Ada Apa Dengan Rasa Malas?

Khrisna Pabichara


Catatan: Setelah membongkar e-mail, akhirnya bersua beberapa tulisan “masa lalu”.

Hal terbesar di dunia ini bukanlah di mana Anda berdiri,
melainkan kemana Anda akan pergi.

GOETHE

Sebuah pepatah lama sengaja saya pilih untuk memulai tulisan ini: Siapa cepat dia dapat. Di mana pun, kapan pun, dan siapa pun pasti tahu bahwa persaingan makin ketat terjadi di segala sisi kehidupan kita. Iklim kompetisi menuntut kita selalu gigih dan kukuh. Jika tidak, risiko yang mungkin menimpa kita adalah tersingkir dan menjadi pecundang.

Coba Anda simak percakapan berikut ini.

”Maya, tolong selesaikan proposal training untuk bulan depan. Secepatnya, ya?” tutur Sang Bos kepada sekretarisnya.

”Pak, bagaimana kalau besok saja, Pak? Masalahnya, proposal untuk bulan ini saja belum selesai.”

”Loh, bukankah seharusnya itu sudah selesai sejak minggu kemarin?” tanya Sang Bos.

Sekretarisnya cengengesan. ”Maaf, Pak…”

Karakter apa yang dapat Anda lihat dalam diri Sekretaris Sang Bos? Mungkin Anda akan mengecapnya sebagai seorang pemalas. Mungkin juga menudingnya sebagai sekretaris yang lamban. Pendapat itu sah-sah saja. Siapa pun–boleh jadi–akan menempelkan image malas pada sekretaris itu. Padahal, boleh jadi sekretaris itu mengalami peristiwa mengenaskan, sehingga ia tidak bisa menyelesaikan tugasnya tepat pada waktunya. Akibatnya, Bosnya jadi kurang respek. Kenapa? Karena semua perusahaan pasti mengharapkan loyalitas dan profesionalitas karyawannya.

Hasilnya, bisa saja, akan berbeda seandainya sekretaris Sang Bos itu menjawab, ”Minggu kemarin ada keluarga saya kena musibah, Pak. Tapi saya usahakan untuk menyelesaikan proposal itu secepatnya.”

Jika jawaban yang dilontarkan Sekretaris seperti itu, mungkin saja Sang Bos tidak akan menudingnya pemalas. Jadi, intinya adalah Sang Bos itu antipati terhadap sikap malas sekretarisnya. Bahkan, kita juga sering ’kurang respek’ terhadap orang pemalas.

Mengapa seseorang menjadi pemalas?

Bambang Santoso seorang karyawan Bank Indonesia Bandung, saat mengikuti Team Building Program pada 1-3 November 2003 di Bumi Perkemahan Ciwideuy, Bandung, menyatakan, ”Malas itu dipicu oleh kebiasaan memandang remeh sesuatu, termasuk pekerjaan. Ada orang yang terlalu menggampangkan pekerjaan. Akibatnya, mereka menunda-nunda pekerjaannya. Pada hakikatnya, memandang remeh pekerjaan itulah yang menumbuhkan rasa malas.”

Lain lagi dengan Dewina Maharani P, karayawan PT. LG EDI. Peserta Value Development Program ini berpendapat, ”Kebiasaan banyak makan dan tidur terlalu lama. Lapar sedikit makan, selesai makan menguap. Begitu perut keroncongan, maunya nyari warung aja. Sudah itu, ya ngantuk. Jadi, kebiasaan buruk itu harus dihindarkan. Jika tidak, Anda akan menjadi pemalas seumur hidup.”

Sebaiknya Anda juga mencermati pendapat peserta Mentality Building Program pada 10-12 September 2002 di Cidahu Kabupaten Sukabumi. Mayasari L. Pesik, karyawan Jakarta Convention Center ini mengungkapkan, ”Orang malas karena terlalu memburu kesenangan hidup. Sebagian besar waktunya dimanfaatkan hanya untuk bersenang-senang. Ke sana kemari menghabiskan waktu. Nongkrong di mal betah sampai berjam-jam. Sepertinya tak memiliki beban hidup sama sekali.”

Nah, bagaimana dengan Anda?

Saya yakin, Anda punya pendapat sendiri tentang malas. Enda Nasution, seorang blogger yang memposting pengakuannya bahwa dirinya seorang pemalas pada 11 Desember 2004, menyatakan bahwa, banyak hal yang bisa dilakukan di kantor dan tetap terlihat seperti sedang bekerja. Ada ruang pantry tempat yang pas berlama membuat kopi sambil ngobrol ngalor-ngidul bersama teman sekantor yang pemalas. Ada meeting berjam-jam dimana kita hanya perlu duduk manis. Serta berlama-lama di depan komputer, dikira sibuk download file buat referensi perusahaan, ternyata sedang sibuk mengirim e-mail lucu atau chating di YM atau Facebook.

Begitulah, sang pemalas bisa memuaskan ’jin’ malasnya di mana saja dan kapan saja. Meski, menurut Enda, pemalas tidak selamanya merugikan. Bahkan, orang bisa memikirkan membuat mobil karena malas naik sepeda apalagi jalan kaki. Microsoft Excel dibuat untuk membahagiakan orang-orang yang malas berhitung dan menggunakan sempoa. Tapi, yang jelas, salah satu kehebatan pemalas adalah jago membuang-buang waktu.

Sekarang, cobalah sejenak tafakkur. Bertanya pada hati nurani. Benarkah Anda ingin sukses? Masihkah Anda berniat untuk hidup sukses? Ini bukan sekadar basa-basi. Setiap orang pasti ingin sukses. Tidak peduli apa pun latar belakang pendidikan, ekonomi, maupun status sosial kita, pasti kita semua berharap sukses.

Namun, sebelum kita melompat lebih jauh, sebaiknya kita ’gunting’ dulu kebiasaan malas dalam diri kita. Dipangkas serapi mungkin. Kalau bisa, cukur habis. Caranya? Gampang.

Ini dia jurus dahsyat untuk ’menghabisi’ rasa malas dalam diri kita.

(1) Jika pintu masuk yang digunakan virus malas ke dalam tubuh kita adalah suka memandang remeh sesuatu sebagaiman pendapat Bambang Santoso, maka gunakanlah jurus pertama: jangan suka memandang remeh sesuatu. Boleh saja Anda merasa ahli terhadap suatu persoalan, tapi Anda naif jika memandang remeh persoalan itu. Apa pun pekerjaan Anda, betapapun Anda merasa pekerjaan itu enteng, Anda harus tetap fokus. Jangan sampai waktu Anda yang tersita selama satu minggu, hanya untuk menangani satu pekerjaan yang bisa Anda selesaikan dalam satu hari.

(2) Jika pintu masuk yang digunakan virus malas ke dalam tubuh kita adalah banyak makan dan tidur terlalu lama, seperti penuturan Dewina Maharani, maka gunakanlah jurus kedua: kurangi makan dan tidur. Makan dan tidurlah secara proporsional. Sesuai kebutuhan. Jika tidak, selain Anda bakal menghadapi ancaman penyakit malas, Anda juga bisa terjangkit “virus menguap setiap saat”. Jadi, bergeraklah! Jangan berpangku tangan. Apalagi memanjangkan angan-angan. Kita hanya punya waktu 24 jam, amat sayang jika kita lewati dengan sesuatu yang sia-sia. Andrew Ho, seorang motivator dan pengusaha sukses berpesan kepada kita, ”Sukses adalah pilihan hidup, dan pilihan itu ada di tangan Anda.” So, tunggu apa lagi?

(3) Jika pintu masuk yang digunakan virus malas ke dalam tubuh kita adalah terlalu memburu kesenangan duniawi, seperti yang ditunjukkan oleh Mayasari L. Pesik, sebaiknya Anda gunakan jurus ketiga: hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan. Ya, setiap kita hanya mendapat satu kesempatan untuk hidup. Jadi, mengapa harus disia-siakan? Suatu ketika, Charles de Montesquieu mengingatkan kita, ”Kebahagiaan yang sesungguhnya menjadikan seseorang peka dan baik hati. Dan kepekaan itu sangat berharga dan bermakna tidak hanya untuk dirinya sendiri.”

Begitulah, tak ada celah bagi seorang pemalas untuk bisa meraih kesuksesan, pun kebahagiaan. Selama Anda masih berniat untuk hidup sukses dan bahagia, segera berbenah. Lawan. Jangan mau kalah, apalagi takluk di hadapan pendekar bernama kemalasan. Kalau perlu, kembangkan jurus-jurus baru yang ampuh dan sesuai dengan karakter Anda.

Anda punya hak untuk sukses dan bahagia. Karena itu, Anda wajib membunuh rasa malas. Anda akan merasakan dahsyatnya hidup tanpa kebiasaan malas. Luar biasa.

Kotamacet, 25/04/2008


24 Comments to "Ada Apa Dengan Rasa Malas?"

  1. gebe  15 August, 2011 at 17:38

    Artikel yang bermamfaat, terima kasih sudah share salam

  2. lani  12 January, 2011 at 03:07

    MAS DJ, MBAK NUK: mmg ada MALAS yg menguntungkan………..se77777777 dgn dgn 2 sederek kulo

  3. Djoko Paisan  12 January, 2011 at 02:09

    SIAPA CEPAT DIA DAPAT…. SIAPA MALAS DIA SELAMAT….!!!
    Hahahahahahaha…..!!!
    Lha malas ke Bank, taunya di Bank sedang ada perampokan dan banyak yang mati tertembak.
    Untung malas pergi, jadi selamat….

    Ada juga yang malas merokok..
    Malas minum alkohol….
    Malas berjudi….
    Malas membunuh….
    Malas mencuri…

    Apakah ini jelek…???

    Salam Dami dari Mainz dan terimakaksih mas Khrisna…

  4. nu2k  11 January, 2011 at 16:22

    Jangan malas meriksa kantong celana panjang poro konco ngajeng sebelum dimasukkan ke mesin cuci. Uangnya bisa-bisa berubah jadi buntelan kertas.. Salah siapa malas memasukkan uangnya ke dalam dompetnya. Untung saya tidak malas menukar buntelan kertasnya ke bank. … Untung lagi, untung lagi…

    Werkt ze, Nu2k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.