Anno Nuovo

Alfred Tuname


Apa yang baru dengan tahun baru? Tak ada yang baru di tahun baru. Tahun baru hanya rutinitas pergantian yang terjadwal. Bahwa masa depan pasti akan ada lagi tahun baru. Baru mendefenisikan segala sesuatu yang belum ada sebelumnya. Itu pengertian leksikogragfis.

Kamus besar bahasa indonesia. Sementara pergantian tahun dengan jumlah hari tertentu selalu sama selama tahun itu masih ada. Mungkin pengertian baru dalam frase tahun baru adalah angka tahun yang bertambah. Angka tahun terus bertambah melesat gradual pelan sejak penanggalan itu ada.

Adagium “there is nothing under the sun” menohok pikiran bahwa tak ada yang baru selama matahari masih bersinar. Semuanya pernah ada  dan akan selalu ada. Kebaruan itu tidak muncul secara given.

Kebebasan adalah conditio sine qua non untuk mendapatkan sesuatu yang baru itu. Selebihnya adalah solidaritas untuk mempertahankan sesuatu yang sudah ada dan terus berkelana mencari sesuatu yang belum ada. Tanpa kebebasan dan solidaritas tahun baru hanyalah sebuah seremoni belaka di mana orang menanti sebaran kembang api yang pecah di angkasa. Dan pecahan api dan dentuman keras masih terjadi di rumah-rumah ibadat.

Perang di belahan timur dan barat masih saja bergenderang. Terorisme tetap mengancam peradaban. Pengamat terorisme menebar kekerasaan dalam rumah tangganya sendiri hingga memunculkan bibit teror dalam diri anak. Manajemen “gayusian” dalam keuangan negara masih terjadi. Kekuasaan dan hukum pun dipakai untuk membebaskan para koruptor dan kroni lalu merantai rakyat.

Namun, di malam tahun baru selalu ada doa. Doa dilambungkan sebelum kembang api pecah di udara. Bahasa doa adalah bahasa harapan untuk hari esok yang lebih baik. Aku, kita, bangsa, negara dan dunia yang lebih baik.

Dalam doa, ada credo bahwa Tuhan akan membantu jika bersama mencari jalan terbaik untuk dunia yang damai (world peace). Credo disertai dengan nyanyian top hits revolusi Prancis: libérté, égalité, fraternité ou la mort. Bahwa bangsa Indonesia hampir kehilangan libertas, egalitas dan fraternitas.

Pemeluk ahmadyah, pers, petani, rakyat Porong dan Sidoharjo, et cetera sudah merasakan itu. Masalah ketidakadilan dan kemiskinan seperti realitas di atas bukan sekadar pekerjaan rumah tetapi tugas mendesak yang harsus pemerintah selesaikan. Prinsipnya bukan hanya pada penjara political will tetapi tindakan riil. Rakyat yang sudah lama menderita tidak lagi mau “membeli” dengan  harapan.

Spem pretio non emo. mereka punya pemimpin yang dipilih. Mereka bukan “als een kip zonder kop”. Mereka ingin pemimpin yang datang dengan solusi dan kebijakan tegas bukan janji dalam orasi basi dan abu-abu. Mereka membutuhkan mendengarkan suara mereka. 2011 adalah waktunya untuk ketegasan itu sebab periculum in mora (bahaya menanti dalam penundaan).

Sekarang tahun 2011. Tahun baru. Kemeriahan malam tahun baru 2011 boleh menjadi tanda optimisme hidup di masa yang akan datang. Tahun baru berarti awal melupakan tahun yang lama. Tahun baru adalah pembenahan. Pembenahan kehidupan berbangsa yang lebih baik dan kehidupan bertanah air yang lebih aman.

Baik dan aman untuk Indonesia yang sejahtera dan bermartabat. Sejahtera dalam negeri, bermartabat dalam dunia internasional. Tanpa pembenahan, anno domini yang dirayakan akan hanya menetaskan lumpur penderintaan baru bagi anak-anak bangsa. Artinya kita tidak pernah berubah. Tidak ada yang kebaruan. Akhirnya selamat tahun baru, mari menyambut gelombang masa depan dengan rentangan layar optimisme yang lebar untuk Indonesia yang lebih baik.

Djogja, 03 Januari 2011

Alfred Tuname

10 Comments to "Anno Nuovo"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  10 January, 2011 at 23:13

    Satu hal yang perlu dipertanyakan tap tak pernah dpermasalahkan. Mengapa dalam peradaban barat tahun baru selalu dirayakan dengan suka cita, glamour, hura-hura, meriah, bising, hingar bingar, bahkan pesta seks. Bandngkan dengan peradaban timur, selalu merakayak tahun baru dengan “menyengsarakan diri”. Lihat aja, Tahun Baru Saka, dengan amati geni dan amati-amati lainnya. Orang Jawa nelangsa menghadapi tahun baru Suro. Tak tahu orang Yahudi atau Shinto atau Sunda Wiwitan. Pasti tak jauh dr perenungan dan keprihatinan untuk siap-siap mengahadapi waktu depan yang gelap tak bisa diterka.

  2. Anastasia Yuliantari  10 January, 2011 at 16:26

    @Yu Lani: Aku tahu apa harapan Alfred di tahun ini….hahahhahaa (Ped, dah ditunggu di Lapangan Motang Rua, tuh….di bawah Langke Rembong)

  3. Lani  10 January, 2011 at 12:37

    AT : pertanyaanku APA RESOLUSI TAHUN BARU MU??????? cakep2 kok ngilangan kkkkk

  4. Djoko Paisan  10 January, 2011 at 12:15

    Yang baru adalah bilangannya, dari 2010 menjadi 2011…
    Harapan harus ada, tanpa harapan semuanya bagaikan mimpi…..
    Terimakasih bung Alfred….

  5. HN  10 January, 2011 at 10:41

    Tante Dewi: apa harapanmu?

  6. Linda Cheang  10 January, 2011 at 10:15

    tahun baru, harapan baru, dan berani untuk berubah ke arah yang barum, enggak terus-terusan di zona nyaman thok.

  7. Dewi Aichi  10 January, 2011 at 09:08

    Aku tak berharap banyak, cukup satu saja..

  8. J C  10 January, 2011 at 08:54

    Alfred, hopes adalah semacam spritual fuel supaya hidup lebih dinamis, kita masih memiliki harapan untuk Indonesia yang lebih baik…amiiiiinnn…

  9. Dewi Aichi  10 January, 2011 at 08:52

    Feliz Ano Novo para todos..!

  10. [email protected]  10 January, 2011 at 08:35

    pertamax

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.