Tiga Permohonan

Nyai EQ – every where


Dia sudah duduk di sudut tempat lesehan. Wajahnya cerah, rambut kruwel terjuntai sebagian di keningnya. Senyum hangat menebar. Segelas jus warna merah tua terlihat tinggal separo. Ada tempe mendoan dan sambel kecap yang menemani. Cahaya redup, musik mengalun lembut, bosas. Suasana romantis. Aha!

Aku duduk bersila di sebelahnya setelah bercipika-cipiki dan berhai-hai.

“ Trus, apa yang akan kamu ceritakan padaku?”, tanyanya tidak sabar.

Aku tersenyum, mengulurkan kertas pesanan pada waitres yang sudah menunggu. Teh jeruk madu dan sepiring jamur goreng renyah. Dan tentu saja Apple pie, karena hari ini hari Sabtu.

“ Sebuah pengalaman menarik, tentang tiga permohonan “, kataku kemudian.

“ Ah, seperti dalam dongeng anak-anak. “ Sahutnya sambil tertawa, “ Permohonan pada siapa?” lanjutnya.

“ Yaaa….hahhaha…..tapi ini nyata….tunggu, biarkan aku cerita semuanya “

“ Mulailah!”. Dia sungguh tidak sabar.

“ Hari masih sore, belum ada pukul 5, tapi cukup sepi, karena mendung dan gerimis sepanjang hari. Tidak terlalu gelap, karena matahari muncul sedikit “

Dia mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah tempe mendoan. Aku melanjutkan ceritaku.

“ Aku sedang duduk di teras atas, memandangi sekor burung kecil yang tampak asyik sendiri diantara bunga kelapa. Di depanku. Sesaat terlintas dalam pikiranku, “ah, betapa senangnya kalau aku bisa menjadi burung seperti itu.” Dan tiba-tiba di depanku muncul benda seperti boneka Barbie dengan rambut panjang keemasan dan gaun warna-warni penuh bunga-bunga kecil. Sepatu mungilnya berwarna merah. Kupikir pasti boneka Barbie milik tetangga lantai atas, yang jatuh ke terasku.

Aku bermaksud menjangkaunya, ketika tiba-tiba boneka Barbie itu mengeluarkan suara seperti bicara dan bergerak seperti terbang. Aku masih berpikir pasti anak-anak lantai atas itu menggodaku. Aku mendongakkan kepala dan berteriak memanggil mereka, tapi tidak ada jawaban.

“ Hei! aku bukan boneka Barbie, aku peri bunga. Aku sungguh peri bunga. Dan jangan takut, aku peri bunga yang baik hati “

Tentu saja aku tertawa dan masih mencoba melihat ke arah lantai atas. Mana mungkin ada peri bunga keluyuran di sore hari seperti ini. Yang jelas, mana mungkin ada peri bunga di tengah kota modern.

Tapi boneka Barbie itu bicara lagi padaku.

“ Kau tidak percaya padaku. Ya, tentu saja kau tidak percaya pada peri bunga yang keluyuran di sore hari seperti ini, apalagi ditengah kota modern. Tapi aku bisa mengabulkan tiga permohonanmu. Dan kau akan percaya padaku. Aku peri bunga, bukan boneka Barbie “

Aku terkejut, boneka Barbie itu benar-benar hidup dan mengerti apa yang kupikirkan. Dan tentu saja ada rasa takut terbersit, tapi tiga permohonan itu mengusik pikiranku dan menarik perhatianku. Bahkan mengalahkan rasa takutku.

“ Ok deh kalau begitu. Aku ingin menjadi burung kecil seperti itu “, Kataku sambil menunjuk pada burung kecil di depanku.

“ Terbanglah burung kecil “ Katanya sambil melambai-lambaikan tangan mungilnya ke arahku.

Dan, oh, aku melihat bulu-bulu hijau lembut di lenganku……oh, bukan lengan, tapi sayap. Aku punya sayap! Dan kudapati diriku bertengger di atas kursi di teras atas rumahku. Aku benar-benar berubah menjadi burung!

Aku mencoba terbang, melompat dan wuuuusss…..!!

Dunia di bawahku terlihat begitu besar dan luas. Gerimis kecil membasahi bulu-bulu lembutku. Angin bertiup membawa udara basah. Kuhirup setitik air di ujung daun kelapa. Dan bunga kelapa itu terasa manis. Aku mengumpulkan seluruh keberanian untuk terbang ke pohon lain. Jalan raya dan rumput di taman seberang rumah tampak jauh di bawahku. Hijau, luas, seperti karpet besar bertekstur dan berserat-serat. Pohon-pohon begitu rimbun dan besar.

Aku terbang menuju laut. Oh, angin bertiup begitu kuat. Ombak di bawahku begitu besar. Laut di bawahku penuh air berwarna hijau keabu-abuan. Bahkan batu-batu merah pun terendam seluruhnya oleh air laut yang berbuih-buih dan suaranya berdebur.

Burung-burung camar laut putih memekik- mekik di sekitarku. Suaranya ribut. Mereka memandangku dengan mata licik namun penuh keheranan. Tidak biasanya burung sekecil aku berkelana sampai di atas laut. Aku bukan burung pemakan ikan.

Aku sedang menikmati tamasyaku ketika peringatan tajam terpekik dari salah satu camar tua. Oh, rupanya ada burung besar, hitam, berparuh kuning, menukik ke arahku. Terburu-buru aku terbang menghindar. Susah payah dan ketakutan. Beberapa camar hitam kecil membantuku sampai ke pohon besar di tepi pantai. Tapi bahaya tidak hanya sekali itu saja.

“ Peri bunga, peri bunga…selamatkan aku dari bahaya dan serangan burung-burung lain “. Itu permohonanku yang ke dua. Dan aku selamat.

Hari sudah mulai gelap, Lapar dan dengan kelelahan aku mencoba mencari biji-bijian kecil di antara rerumputan., ketika tiba-tiba seekor kadal besar mengejutkanku. Dengan terburu-buru dan panik aku terbang. Lagi-lagi aku selamat, tapi sayap kananku tergores pagar kawat berduri yang di pasang di halaman rumah seseorang. Rasanya aku mengenal rumah itu.

Peri bunga datang ketika aku sedang terisak-isak di atas batang daun kelapa di depan teras atas di rumahku. Aku tidak tahu harus kemana. Lelah, lapar dan ketakutan.

“ Kenapa menangis burung kecil? bukankah kau senang bisa terbang kemanapun kau mau?”, Suaranya bening seperti lonceng gereja di pagi hari yang dingin.

“ Oh, peri bunga…..ternyata tidak enak menjadi burung kecil. Tolong kembalikan aku ke bentukku semula. Menjadi manusia kembali.” Dan itulah permohonanku yang terakhir. Aku menemukan diriku duduk di kursi yang sama di teras atas rumahku. Hari sudah benar-benar gelap. Dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Peri bunga itu menghilang entah kemana. Aku mengucapkan terimakasih dalam hati, lalu bergegas masuk rumah.

“ Jadi begitulah yang terjadi kemarin sore “, kataku mengakhiri kisahku. Teh di depanku sudah kehilangan uapnya.

“ Waaah…mimpi siang hari memang suka ajaib, dan mimpimu itu jelas sekali. Sangat detail, sampai aku berpikir itu benar-benar terjadi “, Katanya sambil tersenyum lebar, meneguk habis sisa jusnya dan bermaksud pesan lagi.

Aku memandangnya.

“ Ren, ini bukan mimpi. Ini beneran terjadi padaku!”

Tapi dia tersenyum sangat manis, sambil mengunyah tempe mendoan ke empat. Dia berkata :

“ Kenapa tidak kau tulis saja kisahmu itu? “

“ Ah, sudah banyak kisah tentang tiga permohonan”, kataku. Jamur goreng di depanku sudah hampir habis.

“ Hmmm….tapi khan belum ada yang seperti itu. Berdasarkan pengalaman pribadi, seperti katamu, maksudku dari mimpi yang sesungguhnya “, katanya masih saja bertahan pada anggapan bahwa itu mimpiku dan tidak mau percaya bahwa itu benar-benar terjadi padaku dan bukan mimpi!

Aku mengangguk dan sedikit termenung. Ya, siapa yang akan percaya. Bahkan sahabatku pun tidak akan mempercayainya. Ini memang seperti mimpi di siang hari. Tapi setidaknya aku tahu rasanya menjadi burung kecil. Dan aku bersyukur karenanya. Menjadi diri sendiri ternyata jauh lebih baik dan lebih menyenangkan.

“ Haaaa……ayo dimakan mendoannya, keburu habis nih “, katanya sambil menepuk lengan kananku, dan “ Hah! Kenapa lenganmu? “

Aku meringis. Luka di lengan kananku sedikit berdarah kena tepukan kerasnya. Sebuah luka sayatan tergores cukup dalam di lengan kananku, sore kemarin.


Darwin, 2011-01-09   7 : 35 pm

13 Comments to "Tiga Permohonan"

  1. Kornelya  14 January, 2011 at 21:33

    Aku minta ke Barbie, supaya aku bisa yadi orang “Kaya raya” seperti pa DJ. Salam

  2. Kine Risty  14 January, 2011 at 21:28

    keren banget ceritanya

  3. EQ  14 January, 2011 at 16:02

    Om Handuk : makasih, komen Oom Han selalu menyentuh hatiku…..saya juga senang bisa nulis lagi setelah sekian lama….makasih
    Ridwan : semua baik-baik saja kok
    Om DJ : saya sekarang hampir gak pernah ke Malioboro lagi, udah lebih dari 6 bulan gak ketemu mak’e…..saya ada di Darwin om, hehhehee…… thanks fotonya..kapan ya bisa ketemu lagi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.