Tarrega dan Koper Tua

Rama Dira


ADIK kembarku membanting koper tua itu di lantai, membuatnya terpisah menjadi dua bagian, isinya berhamburan. Meski sempat melirik ke arah perginya, aku tetap diam dan duduk tenang, kembali memandang ke luar, ke gundukan kuburan Ayah di taman belakang rumah sambil memetik gitar, memainkan komposisi terbaik Tarrega, Recuerdos de la Alhambra.

Ayahku pencinta musik, penyuka komposisi gitar klasik. “Kau harus selalu ingat, tanpa musik hidup hanyalah kekacauan” katanya mengutip Nietzche.

“Musik adalah juga pencerahan! Kalau kau mau hidupmu tidak kosong, cintailah musik, mainkanlah gitar klasik dan jangan lupa, bergurulah pada Tarrega. Dialah sang maestro yang telah mengangkat derajat gitar sebagai instrumen yang layak dipakai dalam konser musik klasik.”

“Gitar klasik tak akan pernah mati dimakan usia, sebab ia punya jiwa.”

Mulai usiaku lima tahun, Ayah sudah menjejalkan hal semacam itu ke dalam kepalaku. Ia terus saja meracuniku dengan pemikiran-pemikirannya, permainan gitar klasik dan cerita-cerita tentang Tarrega.

Meski memiliki dua anak lelaki kembar, Ayah hanya menujukan semua itu padaku. Menurutnya, itu semua bukan tanpa sebab. Waktu masih bayi, jika ia memainkan gubahan-gubahan Tarrega di samping kotak tidur kami, hanya mataku yang berbinar-binar, mulutku terbuka lebar, kedua tanganku lincah bergerak seperti ingin menangkap bunyi-bunyian indah itu. Sementara adikku, hanya berbaring menyamping tak peduli, sambil mengisap jempol tangan kanannya.

***


VILLAREAL, 12 November 1852.

Sebuah tangisan pertama pecah di siang yang panas. Seorang perempuan baru saja melahirkan, seorang perempuan lain bergegas menuju Biara San Pascual, tempat suami si perempuan yang baru melahirkan itu bekerja sebagai penjaga. Ia mengabarkan kelahiran itu dan Francisco Tarrega Tirado segera meminta ijin pulang. Dengan diiringi kebahagiaan dan do’a dari Pastor Sergio, Tarrega pulang dengan langkah-langkah riang.

Bayi lelaki itu sangat menyerupainya. Betapa riangnya ia. Bersama istrinya, mereka sepakat memberi nama bayi itu sebagaimana namanya : Francisco Tarrega.

***

Di hari ulang tahun yang ke delapan, Ayah menghadiahiku sebuah gitar. Ayah membelikannya ketika kami berjalan-jalan di Pasar Senggol pada suatu malam. Meski terkenal kaya berkat keuntungan tak henti-henti dari pabrik tekstil terbesar miliknya di kota ini, bukan berarti Ayah anti berbelanja di pasar tradisional. Di Pasar Senggol, ia sangat dikenal. Semua orang yang berpapasan dengannya menghormatinya. Itulah keunikan Ayah yang tak kutemui pada Ibu.

Ibu adalah tipikal istri orang kaya umumnya. Ibu menempatkan dirinya dalam pergaulan serba mewah. Bersama teman-temannya, ia gemar berbelanja ke mal-mal besar. Adik kembaranku, sering mengikuti Ibu.

Sepulang kami dari Pasar Senggol, dengan bangga adikku yang juga baru pulang bersama Ibu menunjukkan hadiah ulang tahunnya : seperangkat peralatan dokter-dokteran. Setelah tahu aku hanya diberi sebuah gitar kayu butut, ia tak henti-henti menertawakannya. Ibu juga memberikan reaksi.

“Kau mau membuat anakmu menjadi seniman jalanan? Bagaimana dia hidup nanti? Apa yang bisa diharapkan dari seni?”

Ayah memalangi bibir dengan jari telunjuknya meminta Ibu untuk tidak membicarkan hal semacam itu di depan anak-anak mereka.

***


VILLAREAL, 1858

Tarrega kecil sering ditinggal di rumah bersama pengasuh. Ayah dan Ibunya sama-sama bekerja di Biara San Pascual. Ayahnya sebagai penjaga dan Ibunya sebagai pembantu.

Di usia delapan tahun, Tarrega sudah bisa menghasilkan petikan-petikan yang indah sebagaimana yang biasa dimainkan Ayahnya pada malam hari.

Suatu kali, bosan terkurung di rumah, Tarrega kecil pergi ke luar rumah membawa serta gitar Ayah. Ia tak sabar bercengkerama dengan kebebasan, bermain di taman kota, di depan kawanan burung dara.

Tarrega terus saja berlari. Ia limbung dan terjatuhlah ia ke dalam kanal. Ia begitu terkejut dan sesuatu terjadi pada matanya. Tiba-tiba saja semuanya menjadi kabur kemudian menggelap. Ia hanya mendengar suara-suara.

***

Akhirnya kami sama-sama lulus sekolah menengah. Keputusan adikku untuk kuliah di Fakultas Kedokteran UI didukung sepenuhnya oleh Ayah dan Ibu. Sementara, keputusanku untuk tidak kuliah dan hanya akan belajar gitar klasik pada seorang gitaris di kota Yogya hanya didukung oleh Ayah.

Keberangkatanku pada sebuah pagi yang cerah tidak dilepas Ibu, hanya Ayah.

***

CASTELLON DAN BARCELONA, 1862

Setelah kecelakaan kecil itu, infeksi dan permasalah syaraf membuat Tarrega mengalami gangguang penglihatan. Pada tahun 1862, Ayah Tarrega mengajak keluarganya pindah ke Castellon. Di Castellon, Tarrega sempat berguru pada dua gitaris buta, Eugeni Ruiz dan Manuel Gonzalez.

Pada sebuah kesempatan, Julian Arcas -seorang gitaris konser yang termasyhur- dalam sebuah turnya di Castellon sempat menyaksikan permainan Tarrega. Serta merta ia terkesima dan menyarankan kepada Ayah Tarrega agar Tarrega kecil yang berbakat luar biasa itu berguru padanya dan ikut ke Barcelona.

Di Barcelona, Tarrega tak sempat belajar lama pada Arcas. Gurunya itu sibuk dalam konser kelilingnya di luar negeri. Di usianya yang baru sepuluh tahun kala itu, Tarrega mencoba merintis karier musiknya sendiri. Ia bermain di kafe-kafe dan restoran di sekitar Barcelona.

Setelah sempat menggelandang beberapa lama, Tarrega dijemput oleh Ayahnya untuk dibawa kembali ke Castellon.


***

Selama dua tahun belajar pada gitaris klasik yang baik hati : Priambada Sastradikrama, gubahan-gubahan Tarrega dan teknik permainannya tak lagi asing bagiku. Selain belajar, aku sering juga mengisi acara resital gitar klasik dari kampus ke kampus bersama Priambada. Ngamen sendirian di Malioboro juga rutin kulakukan saban Minggu. Minat yang bersetubuh dengan bakat, membuatku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Aku menjadi enggan meninggalkan kota ini.

Namun, sebuah kabar mengenai Ayah, memaksaku pulang. Ayah mengalami lumpuh badan sebelah. Kulihat Ayah dirawat dua orang pembantu, sementara Ibu masih sibuk dengan aktifitasnya. Sepertinya ia tak peduli lagi dengan Ayah. Karena itu, aku dan Ibu sempat bertengkar hebat.

Pada suatu petang yang mendung, di sela perbincangan kami tentang penguasaanku atas teknik treemolo Tarrega, Ayah memintaku memainkan Lagrima. Denting Lagrima menari-nari, memenuhi ruangan. Ayah sangat menikmatinya sampai-sampai kulihat matanya berkaca-kaca. Sepertinya, ada kenangan yang lekat dalam Lagrima itu. “Aku mendapatkan Ibumu berkat Lagrima.” Ia memberikan penjelasan tanpa kuminta.

Petang itu, Ayah tertidur dalam kesedihan. Kuselimuti dia. Ada gemuruh di dadaku menyaksikan kesakitannya. Kuperhatikan di luar, daun-daun berguguran. Dimana ibu? Kudengar desing pesawat di angkasa. Mungkin ia ada di dalam sana. Akhir-akhir ini, ia memang banyak berpesiar ke luar pulau, bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura.

***

MADRID, 1874

Adalah Antonio Canesa, seorang pengusaha kaya yang juga penggemarnya, membiayai Tarrega remaja untuk belajar demi meningkatkan keahliannya di Konservatori Madrid. Di konservatori itu Tarrega belajar komposisi di bawah arahan Emilio Arrieta yang selalu meyakinkannya bahwa, “Gitar membutuhkanmu dan kau pun terlahir untuk memainkannya, wahai Tarrega.”

***

Sebuah kabar datang, membuat dunia kami bertiga serasa runtuh. Di awal tahun itu, sebuah pesawat terjatuh dan meledak di laut. Ibu ada di dalamnya. Mendengar itu, Ayah yang masih sakit, semakin sakit. Ia menangis tersedu padaku dan pada adikku yang baru datang dari Jakarta.

Aku tak kuasa melihat penderitaan Ayah. Apalagi, semenjak kepergian Ibu, Ayah tak lagi memedulikan sisa hidupnya. Ia tenggelam dalam diam dan lamunan kosong tak berkesudahan.

Adikku kembali ke Jakarta, merampungkan studi kedokterannya. Aku bertahan di Balikpapan, merawat Ayah.

Beberapa tahun kemudian, pabrik tekstil Ayah bangkrut, semuanya tak tertolongkan. Aset perusahaan terpaksa dijual dan dari uang hasil penjualan itu kami bayarkan sebagai uang pesangon bagi lima ratus karyawan yang dengan berat hati terpaksa diberhentikan.

Kehidupan berputar cepat. Setelah pabrik tekstil Ayah bangkrut, kami mengandalkan biaya hidup dan perawatan Ayah dari hasilku memberikan kursus privat gitar klasik. Adikku sempat mendesakku untuk meminta Ayah menguangkan surat-surat berharga yang menurutnya ada di dalam sebuah koper tua yang disimpan Ayah. Aku tak pernah mengindahkan sarannya itu. Meski mungkin benar yang ada di dalam koper itu adalah surat-surat berharga yang bisa diuangkan, aku tak pernah mau mengusiknya.

Kesehatan Ayah semakin memburuk. Pada suatu senja yang belum utuh, ia memintaku memainkan karya terakhir Tarrega, Endecha et Oremus. Ia memintaku untuk terus memainkannya, mengulang-ulangnya sampai ia tertidur. Aku terus memetik, sampai ia tertidur, tertidur untuk selamanya.

***

1880-1909

Di musim dingin tahun 1880, Tarrega menggantikan kawannya, Luis de Soria yang terlebih dahulu sudah beroleh ketenaran. Luis de Soria berhalangan tampil dalam satu konser di Novelda. Penampilan pengganti Tarrega itu justru memukau dan memikat penonton. Segera setelahnya, dalam usia 28 tahun Tarrega mulai mendapatkan tempat dalam resital gitar klasik di Spanyol dan daratan Eropa.

Pada tahun 1881, konser Tarrega di Lyon dan Paris sukses besar. Pada tahun ini juga, Tarrega diundang untuk bermain di hadapan Ratu Spanyol, Isabela II. Sehabis itu, ia melanjutkan turnya ke London. Sepulangnya dari London, ia menuju Novelda dan menikahi Maria Rizo, bekas muridnya.

Sepasang pengantin baru itu pindah ke Madrid, dimana anak pertama mereka, Maria Josefa lahir dan meninggal. Mencoba menjauh dari kesedihan, mereka pindah ke Barcelona dan berpesiar dari sana menuju ke berbagai tempat untuk melakukan pertunjukan. Masa ini adalah masa kematangan Tarrega. Konsernya di Paris, Perpignan, Nice (Perancis), Cadiz, Mallorca dan Valencia (Spanyol) lagi-lagi menuai sukses besar.

Di Valencia dia bertemu Conxa Martinez, seorang penggemar kaya raya yang kemudian memberikan salah satu rumahnya untuk ditempati Tarrega dan isterinya di Sant Gervasi, Barcelona demi mendukung Tarrega untuk mencipta. Di rumah itulah Tarrega bisa mencipta gubahan-gubahan terbaiknya.

Meski sudah beroleh ketenaran dan capaian artistik di atas rata-rata, Tarrega masih tidak puas dengan bunyi yang tercipta dari petikan jari jemarinya pada gitar. Demi kesempurnaan capaian artistiknya, pada tahun 1902, Tarrega memotong kuku-kuku di jarinya sampai-sampai hampir habis, hingga ia merasa bisa menemukan karakteristik bunyi terindah pada saat memetik dengan jari jemari yang hampir tak berkuku itu.

Tarrega terus mengadakan konser-konser akbar di kota Bilboa, Spanyol kemudian di beberapa kota di Italia : Geneve, Milano, Firence, Naples dan Roma. Dalam semua konsernya, Tarrega mempertunjukkan penguasaan pada permainan gitar klasik yang tak tertandingi.

Pada Januari 1906 Tarrega menderita hemiplegia, setengah badannya mati. Dia tidak sembuh-sembuh. Pengobatan pada penyakitnya yang tak kunjung sembuh itu menguras habis keuangan keluarga. Teman-temannya membantu dengan mengadakan serangkaian konser gitar klasik. Penghasilan dari konser tersebut digunakan sepenuhnya untuk penyembuhan Tarrega.

Dua tahun dalam penderitaan, Tarrega akhirnya berhasil pulih dan memulai tur lagi. Pada Oktober 1908 dia rindu pada Castellon dan di sanalah ia memulai rangkaian konsernya. Pada 1909 dia melakukan tur ke Novelda, Valencia, Cullera dan Alcoi. Pada 2 Desember 1909 di Picanya, Tarrega menciptakan karya terakhirnya, Endecha et Oremus. Pada 3 Desember dia merasa teramat letih dan memutuskan pulang ke Barcelona. Pada 15 Desember 1909 di sebuah pagi yang baru, Tarrega pergi, meninggalkan dunia.

***

Ayah meninggalkan surat wasiat. Di surat wasiat itu tertulis : rumah besar ini dihibahkan pada Dewan Pengusus Sekolah Musik Klasik; gitar klasik kesayangannya diwariskan kepada adikku sementara koper tuanya ia wariskan kepadaku.

Mengetahui aku yang mendapatkan koper tua itu, adikku tak menerima. Menurutnya, ia yang lebih membutuhkannya untuk modal membuka sebuah rumah persalinan. Tanpa keberatan sedikit pun, aku yang memang tidak begitu peduli dengan harta warisan memberikan saja koper itu kepadanya dan gitarnya ia berikan kepadaku.

Ia langsung membuka koper itu. Setelah terbuka, ia kecewa melihat isinya yang bukanlah surat-surat berharga, tapi kertas-kertas partitur dan beberapa coretan gubahan karya Ayah sendiri. Ia membanting koper itu dan pergi begitu saja.

Kini, petikanku atas Recuerdos de la Alhambra selesai. Kuambil koper tua beserta isi-isinya yang berserakan kemudian membawanya menuju ke taman belakang. Di atas kuburan Ayah, aku berpamitan.

“Aku harus kembali ke Yogya, Ayah. Sebuah kursi kayu tua yang biasa kududuki dalam konser jalananku di Malioboro sudah lama menungguku…”

Tarakan, 5-10 Maret 2009

8 Comments to "Tarrega dan Koper Tua"

  1. lani  11 January, 2011 at 08:56

    DA, RAMA DIRA : yak opo ki rek?????? aku mo dibikinkan crita comedy?????? cihuiiiiiiiiii…….siaaaaap grakkkkkkk……….DA ming kudu kelingan tokoh lanang sing arep didapuk kudu matane berkelir lo yaaaaaaaaa…………ingat japriku kkkkkkkkk kemekelen aku saiki

  2. Dewi Aichi  11 January, 2011 at 08:53

    eh ada mas Rama Dira…..suit suit…! mas Rama, thank you linknya….wah cerpen mas Rama yaaa…..besok aku baca, aku udah pamitan mo tidur nih he he…mas Rama..cerpen komedi punya ngga??? kalau ngga punya, tolong kisanya Lani van Kona dibikinkan cerpen, nanti tokoh prianya aku yang nyariin yaaa wkwkwkw…

  3. Linda Cheang  11 January, 2011 at 08:52

    Pak ISK : japri ajah, yah.

  4. Rama Dira  11 January, 2011 at 08:47

    Makasih buat teman2 yg menyempatkan baca. Baca juga cerpen saya di Kompas minggu ini : http://cerpenkompas.wordpress.com/2011/01/09/tulang-belulang/#comments

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 January, 2011 at 00:34

    Saya sangat suka lentingan gitar Tarrega. Oh ya, Linda bagaimana ceritanya kita rekonsiliasi koleksi musik klasik. Bagaimanan caranya saya beri tahu tentang algu yg saya sudah punya? Masalahnya, saya punya sekitar 50an keping. Masak ketik satu2.. Nanti dipikrkan dech.

  6. J C  9 January, 2011 at 23:04

    Cerita yang apik dan asik…mengalir dengan logika-kronologis-waktu yang dicandai… (halah bahasaku… )

  7. Djoko Paisan  9 January, 2011 at 18:00

    Terimakasih Rama Dira…..
    Cerita yang bagus……
    Salam Sejahtera dari Mainz…

  8. Linda Cheang  9 January, 2011 at 12:26

    Te recordaras en cada canto! Bien!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.