Senja di Chao Phraya (4)

Endah Raharjo


Bab 1: Setitik Cinta di Megakota (4)

Selasa larut malam. Laras melihat keluar ke Sungai Chao Phraya melalui jendela kamar hotelnya di lantai 7. Terlihat riak-riak air sungai tertimpa siraman lampu-lampu dari bangunan yang berderet-deret di kanan-kirinya. Bias-biasnya menari-nari dan berpendar-pendar. Pemandangan seperti itu sudah puluhan kali ia nikmati setiap ia berada di Bangkok, namun matanya tak bisa terpuaskan. Ia ingin lagi dan lagi, tak mau berhenti.

Laras menyikat rambutnya dan tersenyum pada bayangannya sendiri di dalam cermin. Senyum yang malu-malu. Teringat kejadian tadi di teras restauran.

“Hei! Kenapa? Aku kangen kamu juga,” bisik Osken lembut di telinga Laras ketika perempuan itu berusaha melepaskan diri dari pelukan Osken.

“Badanku berkeringat,” tukas Laras malu-malu. “Kamu sudah ganteng begitu. Ada urusan di sini?” Laras berbasa-basi sambil memandangi Osken yang rapi dari rambut sampai kaki. Hatinya berharap Osken akan bilang bahwa dirinya sengaja mendatangi dan menunggu Laras, bukannya ada rendezvous dengan temannya yang menginap di hotel itu.

“Menurutmu apa?” Goda Osken sambil membantu Laras duduk dan meletakkan barang-barang bawaannya. “Sudah makan?” Osken melepas kacamata dan memandang Laras dengan sorot memuja. Pandangan menghanyutkan yang telah lama tidak diterima Laras dari seorang laki-laki.

Laras mengangguk sambil membuang mata ke arah sungai. Jantungnya serasa berlarian dipandangi begitu rupa oleh Osken. Laras ingin memenuhi ruang kosong kalbunya dengan gelombang-gelombang hangat yang terpancar dari pandangan Osken. Ingin berenang di dalamnya. Menjadi kuyup olehnya. Namun akal Laras mengingkarinya. Ia memilih memandangi riak-riak sungai Chao Phraya.

“Aku lihat kamu dua hari lalu di atas shuttle boat,” Osken bercerita tanpa diminta. Jadi itulah jawabannya.  Osken tahu Laras berada di hotel bintang lima itu karena melihat dirinya ada di dalam shuttle boat hotel. “Boat kita beriringan. Boatku berbendera oranye, tentunya, tidak classy seperti boatmu.” Osken bercanda sambil kepalanya menengok ke arah shuttle boat hotel yang kini tertambat di dermaga.

“Aku tidak bermaksud menakuti kamu, Laras.” Nada suara Osken lembut dan bersahabat. Yang dimaksud Osken pastilah persitiwa Sabtu malam ketika ia mengundang Laras makan malam yang disusul dengan perginya Laras dari Hotel Golden Temple.

“Ah! Lupakan saja. Aku yang salah. Aku berlebihan. Aku…” Laras gelagapan.

“Aku mengerti.” Osken memotong. Pengalaman dan latar belakang budaya lelaki tengah baya itu mengajarnya untuk tidak mengungkit peristiwa lalu yang membuat malu atau menimbulkan rasa bersalah bila dibahas. Sudah berlalu. Meskipun tidak ada penjelasan, masing-masing sudah bisa menduga sebab musababnya.  “Aku suka bersahabat dengan kamu, Laras. Aku menikmatinya.”

“Aku juga menikmati pertemanan kita,” Laras segera bisa menguasai diri dan tidak ingin berbasa-basi karena Osken tidak memerlukannya. Postur dan wajah Laras tidak beda dengan warga lokal. Hanya rasa tertarik yang kuat yang membuat Osken mengenalinya dari kejauhan ketika ia berangkat ke kantor naik shuttle boat hotel.

Mereka saling pandang dalam diam. Saling menyampaikan perasaan masing-masing dengan cara yang santun dan tidak berlebihan. Rasa saling suka antara dua orang dewasa yang bermartabat yang sama-sama sudah banyak melihat, mendengar dan mengalami drama kehidupan. Rasa saling mengagumi yang wajar.

“Sudah larut, Laras.” Osken memecah keheningan. “Kita ulangi lagi rencana kita yang dulu gagal?” Senyumnya terkembang. Senyum lelaki dewasa yang menentramkan, yang berkata bahwa kalau Laras menolak dirinya akan baik-baik saja.

“Oke!” Laras mengangguk cepat. “Kapan?”

“Besok malam? Sehabis kerja? Jam 7.30? Di restoran India?” Suara Osken terdengar penuh semangat.

“Restoran India!” tukas Laras riang. “Kita perlu jabat tangan?” Laras mulai bisa bercanda lagi.

Mereka berpisah setelah berpelukan ringan. Tanpa menoleh Laras tahu Osken berdiri tegak memandangi langkahnya dari belakang karena ada rasa nyaman menjalari punggungnya dan menghangatkan hatinya.

***

Paginya Osken nongol di restoran di hotel tempat Laras menginap. Ia ingin sarapan di sana. Perempuan yang hatinya penuh oleh manisnya madu itu sampai tersipu-sipu. Rasa senang bercampur malu membuat Laras salah tingkah dan Osken tampak amat sangat menikmati hasil dari kejutan yang dibuatnya. Selepas sarapan mereka naik shuttle bus bersama menuju stasiun skytrain.

Sejak rekonsiliasi itu, mereka jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama di luar jam kerja. Laras bahkan bersyukur karena kali ini tidak ditugaskan ke lapangan, ke perbatasan Thailand dengan Myanmar. Anak-anak Laras sampai protes karena mama mereka tiba-tiba sering lupa ngobrol lewat skype bila tidak diingatkan.

***

Jum’at, hari terakhir Laras berada di Bangkok. Ia pamit pada seluruh koleganya untuk meninggalkan kantor lebih awal. Ia tampak sedih sepanjang hari sampai-sampai para koleganya mengira salah satu anaknya sakit.

Laras takut akan kehilangan Osken begitu mereka berpisah. Laras sadar, dirinya hanya salah satu dari banyak perempuan mapan yang telah menjada dan tidak lagi bermimpi untuk menemukan lelaki yang bisa dan mau menghiasi hari-hari mereka.

Berdasarkan pengalaman sendiri serta teman-teman dan kenalan, di Indonesia janda sering dijadikan bahan olok-olok bahkan dalam forum-forum resmi dan terhormat. Laras sudah empat tahun hidup mengakrabi olok-olok itu. Lama-lama ia kebal. Bukan salahnya kalau suaminya dipanggil Tuhan saat usianya masih muda. Dulu, sekitar seminggu sehabis suaminya dimakamkan, setiap pagi saat membuka mata Laras berdoa agar ia mampu bangkit dari tempat tidur untuk memulai hari.

Laki-laki seusianya yang menarik hati dan minatnya sebagian besar sudah beristri. Laras tahu, trend gaya hidup di Indonesia mulai sedikit bergeser, banyak lelaki maupun perempuan memilih hidup lajang hingga usia empat atau limapuluhan karena menolak menikah kalau hanya demi status belaka. Tapi jumlah orang semacam itu sangat terbatas dan Laras belum menjumpai satupun yang menarik minatnya.

Kini, Osken yang lajang, yang menarik hatinya, yang matang oleh pengalaman, yang juga menyukai dirinya dan tahu bahwa Laras janda, akan segera ditinggalkannya. Kalau tidak malu pada diri sendiri, Laras pasti sudah membiarkan air matanya terburai.

“Mega dan Angka,” bisik hatinya menyebut nama anak-anaknya. “Mama akan segera pulang.” Demikian Laras mencoba memfokuskan pikirannya pada dua buah rahimnya. Melupakan kepentingan diri dan kepiluan hatinya.

Laras juga memanjatkan doa panjang untuk mendiang suaminya. Senyum pedih tergambar di bibirnya ketika ia mengakhiri doanya dengan meminta ijin pada Tuhan agar jiwa suaminya mengikhlaskan Laras mencintai Osken. Laras berpikir, mungkin dengan begitu, beban hatinya akan menjadi lebih ringan.

***

Osken menggandeng tangan Laras menyusuri dek kayu yang menghubungkan lobby belakang hotel dengan dermaga tempat shuttle boat ditambatkan. Laras melihat ada sebuah boat kecil di belakangnya.

“Itu yacht milikku,” kata Osken berseloroh sambil terus menggandeng tangan Laras menuju boat kecil yang disewanya itu. Laras tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah Osken yang dengan lucu mempersilakan Laras menaiki boat.

Pengemudi yang sudah tua ikut-ikutan terkekeh memamerkan giginya yang ompong di sana-sini. Disapanya Laras dengan bahasa Thai.

“Saya bukan Thai. Saya dari Indonesia,” jelas Laras tak ingat bahwa pengemudi boat itu pasti tidak mengerti apa yang diucapkannya. Orang Thailand memang unik, meski negerinya dibanjiri wisatawan dari seluruh penjuru dunia, mereka tidak mahir berbahasa Inggris.

Laras mengatakan lagi bahwa dirinya orang Indonesia ketika pengemudi itu terus terkekeh-kekeh mengajaknya bicara.

“Aaaahhh… Malaysia…” Kata si pengemudi.

“Indonesia,” ralat Osken.

“Aaaahhh… Ing-ndoo-nes-saa… Aaaahh…”

Mereka bertiga tertawa bersama.

Laras dan Osken duduk berdampingan mengahadap ke arah matahari senja. Boat melaju menuju pusat kota. Angin memburaikan rambut panjang Laras, menebarkan aroma Jadore-nya Christian Dior. Tangan Osken ia genggam kuat-kuat. Ia tidak bertanya akan dibawa kemana oleh lelaki yang mulai mengisi ruang kosong di hatinya itu.

Mereka berpandangan. Osken menikmati dirinya terapung-apung dalam keindahan  senyuman Laras.

“Kamu besok pulang kan?” Osken akhirnya membuka percakapan. Suaranya ia tinggikan mengatasi suara desing mesin boat. Osken memberi isyarat agar pengemudi boat mengurangi lajunya.

Laras mengatupkan matanya sambil mengangguk.

“Aku akan berkunjung ke Jogja setelah selesai di Kalkuta. Boleh kan?” Tatap mata Osken menyampaikan ribuan kata. Laras menggenggam tangan Osken lebih kuat lagi. Ia merasa tidak perlu berkata-kata.

Boat kecil itu semakin pelan, siap merapat ke dermaga di Central Pier. Rupanya Osken mengajak Laras nonton film yang didahului dengan makan malam di rumah makan Jepang favoritnya.

Sementara itu warna kuning langit berubah kemerahan di cakrawala dan semilir angin menyebarkan segarnya aroma air sungai Chao Phraya, membuai senja menuju dekapan sang malam.

*****


Bab 1, ‘Setitik Cinta di Mega Kota’ selesai di sini. Jangan pergi dulu. Minggu depan Osken dan Laras menjalin kisah di tempat lain.




Bab 1: Setitik Cinta di Megakota (3)

13 Comments to "Senja di Chao Phraya (4)"

  1. Santy Novaria  12 January, 2011 at 13:50

    Mbak Endaaahhh…
    Aku menyusul disini yak..

  2. olga  12 January, 2011 at 11:57

    numpang lewat. buat kawan2 yg punya naskah bagus, link temen saya ini mungkin membantu:
    http://www.facebook.com/l.php?u=http://andifiction.multiply.com/journal/item/26/kirimkan_tulisanmu&h=a02cd

    silakan dibuka dan dicoba…

  3. Mawar09  11 January, 2011 at 04:34

    Endah: ceritanya makin asyik. Ditunggu lanjutannya, percaya deh…. ngga akan bosan bacanya. Salam!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.