25 Days (4 Negara, 11 Kota) – Part 5 (habis)

Lani – Kona, Hawaii


26 Agustus 2010 : Goslar-Hanover-Brussels

Bangun, mandi, sarapan, roti dengan perlengkapannya, jelas tidak ketinggalan kopi merupakan satu kewajiban di pagi hari. “K” ingin memberi beberapa homemade jam/preserved, jelas aku mau sekali dan tidak menolak, akan tetapi harus aku tolak karena tidak bisa kubawa masuk ke pesawat, hanya boleh masuk ke bagasi, sedang aku tidak bawa koper yang perlu masuk ke bagasi. Jam/selei/preserved termasuk liquid jadi dilarang masuk ke pesawat. Kecewa sekali, karena jam/preserved buatan “K” enak sekali, semua asli, buah yang digunakan mereka kumpulkan dari aneka berry yang tumbuh liar di sepanjang jalan, tidak begitu manis dibanding kalau membeli di toko.

Jam 8:30 pagi aku diantar ke airport, menempuh perjalanan kira-kira sejam, sialnya pagi itu hujan mengguyur dengan derasnya, sepertinya langit terbelah menjadi berkeping-keping. Saking derasnya hujan, mobil tidak bisa jalan cepat, sesampainya di Hanover kami kena macet, banyak truck-truck besar berderet, panjang sekali, aku sudah mulai dag-dig-dug, panic takut kalau telat sampai di airport, semua diam seribu bahasa, karena kami tidak bisa ambil jalan pintas, jadi hanya mandeg, jalan merambat, terasa lamaaaaaaa sekali, aku komat-kamit berdoa agar lalu lintas segera lancar.

Puji Tuhan komat-kamitku berhasil, jalanan mendadak lancar, walau hujan masih turun dengan derasnya.

Begitu sampai di airport, dengan gerak cepat kuturunkan koper, dengan bag pack di punggung sambil mengucapkan terima kasih pada “K” (sampai lupa mengucapkan terima kasih sama sopirnya, suami “K” oops sorry de mori “H”) aku segera lari masuk ke airport, check-in, karena tergesa-gesa sampai salah ambil gate, terpaksa berputar lagi, melewati pemeriksaan lagi, otak benar-benar gak jalan (karena kesusu) hahaha.

Setelah duduk di ruang tunggu, aku baru ingat kacamata bacaku hilang, entah terjatuh di mana alamak!

Untung petugas di pemeriksaan menemukan kacamataku diantar ke ruang tunggu, terima kasih mister, mengingat kacamata itu aku baru beli di Madrid. Kacamata baca yang aku bawa dari Kona terjatuh di SFO, entah keinjak atau bagaimana gagangnya putus, sial bener. Tanpa kacamata seperti orang buta hahaha.

Di ruang tunggu dapat kenalan dengan seorang wanita yang tinggal di Brussels, lumayan ada teman ngobrol, orangnya ramah sekali. Kebetulan lagi ketika duduk di pesawat kami berseberangan. Penerbangan dari Hanover ke Brussels kira-kira sejam, begitu mendarat aku dan teman seperjalanan masih bersama, sebelum sampai pintu keluar aku sempat minta tolong untuk menjaga koperku karena ingin ke toilet, begitu masuk kaget karena toilet bandara Brussels (Zeventum) kotor, banyak bathroom tissue berserakan di lantai, bau kencing, toilet sempat kubuka satu persatu niatnya mau cari yang bersih tetapi nihil.                      Setelah keluar dari toilet perjalanan kami lanjutkan menuju pintu keluar kami saling mengucapkan kata perpisahan dia sudah dijemput oleh sopirnya, aku tingak-tinguk mencari teman penjemputku “N”, muter-muter belum ketemu, tiba-tiba ingat dalam chat terakhir dengan temanku dia mengatakan, kalau tidak memakai T-shirt warna hijau, dia mengatakan orange. Aku perhatikan lagi, akhirnya ketemu, dia (N) senyum-senyum penuh kemenangan, dasar bule edyaaaan!

Begitu ketemu dia ketawa ngece (serasa ingin ku-jithak kepalanya), “N” mengatakan: aku sudah melihatmu sejak keluar dari pintu kedatangan, kamu keliling sambil mencari orang berkaos hijau bukan? Aku merasa geli sendiri.

Aku jawab: you’re bad…you are a little rascal! But hey, finally I recognized you…I did remember you said either wearing green or orange T-shirt…..dengan diiringi tawaku tak mau kalah penuh kemenangan.

Kami segera menuju tempat parkir, dalam perjalanan menuju ke hotel, kami ngobrol tiada henti, karena kami baru pertama kali jumpa. Ada saja yang dijadikan bahan pembicaraan, ternyata orangnya kocak, dan sabar, mungkin karena ada hubungan dengan pekerjaannya sebagai guru.

Ternyata “N” tidak hafal dengan kota Brussels, karena dia memang tidak tinggal di kota ini, hampir sejam putar sana, sini, keliling mencari hotel di tempat aku menginap baru ketemu.

Dalam hati aku geli sendiri, “N” yang punya negara aja kaga hafal, apalagi aku yang baru sekalinya nginjek tanah Belgium.

Begitu sampai di hotel, check-in dan menuju ke kamarku, “N” mengikutiku. Tak habis pikir, hotel seperti ini dikatakan bintang 4? Menurutku ini setingkat melati kalau di Indonesia, semua serba kecil, kamar tidur, kamar mandi, aku ketawa geli dalam hati, kalau orangnya gemuk mana cukup masuk kamar mandi, apalagi untuk mandi di shower, dinding kamar mandi perlu dikasih Vaseline/pelumas agar licin dan orangnya bisa bergerak bebas hahaha….

Yang penting bersih, walau semua nampak sederhana, bahkan bisa dikatakan kuno. Kamarku di lantai 3, senangnya ada service breakfast ala buffet.

Koper segera kubuka, aku ada 2 T-shirt buat “N”. Dia nampak kaget ketika aku minta untuk dicoba, aku tanya kenapa? Aku ingin lihat apakah ukurannya pas di badanmu.

N : really? Are you sure? Do you want me to try it now? (kelihatan ada keraguan di wajahnya, aku pikir aneh juga ini londo, ketakutan sama penunggu Kona).

L : yes, I want to see it…

Akhirnya dia buka T-shirt dia, dan dicobalah T-shirt yang kuberikan.

Ternyata pas, legalah aku.

Kami segera keluar hotel jalan kaki menuju centrum, begitu berjalan keluar hotel, pertanyaan pertama dengan perasaan heran, melihat wajah-wajah dari Timur Tengah, banyak pendatang islam di sini, darimana asal mereka?

Jawab temanku: mereka imigran dari Timur tengah, beberapa negara Africa, Turkey, Marokko. Perempuannya berjilbab, banyak juga prianya berpakaian khas dari negara asal, celana gombrong, bajunya longgar panjang seperti tunik, pakai kopiah, banyak juga yang memelihara jenggot. Mereka berbicara menggunakan bahasa ibu mereka, atau bahasa Perancis.

Sampailah kami ke grand markt, lapangan square, dikelilingi bangunan tua di keempat sisinya, indah sekali, tinggi, kokoh, penuh dengan ukiran, ada patung di salah satu puncaknya berwarna keemasan. Turis tumpleg bleg di tempat ini, berfoto ria, tak ketinggalan diriku, memakai camera temanku.

Foto : lapangan square, melihat ke 4 arah sambil ndlongop/heran karena keindahannya tiada tara.

Aku melihatnya dengan perasaan takjub, melongo tidak tahu harus kasih komentar apa? Hanya bisa dinikmati saja keindahan ini.

Menurut “N” baru seminggu yang lalu ada festival bunga digelar di tempat ini, rugi aku tidak sempat liat.

Dari tempat ini, kami mampir makan malam di sebuah restoran di pinggir jalan, setelah putar sana, putar sini, mencari makanan yang familiar, aku pesan spaghetti bolognaise apa yang ada di pikiranku ternyata meleset sangat jauh, ternyata dagingnya tidak dibentuk sekepalan tangan, akan tetapi daging cacah biasa, kecewa tapi yang penting perut kenyang, “N” memesan pork chop, dengan mashed potatoes. Mahal juga total kerusakan makan malam pertama di Brussels Euro $ 35.00 dengan sebotol air, “N” pesan coca cola.

Selesai isi perut, perjalanan kami lanjut berburu MANNEKEN PIS, symbol kota Brussels, ternyata o ternyata menurutku sangat mengecewakan, jebul, ternyata, patung bocah lanang lagi kencing itu letaknya nylempit di pojok-an, menempel di dinding, kemudian dipagari, konon ceritanya patung itu sudah pernah dicuri sampai dua kali, patung itu tiap tahun pada event-event tertentu dikasih baju berganti-ganti. Turis bergerombol, suk-suk-an berfoto ria, termasuk aku tidak mau kalah dengan mereka, jauh-jauh didatangi, kalau gak foto rugi duonk…

Foto: Manneken Pis 015 patung symbol kota Brussels, kecil banget!


016 foto di depan Manneken Pis, latar belakang turis bergerombol

“N” mengatakan, patung Manneken Pis ini ada saingannya, saya tanya apa? Ayo ikuti aku, kami berjalan tidak jauh dari lokasi Manneken Pis agak nylempit di pojok-an, ternyata patung bocah wedog rambutnya dikucir/patung anak perempuan kecil rambutnya dikucir, dengan posisi jongkok kencing, aku ngakak geli. Aku minta temanku untuk mengambil fotonya. Patung ini dinamakan THE SISTER OF MANNEKEN PIS.

Foto: 009 the sister of Manneken Pis

Seiring dengan gelapnya malam kami jalan balik ke hotel, sebelum pamit temanku mengatakan : besok aku jemput jam 11 pagi, dengan naik metro beli karcis harian, untuk sight seeing di beberapa tempat seperti: Atomium, Cathedral, Mini-Europe, parks. “N” mengatakan mau datang ke hotel naik kereta, untuk menghindari parkir mobil karena sulit untuk mendapatkan tempat parkir.

Satu jaket dan payung ditinggalkan ke aku, karena temperature bisa berubah secara tiba-tiba dingin, angin dan hujan.

Setelah pamitan, “N” pulang ke kotanya, yang berjarak ½ jam dari Brussels.

Aku segera masuk kamar hotel, mandi dan siap-siap tidur karena sejak mendarat dari Hanover, tiba di Brussels nonstop langsung berkeliling, tubuhku serasa mau ambrol karena tidak ada kata istirahat.


27 Agustus 2010 : BRUSSELS

Jam 8 pagi aku terbangun dari tidur karena membaui aroma kopi dan roti yang amboi sedaaaaaaap membuat perutku berkeroncong, aku segara bangkit dari tempat tidur, mandi, menuju ke ruang makan, semua makanan sudah tertata rapi jali di atas meja, terdiri dari berbagai macam menurutku sangat komplit, mulai dari 2 macam cereal, aneka roti masih mengepul panas, aneka jam/selei, butter, cream cheese, yogurt, telur rebus, bacon, ham, baguette yang telah dipotong-potong, salad buah, 3 macam juice buah, teh, air, kopi, susu.

Pagi itu ruang makan sepi, hanya 5 orang saja, aku duduk sendiri di kursi paling pojok. Sarapan sangat kunikmati, perlahan tapi pasti, semuanya aku coba selain ham dan bacon. Kopinya terasa sangat sedap nambah sampai 3 kali, kemudian disusul dengan orange juice, kemudian teh, 2 telur rebus aku buang kuningnya, ambil 4 roti kecil-kecil ukurannya, jadi kebayang ukuran yang serba besar di America, salad buah, yogurt. Perut sampai kekenyangan hahaha, untung masih bisa bangkit dari kursi hehehe.

Setelah selesai sarapan aku sempatkan ngobrol dengan pegawai front desk, namanya Raisa, wanita asal Moldova salah satu negara pecahan Soviet Union, dia bercerita jadi imigran ke Belgium karena alasan pemerintahan negaranya yang korup tidak memperhatikan rakyatnya. Kedengaran sangat familiar dengan kondisi di Indonesia. Raisa berimigrasi ke Belgium bersama suami dan kedua anaknya. Raisa sangat ramah, membantu dengan informasi, tempat-tempat yang harus dikunjungi selama aku berada di Brussels, aku diberinya foto copy peta kota Brussels.

Aku ucapkan terima kasih, kemudian aku naik ke kamarku, tak lama kemudian tepat jam 11 aku ditelpon oleh Raisa, “N” sudah menunggu di lobby, aku segera turun, bawa jacket, payung, semua aku masukkan ke bagpack, tak lupa foto copy peta karena “N” tidak hafal dengan Brussels.

Sampai di lobby kebetulan ketemu dengan tamu hotel lainnya, pasangan dari Italy, seperti biasa aku sapa, aku ajak kenalan, aku tanya dari negara mana, akhirnya saling tukar email address, hal itu memang selalu aku lakukan untuk menambah teman, karena aku suka travel.

Kemudian aku pamit, melanjutkan perjalanan menuju metro beli karcis harian. Tujuan utama pagi ini ATOMIUM. Selama di dalam kereta orang berbicara dalam bahasa Perancis, temanku berbicara dalam 4 bahasa (Belanda, Perancis, Inggris, Flemish) ditambah sedikit bahasa Italy. Aku Cuma deleg-deleg karena tidak mengerti. Perjalanan kira-kira ½ jam, kami keluar dari metro, jalan tidak jauh sudah sampai Atomium. di puncak Atomium ada restoran, kalau ingin naik harus bayar agar bisa melihat seantero kota Brussels, aku tidak naik karena karcisnya mahal dan menurut temanku hanya buang uang saja, jadi kami cukup berfoto ria.

Foto: 017 foto kami berdua, Piccolani and Nicobellisimo dengan latar belakang Atomium


018 penampak-an dari Kona sedang beraksi ehm..ehm


021 tulisan welcome, aku duduk di huruf L sesuai dgn inisial namaku

Selesai melihat Atomium kami berjalan kaki menuju park tidak jauh dari Atomium, ambil foto-foto lagi dan dilanjut menyeberang jalan untuk melihat cathedral. Bangunannya indah sekali, menjulang tinggi, penuh dengan ukiran, luas sekali tempatnya, di dalam luar biasa indahnya banyak turis menikmati keindahannya, dan dijadikan obyek foto.

Foto: 023 foto dengan latar belakang cathedral

Puas melihat di dalam cathedral, kami keluar berjalan menuju MINIATURE EUROPE, antri karcis seperti turis lainnya, hanya aku yang beli karcis, karena “N” profesinya guru jadi masuk gratis.

Baru saja melangkah pintu gerbang langsung disambut dengan mascot MINIATURE EUROPE orang berpakaian berbentuk burung berwarna oranye, kami berfoto bersama, aku mengerti trik ini, nantinya jika sudah selesai melihat obyek, foto akan ditawarkan, kalau suka dibeli, kalau tidak suka tidak dipaksa.

Selesai berfoto, kami mulai perjalanan mengitari negara-negara EU dalam bentuk mini, dibuat seperti aslinya, sangat menarik dalam satu taman seperti dibawa mengelilingi Eropa. di tiap negara dipasang audio, bisa dipencet untuk mendengarkan, baik music, lagu, bahkan bunyi reruntuhan tembok Berlin. Ticket masuk seharga Euro 13.10, tidak rugi untuk mengitari mini Europe.

Foto : 029, 036, 38, 39 foto-foto diambil di dalam komplek miniature Europe dengan latar belakang negara-negara EU

Keluar dari miniature Europe, perut keroncongan, di luar ada beberapa restoran, bahkan ada fast food local bernama QUICK semacam Mac Donald, kami jelajahi satu persatu restoran itu, karena menu beserta fotonya terpampang di depan pintu masuk.

Tidak ada yang murah harga mulai dari Euro 7.50 and up, akhirnya kami setuju makan di restoran Greece, akan tetapi mereka menyajikan menu Turkey, dan barat pada umumnya. Milih selamat aku pesan Greece salad, temanku ayam dipotong-potong seperti curry, penyajiannya pakai hot plate. Ternyata Greece saladnya berbeda dengan yang aku pernah makan di America.

Setelah selesai makan, kami tinggalkan komplek Miniatur Europe, melanjutkan perjalanan dengan menaiki metro lagi, kali ini tujuannya melihat Cathedral, kami berkeliling, bangunan cathedral yang sangat indah, terutama instrument music pipesnya, menjulang tinggi di dinding cathedral, belum lagi ornament dinding gelas berwarna-warni, cathedral ramai dikunjungi dengan turis dari manca negara, di dalam cathedral di sebelah kiri ada beberapa kuburan dari pendiri, pastor Katolik pada zamannya, menurut temanku, arsitektur cathedral ini beraliran Baroque, temanku ambil foto-foto.

Foto : 055 cathedral di seberang Atomium

057 di depan chatedral ada tugu dengan patung romo Damien berasal dari Belgium, yang bertugas di Moloka’i melayani orang local penderita lepra hingga wafatnya karena ketularan lepra, hingga ditahbiskan menjadi seorang santo.


065 alat music berbentuk pipes

Tak berapa lama  perutku merasa tidak enak, seperti diaduk-aduk, dan berbunyi, ingin ke restroom di dalam cathedral tapi sudah ditutup karena saat itu jam 5 sore, terpaksa kami harus keluar dengan secepatnya dan mencari restroom di tempat lain, untung di depan cathedral di sebrang jalan, ada restoran Turkey, “N” beli soda, jadi aku bisa ke restroom. Ternyata oh ternyata aku diare, walau gak begitu mengkhawatirkan, entah mengapa dan apa sebabnya, dugaanku karena saladnya terlalu asem, dan mungkin gak cocok dengan minyak yang dicampur di salad itu. Untung lagi aku selalu siap dengan obat anti diare di tasku, aku beli di Madrid Imodium dan memang cespleng.

Dalam perjalanan pulang sempat mampir di satu gereja, bangunannya megah, indah. Keluar dari gereja di luar masih terang benderang, kami berjalan di depan deretan toko, theatre, tiba-tiba mataku menangkap poster gede sekali ditempel di dinding di depan toko, ada gambar penari Bali. Poster itu mengiklankan Asian arts and dancing festival. Aku minta teman, untuk ambil fotoku di depan poster itu.

Foto : 062 foto di depan gereja yang berbeda tidak kalah indahnya dengan gereja-gereja lainnya


068 iklan Asian arts di depan sebuah pertokoan

Aku diantar teman sampai di hotel kembali, kemudian dia pulang naik kereta, dengan janji aku akan dijemput besok jam 11 pagi, ketika aku  check-out dari hotel.

Aku balik ke kamar hotel, mandi, kemudian nge-pak koper, setelah itu tidur.


28 Agustus 2010 : BRUSSELS

Bangun jam 8, mandi, jam 9 ke lantai bawah untuk menikmati sarapan, pagi itu Cuma berdua, satu tamu dan aku sendiri. Selesai aku balik ke kamar, check and re-check jangan sampai ada yang ketinggalan.

Jam 10:45 aku turun dan menyerahkan kunci kamar, kebetulan yang jaga wanita dari Mesir, dia baik, bahasa Inggrisnya pas-pas-an, dia berbahasa Perancis, seperti biasanya kami terlibat obrolan, dia bersama keluarganya pindah ke Brussels 20 tahun yang lalu, tiap tahun masih tengok kampung halaman di Cairo, karena front desk sepi, dia sempatkan masak di ruang lobby disediakan kompor listrik kecil, dia mengatakan puasa, dan akan masak udang pedas, ala Mesir untuk persiapan berbuka.

Kami saling tukar email address, namanya Souad. Tanpa aku minta dia memberiku orange juice sambil berkata: Lani, you aren’t only our guest in this hotel now, but you’re my friend too, so I give extra service, enjoy my compliments. Aku jawab singkat, how nice, thanks, Souad.

“N” datang hampir jam 12 siang, Souad membantu membawa koperku untuk dimasukkan ke bagasi mobil, sambil pamit kami saling berpelukan dan berjanji untuk saling kontak via email. Dia masih sempat mengingatkan bahwa bahasa Inggrisnya tidak lancar, akan tetapi dalam jangka 3 bulanan dia pasti sudah agak lancar karena saat ini dia sedang ikut kursus.

Perjalanan dari Brussels ke rumah “N” ditempuh dalam waktu ½ jam naik mobil. “N” tinggal sendirian di rumah papanya, sepanjang perjalanan semua terlihat teratur, bersih, lebih sepi dibanding dengan Brussels.

Rumah papa “N” besar akan tetapi hanya ada 2 kamar tidur terletak di lantai atas, sambil naik ke lantai atas, aku layangkan pandangan ke seluruh ruang, berantakan, sama sekali tidak teratur, bak kapal pecah! Maklum rumah orang lajang, akan tetapi saya percaya tidak semua lajang punya gaya hidup seperti “N”.

Kami saling kenal secara kilat lewat teman  Baltyra, langsung aku ngebut kontak tiap hari via facebook, email, sampai sebelum aku terbang ke Eropa, kontak dilanjut sesampainya aku di Eropa, untuk confirm kapan, tanggal berapa, jam, pesawat mendarat di Zeventum airport, Brussels.

Hampir jam 11 malam aku berangkat tidur karena jam 3 pagi harus bangun, siap-siap diantar ke airport.


29 Agustus 2010 : BRUSSELS-AMSTERDAM-MADRID

Jam 4 pagi kami tinggalkan rumah “N”, jalanan masih sepi, udara dingin menggigit dengan tujuan airport.

Sesampainya di airport langsung antri check-in, setelah itu kami menikmati kopi, dan pastry sekedar pengganjal perut. Sayangnya hanya ada gerai Starbuck, mauku gerai kopi local, sedikit kecewa.

Aku pesan “N” untuk mengirimkan foto-foto selama diambil di Brussels.

Penerbangan Brussels-Madrid dengan stop over di Amsterdam berjalan dengan mulus. Sambil menunggu connecting flight ke Madrid, aku mampir food court di lantai 2 Schippol airport. Karena masih terlalu pagi yang buka hanya 5 gerai, ingin mencoba gerai Asian food sayangnya masih tutup, akhirnya pilihanku semangkuk sup ayam seharga hampir 4 Euro, sebotol air minum hampir 3 euro, batinku, EDYAAAAAAN! Coba kalau di Indonesia bisa untuk selamatan orang sekampung tumpeng komplit hahahahah……

Becanda, mana bisa dibandingkan harga di Eropa dengan di Indonesia.

Aku pikir sup ayam ini pasti enak, sendokan pertama, wekss…rasanya ngalor-ngidul plus asinnnn alamak! Ini yang bikin sup pasti kebelet kawin wakakakkaka……

Untuk mengurangi rasa asin, aku masukan crackers yang didapat sebagai pasangan menu sup tadi, balapan sendokan sup, crackers dan minum. Akhirnya bukan makan sup, tapi perut penuh dengan air minum.

Selesai isi perut, turun ke lantai dasar untuk membunuh waktu masuk keluar toko window shopping saja, mengingat semuanya mahal.

Setengah jam sebelum boarding aku sudah kembali ke gate yang ditentukan. Penerbangan Brussels-Madrid berjalan dengan mulus, setelah mendarat di Barajas airport Madrid, aku segera telpon hotel menanyakan di mana lokasi shuttle bus penjemputan. Setelah diberitahu, aku tutup telpon kemudian mencari tempat yang diinformasikan oleh pihak hotel, mengingat semua dalam bahasa Spanish harus cari tahu dulu, setelah tempatnya kutemukan, aku balik telpon hotel memberitahukan agar segera dikirim shuttle penjemputan.

Aku menunggu di halte bus sekitar 10 menit, shuttle datang, segera koper masuk bagasi dan meluncur ke hotel, untuk menginap semalam.

Ternyata Aparthotel Convencion Barajas tidak jauh lokasinya dari airport, sekitar 15 menit saja.

Begitu sampai langsung check-in, kamarku di lantai 3, begitu masuk kamar sampai heran karena kamar ini bisa ditempati 6 orang sekaligus, oleh karena itu dinamakan apartement hotel.

Sungguh sayang karena hanya kutempati sendirian hahaha…

Di frontdesk sempat ditanya asalnya darimana? Ketika aku jawab dari Indonesia, pegawai frontdesk langsung menyapa: apakabar? Aku sampai heran, langsung tanya balik pernah ke Indonesia? Dia jawab: istriku orang Indonesia, yang lahir di negara Belanda…..waaaaaaah…..

Tanpa ditanya dia nyerocos, mengatakan: Indonesian food taste so delicious, my wife cooks it at home.

Kutanggapi dengan senyum, jelas senyum kebanggaan sebagai orang Indonesia.

Tambah kaget ketika sang sopir shuttle mendengar percakapan kami, dia langsung nimbrung : saya baru saja kembali mengunjungi Indonesia, saya ke danau Toba, Sumatera kemudian ke Bali, Lombok…..

Indonesia negara yang cantik….duileeee, moga-moga dia mengatakan begitu bukan sekedar basa-basi. Jika orang asing bisa mengatakan begitu, sudah selayaknya negeri ini dicintai oleh warganegaranya sendiri, begitu kan?

Bukan itu saja jadi ingat ketika stop over di Amsterdam, pramugara KLM, muda, gagah, ternyata ibunya orang Indonesia kelahiran Belanda, akan tetapi pramugara ini sama sekali tidak mirip dengan orang Indonesia, dia kelihatan sangat bule, kami malah ngobrol di belakang pesawat, dia menunjukkan foto keluarganya, mamanya seperti wanita Indonesia pada umumnya, pramugara ini 4 bersaudara tak satupun yang mirip dengan mamanya, semua mirip bapaknya yang bule Belanda.

Kembali dengan kamar hotelku, living roomnya luas dengan sofa bed bisa dibuka untuk tidur 2 tamu, karena living room luas masih bisa muat satu extra bed lagi, kamar utama twin bed, dapur lengkap dengan microwave, lemari es, stove, oven, sink, dan perlengkapan makan, kamar mandi juga besar.

Hotel ini kebalikan dengan hotel di Brussels yang serba kecil mungil sempit, padahal tarif hotel sama Euro 50.00 tapi perbedaannya sangat jauh.

Hotel keliatan bangunan baru, bersih, kempling, jendela dan pintu lebar, gorden jendela baru tidak bolong atau kucel.

Setelah memeriksa kamar hotel, kemudian mandi, dan ke frontdesk cari informasi apakah ada restoran yang dekat dengan hotel, aku tanya makanan apa yang mereka jual, tolong dituliskan dalam bahasa Spanish kalau aku tidak makan daging babi, bebek, dan kambing.

Dengan berjalan kaki 5 menit sudah sampai di restoran yang dimaksudkan, tidak heran tak seorangpun berbicara bahasa Inggris, bahasa Inggris mereka patah-patah, jadi pakai bahasa tarzan, dan bahasa tubuh, menu juga dalam bahasa Spanish ampuuuuun……

Untung ketika baru mendarat dan ada “S”, dia memberi tahu beberapa kata bahasa Spanish, seperti kentang goreng (patatas), Paella nasi seafood ala Spanish sangat terkenal di Spain.

Sambil menunggu pesanan masakan, aku menikmati secangkir kopi dengan sepotong croissant. Ketika meminta jam/selei ada sedikit kebingungan karena bahasa, ku jelaskan sebisa mungkin dengan gerakan mengoles, mereka menjawab: si, marmalade!

Aku jawab singkat saja : si, gracias! Padahal pikiran masih bertanya kenapa disebut marmalade, setahuku marmalade itu selei jeruk. Sambil menenteng makanan berjalan balik kehotel, aku punya rencana untuk telpon temanku “S” untuk menanyakan selei/marmalade.

Sampai di frontdesk, ditanya: did you find the restaurant? Is the food all right? Did my note worked for you?

Aku jawab singkat : yes, thanks…kemudian aku tanya, kalau telpon dari hotel berapa tarifnya? Dia mengatakan sangat murah, dibanding dengan telpon umum. Belum sempat bertanya, disambung mengatakan coba saja telpon, setelah itu kontak frontdesk langsung bisa diketahui biayanya.

Kujawab ok, thanks….sambil naik ke kamar. Langsung kunikmati makanan pesanan dari restoran, ternyata tidak seenak aromanya semua terasa hambar, seperti masakan kurang bumbu.

Selesai makan, aku telpon temanku “S” ternyata dia sudah menunggu telponku dengan harap-harap cemas kalau aku kesasar tidak sampai di hotel. Pertama aku tanyakan kenapa selei disebut marmalade? Dijawab memang itu namanya selei=marmalade, jadi kalau kamu minta selei strawberry, bilang aja strawberry marmalade dan seterusnya….woalaaaaaaaah……..baru tahu. Kami bericara 2 menit, temanku mengatakan tutup telponmu, aku akan telpon balik karena kalau aku yang telpon gratis! Tak lama kemudian “S” telpon balik, kami ngobrol hampir 2 jam sampai serak tenggorokanku.

Selesai dengan obrolan di telpon, aku segera telpon ke frontdesk, menanyakan biayanya, ternyata benar murah sekali hanya 7 cents Euro, oleh karena itu segera semua teman aku telpon termasuk teman-teman yang tinggal di luar Spain.

Di kamar hotel ada 2 TV, akan tetapi aku sama sekali tidak tertarik karena semua berbahasa Spanish. Jadi memilih untuk tidur setelah mengepak koper dan siap terbang keesokan harinya dengan tujuan America.


30 Agustus 2010 : MADRID-ATLANTA (GEORGIA)-SAN FRANCISCO

Jam 7 pagi bangun, mandi, segera turun, check-out dan menunggu shuttle di lobby. Jam 8 diantar ke Barajas airport, menuju DELTA airline untuk check-in, ternyata o ternyata harus melewati pemeriksaan dan pertanyaan demi pertanyaan padahal aku pemegang paspor America, jadi berpikir kalau warganegara saja harus melewati proses seperti ini, bagaimana dengan orang asing ya?

Setelah melewati interogasi, aku mendapatkan sticker di belakang paspor, baru menuju ke tempat check-in, semua berjalan dengan lancar. Aku belajar dari petugas pemeriksa/TSA sejak berangkat dari Kona airport, sebelum penumpang pesawat bisa menuju ke ruang tunggu di airport, memberi tip kalau membawa barang berbentuk cairan seperti (shampoo, body lotion, parfum) dengan batasan tertentu, dimasukan dalam satu plastic jika tidak dimasukan ke check-in baggage, harus selalu siap dikeluarkan dari tas jinjingan, untuk memudahkan pemeriksaan, karena barang ini akan tampil di layar monitor dan segera akan diambil untuk dibuka, tidak akan terlewat. Tip tersebut sangat menolong, karena barang itu aku masukan ke bagpack, termasuk barang tentengan. Jadi di tiap pemeriksaan seperti rutin saja, semua aku keluarkan dulu dari bagpack, masuk ke container plastic termasuk sepatu harus dicopot, mudah dan cepat.

Penerbangan Madrid-Atlanta (Georgia) ditempuh hampir 9 1/2 jam nonstop.

Nampaknya kurang mujur, karena diumumkan pesawat ada kerusakan mesin, delay hampir 3 jam, semua penumpang di ruang tunggu airport, menunggu pengumuman apakah pesawat akan bisa diterbangkan, menunggu pesawat back-up atau menginap semalam di Madrid?

Bagiku apapun jadi, yang penting selamat sampai tujuan.

Dalam masa penungguan, dijaga polisi, aku pikir antisipasi jika ada penumpang ngamuk karena harus menunggu kelamaan.

Hampir 2 jam lewat, ada pengumuman semua penumpang akan diberi makan malam gratis di restoran di ruang tunggu. Sambil berjalan menuju ke restoran aku sampai kaget ingat bahwa sesampainya di Atlanta aku ada connecting flight ke San Francisco, boarding pass aku lihat wussssss, ternyata dengan keterlambatan ini akan mempengaruhi connecting flightku, aku bisa ketinggalan pesawat penerbangan ke San Francisco, secepat kilat aku berbalik menuju frontdesk check-in dan meminta boarding pass baru (sebagai back up), seandainya pesawat jadi berangkat dan terlambat mendarat di Atlanta, pelayanan mudah, cepat, aku diberi boarding pass baru walau aku harus menunggu beberapa jam untuk bisa terbang dengan pesawat berikutnya untuk penerbangan lanjutan ke San Francisco. Yang penting selamat karena boarding pass baru sudah di tangan, perkara nantinya tidak digunakan tidak masalah.

Aku lanjutkan berjalan ke restoran, tapi semua penumpang berbalik, aku tanya kenapa?

Jawabannya: makan gratis dibatalkan, karena pesawat sudah selesai diperbaiki, owalaaaaaaaah….

Semua penumpang berhamburan, ada yang misuh-misuh/marah-marah, ada yang lega karena pesawat segera diterbangkan.

Dalam hati aku geli sendiri dengan ulah penumpang lain, namanya manusia mereka menanggapi permasalahan berbeda-beda. Kalau aku santai, relax saja, toh mau marah-marah juga tidak ada gunanya, karena keputusan bukan di tanganku, memang bisa menerbangkan pesawat sendiri hahahahha……

Check-in segera dilakukan, semua kejadian aku syukuri saja, malah mendapat keberuntungan dalam penerbangan jarak jauh ini 2 kursi di deretanku kosong, cihuiiiii artinya aku bisa tidur selonjor, tidak harus tidur sambil duduk.

Penerbangan Madrid-Atlanta (Georgia) mulus, pesawat mendarat di Atlanta, aku langsung ke immigrasi antri untuk dipriksa paspor dan ditanya-tanya lagi, padahal aku dag-dig-dug karena harus segera check-in mengejar my conneticng flight to San Francisco, aku belum tahu gate berapa.

Begitu dapat giliran dipriksa paspor, masih ditanya-tanya lagi seperti, negara mana saja yang kamu kunjungi? Tujuannya apa? Bawa duit berapa? Beli barang apa saja?

Semua aku jawab cepat, tepat, karena aku memang sudah gak konsenstrasi maunya cepat selesai dan segera lari.

Aku sampai kasih tahu sama petugas immigrasinya, aku harus kejar my connecting flight, karena flight kami ada kerusakan di Madrid jadi terlambat mendarat, aku tidak mau ketinggalan pesawat. Ditanya oleh petugas immigrasi: what time your connecting flight to San Francisco anyway? Aku jawab, kira-kira 40 menit lagi. Dijawabnya : don’t worry about it, you still have enough time for it.

Aku tidak kasih jawaban, begitu pasporku di cap, langsung aku bilang thanks, ngaburrrrr

Cari layar monitor, aku di gate berapa boardingnya, gak ketemu aku tambah semakin nervous, kebetulan aku lihat flight attendant yang melayani penerbangan di pesawat yang aku tumpangi, aku tanya gate berapa sambil aku tunjukkan boarding passku? Dia jawab: naik shuttle train ke gate D.

Thanks, langsung lari, naik escalator seperti dikejar setan, aku yakin orang-orang yang melihat aku, mikir: ada orang gila takut ketinggalan pesawat, yaikkkkkk!

Aku tahu itu, karena dengan nafas yang memburu karena lari keponthal-ponthal, naik escalator di sisiku ada tentara GI, sempat glanced at me…

Begitu sampai di atas shuttle baru saja datang, aku masuk, tak lama sampai di gate D, aku cari monitor lagi untuk memastikan apakah gatenya sudah benar……hikkkkks salah, seharusnya gate E…karena saking bingung, sebetulnya aku bisa balik naik shuttle lagi lebih cepat malah aku lari menuju gate E.

Duh Gusti! Moga-moga aku gak telat. Sesampainya di gate E, semua orang sudah mulai boarding, aku masih ngos-ngos-an, ketika masuk ke pesawat. Terimakasih Tuhan aku tidak terlambat! Kalau sampai terlambat, aku harus menunggu 4 jam di bandara untuk ikut penerbangan selanjutnya.

Aku sampai geli sendiri, di dalam pesawat dingin karena AC aku malah gembrobyos mandi keringat kkkkkk……

Penerbangan Atlanta-San Francisco ditempuh hampir 5 jam, di sebelahku sepasang bule asal Atlanta yang akan berlibur di California. Seperti biasanya aku langsung ngajak kenalan, aku critakan ke mereka tentang kejadian barusan. Mereka mengatakan : you’re lucky, you still can catch this flight.

Penerbangan 5 jam kali ini  terasa sangat lama, aku sudah tidak sabar untuk segera mendarat di San Francisco, “B” temanku akan menjemput di bandara.

Mendarat di SFO jam 8 malam, aku telpon “B” agar menjemput. Ada sedikit kebingungan, aku kasih tahu, aku berada di domestic arrival karena aku kira aku keluar dari pintu ini. “B” muter-muter mencariku sampai mumet tidak ketemu, bolak-balik bertelpon ria, tahu sendiri SFO airport itu luas sekali. Aku sudah menggigil kedinginan di luar, karena tidak bawa jaket tebal, sampai kaku badan ini.

Tak tahu lagi bagaimana caranya memberi penjelasan ke “B”, aku kasih tau aku berada di pintu di mana orang-orang mau berangkat keluar CA.

Barulah dia ngerti, dikatakan olehnya itu domestic departure, bukan arrival olala…

Tak lama kemudian “B” datang, “B” sudah kukenal lama sejak almarhum masih ada, kami bersahabat, dia cowo Cina kelahiran Vietnam. aku sudah tidak sabar lagi untuk segera masuk ke dalam mobil, karena tidak tahan dengan dinginnya malam itu.

“N” langsung tanya: did you have dinner yet? Kujawab: no

Ok, now we go to the restaurant, what kind of food you’re in the mood for?

Kujawab: well, you’re an expert B, it’s up to you

Dijawab begitu dia malah ngakak.

Kami makan di restoran Cina, menunya banyak sekali, sampai pusing bacanya, akhirnya aku pesan I FU MIE.

Sambil makan mulutku tiada henti nyerocos tentang perjalananku selama di Eropa kuceritakan secara singkat, kemudian tentang kerusakan pesawat di Madrid, aku sampai harus lari marathon mengejar pesawat penerbangan ke San Francisco, “B” ngakak kemekelen.

Selesai makan malam, aku langsung ke rumahnya, karena dia akan menyerahkan laptop yang dibeli buatku serta dikasih tahu bagaimana cara mengoperasikannya, maklum aku gaptek dengan urusan gadget.

“N” ini persis dengan almarhum, autodidak, very smart!

Malam itu juga aku minta bantuannya untuk beli camera buatku via online, karena cameraku rusak di Spain, sial.

B: ok I saw this Samsung and get good review. Aku jawab: apapun jadi yang penting, mudah pengoperasiannya, baik hasil fotonya, dan harganya di bawah $ 200.

Untung (pakai mas, pak, untung lagi heheheh), tidak harus bayar shipping and handling,  dikirim langsung ke Hawaii.

Dari rumah B, aku diantar ke apt temanku “C”, teman ce Indonesia yang sudah menetap di kota SF selama 12 tahun sejak kejadian kerusuhan Mei, mendapatkan GC dari asylum, sekarang sedang menantikan maju ujian untuk menjadi warganegara America. Good luck to you “C” you can do it!

Karena terlalu capai, malah tidak bisa tidur, ngobrol sampai jam 2 pagi, baru tertidur, “C” ambil cuti keesokan harinya, agar bisa menemaniku jalan-jalan di kota SF.


31 Agustus 2010 : SAN FRANCISCO

Bangun jam 9 pagi, mandi, kami keluar cari sarapan cuaca cerah, hangat, kota SF selalu berubah cuacanya tanpa diketahui.

Aaaah….San Francisco yang telah kutinggalkan hampir 2 tahun, akhirnya aku bisa merasakan lagi kesibukanmu, tidak ada perubahan menyolok di kota internasional ini, kota yang pernah aku tinggali dan bekerja selama hampir 8 tahun, kenangan itu tidak akan pernah kulupakan.

Kami sarapan di café milik orang Indonesia, sambil menikmati kopi, sarapan, kami lanjutan obrolan tadi malam.

Seharian kami gunakan untuk jalan santai, masuk keluar toko di downtown, ketemu teman-teman.

Makan siang kami ke restoran Indonesia, aku kangen makan lontong cap go meh, empek-empek, nasi padang, aku puaskan mumpung ada. Kebetulan restoran sepi, sipemilik ikut gabung ngobrol dengan kami.

Keluar dari restoran perut benar-benar kencang kekenyangan hahahhaha……

Kami lanjutkan jalan lagi, mampir ke hotel yang dulu aku kerja, di sana aku temui temanku orang Cina asal Malaysia, aneh sekali dia lupa sama aku, padahal baru 2 tahun tidak ketemu.

Entah kenapa, aku tidak tahu alasannya, aku juga tidak ingin tanya.

Kami ngobrol hampir ½ jam, sempat ketemu dengan manager yang baru, “C” ditawari kalau ingin kerja on the weekend, karena ada opening. Aku yakin “C” pasti diterima karena “C” pernah bekerja di tempat ini, ketika aku juga bekerja di sini.

Kami tinggalkan hotel, tiba-tiba “C” mengatakan ingin roti pratha dan minum es campur di restoran Indonesia yang berbeda, aku setuju saja.

Ternyata “C” mengenal semua pegawai di restoran ini, aku dikenalkan ke mereka, serasa di Indonesia saja berceloceh dengan bahasa ibu, tak lama sipemilik muncul, dia juga lupa sama aku heheheh…

Padahal dulu aku salah satu langganan setia.

Balik ke apt “C” sudah jam 7 malam, mandi, tidur, akan tetapi hari ini aku sudah bikin janji mau ketemu dengan teman-teman lainnya untuk sarapan dan makan malam. Karena besok pagi “C” harus masuk kerja, koper harus aku titipkan di tempat kerja teman “SH”.


1 September 2010 : SAN FRANCISO-BERKELEY

Bangun jam 8 pagi, mandi, tepat jam 9:30 pagi kami keluar apt, koper aku bawa aku titipkan di tempat kerja temanku orang Thailand yang pernan menikah dengan pria Indonesia, cerai, “SH” bisa berbicara bahasa Indonesia dengan lancar.

Kami meluncur ber 3 sarapan di American café di downtown SF, rencana pertama ingin ke American restaurant akan tetapi harus antri panjang kami tidak ingin menunggu kelamaan karena perut sudah keroncongan, restoran kedua belum buka, ini yang sangat aku inginkan, karena pernah makan di sana, selain makanannya enak, lokasinya di lantai paling atas dept. Macy’s, namanya Cheese cake.

Seperti yang aku duga, makanannya tidak enak, kopinya apalagi, kecewa tapi terobati karena ditraktir temanku “SH” heheheh

Sarapan sambil ngobrol, selesai “SH” harus bekerja, aku dan “L” teman cewe orang Indonesia, melanjutkan petualangan kami, jalan keluar masuk dept. store di downtown SF, sapuan mentari hangat di kulitku, pada dasarnya aku hanya ngikut “L” yang hobby cuci mata, dan belanja heheheh….

Sorry ya, “L” tapi memang betul adanya bukan?

Sampai akhirnya timbul kenakalanku, aku sampaikan ke “L” bagaimana kalau kita kagetin Amron Paul Yuwono, dia masih bekerja di Banana Republik? Dijawab ya oleh “L”

Kita segera meluncur ke toko itu setelah ngubeg di gerai VS, biasa cewe mana yang matanya tidak ijo di toko ini?

Ternyata benar, Amron siang itu bekerja dan sedang melayani pembeli, aku bersembunyi di belakang pintu di fitting room, aku minta “L” menyampaikan kalau ada teman dari jauh ingin jumpa.

Tak tahunya ketika aku keluar mau pindah persembunyian, Amron udah lihat diriku, kami langsung berpelukan kenceng, dia kelihatan langsing banget. Kami ngobrol walau singkat karena toko rame, yang penting sudah ketemu, kami pamit.

Dari sana kami berpisah “L” harus bekerja, aku jalan balik ke tempat kerja “SH” sambil menunggu jemputan “B” untuk diantar ke Berkeley.

Malam ini aku menginap di rumah pasangan teman kami, teman yang kukenal sejak 15 tahun yang lalu.

Jam 3 siang “B” datang, aku diantar ke Berkeley kali ini menyebrangi Bay bridge, jalan di jembatan begitu ramai padahal belum jam orang pulang kantor.

Sesampai di rumah “J”, aku langsung istirahat tidur, jam 5:30 sore bangun, kemudian aku ajak “J” makan malam di restoran Indonesia, di Berkeley, istrinya sedang ikut kursus music di SF, kami hanya berdua, akan tetapi aku pesan masakan dibawa pulang untuk istrinya.

Ketika istrinya sampai di rumah, aku sudah tidur karena di atas jam 10 malam.


2 September 2010: BERKELEY-OAKLAND AIRPORT-KONA (THE BIG ISLAND)

Jam 5 pagi aku bangun, mandi, teman ikut bangun kemudian menyiapkan sarapan, toast, organic preserved, kopi, sambil dilanjut ngobrolnya.

Jarak Berkeley dan Oakland airport 20 menitan, aku diantar ke airport jam 7 pagi, sesampainya di airport kami mengucapkan salam perpisahan, aku langsung menuju gate yang telah ditentukan.

Aku lebih suka terbang ke Hawaii lewat Oakland airport, karena airportnya lebih kecil tidak seperti SFO, membingungkan hahahah dasar ndeso!

Jam 8:45AM pesawat meninggalkan Oakland, penerbangan ke Hawaii ditempuh 5 jam. Mendarat di Honolulu jam 1:18 siang (mengingat berbeda 3 jam antara California dan Hawaii, California lebih cepat), dilanjut dengan connecting flight ke Kona.

Lega rasanya tiba kembali di Kona, begitu keluar dari pesawat, disambut hangatnya matahari Kona, semerbak wanginya khas udara Hawaii, segar, serta Hawaiian music yang merdu mendayu-dayu.

Keluar dari pintu kedatangan aku telpon temanku “P”, 15 menit kemudian “P” datang menjemput.

Aku langsung diantar ke aptku, capai sekali, maksud hati ingin segera istirahat akan tetapi adanya BT, marah-marah, banyak problem dengan apt ku selama kutinggal berlibur.

Selesailah sudah cerita oleh-oleh menghilang, ndekem, angkrem, hampir sebulan lamanya.

Semoga teman-teman menikmati cerita perjalananku ini, sampai jumpa dalam petualangan selanjutnya, moga-moga tidak terlalu lama.


Notes :

Semua foto diambil dari camera milik teman, kecuali foto-foto di Spain. Terima kasih untuk “K”, “N”, serta “E” yang ikut andil dalam penulisan artikelku ini.


Artikel sebelumnya:

25 Days (4 Negara, 11 Kota) – Part 1

25 Days (4 Negara, 11 Kota) – Part 2

25 Days (4 Negara, 11 Kota) – Part 3

25 Days (4 Negara, 11 Kota) – Part 4

141 Comments to "25 Days (4 Negara, 11 Kota) – Part 5 (habis)"

  1. Lani  5 February, 2011 at 13:29

    SHEILA : mahalo for adding comment to my article…….how is thing going in your life? hope everything all right with you…..is it still cold in your area?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *