Bahasa (tidak) Menunjukkan Bangsa

Rusdianto


Bahasa menunjukkan bangsa. Ujar-ujaran ini dari perbendaharaan sastra Melayu lama. Ungkapan yang merujuk pada kemungkinan menilai asal-usul, silsilah serta latar belakang keluarga seseorang berdasarkan diksi dan intonasi tutur katanya. Sepintas ujar-ujaran ini dicurigai berlaku diskriminatif. Semata menegaskan status sosial seseorang –dari yang lain-, lebih tinggi atau, lebih rendah kelasnya dalam stratifiksasi sosial. Bahasa berubah garis demarkasi yang tegas memisahkan golongan penguasa versus jelata.

Pada masa lalu, bahasa berfungsi alat kekuasaan kaum feodal. Trah penguasa (anak-anak matahari, putra-putri keraton, wija saoraja) menciptakan kode, bahasa, demi keperluan berkomunikasi di lingkungan sendiri. Selain, bahasa juga memenuhi peran khususnya sebagai bagian dari  birokrasi -pemerintahan. Elitisme bahasa dikondisikan pula demi kelanggenan kekuasaan. Bahasa penguasa sengaja diposisikan superior dan eksklusif. Pelarangan pemakaian bahasa tersebut di kalangan jelata menjadi salah satu cara menjaga kewibawaannya. Lihatlah bagaimana bahasa Jawa di keraton terang berbeda dengan bahasa jelata. Bahasa Bugis di saoraja (lingkup istana) ditinggikan dari bahasa to maneng (orang kebanyakan). Sebab bahasa-sekali lagi, menunjukkan status mereka.

Sementara bahasa di kalangan jelata lebih pragmatis sifatnya. Tiadanya batasan birokratis di antara mereka cenderung membuat bahasa lebih praktis, vulgar, polos dan tidak artistik. Bagi mereka bahasa berfungsi perkakas belaka. Kevulgaran bahasa jelata itu di muka trah istana jelas mengabaikan etika. Karakternya yang sedikit banal dan liar lalu diidentikkan sebagai budaya orang tidak berbangsa, kaum tidak beradab, barbar. Lawannya adalah kaum Bangsawan; orang berbangsa yaitu, keturunan orang-orang mulia, terhormat, dari keluarga baik-baik.

Di belakang hari, seiring masuknya modernisme dan tergerusnya wibawa kaum bangsawan, istilah orang berbangsa meluas -beralih acuan, menjangkau setiap orang dari keluarga berbudi perangai mulia, baik-tidak tercela. Apakah karena kebajikan agamanya (ulama), atau kebijaksanaan ilmu pengetahuannya (cendekia). Tapi makna pemeo Bahasa menujukkan bangsa belum berubah. Dimana bahasa seseorang masih menujukkan siapa gerangan puak yang bersangkutan. Dengan kata lain, sebutan orang berbangsa tetap bersifat jamak; klan/keluarga.

Cerdik pandai orang melayu, pencipta ungkapan di atas memang patut diacungi jempol. Rupanya bukan maksud mereka mengedepankan faktor keturunan (bangsa) si penutur bahasa. Nyatanya mereka –lebih– ingin menekankan moral ungkapan tersebut yakni, kualitas keberadaban si penutur bahasa seorang diri. Bahwa, gelar orang berbangsa tidak bersangkut paut dengan bangsa (kakek moyang) kita. Jika seseorang baik perangai pula elok bertutur kata maka, padanya boleh disematkan gelar orang berbangsa. Jadi sebutan orang berbangsa sejatinya bersifat tunggal; individu, personal.

Teranglah sudah, kata bangsa dalam ungkapan bahasa menunjukkan bangsa tidak merujuk kepada makna politis istilah bangsa. Otomatis bahasa yang dimaksud bukan pula bahasa politis. Akan beda maknanya bila ungkapan di atas diadaptasi ke dalam misalnya; Bahasa Indonesia menunjukkan Bangsa Indonesia. Bahasa berfungsi medium saja. Tidak mewakili kebangsaan. Bahasa tidak menunjukkan bendera, tidak mengikutkan negara. Bahasa hanya mewakili setiap satu dari kita, orang per-orang.

Bahasa adalah sistem daripada lambang yang berupa bunyi yang dipakai untuk melahirkan pikiran dan perasaan. Bahasa Bugis, bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia berpotensi sama mewakili karakter, isi pikiran dan perasaan seseorang. Orang berbangsa atau tidak, tergantung pada etika, adab, juga perilakunya kala bertutur kata. Tidak pada pilihan bahasa yang dipakai. Bangsa dalam pengertian keturunan orang-orang mulia tetap dapat ditunjukkan pada pemakaian bahasa apa saja.

Mereka yang bertutur kata sopan, cerdas, berisi, dan bertanggung jawab, otomatis berbangsalah dia. Mengenai status kebangsaaannya, –mungkin yang anda maksud adalah status kewarganegaraan– itu lain perkara. Terlalu sempit bila kita membatasi makna bahasa dan bangsa dengan keharusan orang Indonesia berbahasa Indonesia. Maka, abaikanlah aksennya, maaafkan diksinya. Nilailah kepolosannya, maksud baiknya, serta senyum manisnya (yah, senyumnya memang manis) mendengar Cinta Laura mengucap;  mana bececkh, gag ada ojeckh.

Bagi yang pernah berkunjung ke kota Makassar, mungkin pernah mendengar warganya mengucap kalimat sebangsa ; “ Kita saja yang ambil “. Orang Jakarta boleh keliru bila memaknai kata Kita sebagai kata ganti orang kedua jamak (termasuk anda dan juga saya). Kata Kita versi orang Makassar adalah kata ganti orang kedua tunggal (anda atau kamu seorang saja). Berbangsalah orang Bugis-Makassar yang memodifikasi bahasa mainstream demi kesopanan bertutur kata. Sebab di mata mereka, kata ganti orang kedua tunggal (anda atau kamu) belum cukup sopan. Kata Kita berarti mewakilkan diri saya sebagai satu kesatuan tidak terpisahkan dari diri anda. Anda Bahagia, saya juga bahagia, anda susah, saya ikut susah.

Apakah dalam kasus ini orang Bugis-Makassar tidak menunjukkan jati dirinya sebagai orang Indonesia, dikarenakan mereka tidak berbahasa Indonesia yang baik dan benar ? Haqqul Yakin, orang Bugis-Makassar lebih rela disebut sebagai bukan orang Indonesia, ketimbang dipaksa berbicara tidak sopan kepada teman bicaranya.

* * *


Rusdianto. Peminat blog social media. Aktif menulis flash fiction & cerpen di blog pribadinya www.antojournal.com serta artikel resensi buku fiksi & tips menulis fiksi di www.indonovel.com. Sekarang berdomisili di Makassar.

9 Comments to "Bahasa (tidak) Menunjukkan Bangsa"

  1. kembangnanas  18 January, 2011 at 08:54

    bahasa emang beraneka ragam, beraneka ragam pula interpretasinya. aku dah sebulan ini pindah palembang (walo dulu sebelumnya pernah jg tinggal di sini hampir setahun), tp aku kadang masih jetlag juga dengan bahasanya, kadang terkaget2 kalo ada yg nanya “Kau budak jawo yo?” Oh, noooooo! masak aku dibudak-budakke, sejak kapan aku jd budak? tp yah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, adaptasi dan adaptasi lagi, termasuk adaptasi bahasa

  2. HN  18 January, 2011 at 07:07

    Kadang aku heran, bagaimana orang menemukan terjemahan kata dalam bahasa lain? Bagaimana kita tahu kalau “eat” itu adalah “makan” dalam bahasa Indonesia…

  3. Djoko Paisan  18 January, 2011 at 03:57

    Mas Rusdianto….
    Tarimakasih ya,
    Ante kama jo…???
    Baji mi di…???
    Malah diingatkan dengan kata “kita”
    Satu saat kami bertamu dirumah susun asli orang bugis…..
    Belum lama kami duduk bersila di bawah,tuan rumah nyeletuk…
    Kita sudah makang…???
    Dalam hati Dj. sudah makan kok omong-omong….
    Ada teman yang bernama ( Jhoni sekek ), mas Rusdianto tau artinya sekek kan…???
    Dia terjemahkan, dia tanya….apakah anda sudah makan…???
    Orang Makassar, kalau akhiran “n” mereka tambah huruf “g”
    Jadi kata “makan” menjadi “makang” “koran” jadi “korang”
    tapi kalau ada akhiran “g” malah dia hilangkan, seperti kata “orang” jadi “oran” dan kata “hilang” jadi ” hilan”
    Karena Dj. tinggal dikampoeng dan senang blusukan, jadi banyak kenalan Daeng maupun karaeng.

    Salam Damai dari Mainz…

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 January, 2011 at 20:27

    Makin rumit bahasa daearj, makin berwarna budaya kita. Bahasa adalah budaya dan identitas penuturnya. Di Indonesia pemakaian bahasa Inggris sudah merupakan label peringkat seseorang. Kalau orang menulis dan bertutur bahasa Inggris, artinya yang ingin dikatakan:

    1. “Gue lebih pinter dar elo”
    2. “Nih, lihat wawasan ama pergaulan gue”
    3. “Ah, kampungan lo mash pakai bahasa lokal”

    Kalau saya sebaliknya, akan menggunakan bahasa Indonesia sekuat-kuatnya. Kalau bisa seluruh mahluk hidup di jagat raya memakai bahasa Indonesia, bahasa saya. Harus ikut aturan saya. Dan ini ternyata lebih sombong dari org yg sok berbahasa asing.

  5. EA.Inakawa  17 January, 2011 at 19:15

    Bahasa di kita…..sepertinya sudah sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika,begitulah kiranya.

  6. Handoko Widagdo  17 January, 2011 at 17:22

    Menurut REMISILADO, 90 kata yang dipakai dalam Bahasa Indonesia adalah hasil serapan dari bahasa lain. Artinya 90% Indonesia adalah hasil serapan? Termasuk Irfan Bachdim dan Golzales?

  7. Linda Cheang  17 January, 2011 at 13:59

    Justru itu uniknya Bahasa Indonesia dengan campuran bahasa dari berbagai daerah. mJadi rame, dan hidup kesannya.

    Tidak terbayang kalau negeri yang bahasa daerahnya saja bisa tigaratus lebih macam, jika tidak disatukan oleh Bahasa Indonesia => kepala pening.

    Terima kasih kepada para bapak bangsa ini yang sudah sejak jauh hari, memikirkan bahasa persatuan ini.

  8. J C  17 January, 2011 at 13:05

    Memang luar biasa sulit untuk negeri sebesar Indonesia masalah bahasa ini. Masing-masing tempat memiliki kekhasan dan aturan main sendiri-sendiri ditambah dan dicampur kebudayaan setempat dan kearifan lokal.

  9. Silvia  17 January, 2011 at 12:23

    Memang kalau kedaerah-daerah suka bingung juga. Padahal sama-sama menggunakan bahasa Indonesia.

    Pajak=pasar; bunuh itu mesin=matikan mesin, dll

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.