Senja di Chao Phraya (5)

Endah Raharjo


Bab 2: Gerimis di Sangkhlaburi (1)

Bila Tuhan mencipta keheningan di muka bumi, salah satunya pastilah Sangkhlaburi. Kota kecil di barat laut Kota Bangkok ini tak hanya hening, pepohonan yang melingkupinya menjadikannya hijau dan teduh. Sebegitu hening dan teduhnya sampai waktu seolah terperangkap di dalam kerimbunan dedaunan. Hari jadi terasa berjalan amat perlahan. Matahari kerap gagal menembuskan sinarnya hingga embun lambat menguap dari permukaan tanah.

Seperti pagi ini. Kabut menyelimuti permukaan Danau Khao Laem. Perbukitan yang dihuni oleh orang Mon yang membingkai danau itu jadi tampak mengapung, bagai sebuah negeri di atas awan. Banyak wisatawan tidak menyadari bahwa danau yang menjadi salah satu kebangganaan masyarakat Sangkhlaburi itu baru dibangun pada tahun 1983. Yang mereka tahu, air danau itu mampu membasuh bersih debu-debu kota besar yang mengotori jiwa mereka.

“Mistis,” Laras menyatakan kesannya tentang Sangkhlaburi pada Osken dalam sebuah sms. Lelaki yang baru menyelesaikan tugasnya di Kalkuta itu sedang transit di bandara internasional Kuala Lumpur. Ia hendak menyusul Laras yang sudah tiga hari berada di Sangkhlaburi.

“Seperti kamu, kalau begitu,” balas Osken, juga melalui sms. Bagi Osken, janda beranak dua itu bagaikan sebuah wilayah di alam tropis yang belum sepenuhnya terjamah oleh tangan manusia. Ia menyimpan pesona yang tak habis dinikmati dalam sekali lihat. Tiap saat, ada saja yang ia temukan yang tidak ia duga. Seperti kupu-kupu berwarna ungu yang melintas di sela-sela hijau ilalang yang luas membentang. Seperti tanaman berbunga langka yang menempel di bebatuan berlumut. Seperti burung berekor menjurai panjang yang terbang liar di antara reranting cemara. Tidak luar biasa namun tak biasa. Tidak menyilaukan mata dan perlu waktu untuk menemukan keindahannya.

“Menurutku, kamu juga menyimpan banyak rahasia,” lanjut Osken masih dalam sms-nya.

Lalu mereka berdua saling bertukar sms hingga tiba saatnya bagi Osken menaiki pesawat. Laras membayangkan Osken melangkah dengan penuh percaya diri memasuki perut burung besi bernama Boeing 737-400 yang akan membawanya terbang selama 2 jam menuju Bangkok.

Awalnya Laras ragu-ragu mengijinkan Osken mendatanginya di lokasi penelitiannya. Namun Osken berjanji tidak akan mengganggunya.

“Saya hanya akan berada di sana 2 malam saja dan akan menemuimu selepas jam kerja. Jangan kuatir,” Osken meyakinkan Laras,  “saya tidak akan menculikmu. Kecuali kalau kamu mau,” tambah Osken bercanda lewat telpon.

“Aku bekerja dari jam 9 sampai jam 5, kadang sampai jam 7,” Laras masih mencoba menghentikan lelaki yang batal mengunjunginya di Jogja itu. Laras terpaksa berangkat ke Thailand lagi untuk menggantikan temannya yang mengalami kecelakaan. Kalau bukan karena musibah itu, Laras saat ini akan berada di rumah menemani dua anaknya.

Osken yang berjanji saat mereka berpisah di Bangkok dua bulan lalu, akan menengoknya. Bisa diduga, lelaki itu akan minta bertemu dengan Mega dan Angka. Laras pasti akan mengalami kesulitan menjelaskan Osken pada dua anaknya. Dari sisi ini, musibah yang dialami koleganya itu menjadi berkah bagi Laras.

Sepeninggal suaminya, Laras jarang sekali mengenalkan teman kerjanya pada Mega dan Angka. Hanya sesekali saja, bila mereka terpaksa menelpon ke rumah karena ada suatu urusan penting yang harus diselesaikan selepas jam kerja.

“Pak Tri itu siapa, Ma? Kayaknya seminggu ini dia sering nelpon ke rumah.” Setahun lalu, suatu malam sehabis makan, Mega menanyakan tentang salah satu rekannya bernama Tri Rusmanto. Kala itu Tri baru saja kehilangan pekerjaan karena perusahaan yang mempekerjakannya bangkrut. Tri minta bantuan Laras untuk mengenalkannya pada teman-teman Laras yang mungkin butuh keahliannya.

“Dia antropolog yang pernah kerja bareng Mama dan butuh kerjaan. Mama sedang membantunya mencari proyek agar tiga anak perempuannya tetep bisa makan,” Laras menjelaskan. Mega lalu tidak bertanya lagi. Kata-kata Laras tentang tiga anak perempuan Pak Tri mengingatkan Mega akan dirinya sendiri. Bila mamanya tidak bekerja, mereka semua pasti akan menjadi sengsara sepeninggal papanya.

Dari layar ponselnya, Laras sadar kalau saat sarapan sudah hampir lewat. Cepat-cepat ia raih jaketnya yang tersandar di punggung kursi. Kabut tidak hanya menutupi permukaan air danau. Ia juga menabiri sinar matahari. Akibatnya, udara pukul 8.30 pagi terasa seperti sehabis subuh saja. Sambil berjalan menyusuri koridor terbuka yang menghubungkan teras kamar hotelnya dengan restauran tempat para tamu menikmati sarapan, Laras tak melepaskan matanya dari muka air danau yang sepenuhnya tertutup kabut tebal. Udara pagi jadi lembab namun tidak pengap. Pekat namun tidak gelap.

***

Mila, salah satu rekan satu tim Laras, memandang Laras dengan ekspresi yang sulit dimengerti. Dua alisnya bertaut tetapi bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman, membuat wajah manisnya berubah mirip badut.

“Osken bener-bener head over heels in love with you.”  Kata Mila. “Pantes aja nggak mau kencan sama produk dalam negeri.” Tambah Mila.

“Kayak kamu yang nggak tahu aja. Lelaki Jogja yang pas buat aku, yang di atas 50 tahun, nggak ada yang lajang!” Laras menyahut dengan ketus.

Sebenarnya Mila hanya bermaksud bercanda, tetapi Laras menanggapinya dengan serius. Dari reaksinya Mila jadi menebak-nebak bahwa sahabatnya itu punya perasaan khusus pada Osken. Sejak menjanda Laras memang menjadi sangat sensitif bila bicara tentang lelaki. Dulu, mereka suka menggosip. Membicarakan rekan-rekan kerja yang secara fisik lebih menarik dari suami mereka lalu berandai-andai.

“Kalau saja aku jadi istrinya, aku pasti mandi junub sehari tiga kali,” gurau Laras saat mereka membahas mitra baru yang menurut mereka penampilannya setingkat lebih ganteng dari Ray Sahetapy.

Kini, Laras tak mau lagi bicara tentang lelaki. Bilapun Mila dan teman perempuan lainnya mengajaknya bercanda ia akan merespon sinis sekali.

“Jadi gundiknya?” Laras lalu tertawa terbahak-bahak dengan angkuhnya. Laras cerdas, mandiri, menarik dan punya profesi yang bisa menghidupi. Ia percaya, hanya perempuan yang butuh uang saja yang mau dijadikan gundik atau istri simpanan atau gula-gula atau apapun namanya.

Ia sadar, Mila sering mengoloknya bahwa penilaiannya itu tidak adil. Katanya, banyak perempuan bersedia menjadi istri simpanan karena alasan cinta dan hal lainnya yang bukan melulu ekonomi.  Namun Laras tidak mau dibilang adil bila untuk itu ia harus mengorbankan harga diri demi lelaki beristeri.

Baginya tidak ada alasan apapun yang pantas bagi seorang perempuan dewasa yang berakal untuk mau dinikahi – secara resmi maupun siri –  oleh lelaki beristri.

“Kalau perempuannya tidak mau menjadi yang kedua dan seterusnya, apa ya bisa seorang lelaki poligami?” Begitu selalu argumen Laras bila mereka bicara tentang perempuan yang mengeluhkan ulah lelaki yang katanya punya kecenderungan beristeri lebih dari satu.

Wajah Laras jadi tampak tegang dan Mila merasa bersalah menambah kesuraman suasana pagi yang berkabut itu.

“Jadi Osken datang ke Sangkhlaburi khusus untuk ketemu kamu? Langsung dari Kalkuta?” Mila mengulang pertanyaan itu entah untuk yang keberapa kali.

“Ya. Dia saat ini sedang menuju Bangkok,” Laras menjawab sambil mengunyah potongan pepaya.

“Kapan kamu terakhir ketemu dia? Waktu dia tugas di Jakarta?”

Mila sangat penasaran dengan lelaki bule yang telah menawan hati Laras itu. Namanya terdengar sexy juga, Osken O’shea. Mila pernah melihat fotonya. Tampak sangat ganteng dengan rambut cepak beruban. Sorot matanya menunjukkan rasa percaya diri dan intelektualitas yang prima, khas lelaki mapan di awal limapuluhan.

Sayangnya Mila tidak suka lelaki bule, apalagi yang membiarkan rambutnya ubanan. Selain itu, dia tidak punya alasan untuk suka pada lelaki lain karena bagi Mila suaminya cukup membuatnya bahagia lahir batin.

Laras tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan Mila meskipun ia tahu kalau sahabatnya itu hanya ingin menunjukkan perhatiannya. Ia sibuk menyelesaikan sarapannya. Laras ingin membuat Mila tahu bahwa dirinya tidak sedang bermain-main dengan lelaki yang sudah menghuni hatinya selama enam bulan itu.

*****

11 Comments to "Senja di Chao Phraya (5)"

  1. Endah Raharjo  20 January, 2011 at 19:00

    Makasih semuanyaaaa…. sambil ngos2-an nerusinnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.