Pedro Membaca Al-Kemis

Ary Hana


Pedro, nama pemuda Timor itu. Masih muda, awal dua puluhan. Tubuhnya kurus, meniang, rambutnya merah ikal, dan kalau berjalan sedikit menyeret. Langkahnya tinggalkan suara menggeret, menggerus telinga. Kaki kanannya pengkor. Kena polio kurasa.

Pedro, budak tuan Francisco Lee, majikanku di Timor Leste. Lahir dari keluarga yang mengabdi pada keturunan Cina-Portugis keparat itu, hidup terjungkal, besar di antara kerja paksa berkepanjangan. Apa namanya kalau kau bekerja di sebuah proyek pembukaan jalan di Timor, berbulan-bulan, lalu tak dibayar. Kerja paksa bukan? Itu masa tentara Indonesia masih bercokol di bumi lorosae. dan Lee si biadab itu ambil kesempatan. Jadi pemborong jalan, mendapat milyaran rupiah dari pemerintah Indonesia, tapi tak mengucurkan setetes pun buat upah pekerjanya. Sekedar makan asal kenyang saja. Dasar bangsat!

Belakangan kudengar, si Lee menilep Bank Mandiri cabang Dili 500.000 USD buat pembangunan sebuah bengkel mobil. Bengkel meracau, Lee pesta pora bermandi dolar lalu lari ke Australia. Dia memang pemegang paspor negeri kangguru itu, meminta suaka kala terjadi referendum di Timor Timur. Dasar, sudah tahu bajingan masih dikasih hati! Salah makelar bank juga, mau-maunya ditipu anjing bulukan macam si Lee! Dan Australia, ternyata masih menjadi negeri pelarian para penjahat. Memalukan!

Ah, hampir lupa aku untuk kisahkan si Pedro. Waktu aku bekerja di bengkel itu, menjadi satu dari dua perempuan di antara selusin lelaki, aku bawa sebuah buku dari Indonesia. Buku karangan Paulo Coelho, Al-Kemis judulnya. Sudah beberapa kali buku ini kubaca, namun aku masih suka mengulangnya di kala senggang.

Suatu hari kala membaca buku itu, Pedro muncul dari dapur. Dia membawa semangkuk bubur kacang ijo. Harum bubur legit itu membuatku tergoda. “Boleh minta?’ tanyaku main-main. Tanpa pikir dua kali diangsurkannya mangkuk di tangannya kepadaku.

“Lho, kamu?” aku merasa bersalah. Aku tahu Pedro hidup kekurangan. Aku tak yakin si Lee cukup menggajinya. Tapi mengapa dia benar-benar menyerahkan buburnya.

“Masih ada sisanya di dapur,” katanya menenangkan. Aku pun lega. Diiringi pandangan iri kawan-kawan, kusantap bubur  yang luar biasa sedap dan manis rasanya. Bagaimana tak sedap, Pedro tak menggunakan santan kelapa, tapi menggantinya dengan susu kental manis.

Sejak saat itu aku dan Pedro menjadi akrab. Suatu hari dia meminjam buku Al-Kemis yang sudah kubaca. Kuberikan buku itu. Aku tak tahu Pedro mau membaca buku. Sungguh!

Suatu malam, ketika aku keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi di samping dapur, kudengar dengung mirip lebah dari arah dapur. Satu-satunya orang yang tidur di dapur hanyalah Pedro. Tuan Lee tak cukup baik hati membagi tempat tidur pada mantan budak setianya ini.

Kuintip dia, rupanya sedang membaca Al-Kemis, tepat di bagian Santiago yang membaca perilaku domba-domba peliharaannya. Terputus-putus Pedro membaca. Suara beratnya memecah malam yang gerah. Setelah seharian bekerja, tak kusangka pemuda legam itu menyempatkan membaca buku di malam buta. Begitu takzim, seolah melagukan alkitab di sebuah gereja tua di Vilaverde.

Ekspresi wajahnya begitu lengket di kepalaku. Wajah pemuda yang bergairah, mengurutkan huruf demi huruf demi membentuk bunyi, bunyi yang menyusun makna. makna yang meresap ke dalam jiwa. Jika dia merasa makna itu belum membuka pintu otaknya, dia ulang lagi mengeja. Udara berbuih putih melekat di sudut mulutnya. Dengung sumbang yang dia cipta, seolah lagu surgawi di telinga. Pedro membaca dengan cinta, membuat sebutir air mataku jatuh di sudut kanan mata.  Bahagia. Haru. Menjadi satu.

Tak sadar geseranku di pintu meninggalkan suara gemeleret. Pedro mendongak. “Ah.. Kakak,” ada nada malu dalam ucapannya. Aku tersenyum, sebelum menutup pintu kembali.

*memory becora 2004

12 Comments to "Pedro Membaca Al-Kemis"

  1. tantripranash  12 January, 2011 at 07:03

    Mbak Ary, saya tersentuh karena pedro membaca dengan cinta …

  2. Djoko Paisan  12 January, 2011 at 01:48

    Hallo A.H….
    Terimakasih untk ceritanya…
    Anda begitu peka untuk hal-hal yang kecil…
    TUHAN kiranya akan memberkan hal-hal yang istimewa dalam kehiduoan anda….

    Kalau mengenai budak dijaman modern ini, di Jermanpunsangat banyak….!!!

    Salam Damai dari Mainz….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.