Jembatan Islam – Kristen (4-habis): Pangeran Charles

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


Love is all around for Charles

TENGAH malam, di sebuah dermaga kecil tempat wisata musim panas di Mullaghmore, County Sligo, Irlandia, sebuah boat bernama ‘Shadow V’ mengapung di perairan Teluk Donegal. Seorang sukarelawan kelompok perlawanan terhadap Inggris di Irlanda, IRA (Tentara Republik Irlandia) memasang bom RC seberat 50kg di perut perahu tersebut.

Bom itu bukan untuk membunuh ikan, seperti sering dilakukan oleh perusak lingkungan di Indonesia, tetapi untuk menenggelamkan (juga membunuh) bakal penumpang yang akan naik ke dalamnya. “Blaaaarrrrr….!!!”, bom itu meledak ketika ingin ditumpangi seorang pria bangsawan tua jangkung yang ingin pergi memancing dalam liburan musim panasnya.

Pria itu Lord Mountbatten, great uncle dari Pangeran Charles, putra mahkota kerajaan Inggris. Mountbatten tewas seketika. Inggris pun panik dan marah. Pangeran Charles jatuh sedih. “Paman Dickie (panggilan keluarga untuk Lord Mountbatten) adalah orang paling saya kagumi dari siapapun”. Mountbatten bukan hanya sekedar paman atau keluarga bagi, tetapi sosok teman untuk diskusi bagi sang pangeran. Dia juga banyak memberi kemudahan kepada pemimpin Indonesia berperang melawan Belanda saat revolusi dulu.

Sejak kematian Mountbatten, Pangeran Charles banyak berubah dalam melihat persoalan masyarakat. Orang kesayangannya itu tewas akibat hasil sebuah perselisihan berakar dari dari banyak perkara, di antaranya agama. IRA yang bertanggung jawab memusnahkan Moutbatten adalah pro-Katolik dan dibentuk untuk melawan kekuasaan Inggris di bumi Irlandia.

Perselisihan yang juga diwarnai motif agama itu, melekat dalam setiap sendi masyarakat sampai ke lapangan sepakbola, olahraga kegemaran masyarakat di sana. Bila ada pertandingan klasik antara Rangers dan Celtic, sudah diduga, secara tradisi penganut Protestan akan membela Ranger dan pengikut Katolik akan mendukung kesebelasan Celtic.

Pahitnya perselisihan itu dilantunkan dalam lagu kelompok U2, ‘Sunday Bloody Sunday’, yang menceritakan pembantaian tentara Inggris di hari Minggu akhir Januari 1972 terhadap rakyat sipil Irlandia. Kekerasan bermotif agama secara tak langsung menjadi bagian pengalaman pribadi Pangeran Charles. Dia tak ingin berada dalam malapetaka itu dan tak mau rakyatnya terbakar oleh amarah kebencian agama.

Dia menginginkan adanya kasih sayang mengelilingi pemeluk agama-agama besar,  yang memilki keterbatasan untuk saling menghormati dan hidup harmoni. Serupa dengan syair sebuah lagu lama, “Love Is All Around”.

“You know, I love you, I always will
My mind’s made up
By the way that I feel
There’s no beginning
There’ll be no end
‘Cause on my love you can depend

“Kita harus saling berbagi pengalaman, saling mengungkap diri kita, saling memahami dan tenggang rasa, meski saya tahu hal ini tidak mudah”, ujarnya dalam sebuah pidato cemerlang tantang Islam dan Kristen di Universitas Oxford 17 tahun silam. Charles tidak sendiri mengakui kesukaran untuk saling memahami dua agama besar yang membawa ciri peradaban besar yang saling berbeda bagai siang dan malam.

Orang yang menduduki urutan nomor satu menduduki tahta sebuah kerajaan besar dan paling bergengsi di dunia itu, kini tampak seperti pedagang asongan yang menjajakan perdamaian dan harmoni antara dua agama dan peradaban besar. Tapi itulah pekerjaan yang sulit dilakukannya dan kurang mendapat untung, ketika makin banyak terjadi permusuhan berdarah berawal kebencian antara Islam dan Kristen di awal milenium baru.

Promosi Charles mengukir harmoni Islam dan Kristen tidak setengah-tengah. Dia berkeliling ke dunia Islam sambil meninggal jejak dagangannya dengan pidato memukau yang menyejukkan dan juga mengagetkan banyak orang yang pikiran tertutup awan hitam kebencian.

Dia mengunjungi makam Jalaluddin Rumi di Konya bersama istrinya buka sekedar berziarah saat sang filsuf berusia 800 tahun, tetapi mencoba mengikat tiga agama besar dan juga agama lain untuk saling memberi ruang untuk pengertian. Puluhan mesjid dan institusi Islam didatangi baik di luar Inggris maupun di negaranya. Universitas Al Azhar memberikan gelar kehormatan kepadanya, sebuah penghargaan tertinggi yang pernah diberikan kepada seorang tokoh non-muslim. Dia datangi kelas sekolah milik Cat Stevens (Yusuf Islam) dan masuk ke Masjid Istiqlal sewaktu kedua kalinya ke Jakarta.

Tidak ada ukuran untuk menilai apakah Charles berhasil membuat jembatan indah antara agama-agama di dunia. Kita tidak bisa memaksa dia juga untuk berhasil, selama kita tidak menyukai apa yang dia buat. Pengorbanan Charles untuk itu juga tidak sedikit dan mulai mengusik tradisi ratusan tahun predikat kelak sebagai seorang raja.

Gelarnya sebagai “Defender of Faith” (sama seperti raja-raja Jawa dengan sebutan Panatagama atau pemimpin atau penata agama), sedikit terusik. Charles tak cocok lagi memakai gelar itu, harus diubah menjadi ‘Faiths’ (jamak), karena sebutan itu khusus untuknya sebagai pelindung agama resmi kerajaan Inggris, Anglikan. Sedangkan Islam sudah membesar pemeluknya dan menjadi agama kedua, dibarengi dengan pesatnya agama non-Anglikan di sana.

Ketika akan pecah Perang Teluk untuk mengusir Irak dari Kuwait tahun 1991, Charles terbang ke teater yang akan dijadikan perang. Dia meminta panglima tertinggi perang itu, Jenderal Norman Schwarzkopf agar jika perang terjadi di Irak, jangan merusak tempat-tempat suci umat Islam (kebanyakan milik sekte Syiah, seperti makam menantu Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib). Permohonan itu dijalankan dengan baik oleh Schwarzkopf. Justru Saddam Hussein banyak menghancurkan yang ingin dilindungi Charles.

Charles sudah membuka banyak pikiran kaum muslim dan kristiani, yang mewakili dua peradaban besar untuk sebuah pengertian yang terpisah jurang jauh dan waktu. Dia selalu mengulang betapa peradaban barat harus berterima kasih kepada dunia Islam dalam banyak kemajuan ilmu pengetahuan yang dirintis ketika Eropa kegelapan dalam sebuah masa yang panjang.

Kelak dalam generasi mendatang, kita juga akan berterima kepada seorang pangeran yang bernama lengkap Charles Arthur Phillip George, yang banyak berjasa membangun pengertian antar peradaban yang sulit beradab saling memahami. Ketika kemajuan saling pengertian antara agama, toh kejadian yang ada selalu begitu-begitu saja. Tetap saling sukar memahami.

Bukan berarti pangeran yang akan menjadi Raja Charles III itu gagal membuat jembatan antara agama dan peradaban. Tetapi kita tak mau melalui jembatan itu dan memilih terjun bebas ke dasar jurang. (*)



33 Comments to "Jembatan Islam – Kristen (4-habis): Pangeran Charles"

  1. nevergiveupyo  5 February, 2011 at 19:07

    keuntungan dari diakhirinya serial in adalah :
    1. akan ada sisi lain dari tokoh lain yang muncul (sisi lain = sisi yang belum terekspos media/penulis sampai saat ini)
    2. tak perlu ribet2 mengurut serie2 pendahulu lagi jika misalnya baru bisa baca belakangan…
    3. ISK akan terbebas dari tuduhan : Charlesian
    hehehehe

    tks pakwan

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  18 January, 2011 at 22:59

    Terima kasih Mawar. Sebenarnya bisa panjaaang, tetapi orang jadi jenuh dan tak suka. Makanya diakhiri saja dan tidak boleh panjang-panjang. Pasti kamu lagi masak enak nih…

  3. Mawar09  18 January, 2011 at 21:55

    ISK: terima kasih ya artikelnya. Sayang ini adalah serial terakhir……….. padahal ngga bosan lho bacanya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *