Ali! Ali! Ali! Ali! Ali! Ali! Ali!…

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


’PERTANDINGAN’ dalam kehidupan seorang Muhammad Ali agak unik, seperti sebuah pertarungan tinju di atas ring. Bukan hanya hidupnya yang unik, sosoknya memang unik. Dibenci, disayang, disanjung, dicampakkan, dipuja, dihina, dikagumi juga dinista karena kulitnya yang hitam dan mulutnya yang besar tempat mengucurnya kata-kata sombong.

Ali adalah petinju dan olahragawan ulung di abad 20. Orang menamakan dia ’The Greatest’.  Dia tak hanya bertarung menghempaskan lawannnya, tetapi juga melawan penindasan warna kulit di negerinya dengan arogan. ”I shook up the world! I shook up the world! I shook up the world!” Saya guncangkan dunia!

Saya sendiri mengenal sosok Muhammad Ali sewaktu masih di bangku taman kanak-kanak, ketika menjadi pasien langganan klinik gigi milik Fakultas Kedokteran Gigi UI. Saya heran ketika banyak dokter yang tak bertugas berkerumun depan TV hitam putih menyaksikan olahraga adu jotos ini. Beberapa tahun berselang saya baru tahu dari ibu saya, itu pertandingan Ali melawan Joe Frazier tahun 1971.

Kejadian seperti ini saya sering lihat kembali di rumah, di perkantoran, di warung-warung dan di mana-mana saja, bila ada pertandingan Ali bertinju. Bahkan sekolah saya sering terganggu karena banyak guru menonton pertarungan Ali. Di mana-mana semua orang demam Ali. Saat itu saya mengira Ali itu orang Indonesia, karena namanya tak asing bagi saya yang masih kecil. Kebetulan nama ayah saya juga Muhammad Ali. Tetangga di kampung Betawi di Jatinegara tempat saya tinggal lama, banyak yang bernama Ali. Ada yang namanya Pak Ali, Haji Ali, Kong (Engkong) Ali atau Mat Ali.  Lho, ternyata saat beranjak besar saya baru tahu Muhammad Ali itu bukan orang Indonesia!

Teng…teng…teng…teng…!!! Yuk nonton pertandingan hidup Muhammad Ali yang dulunya bernama Cassius Marcelus Clay, Jr. Tanggal 17 Januari ini dia terakhir mengecap usia kepala enam.

RONDE 1

Ali berasal dari keluarga menengah. Wajah tergolong tampan untuk ukuran kulit hitam. Tak punya prestasi di sekolah. Ayahnya tukang cat rambu jalan di kota kelahirannya Louisville, Kentucky. Mungkin saja dia ikut menandai rambu untuk jalan anaknya ke tempat yang lebih baik. Dan ayahnya berhasil dengan pekerjaannya itu.


RONDE 2

Di babak ini dia terpukul. Sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya hilang dicuri orang. Dia marah, sedih dan geram akan menghajar si pencuri, tapi tak bisa berkelahi! Ali berlatih berkelahi secara teratur untuk itu dan mengubah jalan hidupnya untuk meraih yang diinginkan, kecuali sepedanya yang tak pernah kembali.


RONDE 3

Banyak jalan menuju Roma untuk menjadi berhasil. Ali tak tahu bagaimana harus ke Roma. Dia takut naik pesawat terbang. Di babak ini dia terancam tak bisa berkarir lebih cemerlang lagi sebagai seorang petinju, bila tak ikut ke Olimpiade Roma 1960. Perlu berjam-jam membujuknya agar mau ke Roma. Akhirnya Ali menuju Roma dan menang.


RONDE 4

Ali mulai dikenal banyak orang karena berhasil memperdengarkan lagu kebangsaan Amerika Serikat, The Star-Spangled Banner” di Olimpiade Roma. Meski juara. dia tetap kalah melihat kenyataan di depan matanya, bahwa warga kulit hitam diperlakukan tidak layak. Ali yang berkulit hitam, kecewa dan membuang medali emas itu ke sungai Ohio.


RONDE 5

Dia berhasil menjadi juara dunia tinju kelas berat tahun 1964. Ini babak kemenangan Ali setelah mengalahkan juara sebelumnya Sonny Liston yang tua, tak yakin mengalahkan Ali serta berlaku curang melumuri badannya dengan zat seperti garam hingga mata Ali pedih. Sebagai petinju, babak ini paling monumental. Visual pertandingannya menjadi begitu populer sebagai icon sebuah kemenangan, ketika dia menghardik Liston yang baru jatuh dipukulnya untuk segera bangkit. Ali pun dipandang dunia. The Beatles yang sedang menjajah AS dengan British Invasion-nya, mendatangi Ali.

RONDE 6

Ali juara tinju dunia tetapi dia bukan juara rakyat dan pemerintah Amerika yang sedang sibuk membunuhi warga sipil miskin di seberang lautan di Vietnam. Dia menolak ikut berperang di Vietnam untuk melukai dan memusnahkan orang-orang Vietcong. ”Orang Vietcong tak pernah panggil saya negro”, katanya.


RONDE 7

Babak paling indah dalam kehidupan seorang Ali. Dia mendapatkan kemenangan yang hakiki sebagai seorang manusia. Dia melepaskan gelar juaranya sebagai simbol pencapaian hidupnya, dengan menolak ikut wajib militer untuk membunuhi orang Vietnam. Dia tak boleh bertinju di AS karena tidak patriotik. Ali dipenjara karena menolak perang secara hukum sana berarti dia seorang kriminal. Tetapi dia mendapatkan jati dirinya. Jiwanya.


RONDE 8

Ali kalah dalam kurungan penjara, tetapi dia mendapat juara dari kemenangan logika dan hati banyak orang yang waras di AS, bahwa ada yang salah dalam perang di Vietnam. Tentara AS di Vietnam justru menyebut Ali sebagai satu dari pahlawan mereka selain pejuang hak-hak sipil Martin Luther King. Aneh!!! Ali mendapat mukjijat Tuhan, karena nyawanya justru selamat di dalam penjara. Orang yang seide dengannya, seperti Martin Luther King dan calon presiden Senator Bob Kennedy ditembak mati ketika Ali dalam sel jeruji besi, karena dua orang besar itu dianggap kurang loyal kepada Amerika.


RONDE 9

Babak indah dalam karir seorang Ali. Dia kembali bertinju, tetapi tak punya gelar juara lagi. Dia harus merebutnya dari sahabatnya yang sering memberinya uang ketika menganggur sebagai petinju karena dihukum, yaitu Joe Frazier, juara tinju kelas berat. Tiba-tiba orang-orang kaya terkenal datang menyaksikan Ali bertinju kembali. Frank Sinatra, Woody Allen juga Burt Lancaster dan Norman Mailer. Bahkan raja narkotik Frank Lucas datang menyaksikan pertandingan olahraga terbaik dalam abad ini, yang diabadikan dalam film ’American Gangster’. Ali memang kalah dalam pertarungan ini karena lama tak bertinju dalam penjara. Aktris Diana Ross mendatangi kamar gantinya dan menangis tersedu di pundaknya. Tetapi sebelum pertandingan dia sudah memenangkannya, yaitu menang melawan pemerintah AS yang memenjarakannya. Dia pahlawan banyak orang, sehingga mulai orang miskin sampai selebritis menyaksikan kehadirannya kembali di atas ring, karena mereka percaya Ali dipenjara karena benar, bukan karena salah.


RONDE 10

Babak-babak paling menarik dalam hidup Ali. Dia bukan sekedar bertinju dan bukan juga cuma seorang olahragawan. Dia sastrawan dengan ungkapan-ungkapan indah. ”Terbang bak kupu-kupu dan mengigit bagai seekor lebah” adalah sebuah ungkapan sangat puitis dari mulut Ali yang membuat banyak sastrawan mengiri. Dia penghibur dengan menari-nari di atas ring memuaskan orang menontonnya. Dia juga balerina. Lihat gerak kakinya saat bertinju yang tak lazim dilakukan seorang petinju. Dia pula seniman dan seorang aktor. Dia pintar melukis dan merangkai logika dengan cantik dengan ucapan berirama rap yang indah di telinga. Elvis Presley pun  memberi hadiah jubah putih perniknya kepada Ali dan dia memakainya sewaktu bertarung melawan petinju kurang terkenal Ken Norton tahun 1973. Ali menjadi juara dunia kembali mengalahkan George Foreman di Zaire (sekarang Congo), sepuluh tahun setelah dia meraih pertama kalinya tahun 1964.


RONDE 11

Ali sang juara bertarung satu per satu menjatuhkan lawannya dengan hiburan menarik dan memperlihatkan bahwa tinju bukan olahraga sadis dan darah, seperti yang ditunjukkan oleh Mike Tyson. Ali menghibur dengan pertandingan licah bak tarian di tempat-tempat menarik dunia, bukan sekedar di bumi Amerika. Ali bertinju di Zurich (Swiss), Vancouver (Kanada), Dublin (Irlandia), Tokyo (Jepang), Kuala Lumpur (Malaysia), Kinshasa (Zaire), San Juan (Puerto Rico), Manila (Filipina), Munich (Jerman) bahkan tahun 1973 Ali bertanding melawan petinju Belanda Rudi Lubbers di Istora Senayan, Jakarta. “Pertandingan di Jakarta adalah pertarungan paling mudah dalam karir saya”, katanya kepada majalah tinju terkenal “Ring’. Uniknya, beberapa official Ali memakai baju batik! Inilah pertama kalinya batik menjadi sorotan dunia secara meluas di depan kamera TV, karena Muhammad Ali.


RONDE 12

Ali mulai memperlihatkan kelemahan fisiknya ketika kalah bertarung melawan petinju muda Leon Spinks. Ali memang kalah saat itu, tetapi dia merebutnya kembali beberapa bulan kemudian dari orang yang sama. Dia pun menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya (1964, 1974 dan 1978). Namanya yang akrab bagi warga dunia, membuat dia berkeliling dunia membujuk pemimpin dunia mewakili Presiden AS Jimmy Carter untuk memboikot olimpiade di Moskow (Uni Soviet waktu itu) tahun 1980, karena negeri komunis tersebut menyerbu Afghanistan (padahal AS melakukannya sekarang dan lebih sadis lagi). ”Mengapa AS mengirimkan seorang petinju untuk masalah penting ini?”, tanya presiden Tanzania keheranan setelah menemui Ali. Ali banyak bertemu tokoh dunia.

Diktator Marcos dari Filpina, monster Mobutu dari Zaire, pahlawan Arab Gamal Nasser dari Mesir, Paus Yohannes Paulus II sampai Dalai Lama. Aktris-aktris cantik terkenal Hollywood menyayanginya bagai seorang ayah. Bahkan Ali bebas masuk Istana Kremlin di Moskow bertemu pemimpin Uni Soviet Leonid Brezhnev, saat semua tokoh AS ketakutan mendatangi Moskow.


RONDE 13

Babak paling memilukan dalam karirnya sebagai petinju. Ali dikalahkan petinju muda Larry Holmes tahun 1980 dan gelar juara dunia pun lepas dari tangannya untuk selamanya. Pertama kalinya ada seorang petinju memukul wajah Ali. Sebagai petinju Ali memang kalah, tetapi sebagai seorang pahlawan bagi banyak warga kulit hitam dan kaum tertindas, dia menang karena berpikir untuk berhenti berkelahi lagi yang menyebabkan tubuhnya terkena penyakit Parkinson lebih parah.  Ali menjadi duta perdamaian bagi banyak lembaga dan yayasan dunia. Sekjen PBB Kurt Waldheim dan Kofi Anan menghargai peranannya itu.


RONDE 14

Babak ini adalah babak paling emosional dalam hidup Ali. Tubuhnya selalu gemetar karena penyakit akut Parkinson, namun dia kalahkan dengan keinginan kuat. Diringi lagu Simfoni 9 karya Beethoven nan megah serta milyaran mata manusia di bumi, Ali nekad membuka seabad pesta umat manusia olimpiade di Atlanta, Georgia, AS tahun 1996, yang mengharukan dengan menyulut api suci olimpiade sambil tangannya gemetar membawa obor. Saya terkejut dan sangat terharu melihat di layar TV, Ali tiba-tiba berdiri menyalakan obor dengan tangan gemetar seakan obor akan jatuh.

Saya terharu karena saya mengenal kepopulerannya sejak saya kecil. Saya tumbuh besar dalam masa kepopuleran Ali. Ternyata jutaan orang merasakan terharu seperti saya, terutama generasi yang tumbuh bersama kebesarannya dan mengenalnya dengan baik. Saya bangga hidup di masa Ali dan menjadi bagian dari masanya.


RONDE 15

Babak-babak akhir Ali akan dilaluinya dengan penuh semangat meski dia menyimpan penyakit parah. Ali adalah orang yang bisa mewakili esensi kehormatan yang dimiliki manusia, roh dan tubuh. Dia membahagiakan banyak orang dengan dua unsur itu selama hidupnya. Roh atau spirit yang dia bawa serta kekuatan otot manusia dengan kecerdasan, bukan keperkasaan semata. Bagi sebagian orang Ali dianggap membuka jalan untuk persamaan bagi kehidupan banyak orang. Dia dikagumi banyak orang melintasi agama, bangsa dan ras. Dia disejajarkan dengan Nelson Mandela. “Ali seperti Buddha walking”, kata pelawak terkenal Billy Crystal. Sebuah lagu yang tidak ditulis untuknya, kemudian melekat menjadi lagu identitasnya, “The Greatest Love of All’, yang pertama kali dinyanyikan George Benson lalu menjadi ilustrasi film dokumenter kehidupannya. Tanggal 31 Desember 1999, dia mendapat kehormatan sebagai orang terakhir yang membuka pasar bursa New York Stock Exchange terakhir kalinya di abad 20.


Ali memang pernah dan bisa dikalahkan oleh petinju atau penyakit Parkinson. Tetapi Ali tidak pernah kalah dengan pendiriannya, bahwa manusia sederajat. Siapapun dia. Tidak pernah! (*)

85 Comments to "Ali! Ali! Ali! Ali! Ali! Ali! Ali!…"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 January, 2013 at 09:51

    Bener Mas Edy. Itu pengalaman generasi kita yang tidak akan terulang lagi sampai kapan pun.

  2. Edy  17 January, 2013 at 09:11

    JAdi ingat nonton tv hitam putih, pake aki, kepyur, di rumah tetangga dan sekolah sd libur kalo pas Ali main.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 January, 2013 at 08:00

    Terima kasih mBak Tri… Salam dari Muhammad Ali.

  4. triyudani  17 January, 2013 at 04:08

    Mas Iwan saya tambah jatuh cinta aja sama tulisan 2 sampeyan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *