera mata Khas Yogya. Miniatur becak, baju kaos dengan sablon yang khas, bunga-bunga kertas, dan tato temporary mengisi hampir sebagian besar ruas trotoar yang ada. Di Malioboro ini merupakan pusat penjualan cinderamata. Dan kita bisa memilih barang dan menawar dengan harga yang pantas kepada para penjual cindera mata ini.

Melihat para ibu ibu dan para ABG menawar barang dagangan tersebut, menjadi tontonan yang menarik bagi saya. Interaksi antara para pedagang dan pelanggan. Tawar menawar yang diakhiri dengan transaksi. Memberikan warna tersendiri, ternyata interaksi ini belum hilang. Di tengah gencarnya Mall Mall besar yang memberikan komunikasi satu arah saja. Potret yang menarik mengenai kesederhanaan Yogyakarta

b.      Pasar Bringharjo

Saya terus berjalan menyusuri jalan ini, suara bel para pengayuh becak terus datang silih berganti. Jalan ini sangat sibuk,becak hilir mudik saling bergantian membawa para wisatawan menikmati perjalanan menikmati Malioboro. Para wisatawan mancanegara terlihat sangat tertarik menikmati perjalanan  dengan becak. Selain becak, andong juga banyak terdapat di kawasan ini. Kaki ku terus melangkah. Dan tak lama kemudian, tibalah saya di pasar. Pasar yang dikenal dengan koleksi  batiknya. Bringharjo nama Pasar tersebut.

Di sini, saya bisa membeli koleksi batik yang ada, sprei batik, terusan, daster dan masih banyak lagi barang barang batik yang bisa dibeli. Koleksi di pasar ini, selain dari Yogyakarta juga berasal dari Solo dan Pekalongan, dan koleksi di pasar ini dapat dikatakan lengkap. Pasar ini terdiri dari 3 lantai. Lantai 1 merupakan tempat koleksi batik, Lantai 2 baju-baju konveksi, dan di lantai 3 terdapat para penjual bumbu dapur. Bau merica, bau cengkeh masuk ke hidung saya. Bau yang mengingatkan saya akan masakan Ibu di rumah. Sungguh pasar yang menarik. Selain denyut nadi perdagangan, di pasar ini banyak terdapat para pemanggul barang, mereka adalah para wanita tangguh. Yang rela berjalan dari desa mereka untuk sekedar mencari sesuap nasi di Yogyakarta

c.       Lesehan dan Angkringan  Malioboro

Setelah menikmati suguhan kesederhanaan khas Yogya, tidak terasa, malam sudah tiba. Wajah jalan ini berubah, tidak lagi dengan lapak pedagang cinderamata. Namun, sekarang para penjual makanan kaki lima yang memenuhi jalan ini. Pecel lele, burung dara, dan ayam goreng. Mengisi hampir sebagian dari jalanan.Terbit liur ku, karena mencium bau ayam yang digoreng, terbayang nasi panas dan ayam goreng sambel terasi dalam keadaan panas. Namun, sebelum mengisi perut. Saya menuju tempat yang merupakan ciri khas Yogya, tempat yang dikenal dengan nama Angkringan.

Menikmati susu jahe hangat sembari makan sate ceker ayam  merupakan pilihan yang pas untuk mengisi waktu luang sebelum saya makan di lesehan. Angkringan dikenal karena menyediakan  makanan  yang murah dan sangat merakyat. Di sini kita bisa mendengar gossip gossip khas kaki lima dan kadangkala keluhan dari rakyat.

Sembari menikmati susu jahe, sayup sayup saya mendengar suara para musisi jalanan  khas Yogyakarta.dengan menggunakan alat musik yang sederhana, mereka melantunkan Lagu “ Yogyakarta” dari Katon Bhagaskara,mereka adalah potret  para musisi yang jauh dari kesan mewah khas ibu kota. Menikmati susu jahe hangat, dan mendengarkan lagu dari musisi jalanan ini  merupakan kombinasi yang pas.

Setelah kenyang, maka aku pun kembali ke penginapan. Untuk istirahat. Masih banyak tempat yang ingin ku kunjungi di Yogyakarta. Seperti kata Katon Bhagaskara

“Pulang ke kotamu, Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu,Tiap sudut menyapaku bersahabat,

penuh selaksa makna,Terhanyut aku akan nostalgi

Saat kita sering luangkan waktu, Nikmati bersama

Suasana Jogja “

Notes:

1.      Menuju Yogya, dengan bus dari Jakarta dengan tarif  RP 110.000 untuk kelas Bisnis ataupun dengan Kereta Api dengan tarif Rp 120.000 untuk bisnis dan  Eksekutif Rp 300.000.

2.      Untuk penginapan di Sosrowijayan, terdapat tarif bervariasi. Dari Rp 85.000 samapi dengan  Rp 200.000, pilihan ada di tangan kita

3.      Dan jika penginapan di sosrowijayan tidak tersedia kamar, tenang saja karena di jalan Malioboro juga terdapat hotel yang memiliki harga yang bervariasi

4.      Jangan lupa untuk meminta daftar harga pada saat makan di kawasan lesehan Malioboro ini

5.      Jika belanja di pasar Bringharjo jangan segan untuk menawar. Dan silahkan belanja sepuasnya di kawasan pasar ini

6.      Setelah puas di jalan Malioboro, kita bisa menghampiri Keraton Yogya, Museum Vredeburg yang semuanya berada satu kawasan dengan Jalan ini

7.      Photo-photo di Artikel ini, menggunakan kamera manual, menggunakan film.

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

54 Comments to "Menikmati Malioboro, sisi lain dari Yogyakarta"

  1. bayuwinata  11 January, 2011 at 10:33

    @ all.. mbak,mas,om,kakak, dan handai taulan.. mohon maap baru balas..
    saya baru bisa Online..
    oh iya.. akan ada tulisan mengenai sekatenan..
    masih menunggu film nya di cuci..

  2. probo  10 January, 2011 at 22:11

    mbuh ah!……Dj sama Mbak Lani malah bikin bingung orang…..mbak Da tuluuung

  3. Dewi Aichi  10 January, 2011 at 06:22

    Iki piye to, bu Gucan, pak DJ, malah rebutan P…mbok ngalah salah satu….bu Gucan ngalah saja, biar P nya buat pak DJ saja….wkwkwkkwkw…ngguyu aku..(karo nggoleki Lani)..

    Wong bahas sisi lain kota Jogja malah do nggoleki P sik ilang…

    Grebeg memang khas banget kota Jogja, terakhir aku ikut uyuk-uyuk-an sekaten, ada musik dangdutnya, tapi musik dangdutnya Jupe lagi tenar-tenarnya(2009), pas di pasar malamnya, musik dangdut kenceng banget, ndilalah bojoku tilpon dari Jepang, eh malah salah paham, dikira aku ke diskotik oalah nasib..wong aku aja sama anakku , sama bapak ibuku je..dikira ke diskotik.

    Ikut lomba masukin kelereng ke dalam botol coca cola dengan sumpit, menang he he he….dapat dinner set cantik…lumayan..! Dilanjut keliling lagi, sambil nenteng dinner set yang berat, tangan kanan buat makan arum manis(apa ya nama sebenarnya), terbuat dari gula putih, membentuk seperti kapas..!

  4. Lani  9 January, 2011 at 22:33

    MBAK PROBO : ooooooo…….saiki aku wes ngeh banget “P” disini yg kau mangsut kembarane kepunyaan mbak Probo wakakakak…….yo ora sarulah mbak…….wong yg nyebut dirinya lanang pasti duwe……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *