Ketika Warga Jadi Pewarta

Rusdianto


Kerap terbukti, revolusi di bidang teknologi informasi secara tiba-tiba mewujudkan apa yang pada mulanya enggan –khawatir– kita bayangkan. Hingga, tak ada salahnya bila sekarang kita mulai berani membayangkan, kelak ada masa dimana profesi juru berita, kuli tinta, wartawan, jurnalis atau apapun namanya tinggal sejarah. Kemungkinan ini sulit disangkal. Teknologi internet terus-menerus melahirkan beragam fitur yang memungkinkan setiap orang bukan wartawan mengunggah berita; artikel-foto-video real time dengan mudah (dan tentu saja gratis).

Kita telah sampai di era warga boleh jadi pewarta. Era dimana teknologi informasi berhasil mewujudkan cita-cita tertingginya yakni, demokratisasi. informasi dari, oleh, dan untuk warga. Warga tidak lagi melulu mengkonsumsi namun sekaligus berkesempatan memproduksi berita. Punahnya profesi wartawan penuh waktu niscaya konsekuensi tidak terelakkan.

Internet memungkinkan setiap warga bertukar kabar melintasi ruang dan waktu. Lalu lintas informasi telah sedemikian padat lebih dari yang pernah kita bayangkan sebelum pergantian millenium. Warga perlahan meninggalkan ketergantungan pada berita arus utama yang disajikan oleh konglomerasi media (kenapa institusi media cenderung mengkonglomeratkan diri?).

Sekaligus memberikan informasi pembanding dengan kualitas seimbang-setara. Untuk kasus Indonesia, kabar ini sungguh menggembirakan, mengingat konglomerasi media di negeri ini masih dimiliki oleh segelintir pengusaha yang menyaru sebagai politisi –atau sebaliknya?-, dan kadang tidak malu-malu mengkhianati kode etik jurnalistik demi ambisi politik juga usahanya.

Mungkin era yang dimaksud masih butuh waktu lama sebelum mewujud sempurna. Media-media mapan sekarang ini juga belum terburu-buru melepaskan ketergantungannya pada wartawan permanen. Gejala yang nampak saat ini masih dalam tahap transisi. Dimana media-media mapan mulai menfasilitasi, dan membuka pintu pasokan berita dari jalur jurnalisme warga. Di sisi lain, mereka tetap bergantung kepada sejumlah wartawan permanen yang disebar disejumlah titik demi memastikan kontinuitas berita.

Tapi dengan tingginya minat warga untuk berpartisipasi, lama kelamaan pasokan berita dari warga diprediksi semakin membesar porsinya, khususnya media berbasis internet. Terlalu dini kalau saya katakan peran wartawan penuh waktu bakal terdepak, tapi sekali lagi, teknologi informasi memaksa kita mesti berani membayangkan kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak mungkin.

Di tengah perjalannnya mencari bentuk, jurnalisme warga mulai menarik minat karena keunggulan komparatif yang tidak dimiliki jurnalisme mapan. Dalam jurnalisme warga, pewarta sekaligus juga saksi mata. Dahulu, wartawan harus ngepos disejumlah titik dimana sumber berita berada untuk mengais berita. Tetapi mereka bahkan tidak punya cukup waktu jika dipaksa hadir disuatu lokasi tepat disaat bersamaan terjadinya peristiwa; Tsunami, Banjir bandang, gunung meletus, kecelakaan, meteor jatuh, tabung gas meledak (lagi, dan lagi) gedung runtuh dan sebagainya.

Ketergantungan media pada jurnalis permanen yang jumlahnya terbatas mustahil bisa menjangkau semua kejadian bernilai berita. Fakta yang terjadi di lapangan dominan memperlihatkan jurnalis media TV yang datang tergopoh-gopoh hanya untuk menayangkan puing-puing reruntuhan, olah TKP, plus wawancara dengan saksi mata melulu.

Keterbatasan itu sering memaksa media (khususnya TV) membuka peluang bagi warga yang memiliki rekaman lansung kejadian untuk ditayangkan. Kualitas gambar diabaikan demi nilai berita. Walaupun dibubuhi keterangan video amatir; amatir dalam arti tanpa –atau minim– teknik, polos karena mereka tidak pernah punya pretensi terhadap berita, selain spontanitas dan kejujuran belaka.

Lepas dari segala kelebihannya, Jurnalisme warga punya banyak pekerjaan rumah yang mesti segera dibereskan. Yang paling krusial tentu saja lemahnya kepercayaan masyarakat (kecuali produk jurnalisme warga yang ditayangkan di media TV mapan). Faktor ini berkaitan erat dengan kompetensi serta integritas pewarta warga. Maka, situs jurnalisme warga semacam www.baltyra.com , harus mengambil langkah tegas demi menjaga kredibilitas setiap konten.

Salah satunya mungkin dengan mempertimbangkan penayangan reportase & opini dari member bernama Alias. Pembaca/pemirsa mungkin tidak peduli siapa wartawan di balik berita yang dipublikasikan media-media arus utama yang konsisten dan persisten membangun kepercayaan masyarakat. Namun Kejelasan figur pewarta penting bagi pembaca untuk meyakini kebenaran berita yang berasal dari jalur jurnalisme warga. Maklum, mereka sering ditipu oleh desas-desus yang menyaru berita. Terlebih dalam klausul Syarat dan Ketentuan – pengelola blog social media biasanya terang membebaskan diri dari tanggungjawab atas konten yang ditayangkan. Lalu pada siapa pembaca/pemirsa menyandarkan kepercayaan?

Saya menaruh harapan semoga baltyra.com serius memerankan fungsinya sebagai peletak standar mutu jurnalisme warga.

Masih banyak pekerjaan rumah yang musti dibenahi dalam upaya kita menciptakan dunia informasi dimana warga menjadi pewarta. Namun, kehadirannya niscaya, Maka, sambil menunggu tibanya era itu, tak ada salahnya bagi rekan-rekan jurnalis penuh waktu, mulai dari sekarang memikirkan sebuah profesi baru.

* * *

Rusdianto. Peminat blog social media. Aktif menulis flash fiction & cerpen di blog pribadinya www.antojournal.com serta artikel resensi buku fiksi & tips menulis fiksi di www.indonovel.com. Sekarang berdomisili di Makassar.


36 Comments to "Ketika Warga Jadi Pewarta"

  1. Jhony Lubis  13 January, 2011 at 07:42

    Asyiiikkk baca perdebatan membuat kaya perspektif opini……. sebenarnya selain sulit menulis artikel, sulit juga “membaca” secara benar….. baca huruf sih mudah sekali, baca cerdas yg sulit……. *smile.
    Baca berulang mungkin solusinya…. wkwkwkwk….

  2. lani  12 January, 2011 at 07:36

    LINDA : hadooooooooh…….semangkin wokeh pengikut sekte sesatku?????? wakakkak……yg penting tdk merugikan org lain, tdk bikin sakit org lain majuuuuuuuu trs……..

  3. Linda Cheang  12 January, 2011 at 07:05

    hidup gemblunk, hehehe. setujuh karo Lani!

  4. lani  12 January, 2011 at 06:31

    MBAK NUK : good night………and sleep well……

  5. nu2k  12 January, 2011 at 05:48

    Betuuul betuuul, Jeng, gemblung itu termasuk sehat atau tidak sehat sih? Soalnya teoriku kita harus sehat dulu baru bisa merdeka, dalam segala hal. Mau jalan ke Mainz bisa, mau ke Kona, joooo biiiisa (ning duité nyelengi ndisik). Jadi gemblung itu dalam hal ini, bukan penyakit toch.. Ha, ha, haaa.. Kondhoo dimas ISK, nanti dia rak terkekeh kekeh, melok gemblung. Wiiiissss, saya mau coba tidur ya. Ndek ingi nganték jam setengah tiga pagi baru bisa tidur… Saiki jadi agak flu, karenaa konditie badan lemah, kurang tidur…. Doei…… Selamat bekerja.. Nu2k

  6. lani  12 January, 2011 at 05:34

    MBAK NUK : durung sare to? jik betah melek?????? aku gak pernah puas utk dan akan sll menyebarkan virus ku iki………krn dgn menggemblunk……….malah bikin sehat looooooooo……..itu artine yg udah gak iso nggemblunk bakal ditempeli virus stress……….pisssss

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.