Negeri Laskar Pelangi (1)

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung


Liburan sekolah kali ini aku rencanakan pergi melihat negeri “Laskar Pelangi” yang memiliki keindahan alam seperti yang pernah kusaksikan melalui layar bioskop maupun layar tv. Keinginan pergi ke sini sudah kusimpan sejak lama, malah jauh sebelum novel Laskar pelangi meledak di pasaran, jujur saja keindahan pulau Belitong sudah kudengar dari Papaku sejak tahun 1990, saat papaku sering melakukan tugas dinas ke kota Tanjung Pandan.

Keinginan ke Belitung semakin kuat setelah membaca novel Laskar pelangi sekaligus menonton filmnya, rasanya Ikal dan kawan-kawan memanggilku untuk segera ke sana, hihi… secara kebetulan kakakku yang di Tangerang menelfonku, Tanpa pikir panjang aku langsung mengutarakan ide liburan ke Belitung, yang langsung disambut dengan senang hati oleh mba Titi yang langsung menyetujui saranku.

Walau sempat bertanya bagaimana soal penginapan dan akomodasi selama di Belitung, aku langsung memberitahukan bahwa sudah mendapat semua contact person yang sudah siap membook hotel dan mobil buat kami jalan-jalan selama di sana. (eheeeem…kalo soal liburan, tentu jaringan informasi sudah harus di tangan sebelum kita pergi ke tempat tujuan).

Kebetulan aku punya teman (adik tingkat saat kuliah di FH Unsri) Rita Darmila, yang bermukim di Bangka, yang dengan sabar dan baik banget membantu semua permohonanku yang begitu bawelnya, hehehe……makasih banget my dear Rita.

Jujur aja sebelum aku memutuskan pergi ke Belitong, aku sempat browsing dulu di www.belitungisland.com yang sangat informatif dan membantu sekali buat wisatawan domestik seperti aku ini yang nggak tau apa-apa tentang Belitung, jadi faham daerah-daerah wisata mana yang kudu dan wajib dikunjungi selama di sana. Karena ini sangat bermanfaat buat efektifitas liburan yang singkat tapi bisa maksimal waktu kunjungannya. Aku sudah mencatat pantai-pantai mana yang wajib dikunjungi dan sekolah Laskar Pelangi yang fenomenal itu menjadi tempat wisata yang jangan sampai terlewatkan.

Sebetulnya liburan dadakan ini tidak efektif dari segi biaya, karena otomatis biaya tiket pesawat yang harganya jauh lebih mahal dibanding jika kita mereservasi jauh-jauh hari. Tapi mau bagaimana lagi, jadwal orang kantoran yang gak bisa main cuti suka-suka membuat aku dan kakakku tidak bisa merencanakannya sejak awal, malah banyak nggak jadinya kalau direncanakan, hehehe….

Makanya kami buat liburan dadakan ini semata-mata karena ada kesempatan dan waktu yang mepet. Alhamdulillah justru malah beneran liburan…aku nggak menyangka rombongan kami sampai 11 orang. Awalnya aku pikir hanya mau pergi ber-4 saja (my fam only), rupanya mba Titi tertarik dan mengajak keluarganya lengkap plus 2 keponakan kami. jadi seru banget nie pergi liburan bersama keluarga besar.

Jadwal liburan kami hanya 3 hari 2 malam, harus dimaksimalkan jadwalnya, kami memilih flight pertama dari Sriwijaya Air untuk keberangkatannya, pukul 6.20 pagi tiba di Tanjung Pandan pada pukul 7.10 penerbangan memakan waktu antara 45-50 menit. Jadi kami bisa langsung mengatur perjalanan hari pertama setelah sebelumnya check in di hotel dulu. Jadwal pulang juga denga Sriwijaya Air pada pukul 11.20 siang, biar agak santai berkemasnya saat pulang.

Aku bagi tugas dengan mba Titi, khusus reservasi tiket pesawat bagian mba Titi, asal tahu saja ini liburan yang paling “mepet” dan hampir nggak percaya kalau bisa berangkat! Lha pesan tiketnya tgl 21 Des untuk jadwal keberangkatan tgl 25 Des (hari Natal) dan pulang tgl 27 Des, untuk 11 tiket pula! Tapi berkat jaringan travel yang mba Titi miliki urusan tiket ini bisa diatasi dengan baik, walaupun harganya mahal tapi ini konsekuensi liburan “Last Minutes” hehehehe…..istilahku buat liburan dadakan.

Sedang urusan reservasi hotel, mobil serta itinerary selama di Belitong menjadi bagianku. Rupanya mba Titi sudah memegang print out itinerary dari situs Belitung Island, buat memudahkan kami mengatur jadwal kunjungan ketempat-tempat wisata selama di sana. Itulah enaknya traveling masa kini, semua lebih mudah berkat informasi via internet! Hehehe…..

Kalau nggak mau kesasar tempat tinggal click mang google via GE (google earth). Karena kunjungan kami bertepatan dengan liburan sekolah dan natalan, jadi semua hotel fully book, tapi masih beruntung kami mendapat rekomendasi menginap di Wisma Aditya, sekelas hotel melati, tapi cukup representatif juga, berada di tengah kota Tanjung Pandan, pelayanannya baik, kamarnya bersih dan yang paling utama tarif kamarnya yang sangat bersahabat! Hehe…

Lumayan kan mengirit biaya akomodasi. Ini berkat rekomendasi dari Rita, begitu juga jasa rental mobil + supir yang merangkap guide yang akan mengantar kami berkunjung ke semua penjuru Belitong, dari Timur ke Barat. Kami menyewa 2 mobil, 1 mobil plus supir sedang yang satu lagi tidak, karena mobil kedua akan mengikuti mobil pertama. Sewa mobil berkisar antara Rp.300.000,- s/d Rp.350.000 / hari. (sudah termasuk supir Rp.350.000,-).

Baiklah….aku akan menulis kisah travelingku kali ini sesuai jadwal kunjungan kami, jangan bosen aja yaa bacanya hehe….

Sabtu, 25 Desember 2010, hari pertama

Berangkat di pagi hari memang agak repot apalagi kalau sebelumnya tidur sudah lewat tengah malam, jadi saat alarm ponsel berbunyi yang ada malah dimatikan lagi, hihi….pukul 4.30 aku langsung sholat subuh dulu, bangunin anak-anak, mandi dan beberes ala tarzan. Ponselku berdering-dering tiada henti, telpon dari kakakku yang kuatir kami tertinggal pesawat, karena kami harus check in pesawat minimal pukul 5.30.

Nggak kebayang deh dengan rombongan 11 orang, harus check in on time nie. Syukurlah semua urusan boarding ke pesawat lancar, suasana di bandara Soeta pagi itu cukup crowded maklum deh ini kan hari raya Natal dan libur sekolah, banyak orang tua bersama anak-anak mereka yang bepergian ke berbagai kota di Indonesia, pokoke rame deeeh….rombongan kami sendiri juga heboh, terdiri dari 2 anak SD, 1 remaja SMP, 4 cowo kuliahan, 2 emak-emak dan 2 bapak-bapak.

Anggota rombongan bodrex ini dipastikan lengkap, tidak ada yang tertinggal, jangan sampai kek film “Home Alone”.

Pesawat yang kami naiki boarding on schedule, abnormal menurutku! Soale biasa delay schedule, hihi… estimasi waktu tempuh selama 50 menit sudah terlampaui, sempat ada beberapa kali turbulence yang membuatku agak ngeri, mungkin faktor U juga yang buat aku agak paranoid sama turbulence dan landing pesawat juga tidak terlalu mulus.


Bandara H.As.Hanandjoedin, Tanjung Pandan


Syukur Alhamdulillah….tiba dengan selamat pada pukul 7.10 wib. Bandara H. AS Hanandjoedin di Tanjong Pandan menyambut kami dalam cuaca agak berawan, alhamdulillah do’aku didengar-NYA, karena berdasarkan ramalan cuaca hujan turun merata di semua penjuru kota di tanah air, sedikit banyak akan mengurangi kenyamanan berlibur jika cuaca hujan, yang jelas acara foto-foto bisa berkurang, hihi…

Spanduk dan poster-poster berukuran besar menyambut kami dengan tulisan “Selamat datang di Negeri Laskar Pelangi” serta foto-foto tempat-tempat wisata di seantero pulau Belitung. Waduuh jadi pengen cepat-cepat menuju ke lokasi wisata. Sebelum keluar dari bandara kami sempat foto-foto dulu, teteup narsis.

Pak Niko, rekan sejawat dari Rita, temanku, contact person kami di Belitong, telah menanti kami dengan membawa 2 mobil yang telah kami carter, jenis family car, Toyota Innova dan Avanza. Aku memilih naik mobil yang ada sopirnya, maklum biar bisa banyak tanya ini-itu seputar wisata di Belitung. Pak Niko menemani kami sampai di wisma Aditya, untuk confirm kamar-kamar yang kami pesan. Setelah urusan check in penginapan selesai, kami langsung bersiap memulai explore Belitong. Disepakati untuk hari pertama ini kami akan mengunjungi objek-objek wisata di Belitong Timur.

Supir yang merangkap guide kami, bernama Pak Buyung, beliau aslinya orang Betawi yang merantau ke Belitong pada th 70-an sebagai buruh bioskop keliling. Orangnya ramah dan humoris, istrinya seorang guru SD, pak Buyung bercerita bahwa Belitung mengalami kemajuan yang cukup pesat setelah menjadi Propinsi terlepas dari Sumatera Selatan. Jalanan di Pulau Belitung semuanya bagus dan hampir tidak ditemui mobil-mobil truck fuso apalagi container, jadi mutu jalanan di pulau ini sangat terjaga, jauuuh banget dengan di kota tempat tinggalku yang jalanannya banyak bolong bahkan kek kubangan kerbau, jika tidak hati-hati bisa cilaka.

Pak Buyung, sangat bangga dengan putra daerah Belitung yang sempat menjadi menteri hukum dan ham RI, Bp. Yusril Ihza Mahendra, karena banyak mensupport pembangunan pulau Belitong. Lalu kehadiran novel tetralogi Laskar Pelangi yang sangat fenomenal karya Andrea Hirata, putra asli Belitong, semakin mengangkat nama pulau Belitung.

Tidak berlebihan bagi pembaca novel Laskar Pelangi pasti dibuat penasaran untuk mengunjungi Belitong, karena pemaparan keindahan alam pulau Belitong sangat jelas tergambar dalam novel tersebut. Apalagi setelah novel tersebut diangkat ke layar lebar, semakin kuat rasa ketertarikan orang-orang untuk mengunjungi pulau nan indah permai ini.

Di kanan kiri jalan masih banyak ditemui rerimbunan pohon buah-buahan seperti rambutan, duku, durian, manggis, sawo, sirsak, srikaya, nangka, jambu dan mangga. Sayang semua sedang tidak berbuah. Sebelum melakukan perjalanan jauh kami harus mengisi tangki mobil dulu, dari 3 SPBU yang kami lalui semua antri, waduuh gimana nie, bisa be-te nungguin antrian panjang ini.

Rupanya pak Buyung nggak kehabisan akal, apa karena sudah Cs sama pemilik SPBU nya, dengan tenang pak Buyung main serobot antrean itu langsung nyelonong motong ke antrian terdepan, tentu saja kami yang di dalam mobil dibuat terbengong-bengong, bahkan kuatir diamuki mobil-mobil yang antri dibelakang kami. Ternyata ulah pak Buyung ini tidak diprotest oleh para pengantri maupun karyawan SPBU. Apa sudah ada kesepakatan khusus antara sopir travel dengan para pengelola SPBU ya? hihi…demi mensukseskan pariwisata Belitung kudu di support bebas antrian di SPBU.


Kota Tanjung Pandan dan Mie Belitung

Berdasarkan info dari website Belitung Island, jika kami sampai di Tanjung Pandan pada pagi hari, kami tidak boleh melewatkan mencoba kuliner setempat yaitu “Mie Belitong”, eheeem……kedengerannya enak nie. Lokasi kedai mie belitung ini ada di pusat kota Tanjung Pandan, ada tugu Batu Satam yang berdiri kokoh di tengah kota, yang menjadi ciri khas kota ini, bahwa dulu pernah ada benda meteorit yang jatuh di pulau Belitong, yang serpihan meteorit itu saat ini dikenal dengan nama batu Satam, warnamya hitam pekat, dan teksturnya agak kasar. Lalu di sisi patung batu satam ada lambang ikan Tenggiri dan Pisau (sorry kalau salah), sebagai lambang bahwa pulau Belitung ini mempunyai budaya Bahari yang kental.


Tugu Batu Satam di pusat kota Tanjung Pandan

Kota Tanjung Pandan cukup bersih dan tertata rapih, khas kota-kota di kawasan semenanjung malaya, paling banyak ditemui warkop di pojokan jalan, rupanya budaya ngopi dan ngobrol-ngobrol di warkop sangat membudaya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai kedai mie Belitung, saat kami datang kedai kecil itu cukup ramai, tapi kami segera mendapat tempat duduk, mungkin pelanggan kedai mie ini faham, ini ada rombongan pendatang dengan wajah-wajah kelaparan mau menyerbu kedai mie itu, hihi…. harap maklum aku dan rombongan tidak sempat sarapan pagi, karena kuatir ketinggalan pesawat.


Kuliner yang wajib didatangi saat di Tanjung Pandan


Mie Belitung

Seporsi mie Belitung harganya Rp. 9000,- yang racikannya terdiri dari Mie godok dengan kaldu udang, yang ditaburi, irisan udang rebus, timun, toge dan irisan telur dadar serta taburan emping goreng. Rasanya mantabs!!! Porsinya pass banget buatku, tidak banyak juga tidak sedikit. Bagi yang mau makan di rumah, mie belitung ini biasanya dibungkus pakai daun simpur (bentuknyanya lebar dan agak keras seperti daun jati).

Anakku, Hakim, sangat semangat makan mie belitung ini, sampai habis 2 porsi. Selain menjual mie, kedai ini juga menyediakan nasi Tim. Setelah kenyang kami, langsung mengarahkan perjalanan menuju Manggar, Kabupaten di Belitung Timur, dimana kisah Laskar Pelangi berasal.


Desa Gantong, Pintu Air Pice, SD Laskar Pelangi

Perjalanan ke Manggar kurang lebih ditempuh dalam waktu 1,5 jam, aku begitu menikmati suasana pulau Belitung, walau ada sebagian keluargaku tertidur selama perjalanan. Tempat yang kami kunjungi pertama kali adalah Bendungan kecil, tepatnya pintu air, yang mengatur pembuangan air sungai Lenggang ke Laut, yang bangunan awalnya dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Bangunan itu masih kokoh berdiri, walau sudah mengalami rehabilitasi oleh dinas PU setempat.


Pintu Air Pice, Gantong @Manggar

Suasana tempat ini cukup sepi, tidak kami temui pedagang asongan, hanya ada beberapa wisatawan lain yang datang setelah kami. Cuaca cukup terik siang itu, anakku Mirza sempat ngamuk dan menangis minta Ice Cream, aku dan keluarga berusaha menenangkannya, karena di tempat itu tidak kami temui kedai pedagang makanan ringan, apalagi kedai yang menjual ice cream. Maklum lah kawasan ini berada di Desa Gantong yang lumayan sepi. Sungai Lenggang lumayan lebar dan arus airnya lumayan tenang, Kalau lama-lama berada di tempat ini, aku jamin pasti ngantuk! hihi….


SD Muhammadiyah Gantong

Desa Gantong, yang kami lalui merupakan desa kecil yang tenang, persis seperti yang digambarkan dalam novel LP, sayang kami tidak sempat meninjau toko “Sinar Harapan” tempat Ikal bertemu Aling, saat membeli kapur tulis. Kami mengunjungi SD Muhammadiyah Gantong, yang menjadi lokasi syuting pembuatan film LP, di tempat ini kami baru menemui banyak rombongan turis domestik yang berfoto-foto di depan SD yang sangat legendaris se pulau Belitong.

Ada papan yang tertancap di halaman sekolah dengan tulisan, “Lokasi syuting film Laskar Pelangi”. Yah ini bukan sekolah yang sesungguhnya, karena bangunan aslinya mungkin sudah nyaris roboh, sedang bangunan yang berdiri di depan kami ini adalah bangunan reka ulang dari SD Muhammadiyah Gantong. Walaupun hanya replikanya saja, tetap membuat kami antusias untuk mengamatinya. Setelah cukup melihat-lihat dan berfoto di sana, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju ke Bukit Samak.


Bukit Samak dan komplek perumahan ex PN. Timah

Letak bukit ini kira-kira berada di ketinggian kurang lebih 400 m dpl, dari atas bukit kita bisa memandang laut dan bibir pantai Manggar, warna biru laut yang bergradasi dari biru tua ke biru muda sangat terlihat jelas, indah sekali. Untuk mencapai ke puncak bukit Samak, kami melalui jalanan yang ada dalam komplek perumahan ex PN Timah, yang masih terlihat sisa-sisa kejayaan perusahaan negara ini, teringat akan narasi dalam novel LP, bahwa dulu para pejabat PN Timah menempati rumah-rumah mewah yang berada di atas bukit yang menghadap laut.

Kini komplek perumahan itu terkesan lengang dan sepi, bahkan ada sebagian rumah yang dibiarkan kosong dengan rumput-rumput yang tumbuh subur menyerupai semak. Aku hanya memandang prihatin, sangat disayangkan, kalau ada bangunan yang menjadi mubazir tanpa penghuni lalu rubuh karena tidak terawat, di sisi lain banyak rakyat kecil yang masih belum memiliki rumah harus tidur beratapkan langit.


View from Bukit Samak

Di puncak bukit Samak, ada wisma peristirahatan pejabat daerah, ada bangunan yang bisa dipakai untuk acara-acara rapat kerja atau sejenisnya, saat kami mencapai puncak bukit, terlihat banyak mobil-mobil dan orang-orang yang memakai seragam parpol tertentu sedang mengadakan rapat kerja. Ada beberapa kios cinderamata, kami hanya melihat-lihat saja, yang penting kami bisa menemukan penjual Ice Cream disini, buat pelipur lara hati my Mirza, hehe….nggak boleh ngambek lagi ya dek…bapak sudah belikan Ice Cream. Tidak banyak yang kami lakukan diatas puncak bukit ini, kami memutuskan segera turun ke bawah untuk mencari makan siang, karena perut kami sudah terasa keroncongan.


Gudang ex PN Timah yang tampak lengang


Terminal mobil yang sepi tanpa mobil

Saat melalui jalan menuju pusat kota Manggar, kami melalui bangunan bekas gudang dan kantor PN Timah yang tampak dibiarkan kosong, menyedihkan….aku melihat sambil membayangkan jaman dahulu dimana Perusahaan ini masih berjaya, tentu suasana hiruk pikuk dengan mobil-mobil dan para karyawan yang hilir mudik keluar masuk bangunan itu. Ada juga terminal mobil yang keadaannya kosong melompong! Hehehe…apa karena aku melihatnya pada hari libur ya? bertepatan dengan hari Natal. Jalanan juga sangat lengang…asli serasa jadi penguasa jalanan, bebas macet!


Fega Cafe, Pantai Manggar, Vihara Dewi Kwan Im dan Pantai Burung Mandi

Pak Buyung tidak bisa memberi referensi tempat makan yang cukup layak di kota Manggar, tetapi naluri kulinerku melihat ada satu resto yang banyak dipenuhi mobil, hmmm…..pasti ini bisa “bisa dipertanggung jawabkan” rasanya, hehe….restoran yang berjudul “Fega Cafe” ini ada di tepi telaga yang cukup luas, sepertinya sisa-sisa penambangan Timah di masa lalu.

Aku sempat terkecoh kupikir ini sungai, ternyata itu telaga. Kami memesan menu istimewa khas Belitong yaitu pindang ikan yang biasa orang Belitong menyebutnya “Gangan” yaitu ikan kakap merah yang dimasak dengan kuah yang bewarna kuning pekat karena banyak mengandung rempah kunyit, rasanya…..hmmm maknyuuuus! Lalu udang goreng mentega, ayam goreng, cumi goreng tepung, ikan tenggiri bakar dan cah kangkung. Serta minumannya juice jeruk kunci yang bening tampilannya tapi rasanya segeeeer banget! Untuk menu makan 12 orang, kami cukup membayar kurang dari 400 ribu rupiah. Nah….cukup terjangkau kan, kalau di tempatku pasti lebih dari itu harganya.


Kuliner Manggar, Gangan Kakap Merah, Tenggiri Bumbu Bakar, Udang Goreng Mentega, Cumi Goreng Tepung dan Cah Kangkung Polos, mantap deh kuliner lokal

Hakim, anakku sudah ribut sejak semula, karena dia ingin segera bermain di pantai, sampai separuh perjalanan, pantai yang dinanti tidak terlihat. Akhirnya pak Buyung mengajak kami ke pantai Manggar, sebenarnya ini bukan objek wisata yang recommended, ini hanya pantai nelayan biasa…terlihat banyak jejeran perahu-perahu nelayan yang tertambat di tepi pantai yang berpasir putih. Hakim dan Mirza berlari senang ke pantai langsung bermain pasir tak peduli cuaca terik sekalipun. Karena masih ada 2 tempat lagi yang harus kami kunjungi, kami putuskan segera pergi meninggalkan pantai Manggar nan permai, walau agak sedikit diprotes Hakim.


Bermain Pasir @Manggar Beach

Sebelum melanjutkan ke objek wisata selanjutnya, kami berhenti di satu Masjid Al-Quddus, masjid ini bangunannya baru dan sangat bersih, walau di daerah terpencil tapi sangat layak tampilannya, tempat wudhu dan toiletnya bersih, bahkan pengunjung disediakan air mineral gratis yang bisa diminum saat beristirahat dan sholat di sana. Biasalah kalau di masjid-masjid suka ditemui “Kotak Amal” dimana kita bisa mengisi infaq dan sodaqoh, justru di masjid ini aku tidak menemui Kotak Amal itu, rupanya kata pengurus masjid, dana pemeliharaan masjid ini ditanggung sepenuhnya oleh satu perusahaan pengelolaan timah milik swasta. Syukur alhamdulillah masih ada pengusaha-pengusaha yang peduli untuk memelihara masjid di dekat tempat usahanya.


Masjid AL-Quddus, Desa Mengkubang, Manggar

Pak Buyung mengantarkan kami ke Vihara Dewi Kwan Im di daerah Burung Mandi, berhubung saat tiba di sana cuaca hujan, kami tidak jadi turun dan hanya melihat-lihat dari jauh saja. Lagian ke vihara tidak begitu memaksa kami harus masuk ke sana kan, paling juga mirip Vihara yang ada di Pulau Kemaro, hehe….kami hanya memotret dari jarak jauh vihara itu.

Pantai Burung Mandi ternyata tidak jauh dari vihara Dewi Kwan Im, kami dibuat terpesona dengan pantainya yang landai, walau pasirnya agak bewarna coklat, tidak mengurangi kecantikan pantai Burung Mandi. Banyak berjejer pohon cemara laut, sama halnya dengan pantai Manggar, hembusan angin melambaikan dedaunan cemara sangat menyejukkan pandangan mata. Burung-burung seagul/camar laut berterbangan beriringan, sambil menyeruput air degan duduk di pinggir pantai, benar-benar bikin jiwa refresh kembali.


Burung Mandi Beach @Manggar, Belitong Timur

Anak-anak dan keluargaku asyik bermain pasir, waktu sudah beranjak sore, kami harus segera pulang kembali ke Tanjung pandan. Sedikit catatan tentang perjalan ini, banyak ditemui kolam-kolam yang menghiasi setiap sudut pulau Belitung, yang merupakan bekas penambangan timah, yang teronggok belum jelas bisa dimanfaatkan atau tidak, kalau bisa dibuat jadi kolam ikan tentu lumayanlah bisa menambah penghasilan warga setempat. Selintas kolam-kolam itu terlihat indah, padahal jelas-jelas itu perusakan lingkungan, jika tidak ada upaya untuk merehabilitasinya kembali.


Kolam ex penambangan timah, pemandangan yang banyak ditemui di penjuru Belitung


Warung Kopi dan Pantai Tanjung Redep

Sebelum pulang ke penginapan, rombongan kami mampir dahulu ke warkopnya pak Buyung, sekedar minum kopi sambil makan bubur kacang hijau, pak Buyung bercerita bahwa usaha sampingannya ini baru dia lakoni beberapa bulan terakhir ini buat menambah uang dapur katanya, sewa kios yang 600.000 ribu rupiah/bulan cukup mahal menurutku.

Waktu sudah bergerak senja, matahari sudah tenggelam, masih ada satu tempat yang mau kami kunjungi menurut pak Buyung, ada pantai yang cukup ramai dikunjungi masih di seputar Tanjung Pandan, yaitu pantai Tanjung Redep, biar nggak penasaran kami meluangkan waktu sebentar untuk melihatnya.

Pantai Tanjung Redep, tidak jauh berbeda dengan Ancol, banyak pedagang makanan yang membuka kios di sana, pak Buyung pikir kami mau makan malam di sekitar pantai, tapi karena badan kami sudah sangat lelah, kami putuskan makan di penginapan saja. Kami membeli nasi bungkus yang praktis dimakan.

Waktu istirahat telah tiba….besok masih ada objek wisata yang harus di jelajah. Oya…khusus tarif masuk ke objek wisata, di Belitung ini kebanyakan gratis…hanya pantai-pantai tertentu yang dimintai uang retribusi, seperti saat kami masuk ke Pantai Burung Mandi, hanya dimintai Rp.10.000/mobil sudah termasuk isi penumpangnya, murah kan?

to be continued…….



About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

22 Comments to "Negeri Laskar Pelangi (1)"

  1. Adhe  30 November, 2011 at 08:49

    @Audi, baca part 2 deh…..ini baru part 1. Search @Baltyra buat part 2 nya. Thanks sdh mampir baca.

  2. Audi  30 November, 2011 at 08:31

    masih kurang tuh,, belum ke tanjung tinggi sma tanjung kelayang kan ??hoho
    itu dia pantai surganya belitong, must see
    [orang belitong asli]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.