Ops!

Fahri Asiza


Dimuat di Harian Global, Sabtu, 11 Desember 2010


SUPERMAN diundang ke sebuah seminar yang diadakan di hotel berbintang lima di Jakarta. Manusia baja dari planet Krypton itu datang tepat pada waktunya. Orang-orang terpana melihat kegagahannya. Lampu blizt para fotografer dari berbagai media massa berkilat-kilat. Para reporter televisi dan radio sibuk melakukan liputan langsung. Suasana ramai, menggema.

Superman ternyata lebih gagah daripada yang ada di komik, novel, serial teve maupun dalam film layar lebar. Baju biru ketat yang terbuat dari bahan anti api, peluru, rudal maupun nuklir pas sekali pada tubuhnya yang berotot. Celana dalam merah yang dipakai di luar menambah kegagahannya. Belum lagi jubahnya yang berkibar-kibar saat dia turun dan hinggap di tempat yang disediakan di pelataran parkir hotel itu. Hurup S yang ada di dalam garis berbentuk berlian bercahaya.

Pemimpin seminar adalah seorang menteri terpilih yang berhasil membantu menggulingkan pemimpin yang lama. Dia memberi sambutan kedatangan manusia ajaib dari luar angkasa itu. Konon kehebatan Superman mengalahkan Songoku, Songohan, Songoten, Bezita maupun Trunks, manusia-manusia Planet Saiya yang bisa menjadi manusia super saiya lima.[1]

“Terimakasih pada Mr. Superman yang mau memenuhi undangan kami!” begitu sambutan pertama Pak Menteri di atas podium, di hadapan para hadirin yang untuk hari ini seluruhnya berpakaian resmi. “Undangan ini memang khusus kami tujukan kepada mister, untuk membantu kami menyelesaikan pertikaian demi pertikaian yang terjadi di negeri ini. Anda sebagai manusia baja yang bisa melihat kejauhan dalam jarak tak terhingga dengan sinar X yang Anda miliki, sangat kami harapkan bantuannya untuk memantau keadaan yang ada. Para penjabat tinggi negara, para jenderal, para tamu luar negeri dan saudara-saudara sekali, kami perkenalkan, tamu kehormatan kita! Misteeeerr…. Superman!!”

Orang-orang bertepuk tangan ramai. Lampu blizt berpendar-pendar lagi.

Seminar pun dimulai. Masalah kekerasan yang masih terjadi di negara ini menjadi fokus utama. Debat kusir terjadi. Masing-masing berusaha mempertahankan pendapatnya walaupun salah. Bagi mereka, terlihat hebat lebih penting ketimbang diam. Padahal, mereka sedang menata kebodohannya sendiri.

Seminar itu tidak membawa hasil apa-apa. Tapi sebuah keputusan didapat, Superman bersedia menggantikan aparat kepolisian yang sudah jatuh bangun, apalagi kini dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Orang-orang bersorak, mengelu-elukannya. Berharap kedamaian akan tercipta berkat bantuan orang terkuat di bumi itu.

***

Yang dilakukan manusia baja itu pertama-tama memantau keadaan dari udara. Dengan kemampuannya melihat kejauhan itu, semuanya dapat dijangkau dengan mudah. Deru baling-baling sepuluh buah helikopter terdengar keras. Lima belas stasiun teve dari dalam maupun luar negeri berlomba-lomba untuk meliput kegiatan Superman. Sisanya para pejabat yang ingin langsung memantau.

Kemana pun Superman pergi, mereka mengikutinya. Hari pertama Superman merasa kepalanya pusing. Dilihatnya kekerasan berserakan di mana-mana. Di sebuah jalan, seorang nenek diperkosa tujuh berandalan. Di sebuah rumah, lima perampok sedang menguras harta benda tuan rumah. Di dalam taksi, dua orang remaja sedang menodong sang sopir. Di depan istana, para demonstran sedang bertarung dengan aparat.

Di jalan protokol, para pelajar pecah dalam tawuran. Di sebuah tempat, sebuah bus kota hancur dibakar massa. Di bawah lampu merah, seorang pencopet tewas dihakimi massa. Di dekat halte, seorang polisi sedang menerima tiga puluh ribu rupiah dari pelanggar lalu lintas. Di salah satu bagian ruang pengadilan, seseorang memberikan sebuah kunci mobil pada seseorang yang mengenakan jubah. Di gedung DPR/MPR terjadi perkelahian sengit.

Hari kedua, Superman lebih pusing lagi. Seorang Polisi tewas dihajar preman. Seorang artis dituduh menyimpan shabu-shabu. Seorang pejabat tertangkap basah memperkosa bocah laki-laki berusia 12 tahun. Seorang tante merayu joki three-in-one. Di sebuah desa, aparat kepolisian berperang melawan gerombolan. Sebuah kantor polisi dibakar massa. Bom meledak di sebuah gedung. Seorang lelaki bunuh diri karena pacarnya kabur dengan lelaki lain. Sebagian orang penting, melakukan ruwatan.

Superman yang sedang patroli dari udara melayang turun. Mampir ke toko obat untuk membeli obat sakit kepala. Sebelum penjual obat itu berteriak-teriak kegirangan karena melihatnya, Superman sudah melayang lagi di udara.

“Sejauh ini, Superman belum melakukan tindakan apa-apa,” lapor seorang reporter sebuah televisi swasta. “Rupanya manusia baja itu masih terus memantau keadaan yang semakin kacau.”

Di rumah-rumah, seluruh rakyat Indonesia menyaksikan perbuatan manusia baja itu melalui layar kaca. Mereka mengelu-ngelukannya. Ada juga yang mengeluh, “Kok cuma terbang melulu? Tidak melakukan tindakan apa-apa?” Ada juga yang bilang, “Kayak lagi study banding, tapi hasilnya apa?”

Hari ketiga, Superman menemui menteri yang memimpin seminar waktu itu. “Maaf, Bapak Menteri. Rupanya kekerasan di negeri Anda ini sudah berada dalam taraf yang parah.”

“Itulah sebabnya, saya membutuhkan orang super sakti seperti Anda.”

“Sebaiknya Anda mengundang Suma Han saja. Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.”[2]

“Kami sudah mengundangnya. Tapi menurut Suhu Suma Han, jaraknya sangat jauh dari tempat dia berada. Kalau Anda, kan tinggal melayang saja, Mister.”

Superman mengambil sebatang kretek dan mengisapnya. “Walaupun saya memiliki kecepatan melebihi kilat, tapi sulit memberantas kekerasan di negeri Anda ini. Negeri Anda sangat luas. Penduduknya beragam dan banyak sekali. Mungkin dalam setiap detiknya, lima puluh kekerasan bisa terjadi.”

“Maksud Anda bagaimana?”

“Saya mengundurkan diri. Saya tidak sanggup mengatasinya.”

“O… saya suka keterusterangan Anda. Mengundurkan diri karena tidak sanggup. Bukan alasan macam-macam, yang pada intinya, sebenarnya memang tidak sanggup. Apakah gaji yang saya berikan kecil?”

“Alasan saya bukan itu. Saya tidak memperhitungkan bayaran. Saya bekerja karena rasa kemanusiaan. Jadi kalau saya mau membantu masalah Anda, memang tulus dari hati saya. Cuma, walaupun saya manusia super, tapi rasanya sulit mengatasi masalah di negeri Anda.”

“Sebaiknya bagaimana?”

“Saya akan kembali ke Planet saya. Planet saya memang telah hancur. Tapi saya ingin menatanya kembali. Karena, di Planet saya satu sama lain saling menghargai. Mereka tidak saling mencacimaki atau menghujat. Saya yakin, dalam waktu singkat, planet saya akan menjadi planet abadi yang penuh keindahan dan keharmonisan.”

“Jadi… bagaimana sekarang?”

“Negeri Anda yang bisa membuat indah, harmoni dan saling menghargai adalah dari dalam diri sendiri. Bukan atas bantuan orang lain. Apalagi rasa kasihan orang lain. Bila Anda sudah menemukan hal itu, saya yakin, tak lama lagi negeri Anda akan kembali menjadi bumi yang paling subur.”

“Apa mungkin?” Bapak Menteri menghapus keringatnya.

“Itulah yang saya tidak yakin… Permisi!” Dua detik kemudian, sosok manusia baja itu sudah tidak nampak lagi.

Bapak Menteri berlari keluar. Ada sesuatu yang lupa untuk disampaikan. Tapi Superman sudah menghilang. Puluhan reporter dan fotografer sudah menunggu di halaman. Begitu melihat Pak Menteri, mereka menghujaninya banyak pertanyaan, yang saling bertabrakan, tumpang tindih dan tak tentu arah.

Pak Menteri tersenyum. Lalu berkata tenang, “Karena tak sanggup, saya mengundurkan diri… dan saya juga menyarankan, bila teman-teman tak sanggup menyelesaikan masalah di negeri ini, sebaiknya mengundurkan diri.”

***


Mutiara Duta, 29 November 2010

[1] Tokoh-tokoh Dragon Ball. Karangan Akira Toriyama

[2] Tokoh Sakti Pendekar Pulau Es, karangan Asmaraman S. Kho Ping Ho

8 Comments to "Ops!"

  1. Djoko Paisan  15 January, 2011 at 04:43

    Mas Fahri…
    Kalau gitu kita pindah saja ke planet Krypton…..
    Atau ke Bulan, seperti ajakan bung Sirpa…..hahahahahahaha…..!!!
    Salam Damai dari Mainz….

  2. Lani  14 January, 2011 at 22:34

    wes ming mumet thok anane………ancurrr!

  3. Mawar09  14 January, 2011 at 21:35

    FA: tulisannya bagus, tapi tidak mungkin akan dibaca oleh para pejabat kita, soalnya mereka tidak mengenal perkataan mengundurkan diri.

  4. Kornelya  14 January, 2011 at 21:16

    Jangan pernah berharap ada Menteri mengundurkan diri. Ada yang sudah jadi napi bolak-balik, tak rela mengundurkan diri dari kepemimpinan organisasi nasional. Sang komandanpun tak berani memecat. Kisah ini bukan tentang Indonesia. Kisah ini tentang negara kaum ksatrya, yang masih punya urat malu. Salam.

  5. J C  14 January, 2011 at 17:11

    Bener Linda n mas Sumonggo, ini bukan Indonesia khan? kita perlu outsourcing pejabat pemerintah, presiden outsourcing, wapres outsourcing, menteri juga outsourcing, kapolri, terutama orang-orang PAJAK perlu di’outsourcing semua… setelah performance ciamik, baru di’naturalisasi….

    Tapiiiiii…kalau sudah naturalisasi ternyataaaa…ikutan tercemar gimana?

  6. [email protected]  14 January, 2011 at 15:33

    mwehehehehehe…..

  7. Sumonggo  14 January, 2011 at 13:17

    Menteri dalam cerita di atas mengundurkan diri, jadi pasti yang dimaksud oleh cerita ini bukanlah Indonesia.

    Pendekar Super Sakti dari Pulau Es gagal dihubungi karena akses Blekberi terlanjur diblokir
    Songoku tidak bisa dihubungi karena sedang membawa Gayus piknik ke planet Saiya

  8. Linda Cheang  14 January, 2011 at 12:13

    mungkin negeri ini perlu para pejabatnya yang hasil dinaturalisasi juga. baru bisa negeri ini bener. hehehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.