Kinah Bali Rejo

Alfred Tuname


Tak ada lagi hijau di tanah itu. Tanah kering berpasir di kaki Merapi merunduk malu di hadap pantai selatan. Debu-debu melambung dihempas angin. Ceruk-ceruk gersang menyapa langit. Kabut-kabut menyapa dahan kering. Sementara embun terus menangis merindukan dedaunan yang telah terbelah dan kerontang.

Sesuatu pernah terjadi di tanah itu. Di dusun itu. sembur panas lahar pecah di mulut perkasa Merapi. Kaki-kaki kecil berlari di ujung julur api. Hidup adalah lebih penting jika pilihan itu masih ada. Mengada di antara keberadaan yang lain. Lari adalah pilihan akan hidup bukan menghindar dari kematian. Lelakon kehidupan harus terus dimainkan.

Kesunyian meliputi tanah itu. Kinah Bali Rejo. Rumah telah menjadi puing-puing. Bekas-bekas peradaban tertindih batu dan pasir. Tak ada bekas-bekas kaki di raung dapur. Hanya ada bekas cabang-cabang aliran air hujan. Tak ada lagi cicak dan semut yang bermain di pojok-pojok tembok. Semua telah pergi meninggalkan tanah itu. Mereka semua belum kembali di tanah Kinah Bali Rejo.

Mereka belum kembali. Tetapi mereka punya harapan untuk kembali. Harapan untuk kembali ke saat si kecil bermain-main di halaman rumah di permulaan sosialitasnya. Harapan untuk kembali mendengarkan irama indah di sudut istana si mbah Marijan.

Harapan untuk kembali berdengang syair kehidupan di kaki kedigdayaan Merapi. Harapan itu adalah gugur bayang-bayang truama dan ketakutan yang mencoba menjadi nyata dalam alam yang damai. Bayang-bayang itu hendak mencekik nafas kehidupan. Pelan-pelan bayang-bayang itu lenyap saat mentari harapan kian tinggi. Harapan untuk hidup lebih baik.

Surau itu kembali berdiri. Tegak di antara puing-puing yang roboh dan daun kering yang bergelantungan di tiang miring. Surau simbol harapan. Bahwa kehidupan akan kembali di tanah itu. surau mbah Marijan di atas tanah pasir Kinah Bali rejo. Langit biru tua menyapa awal baru kehidupan di purna bencana. Lambaian gerak awan seakan tangan yang memanggil kembali mereka yang penah merajut kehidupan di kaki Merapi itu.

Kerumun senja meniupkan embun yang menyejukan hati yang meratap. Ratapan akan jiwa-jiwa tercinta yang pergi ke dunia yang berbeda. Ratapan hanyalah kenang akan kepergian mereka bahwa kepergian itu telah tercatat di ujung hati. Ratapan pun semakin berarti saat kehidupan Kinah Bali Rejo kembali. Lanjutkan kembali cita mereka yang hampir patah. Biarlah ujud doa menembus awan bersama embun yang terbang saat mentari kembali di esok pagi.


(saya membaca kembali refleksi ini dengan iringan instrumental “The Moment” by Kenny G)

Ilustrasi foto oleh Riki Mitak

Djogja, 18 Januari 2011

Alfred Tuname



40 Comments to "Kinah Bali Rejo"

  1. Lani  24 January, 2011 at 12:25

    MAS DJ : intil-intil opo sing serius to mas??????? mbok dikandani daku……..

    mas DA kuwi bukan asal SLEMAN tp PAKEM…………wakakakak

    DA: halaaaaaaaah prof. PAKEM………. sing mangane wokeh ki kan dirimu njur ditibak-e aku…………..

    AT : ajak kemana dikau pergi………….tenan yo?????

  2. Lani  24 January, 2011 at 12:21

    MAS DJ : looooooooo kok lali mmg DA kan lulusan dr PAKEM??????? wakakakakak……….

    DA : waaaaaaaaah asem ik, sing ora enak2 diuncalke ke aku dan buto……….yo wes ora opo2 sing penting msh ada aki buto……..

    AT: wah, aku dikau pilih utk digandeng……..????????? asyikkkkkkkkkkkkk beibeh! tp kapan dunk???????

  3. J C  24 January, 2011 at 11:38

    It’s a life cycle…menyongsong masa depan dengan kehidupan baru…indahnya Sang Pencipta, tapi sungguh dahsyat dan menakutkan bagi yang mengalaminya saat itu…

  4. Dewi Aichi  24 January, 2011 at 05:21

    Foto terakhir itu diambil disebelah mana ya? Bagaimana keadaan Merapi golf saat ini ya?

  5. Dewi Aichi  24 January, 2011 at 05:14

    Alfred, duh…..mana bisa kutolak kalau yang mau gandeng dirimu..! Ayla…..kalau kamu baca ini, dan nanti siaran bareng, jangan dibilangin ya…he he he..

  6. alfred tuname  24 January, 2011 at 04:23

    iya bang DJ, kalo semua warga baltyra bergandengan tangan pasti bisa mengelilingi dunia.. kalau saya langsung pilih bergandengan tangan sama mba Lani dan mba Dewi…asiiiiiiiikkkkkkkkk…….bergandengan tangan dalam satu rasa, rasa suka cita…..

  7. Djoko Paisan  24 January, 2011 at 04:03

    Dewi Aichi Says:
    January 24th, 2011 at 04:00

    Pak DJ benar…..coba semua warga baltyra bergandengan tangan…pasti bisa mengelilingi bumi…

    Bu Mitro ya….???
    Hahahahahahaha….!!!

  8. Dewi Aichi  24 January, 2011 at 04:00

    Pak DJ benar…..coba semua warga baltyra bergandengan tangan…pasti bisa mengelilingi bumi….(aku kebagian dikotanya saja yang deket mall), kalau pas kebagian di hutan sama di laut wegah…dihutan bisa diterkam singa, di laut bisa klelep….biarkan yang dibagian ngga enak untuk Lani sama JC…orangnya kan kuat…! eh..masih ada buto kudus ding…

  9. Djoko Paisan  24 January, 2011 at 03:56

    Mbak DA….
    Hahahahahahahaha….. sambung menyambung menjadi satu, itulah PAKEM KITA…..!!!
    Salah…itulah…. INDONESIA….!!!!

  10. Dewi Aichi  24 January, 2011 at 03:50

    pak DJ, Sleman dan Pakem saja saja pak, sama gilanya maksud saya….nyambung ngga nyambung asal njawab ya pak hi hi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.