Gerbong Makin Panjang

Sumonggo – Sleman


Bagai pendekar maut, setiap menebar “jurus” (baca: “fulus”) akan memakan “korban”. Meski sampai hari ini, mereka semua yang tersangkut, masih berkategori gerbong ecek-ecek. Orang dipenjara bebas keluar masuk, apa pintunya pakai ritsleting?

Pertunjukan sudah digelar. Para juru bicara telah mengoceh dengan penuh kebanggaan mempertontonkan hasil berupa segerombolan aktor kelas teri. Jangan harap beroleh the-big-fish, alasannya selalu sama, tidak cukup bukti. Apakah memang benar buktinya yang tidak cukup, atau ada “yang lainnya” yang tidak cukup? Energi lebih banyak dihabiskan untuk “pernik-pernik” tak bermutu, para “aktor figuran” yang didorong-dorong seolah-olah menjadi pemeran utama untuk menenangkan penonton yang mulai jenuh dijejali retorika penguasa.

Kalau diibaratkan gerbong, di setiap stasiun ada yang naik. Tetapi ada juga yang turun. Ada yang berlenggang kangkung turun, ada yang mendapat sanksi “secukupnya”,  sekedar memuaskan tuntutan publik, ada yang hanya berupa teguran tak bermakna dengan istilah semacam sanksi administratif. Toh, semuanya hanya kelalaian semata, meski itu kelalaian sistemik yang sudah berurat berakar begitu dalam.

Ada yang sengaja “disembunyikan”, seolah-olah dicopot atau dimutasi, sampai tiba waktunya aman sekonyong-konyong meraup posisi penting, dan orang-orang sudah terlupa. Ada pihak tak berwujud tetapi tangan-tangannya menggurita leluasa mengatur jalannya lakon, tanpa pernah tersentuh, kecuali oleh hembusan angin bisik-bisik rahasia umum. Jangan harap akan muncul gerbong bermuatan kakap, hiu, apalagi paus.

Banjir di sini, longsor di sana
Badai di samudera, lahar dingin menggelontor semua
Jembatan runtuh terhantam
Pohon tumbang menghadang jalan
Tapi bukan itu yang membuat telingamu gatal
Meski sebenarnya jarang dipakai untuk mendengar

Jengkel dicerca lamban
Senewen dibilang bohong
Tak rela dianggap gagal
Murka dituding ingkar janji

Beredar kabar, responmu lebay
Mengeluh dikritisi, dianggap jablay
Benarkah di sekelilingmu hanya kumpulan alay?
Rakyat menjerit, mereka masih abai
Sementara diam-diam pundi-pundi mereka memuai

Senayan dilanda badai keserakahan
Gedung bundar banjir hujatan
Jalan trunojoyo macet keadilan
Sekretariat para bedebah,
diputar puting beliung kepentingan
Yang terpental angin ribut,
siap bikin perhitungan
Rapor merah ataupun biru sekedar bualan

Masihkah berbangga dengan tumpukan angka-angka?
Masihkah tulalit dengan rintihan nestapa?
Masihkah disibukkan otak-atik citra?
Masihkah nyaman bergelimang kepura-puraan?
Mengapa baru tergopoh-gopoh turun tangan?

Ini resep untuk telingamu
Satu kilogram cabai busuk
Satu kilogram tiwul beracun
Potongan paspor palsu seharga satu milyar
Bubuhkan tiket nonton tenis, secukupnya
Beberapa tetes air mata para pahlawan devisa,
yang menggelandang di kolong jembatan
Panaskan mendidih sampai sepanas hati rakyat jelata,
yang dipermainkan saat mencari keadilan
Dinginkan sampai sedingin lantai pengungsian,
yang terlunta-lunta minim perhatian

Lulurkan bukan hanya ke telinga,
tapi juga mata dan hidungmu
Agar mampu mengindera kebusukan di sekitarmu
Sebelum nurani terlanjur membatu

Nuwun




65 Comments to "Gerbong Makin Panjang"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  1 February, 2011 at 15:55

    Gayus lebih mulia dari semua mahluk hidup di jagat. Sembahlah dia.

  2. probo  1 February, 2011 at 15:41

    untung gayus nggak pake seragam biru putih….ntar dikira muridku….

  3. nia  26 January, 2011 at 14:50

    pak Sumonggo… mantep… mantep tenan….
    gambar2 si GAYus bikin ketawa hehehe…

  4. Lani  25 January, 2011 at 22:55

    akiiiiiiiiiii……..kowe iki bengi2 kok malah semangkin KENTHIR………..WAKAKAK……..kuwi lo bosomu PEKOK……..hahahaha…aku japri…….ayoooooooooo ndang diwoco…………baru tau kowe lagek karo subo von kona to?????? hehehe…….ingin membicarakan dunia persilatan yg semakin gonjang-ganjing……….

  5. J C  25 January, 2011 at 22:46

    Tambahi sekalian, ngowohan, ndlongopan, pekok, ngileran… (iki ngomong opo tho).

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.