ODW dan Hari Ibu 22 Desember 2010

Nunuk Pulandari


Teman-teman se Baltyra’s hari ibu baru saja berlalu.  Tidak ada salahnya kalau kita menengok  salah satu kegiatan para ibu kita yang ada di luar Indonesia khususnya di Brussel dan sekitarnya.

Kegiatan  para ibu untuk daerah Brussel dan sekitarnya dicoordineer oleh ODW (Organisasi Dharma Wanita) KBRI Brussel, yang diketuai oleh ibu Dubes RI di Brussel yang baru, ibu Titi Oegroseno. Dalam menyambut hari ibu,  ODW Brussel  dan para ibu’s anggotanya telah mengadakan beberapa kegiatan. Mereka telah mengadakan berbagai jenis perlombaan yang diikuti oleh para  peminatnya.

Lomba menata meja makan, dengan seni melipat servet dan penataan meja makannya. Kurang lebih ada 10 peserta. Mereka  telah menghasilkan berbagai seni lipat indah hanya dalam waktu yang super singkat. Peserta dengan keterampilannya masing-masing telah menghasilkan  tiga bentuk servet, dengan berbagai variatie lipatan. Dua dari sekian banyak bentuk lipatan yang telah dihasilkan dapat teman-teman lihat dalam foto di bawah.

Rapi dan indah untuk melengkapi tata rias meja makan kita. Terutama kalau kita sering mengundang teman untuk makan malam yang agak resmi , di rumah. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam tafelmanieren (sopan santun makan malam) adalah menyediakan ruang  duduk/ gerak yang cukup.

Usahakan  agar setiap tamu paling tidak memiliki ruang duduk/gerak plus minus 70 cm. Jadi tidak terlalu berdempetan duduknya dan masih bisa  menggerakkan tangannya untuk mengangkat gelas atau bestek, sendok cs  yang tersedia. Selain lomba melipat servet, juga diadakan lomba seni ukir buah dan sayur sebagai dekorasi.

Suatu keterampilan yang juga memerlukan daya imaginatie yang tinggi untuk dapat menciptakan ukiran buah atau atau sayur yang indah. Dalam foto di bawah, teman-teman melihat ibu Titi sedang mengamati kegiatan dalam suasana yang sangat relax.

Kadang ibu Titi juga tampak seolah sedang “mewawancarai”  para peserta,  sesuai dengan  tugas yang sedang diembannya saat itu, sebagai  salah satu juri perlombaan.  Sambil mengobrol  sekaligus terkumpullah angka untuk nilai akhir seni mengukir.

Kalau kita menonton lomba seni mengukir buah, kadang kita harus menahan tawa setelah melihat misalnya, suatu bentuk ukiran. Sama sekali tidak bermaksud untuk mentertawakan tetapi  kadang suatu ukiran karena bentuknya  bisa membangkitkan daya imaginatie yang berbeda dengan maksud ukiran sesungguhnya. Melihat keterampilan dan keluwesan jari para ibu dalam mempermainkan pisaunya selama mengukir, perlu kita acungi jempol. Chapeau!

Dalam foto di bawah ini tampak 6 peserta mengenakan “Jarik”secara tradisionil. Sayang kebayanya tidak disertakan agar nampak lebih serasi lagi.


Juga keterampilan mengenakan jarik menjadi salah satu mata acara yang diperlombakan. Ternyata untuk banyak ibu-ibu mengenakan jarik, yang terlihat seperti sepele dalam realitasnya cukup ribet. Beberapa hal  yang kadang lupa  diperhatikan dalam mengenakan “jarik”, misalnya:

a. Ketinggian “jarik” dari atas mata kaki;
b.Usahakan agar motief dalam “jarik” tidak terbalik ketika dikenakan;
c. Sebaiknya  jarik yang sudah diwiron dikenakan sesuai dengan traditie mengenakan jarik wiron;
d. Di usahakan agar wiroan tidak terurai ketika dikenakan; e. Padankan warna  dalam kain jariknya dengan pilihan warna kebaya yang serasi.

Nasi tumpeng, lengkap dengan ayam” ingkung”, kering, sambal goreng, abon, perkedel  dan “urap”nya diganti dengan daun peterselie

Setelah  perlombaan selesai, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng ULTAH hari ibu. Dengan diiringi lagu Selamat Ultah,  ibu Titi dengan didampingi beberapa ibu dari masyarakat, memotong tumpeng nasi kuning yang cukup lengkap dan dengan rasanya yang ueeenaaak sekali.

Tampak dalam foto di bawah ini, ibu Titi Oegroseno dengan senyumnya yang  manis sedang memotong tumpeng.

Teman-teman di Baltyra mungkin sudah ada yang tahu mengapa bentuk tumpeng selalu menyerupai gunung dan tidak pernah menyerupai bentuk pisang atau jagung misalnya. Menurut cerita eyang saya, bentuk tumpeng memang selalu menyerupai puncak sebuah gunung. Hal ini mengingat fakta bahwa gunung  memiliki beberapa sifat yang bisa  melambangkan dan memberikan arti yang  positief yang sebetulnya juga bisa kita miliki.


Misalnya:

1. Melihat umur sebuah gunung yang tidak pernah seumur jagung, tentunya kita semua juga mau berumur panjang;
2. Mengamati kokohnya dan kekuatan sebuah gunung, siapa sih yang tidak mau terlihat kokoh dan kuat dalam menjalani kehidupan yang serba ambu radul seperti saat ini;
3. Melihat keadaan sebuah gunung yang selalu nampak tenang dari luarnya, kitapun ingin selalu tampil tenang meskipun di dalamnya  mungkin sedang gonjang ganjing.
4. Urusan meletusnya sebuah gunung, sebagai manusia kitapun bisa “meletus”, misalnya dalam bentuk amarah, atau kita menjadi sakit dll, dlll.

Setelah acara pemotogan tumpeng yang dilakukan di ruang makan ( ada di lantai bawah) , di  kelder selesai, lalu dilanjutkan dengan makan bersama. Dengan satu sajian menu yang cukup bervariatie dan rasa yang enak,  membuat yang hadir mau tidak mau harus menambah isi piringnya.

Seperti biasanya setelah semua  acara selesai,  ibu Titi didaulat oleh para ibu yang hadir untuk bersedia berfoto ria bersama. Sayang pada saat foto bersama sebagian dari ibu yang hadir sudah ada  yang meninggalkan pertemuan.

Saat meninggalkan halaman parkeer terbesit pikiran: ” Satu kegiatan yang menyenangkan dan berlangsung dengan lancar berkat adanya kerja sama  dari semua pihak”. Bravo. Selamat berkarya dan tot weer ziens. Nu2k

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

76 Comments to "ODW dan Hari Ibu 22 Desember 2010"

  1. Clara  14 January, 2011 at 19:24

    Nah iyo to Mbak Nuk, Nyai Loro Kona von ngglembung wis mencungul! Bakalan ramé koyo pasar Tongtong ning Dan Haag opo ramé koyo pasar Tanah Abanag ?

  2. Lani  14 January, 2011 at 09:42

    MBAK NUK : aku wes japri di cek yo mbak

  3. Silvia  14 January, 2011 at 09:30

    Ga mengapa Bu dipanggil Mbak Silvie/mbak Silvia juga Selamat beristirahat…………..

  4. nu2k  14 January, 2011 at 05:56

    Jeng Lani, ooooo allah tiwas wis tak pasang folder pencarian Ratu van Kona yang hilang dan menghilangkan diri…Ya sudah saya mau nyabuti foldernya dari papan-papan pengumuman orang hilang…Kesel-kesel kok mbok sing suwé sisan ilangé, ben imbas keselé masang folder karo suwéné lehé ilang… ha, ha, haaaaa..
    Ya sudah, sepo yo jeng ngeterké tamu, nggak iso nggendheng lan ha ha hi, hi…

    Doei en veel plezier met je gast (en).. Nu2k

  5. nu2k  14 January, 2011 at 05:51

    Beste bung Sirpa, terakhir saya ke NY, tahun lalu sempat juga jalan-jalan ke LA. Dari LA naik mobil lewat Las Vegas ke Grand Canyon… Wouuuuw, sayaaaangnya satu, saya sama sekali nggak boleh nyupir sendiri ….Jadi kali mendatang saya mau menyupir sendiri menyusuri pantai…. Asyiiik sekali membayangkannya..

    Yuuuk, sekrang saya mau pamit dulu. tempat peraduan sudah menunggu penghuninya… kus, kus, kus, Nu2k

  6. nu2k  14 January, 2011 at 05:39

    Beste Kangmas O de BUSA, .. Belum nyambung.. Kok nunggu hadiah dari saya? Ingkang dipoen bedhék meniko menopo tho? Sedang mencari rambut yang berwarna campuran antara merica dengan garam?.. Coba para bapak yang terhormat, sebelum menunjuk ke warna rambutnya, silahkan diuji dulu warna yang akan timbul dari campuran kedua bumbu dapur tersebut di atas. Nah, kalau warna rambutnya sama dengan warna campuran itu baru dapat hadiah… Dipoendoet piyambak wonten griyo kawoelo, ticketnya bayar sendiri.. Ha, ha, haaaaa
    Sekarang tentunya sedang makan malam ya di AS. Nanti kalau sudah terkumpul uangnya.. ha, ha, haaa, on the way to Ottawa, saya mau mampir ke CA. Sudah beberapa kali ke NY dan keliling2 juga, tapi daerah pantainya belum…Ik ga stoppen. Het is nu midden in de nacht. Mata sudah mulai kriyap kriyep, mau mati sinarnya….cipika cipiki cipika,Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *